Showing posts with label Convert to Islam. Show all posts
Showing posts with label Convert to Islam. Show all posts

Sunday, January 20, 2013

Laurence Brown, Tuhan! jika Engkau Ada, Sembuhkan Putri Saya

Musim dingin 1990, putri kedua Laurence Brown lahir. Tapi putrinya mengalami gangguan kesehatan yang serius, terjadi penyempitan di lengkungan pembuluh darah aortanya, sehingga peredaran darah bayinya tidak lancar. Brown menyaksikan bagaimana tubuh puteri mungilnya membiru dari bagian dada sampai ujung kaki dan harus dirawat di ruang perawatan intensif untuk bayi yang baru lahir.
Laurence BrownSebagai seorang dokter bedah, Brown sangat paham tindakan medis apa yang akan dilakukan dokter terhadap putrinya.
Tak ada jalan lain selain melakukan pembedahan darurat di bagian dada, meski tindakan medis itu tidak memberikan peluang besar bagi puterinya untuk bertahan hidup.
Ketika konsultan ahli bedah kardio-toraks yang akan menangani putrinya datang, perasaan Brown campur aduk antara sedih dan takut.
“Tidak ada teman kecuali rasa takut, dan tidak tempat untuk berbagi kesedihan sementara saya menunggu hasil pemeriksaan konsultan itu. Saya lalu pergi ke ruangan tempat berdoa di rumah sakit dan duduk bersimpuh,” ujar Brown menceritakan kekalutan hatinya saat itu.
Ia mengakui, itulah kali pertama dalam hidupnya ia berdoa dengan tulus dan sungguh-sungguh. “Sebagai seorang atheis, saat itulah pertama kalinya saya, dengan setengah hati, mengakui Tuhan. Saya katakan setengah hati, bahkan dalam situasi panik itu, saya tidak sepenuhnya meyakini Tuhan. Saya cuma berdoa dengan sikap skeptis. Tuhan, jika Tuhan itu memang ada, Tuhan akan menyelamatkan putri saya, saya berjanji akan mencari dan mengikuti agama yang paling menyenangkan hati-Nya,” tutur Brown.
Sekitar 10 sampai 15 menit kemudian, Brown kembali ke ruang perawatan intensif putrinya dan sangat kaget mendengar penjelasan konsultan bedah yang mengatakan bahwa putrinya akan baik-baik saja. Perkataan konsultan itu terbukti, dalam waktu dua hari, kondisi bayi perempuan Brown menunjukkan kemajuan tanpa harus diberi obat-obatan dan menjalani pembedahan. Bayi perempuan Brown yang diberi nama Hannah itu selanjutnya tumbuh dengan normal seperti anak-anak lainnya.
Setelah putrinya dinyatakan sehat, sekarang giliran Brown yang harus memenuhi janjinya di depan Tuhan, saat ia berdoa memohon keselamatan Hannah. Ia mengatakan, sebagai seorang atheis, mudah bagi Brown untuk membangun kembali ketidakpercayaannya akan eksistensi Tuhan, dan menyerahkan pemulihan putrinya pada dokter dan bukan pada Tuhan. Tapi Brown tidak melakukan itu.
“Dalam perjanjian itu, Tuhan sudah menunjukkan kebaikannya, dan saya merasa juga harus melakukan hal yang sama. Tuhan sudah mengabulkan doa saya,” tukas Brown.
Selama beberapa tahun Brown berusaha memenuhi “perjanjian”nya dengan Tuhan. Tapi ia merasa gagal menemukan agama yang ingin ia peluk. Brown mempelajari Yudaisme, beragam aliran Kristen, tapi tidak pernah merasa bahwa ia telah menemukan kebenaran.
“Selama beberapa waktu, saya mendatangi berbagai gereja aliran Kristen. Yang paling lama, saya ikut jamaah gereja Katolik Roma, tapi saya tidak pernah secara resmi memeluk agama itu,” tutur Brown.
Ia mengaku tidak pernah bisa memilih agama Kristen karena alasan sederhana; ia tidak bisa menemukan kesesesuaian ajaran alkitab tentang Yesus dengan ajaran dari berbagai sekte Kristen lainnya. Karena tak menemukan agama yang sesuai dengan hatinya, Brown akhirnya memilih berdiam diri di rumah dan banyak membaca. Di masa-masa itulah, Brown mengenal Al-Quran dan buku biografi Nabi Muhammad Saw. yang ditulis oleh Martin Lings, berjudul “Muhammad, His Life Based on Earliest Sources”.
Dari Al-Quran yang dibacanya, Brown menemukan bahwa kitab suci umat Islam itu mengajarkan bahwa Tuhan itu hanya satu, dan nabi-nabi seperti Nabi Musa dan Yesus (Nabi Isa) juga mengajarkan tentang keesaan Tuhan. Sebuah konsep berbeda yang pernah ia tahu dalam ajaran agama Yudaisme dan Kristen yang pernah dipelajarinya bertahun-tahun. Setelah membaca buku biografi Nabi Muhammad Saw. Brown juga mulai meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.
“Tiba-tiba saja semuanya seperti masuk akal, seiring dengan keyakinan yang tumbuh itu. Kontinuitas rantai kenabian, turunnya wahyu, hanya satu Tuhan yang Mahabesar, dan lengkapnya wahyu-wahyu Allah dalam Al-Quran, tiba-tiba menimbulkan rasa yang sempurna. Inilah yang membuat saya kemudian menjadi seorang Muslim,” papar Brown.
Sampai sekarang, sudah 10 tahun Laurence Brown menjadi seorang muslim. Selama itu, ia belajar satu hal, bahwa “Di luar sana banyak orang yang lebih cerdas dan pandai dibandingkan dirinya, tapi orang-orang itu tidak mampu mengetahui kebenaran Islam,” ujar Brown.
“Yang terpenting bukan seberapa pintar seseorang, tapi sebuah pencerahan seperti yang ditegaskan Allah bahwa mereka yang percaya agama Allah, tetap akan tidak percaya, meski jika diberi peringatan akan dosa jika menolak keberadaan Allah. Jika demikian, Allah juga akan mengabaikan mereka dan menjauhkan mereka dari kebenaran-Nya …”
“Karenanya, saya bersyukur pada Allah yang telah memberi petunjuk, dan saya memperkuat petunjuk itu dengan satu formula yang sederhana; mengakui adanya Tuhan, menyembah hanya Allah semata, dengan sungguh-sungguh berjanji untuk mencari dan mengikuti kebenaran ajaran-Nya, lalu menerima hidayah-Nya,” tandas Brown.

Bernard Nababan

Journey to Islam
Menjadi seorang pendeta adalah harapan kedua orang tuanya. Bermula dari rencana melakukan misi diperkampungan Muslim, berlanjut pada memenuhi tawaran dialog dengan para tokoh masyarakat muslim, namun akhirnya kehendak Allah SWT mengantarkan Bernard Nababan pada Hidayah Islam. Bahkan, ia akhirnya menjadi juru dakwah dalam agama Islam.Saya lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 November 1966. Saya anak ke-3 dari tujuh bersaudara. Kedua orang tua memberi saya nama Bernard Nababan. Ayah saya adalah seorang pendeta Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Sumatra Utara. Sedangkan, ibu seorang pemandu lagu-lagu rohani di gereja. Sejak kecil kami mendapat bimbingan dan ajaran-ajaran kristiani. Orang tua saya sangat berharap salah seorang dari kami harus menjadi seorang pendeta. Sayalah salah satu dari harapan mereka.

Kemudian, saya disekolahkan di lingkungan yang khusus mendidik para calon pendeta, seperti Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Nomensen, yaitu sekolah untuk calon pendeta di Medan. Di kampus STT ini saya mendapat pendidikan penuh. Saya wajib mengikuti kegiatan seminari. Kemudian, saya diangkat menjadi Evangelist atau penginjil selama tiga tahun enam bulan pada Gereja HKBP Sebagai calon pendeta dan penginjil pada Sekolah Tinggi Teologi, saya bersama beberapa teman wajib mengadakan kegiatan di luar sekolah, seperti KKN (Kulah Kerja Nyata).Tahun 1989 saya diutus bersama beberapa teman untuk berkunjung ke suatu wilayah. Tujuan kegiatan ini, selain untuk memberi bantuan sosial kepada masyarakat, khususnya masyarakat muslim, juga untuk menyebarkan ajaran Injil. Dua prioritas inilah yang menjadi tujuan kami berkunjung ke perkampungan muslim. Memang, sebagai penginjil kami diwajiban untuk itu. Sebab, agama kami (Kristen) sangat menaruh perhatian dan mengajarkan rasa kasih terhadap sesamanya.BerdialogDalam kegiatan ini saya sangat optimis. Namun, sebelum misi berjalan, saya bersama teman-teman harus berhadapan dulu dengan para pemuka kampung. Mereka menanyakan maksud kedatangan kami. Kami menjawab dengan terus terang. Keterusterangan kami ini oleh mereka (tokoh masyarakat) dijawab dengan ajakan berdialog. Kami diajak ke rumah tokoh masyarakat itu. Di sana kami mulai berdialog seputar kegiatan tersebut. Tokoh masyarakat itu mengakui, tujuan kegiatan kami tersebut sangat baik. Namun, ia mengingatkan agar jangan dimanfaatkan untuk menyebarkan agama. Mereka pada prinsipnya siap dibantu, tapi tidak untuk pindah agama.Agama Kristen, masih menurut tokoh masyarakat itu, hanya diutus untuk Bani Israel (orang Israel) bukan untuk warga di sini, Kami hanya diam. Akhirnya, tokoh masyarakat itu mulai membuka beberapa kitab suci agama yang kami miliki, dari berbagai versi. Satu per satu kelemahan Alkitab ia uraikan. la juga membahas buku Dialog Islam-Kristen antara K.H. Baharudin Mudhari di Madura dengan seorang pendeta.Dialog antara kami dan tokoh masyarakat tersebut kemudian terhenti setelah terdengar azan magrib. Kemudian, kami kembali ke asrama sebelum kegiatan itu berlangsung sukses. Dialog dengan tokoh masyarakat tersebut terus membekas dalam pikiran saya. Lalu, saya pun membaca buku Dialog Islam Kristen tersebut sampai 12 kali ulang. Lama-kelamaan buku itu menpengaruhi pikiran saya. Saya mulai jarang praktek mengajar selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya, saya ditegur oleh pendeta. Pendeta itu rupanya tahu saya berdialog dengan seseorang yang mengerti Alkitab. “Masa’ kamu kalah sama orang yang hanya tahu kelemahan Alkitab. Padahal kamu telah belajar selama 3,5 tahun. Dan kamu juga pernah mengikuti kuliah seminari,” katanya dengan nada menantang dan sinis.Kabur dari AsramaSejak peristiwa itu, saya jadi lebih banyak merenungkan kelemahan-kelemahan Alkitab. Benar juga apa yang dikatakan tokoh masyarakat itu tentang kelemahan kitab suci umat Kristen ini. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti menjadi calon pendeta. Saya harus meninggalkan asrama. Dan pada tengah malam, dengan tekad yang bulat saya lari meninggalkan asrama. Saya tak tahu harus ke mana. Jika pulang ke rumah, pasti saya disuruh balik ke asrama, dan tentu akan diinterogasi panjang lebar.Kemudian saya pergi naik kendaraan, entah ke mana. Dalam pelarian itu saya berkenalan dengan seorang muslim yang berasal dari Pulau Jawa. Saya terangkan kepergian saya dan posisi saya yang dalam bahaya. Oleh orang itu, saya dibawa ke kota Jember, Jawa Timur. Di sana saya tinggal selama satu tahun. Saya dianggap seperti saudaranya sendiri. Saya bekerja membantu mereka. Kerja apa saja. Dalam pelarian itu, saya sudah tidak lagi menjalankan ajaran agama yang saya anut. Rasanya, saya kehilangan pegangan hidup.Selama tinggal di rumah orang muslim tersebut, saya merasa tenteram. Saya sangat kagum padanya. Ia tidak pemah mengajak, apalagi membujuk saya untuk memeluk agamanya. la sangat menghargai kebebasan beragama. Dari sinilah saya mulai tertarik pada ajaran Islam. Saya mulai bertanya tentang Islam kepadanya. Olehnya saya diajak untuk bertanya lebih jauh kepada para ulama. Saya diajak ke rumah seorang pimpinan Pondok Pesantren Rhoudhotul ‘Ulum, yaitu K.H. Khotib Umar.Kepada beliau saya utarakan keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang ajaran Islam. Dan, saya jelaskan perihal agama dan kegiatan saya. Tak lupa pula saya jelaskan tentang keraguan saya pada isi Alkitab yang selama ini saya imam sebagai kitab suci, karena terdapat kontradiksi pada ayat-ayatnya. Setelah saya jelaskan kelemahan Alkitab secara panjang lebar, K.H. Khotib Umar tampak sangat terharu. Secara spontan beliau merangkul saya sambil berkata, “Anda adalah orang yang beruntung, karena Allah telah memberi pengetahuan pada Anda, sehingga Anda tahu bahwa Alkitab itu banyak kelemahannya.”Setelah itu beliau mengatakan, jika ingin mempelajari agama Islam secara utuh, itu memakan waktu lama. Sebab, ajaran Islam itu sangat luas cakupannya. Tapi yang terpenting, menurut beliau adalah dasar-dasar keimanan agama Islam, yang terangkum dalam rukun iman.Masuk IslamDari uraian K.H. Khotib Umar tersebut saya melihat ada perbedaan yang sangat jauh antara agama Islam dan Kristen yang saya anut. Dalam agama Kristen, saya mengenal ada tiga Tuhan (dogma trinitas), yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Agama Kristen tidak mempercayai kerasulan Muhammad SAW, Bahkan, mereka menuduhnya tukang kawin. Mereka juga hanya percaya kepada tiga kitab suci, Taurat, Zabur, dan Injil.Ajaran Kristen tidak mempercayai adanya siksa kubur, karena mereka berkeyakinan setiap orang Kristen pasti masuk surga. Yang terpenting bagi mereka adalah tentang penyaliban Yesus, yang pada hakekatnya Yesus disalib untuk menebus dosa manusia di dunia.Penjelasan K.H. Khotib Umar ini sangat menyentuh hati saya. Penjelasan itu terus saya renungkan. Batin saya berkata, penjelasaan itu sangat cocok dengan hati nurani saya. Lalu, kembali saya bandingkan dengan agama Kristen. Ternyata agama Islam jauh lebih rasional (masuk di akal) daripada agama Kristen yang selama ini saya anut. Oleh karena itu saya berminat untuk memeluk agama Islam.Keesokan harinya, saya pergi lagi ke rumah KH. Khotib Umar untuk menyatakan niat masuk Islam. Beliau terkejut dengan pernyataan saya yang sangat cepat. Beliau bertanya, “Apakah sudah dipikirkan masak-masak?” “Sudah,” suara saya meyakinkan dan menyatakan diribahwa hati saya sudab mantap.Lalu beliau membimbing saya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelum ikrar saya ucapkan, beliau memberikan penjelasan dan nasehat. Di antaranya, “Sebenarnya saat ini Anda bukan masuk agama Islam, melainkan kembali kepada Islam. Karena dahulu pun Anda dilahirkan dalam keadaan Islam. Lingkunganmulah yang menyesatkan kamu. Jadi, pada hakikatnya Islam adalah fitrah bagi setiap individu manusia. Artinya, keislaman manusia itu adalah sunnatullah, ketentuan Allah. Dan, menjauhi Islam itu merupakan tindakan irrasional. Kembali kepada Islam berarti kembali kepada fitrahnya,” ujar beliau panjang lebar. Saya amat terharu. Tanpa terasa air mata meleleh dari kedua mata saya.Sehari setelah berikrar, saya pun dikhitan. Nama saya diganti menjadi Syamsul Arifin Nababan. Saya kemudian mendalami ajaran Islam kepada K.H. Khotib Umar dan menjadi santrinya. Setelah belajar beberapa tahun di pondok pesantren, saya amat rindu pada keluarga. Saya diizinkan pulang. Bahkan, beliau membekali uang Rp 10.000 untuk pulang ke Sumatra Utara.Dengan bekal itu saya akhirnya berhasil sampai ke rumah orang tua. Dalam perjalanan, banyak kisah yang menarik yang menunjukkan kekuasaan Allah. Sampai di rumah, ibu, kakak, dan semua adik saya tidak lagi mengenali saya, karena saya mengenakan baju gamis dan bersorban. Lalu, saya terangkan bahwa saya adalah Bernard Nababan yang dulu kabur dari rumah. Saya jelaskan pula agama yang kini saya anut. Ibu saya amat kaget dan shock. Kakak-kakak saya amat marah. Akhirnya saya diusir dari rumah.Usiran merekalah yang membuat saya tegar. Saya kemudian pergi ke beberapa kota untuk berdakwah. Alhamdulillah, dakwah-dakwah saya mendapat sambutan dari saudaraudara kaum muslimin. Akhirnya saya terdampar di kota Jakarta. Aktivitas dakwah saya makin berkembang. Untuk mendalami ajaran-ajaran agama, saya pun aktif belajar di Ma’had al-Ulum al-Islamiyah wal abiyah atau UPIA Jakarta. (Oleh Maulana/Albaz dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : oleh Mualaf Online Center (MCOL))

Kisah Irene Handono : Hidayah di Biara

Aku dibesarkan dalam keluarga yang religius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibaptis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja.Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donator terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku.Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah. Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakaku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati.Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Instituit Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi.Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa?, Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari Jum’at siapa? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina.Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur’an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas.Aku membacanya, bagus surat Al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. “Ini ‘kok bagus, dan bisa diterima!” pujiku lagi.Pagi harinya, saat kuliah Teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat Al-Ihklas. “Allahhu ahad, ini yang benar,” putusku pada akhirnya.Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakana, “Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan.”“Yang mana yang Anda belum paham?” tanya Pastur. Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.“Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,” tanyaku lebih mendalam.Dosen menjawab, “Tidak bisa!” Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti.“Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!” tegas Pastur. Aku katakan, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana?“Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!” tegas Pastur mengakhiri.Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat Al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja?” Dia tidak mau jawab.“Coba Anda jawab!” Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu.“Lalu kenapa?” tanya Pastur lagi. “Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu,” saya mencoba menjelaskan.“Apa maksud Anda?” Tanya Pastur penasaran. Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia.Malamnya, kembali kukaji surat Al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang melantik RW?” Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini ‘kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW?.“Sebetulnya saya tahu,” ucapku. “Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya? Coba jelaskan!” tantang mereka. “Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah.” “Apa maksud Anda?” Mereka semakin tak mengerti.Saya mencoba menguraikan, “Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah.”Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat Al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja.Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar Romawi.Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan ‘Aku Tuhanmu’? Tidak pernah ada.Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan Al-Qur’an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu.
Kebiasaan mengkaji al-Qur’an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah.Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur’an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat.Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai!Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua. Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu.Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya?”“Siap!” jawabku. “Apakah Anda tahu konsekwensinya?” tanya beliau. “Pernikahan saya!” tegasku.Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat. “Kenapa dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?” Tanya beliau lagi. “Islam” jawabku tegas.Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat mereka telah menjadi muslim dan muslimah.Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum Ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat.Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, ‘kok ada perempuan shalat? Ia piker ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami.Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang.Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, “kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan.Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini?” ungkapku sedikit kesal.Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam.Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalah agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, “Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu?”Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab.Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali diundang berdakwah di Jakarta. Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah. (Kisah Irene Handono)

professor in Divinity chose Islam

Former pastor, missionary, professor in Divinity chose Islam !Former pastor, missionary, professor in Divinity chose Islam !

http://english.islamway.com/bindex.p...=article&id=51


Khadijah 'Sue' Watson - Former pastor, missionary, professor. Master's degree in Divinity "What happened to you !" .....

This was usually the first reaction I encountered when my former classmates, friends and co-pastors saw me after having embraced Islam.
I suppose I couldn't blame them, I was a highly unlikely the person to change religions.

Formerly, I was a professor, pastor, church planter and missionary.

If anyone was a radical fundamentalist it was I. I had just graduated with my Master's Degree of Divinity from an elite seminary five months before. It was after that time I met a lady who had worked in Saudi Arabia and had embraced Islam.

Of course I asked her about the treatment of women in Islam. I was shocked at her answer, it wasn't what I expected so I proceeded to ask other questions relating to Allah and Muhammad (pbuh).

She informed me that she would take me to the Islamic Center where they would be better able to answer my questions. Being prayed up, meaning-asking Jesus for protection against demon spirits seeing that what we had been taught about Islam is that it is Demonic and Satanic religion.

Having taught Evangelism I was quite shocked at their approach, it was direct and straightforward. No intimidation, no harassment, no psychological manipulation, no subliminal influence! None of this, "let's have a Qur'aanic study in your house", like a counter part of the Bible study.

I couldn't believe it! They gave me some books and told me if I had some questions they were available to answer them in the office. That night I read all of the books they gave. It was the first time I had ever read a book about Islam written by a Muslim, we had studied and read books about Islam only written by Christians. The next day I spent three hours at the office asking questions.

This went on everyday for a week, by which time I had read twelve books and knew why Muslims are the hardest people in the world to convert to Christianity.

Why?

Because there is nothing to offer them!! (In Islam) There is a relationship with Allah, forgiveness of sins, salvation and promise of Eternal Life. Naturally, my first question centered on the deity of Allah. Who is this Allah that the Muslims worship? We had been taught as Christians that this is another god, a false god.

When in fact He is the Omniscient-All Knowing, Omnipotent-All Powerful, and Omnipresent-All Present God. The One and Only without co-partners or co-equal.

It is interesting to note that there were bishops during the first three hundred years of the Church that were teaching as the Muslim beli eves that Jesus (pbuh) was a prophet and teacher!! It was only after the conversion of Emperor Constantine that he was the one to call and introduce the doctrine of the Trinity.

He a convert to Christianity who knew nothing of this religion introduced a paganistic concept that goes back to Babylonian times. Because the space does not permit me to go into detail about the subject insha'Allah, another time.

Only I must point out that the word TRINITY is not found in the Bible in any of its many translation nor is it found in the original Greek or Hebrew languages! My other important question centered on Muhammad (pbuh).

Who is this Muhammad? I found out that Muslims do not pray to him like the Christians pray to Jesus. He is not an intermediary and in fact it is forbidden to pray to him. We ask blessing upon him at the end of our prayer but likewise we ask blessings on Abraham. He is a Prophet and a Messenger, the final and last Prophet. In fact, until now, one thousand four hundred and eighteen years (1,418) later there has been no prophet after him.

His message is for All Mankind as opposed to the message of Jesus or Moses (peace be upon them both) which was sent to the Jews. "Hear O Israel" But the message is the same message of Allah. "The Lord Your God is One God and you shall have no other gods before Me."(Mark 12:29).

Because prayer was a very important part of my Christian life I was both interested and curious to know what the Muslims were praying. As Christians we were as ignorant on this aspect of Muslim belief as on the other aspects.

We thought and were taught, that the Muslims were bowing down to the Ka'bah (in Mecca), that that was there god and center point of this false deity. Again, I was shocked to learn that the manner of prayer is prescribed by God, Himself.

The words of the prayer are one of praise and exaltation. The approach to prayer (ablution or washing) in cleanliness is under the direction of Allah. He is a Holy God and it is not for us to approach Him in an arbitrary manner but only reasonable that He should tell us how we should approach Him. At the end of that week after having spent eight (8) years of formal theological studies I knew cognitively (head knowledge) that Islam was true. But I did not embrace Islam at that time because I did not believe it in my heart. I continued to pray, to read the Bible, to attend lectures at the Islamic Center.

I was in earnest asking and seeking God's direction. It is not easy to change your religion. I did not want to loose my salvation if there was salvation to loose. I continued to be shocked and amazed at what I was learning because it was not what I was taught that Islam believed.

In my Master's level, the professor I had was respected as an authority on Islam yet his teaching and that of Christianity in general is full of Misunderstanding. He and many Christians like him are sincere but they are sincerely wrong.

Two months later after having once again prayed seeking God's direction, I felt something drop into my being! I sat up, and it was the first time I was to use the name of Allah, and I said, "Allah, I believe you are the One and Only True God." There was peace that descended upon me and from that day four years ago until now I have never regretted embracing Islam. This decision did not come without trial.

I was fired from my job as I was teaching in two Bible Colleges at that time , ostracized by my former classmates, professors and co-pastors, disowned by my husband's family, misunderstood by my adult children and made a suspicion by my own government. Without the faith that enables man to stand up to Satanic forces I would not ha ve been able to withstand all of this. I am ever so grateful to Allah that I am a Muslim and may I live and die a Muslim. "Truly, my prayer, my service of sacrifice, my life and my death are all for God the Cherisher of the Worlds. No partner has He, this I am commanded. And I am the first of those who bow to Allah in Islam." (Holy Qur'aan 6:162-163)

* Sister Khadijah Watson is presently working as a teacher for women in one of the Da'wah (Invitation) Centers in Jeddah, Saudi Arabia

Priests are Accepting Islam

"Priests & Preachers Coming to Islam?"
True Life Story
How Yusuf Estes Came to Islam
Chaplain Yusuf Estes, former Christian, & Federal Prison Chaplain.

This is a very long file. You may print it out to read if you like.
Bismillah Rahman Raheem Al Hamdulilah Rabbil Alameen was Salat was Salam ala Rasoolulah
"Priests & Preachers Entering ISLAM?!"

To be honest, I was a "dedicated Christian"

and a good 'ol boy from Texas.
We hated anything and everything about those "Mozlems",
just like you are supposed to, here in the West.
We had been told: "They don't believe in

God; They worship a black box in the desert and; They kiss the ground 5 times a day.

"Moezlem" ? = Terrorists!
Hijackers!
Kidnappers!
Pagans! -
I hated them
- all of
them!

Many people ask me how a preacher or priest in Christianity can ever go to Islam, especially considering all the negative things that we hear about Islam and Muslims everyday. I would like to thank everyone for their interest and offer my humble story, God Willing.
Actually, a very nice Christian gentleman asked me through email why and how I left Christianity for Islam. So this is more or less a copy of the letter that I sent back to him.

--------------------------------------------------------------------------------http://www.todayislam.com/yusuf.htm

My name is Yusuf Estes and I am the National Muslim Chaplain for American Muslims, sponsored by a number of organizations here in Washington, DC. As such, I travel around the entire world lecturing and sharing the message of the Christ of the Quran in Islam. We hold dialogs and discussion groups with all faiths and enjoy the opportunity to work alongside of rabbis, ministers, preachers and priests everywhere. Most of our work is in the institutional area, military, universities and prisons. Primarily our goal is to educate and communicate the correct message of Islam and who the Muslims really are. Although Islam has grown now to tie Christianity as the largest of religions on earth, we see many of those who claim Islam as Muslims, that do not correctly understand nor properly represent the message of "Peace, Surrender and Obedience to God" (Arabic = 'Islam').

Dear me, I am afraid that I got a bit ahead of myself, I was trying to give a bit of background on my own personal experience to see if it would in anyway benefit you in your ministry. This may seem quite strange that I would offer to help you, while we perhaps share a few different perspectives and concepts of God, Jesus, prophethood, sin and salvation. But you see, at one time I was in the same boat as you. Really, I was. Let me explain.

I was born into a very strong Christian family in the Midwest. Our family and their ancestors not only built the churches and schools across this land, but actually were the same ones who came here in the first place. While I was still in elementary we relocated in Houston, Texas in 1949 (I'm old). We attended church regularly and I was baptized at the age of 12 in Pasadena, Texas. As a teenager, I wanted to visit other churches to learn more of their teachings and beliefs. The Baptists, Methodists, Episcopalians, Charismatic movements, Nazarene, Church of Christ, Church of God, Church of God in Christ, Full Gospel, Agape, Catholic, Presbyterian and many more. I developed quite a thirst for the "Gospel" or as we say; "Good News." My research into religion did not stop with Christianity. Not at all. Hinduism, Judaism, Buddhism, Metaphysics, native American beliefs were all a part of my studies. Just about the only one that I did not look into seriously was "Islam". Why? Good question.

Anyway, I became very interested in different types of music, especially Gospel and Classical. Because my whole family was religious and musical it followed that I too would begin my studies in both areas. All this set me for the logical position of Music Minister in many of the churches that I became affiliated with over the years. I started teaching keyboard instruments in 1960 and by 1963 owned my own studios in Laurel, Maryland, called "Estes Music Studios."

Over the next 30 years my father and I worked together in many business projects. We had entertainment programs, shows and attractions. We opened piano and organ stores all the way from Texas and Oklahoma to Florida. I made millions of dollars in those years, but could not find the peace of mind that can only come through knowing the truth and finding the real plan of salvation. I'm sure you have asked yourself the question; "Why did God create me?" or "What is it that God wants me to do?" or "Exactly who is God, anyway?" "Why do we believe in 'original sin?" and "Why would the sons of Adam be forced to accept his 'sins' and then as a result be punished forever. But if you asked anyone these questions, they would probably tell you that you have to believe without asking, or that it is a 'mystery' and you shouldn't ask.

And then there is the concept of the 'Trinity.' If I would ask preachers or ministers to give me some sort of an idea how 'one' could figure out to become 'three' or how God Himself, Who can do anything He Wills to do, cannot just forgive people's sins, but rather and had to become a man, come down on earth, be a human, and then take on the sins of all people. Keeping in mind that all along He is still God of the whole universe and does as He Wills to do, both in and outside of the universe as we know it.

Then one day in 1991, I came to know that the Muslims believed in the Bible. I was shocked. How could this be? But that's not all, they believe in Jesus as:

* a true messenger of God;
* prophet of God;
* miracle birth without human intervention;
* he was the 'Christ' or Messiah as predicted in the Bible;
* he is with God now and most important;
* He will be coming back in the Last Days to lead the believers against the 'Antichrist.'

This was too much for me. Especially since the evangelists that we used to travel around with all hated Muslims and Islam very much. They even said things that were not true to make people afraid of Islam. So, why would I want anything to do with these people?

My father was very active in supporting church work, especially church school programs. He became and ordained minister in the 1970s. He and his wife (my stepmother) knew many of the TV evangelists and preachers and even visited Oral Roberts and helped in the building of the "Prayer Tower" in Tulsa, OK. They also were strong supporters of Jimmy Swaggart, Jim and Tammy Fae Bakker, Jerry Fallwell, John Haggi and the biggest enemy to Islam in America, Pat Robertson.

Dad and his wife worked together and were most active in recording "Praise" tapes and distributing them for free to people in retirement homes, hospitals and homes for the elderly. And then in 1991 he began doing business with a man from Egypt and told me that he wanted me to meet him. This idea appealed to me when I thought about the idea of having an international flavor. You know, the pyramids, sphinx, Nile River and all that. Then my father mentioned that this man was a 'Moslem.'

I couldn't believe my ears.
A 'Moslem?'
No way!

I reminded my dad of the various different things that we had heard about these people, how they are -
Terrorists; hijackers; kidnappers; bombers and who knows what else?

Not only that but:

They don't believe in God

They kiss the ground five times a day and

They worship a black box in the desert.

No!
I did not want to meet this 'Moslem' man. No way!

My father insisted that I meet him and reassured me that he was a very nice person. So, I gave in and agreed to the meeting.

But on my terms.
I agreed to meet him on a Sunday after church so we would be all prayed up and in good standing with the Lord. I would be carrying my Bible under my arm as usual. I would have my big shiny cross dangling and I would have on my cap which says: "Jesus is Lord" right across the front. My wife and two young daughters came along and we were ready for our first encounter with the 'Moslems.'

When I came into the shop and asked my father where the 'Moslem' was, he pointed and said: "He's right over there."
I was confused. That couldn't be the Moslem. No way.

I'm looking for a huge man with flowing robes and big turban on his head, a beard half way down his shirt and eyebrows that go all the way across his forehead.

This man had no beard. In fact, he didn't even have any hair on his head at all. He was very close to bald. And he was very pleasant with a warm welcome and handshake. This didn't make sense. I thought they are terrorists and bombers. What is this all about?

Never mind. I'll get right to work on this guy. He needs to be 'saved' and me and the Lord are going to do it.
So, after a quick introduction, I asked him:

"Do you believe in God?"
He said:
"Yes."

(Good!)
Then I said:
"Do you believe in Adam and Eve?"
He said:
"Yes."

I said: "What about Abraham? You believe in him and how he tried to sacrifice his son for God?"
He said:
"Yes."

Then I asked:
"What about Moses?"
"Ten Commandments?"
"Parting the Red Sea?"
Again he said:
"Yes."

Then:
"What about the other prophets, David, Solomon and John the Baptist?"
He said:
"Yes."

I asked:
"Do you believe in the Bible?"
Again, he said:
"Yes."

So, now it was time for the big question:
"Do you believe in Jesus? That he was the Messiah (Christ) of God?"
Again the said:
"Yes."

Well now:
"This was going to be easier than I had thought."
He was just about ready to be baptized only he didn't know it.
And I was just the one to do it, too.

I was winning souls to the Lord day after day and this would be a big achievement for me, to catch one of these 'Moslems' and 'convert' him to Christianity.

I asked him if he liked tea and he said he did. So off we went to a little shop in the mall to sit and talk about my favorite subject: Beliefs.

While we sat in that little coffee shop for hours talking (I did most of the talking) I came to know that he was very nice, quiet and even a bit shy. He listened attentively to every word that I had to say and did not interrupt even one time. I liked this man's way and thought that he had definite potential to become a good Christian.

Little did I know the course of events about to unravel in front of my eyes.

First of all, I agreed with my father that we should do business with this man and even encouraged the idea of him traveling along with me on my business trips across the northern part of Texas. Day after day we would ride together and discuss various issues pertaining to different beliefs that people have. And along the way, I could of course interject some of my favorite radio programs of worship and praise to help bring the message to this poor individual. We talked about the concept of God; the meaning of life; the purpose of creation; the prophets and their mission and how God reveals His Will to mankind. We also shared a lot of personal experiences and ideas as well.

One day I came to know that my friend Mohamed was going to move out of the home he have been sharing with a friend of his and was going to be living in the mosque for a time. I went to my dad and asked him if we could invite Mohamed to come out to our big home in the country and stay there with us. After all, he could share some of the work and some expenses and he would be right there when we were ready to go to out traveling around. My father agreed and Mohamed moved in.

Of course I still would find time to visit my fellow preachers and evangelists around the state of Texas. One of them lived on the Texas -- Mexico border and another lived near lived Oklahoma border. One preacher liked to a huge wooden cross that was bigger than a car. He would carry it over his shoulder and drag the bottom on the ground and go down the road or freeway hauling these two beams formed in the shape of a cross. People would stop their cars and come over to him and ask him what was going on and he would give them pamphlets and booklets on Christianity.

One day my friend with the cross had a heart attack and had to go to the Veterans Hospital where he stayed for quite a long while. I used to visit him in the hospital several times a week and I would take Mohamed with me with the hopes that we could all share together in the subject of beliefs and religions. My friend was not very impressed and it was obvious that he did not want to know anything about Islam. Then one day a man who was sharing the room with my friend came rolling into the room in his wheelchair. I went to him and asked him his name and he said that it didn't matter and when I asked him where he was from he said he was from the planet Jupiter. I thought about what he said and then began to wonder if I was in the cardiac ward or the mental ward.

I knew the man was lonely and depressed and needed someone in his life. So, I began to 'witness' to him about the Lord. I read to him out of the book of Jonah in the Old Testament. I shared the story of the prophet Jonah who had been sent by the Lord to call his people to the correct way. Jonah had left his people and escaped by boat to leave his city and head out to sea. A storm came up and the ship almost capsized and the people on board threw Jonah over the side of the ship. A whale came up to the surface and grabbed Jonah, swallowed him and then went down to the bottom of the sea, where he stayed for 3 days and 3 nights. Yet because of God's Mercy, He caused the whale to rise to the surface and then spit Jonah out to return back home safely to his city of Nineveh. And the idea was that we can't really run away from our problems because we always know what we have done. And what is more, God also always knows what we have done.

After sharing this story with the man in the wheel chair, he looked up and me and apologized. He told me he was sorry for his rude behavior and that he had experienced some real serious problems recently. Then he said that he wanted to confess something to me. And I said that I was not a Catholic priest and I don't handle confessions. He replied back to me that he knew that. In fact, he said: "I am a Catholic priest."
I was shocked. Here I had been trying to preach Christianity to a priest. What in the world was happening here?

The priest began to share his story of being a missionary for the church for over 12 years to south and Central America and Mexico and even in New York's 'Hell's Kitchen.' When he was released from the hospital he needed a place to go to recover and rather than let him go to stay with a Catholic family, I told my dad that we should invite him to come out and live with us in the country along with our families and Mohamed. It was agreed by all that he would so, he moved out right away.

During the trip out to our home, I talked with the priest about some of the concepts of beliefs in Islam and to my surprise he agreed and then shared even more about this with me. I was shocked when he told me that Catholic priests actually study Islam and some even carry doctors degrees in this subject. This was all very enlightening to me. But there was still a lot more to come.

After settling in, we all began to gather around the kitchen table after dinner every night to discuss religion. My father would bring his King James Version of the Bible, I would bring out my Revised Standard Version of the Bible, my wife had another version of the Bible (maybe something like Jimmy Swaggart's 'Good News For Modern Man." The priest of course, had the Catholic Bible which has 7 more books in it that the Protestant Bible. So we spent more time talking about which Bible was the right one or the most correct one, than we did trying to convince Mohamed about becoming a Christian.

At one point I recall asking him about the Quran and how many versions of it there were in the last 1,400 years. He told me that there was only ONE QURAN. And that it had never been changed. Yet he let me know that the Quran had been memorized by hundreds of thousands of people, in it's entirety and were scattered about the earth in many different countries. Over the centuries since the Quran was revealed millions have memorized it completely and have taught it to others who have memorized it completely, from cover to cover, letter perfect without mistakes.

This did not seem possible to me. After all, the original languages of the Bible have all been dead languages for centuries and the documents themselves have been lost in their originals for hundreds and thousands of years. So, how could it be that something like this could be so easy to preserve and to recite from cover to cover.

Anyway, one day the priest asked the Mohamed if he might accompany him to the mosque to see what it was like there. They came back talking about their experience there and we could not wait to ask the priest what it was like and what all types of ceremonies they performed. He said they didn't really 'do' anything. They just came and prayed and left. I said: "They left? Without any speeches or singing?" He said that was right.

A few more days went by and the Catholic priest asked Mohamed if he might join him again for a trip to the mosque which they did. But this time it was different. They did not come back for a very long time. It became dark and we worried that something might have happened to them. Finally they arrived and when they came in the door I immediately recognized Mohamed, but who was this alongside of him? Someone wearing a white robe and a white cap. Hold on a minute! It was the priest. I said to him: "Pete? -- Did you become a 'Moslem?'
He said that he had entered into Islam that very day. THE PRIEST BECAME A MUSLIM!! What next? (You'll see).

So, I went upstairs to think things over a bit and began to talk to my wife about the whole subject. She then told me that she too was going to enter into Islam, because she knew it was the truth. I was really shocked now. I went downstairs and woke up Mohamed and asked him to come outside with me for a discussion. We walked and talked that whole night through. By the time he was ready to pray Fajr (the morning prayer of the Muslims) I knew that the truth had come at last and now it was up to me to do my part. I went out back behind my father's house and found an old piece of plywood lying under an overhang and right there I put my head down on the ground facing the direction that the Muslims pray five times a day.

Now then in that position, with my body stretched out on the plywood and my head on the ground, I asked: "O God. If you are there, guide me, guide me." And then after a while I raised up my head and I noticed something. No, I didn't see birds or angels coming out of the sky nor did I hear voices or music, nor did I see bright lights and flashes. What I did notice was a change inside of me. I was aware now more than ever before that it was time for me to stop lying and cheating and doing sneaky business deals. It was time that I really work at being an honest and upright man. I knew now what I had to do. So I went upstairs and took a shower with the distinct idea that I was 'washing' away the sinful old person that I had become over the years. And I was now coming into a new, fresh life. A life based on truth and proof.

Around 11:00 A.M. that morning, I stood before two witnesses, one the ex-priest, formerly known as Father Peter Jacob's, and the other Mohamed Abel Rehman and announced my 'shahadah' (open testimony to the Oneness of God and the prophethood of Muhammad, peace be upon him).

A few minutes later, my wife follow along and gave the same testimony. But hers was in front of 3 witnesses (me being the third).

My father was a bit more reserved on the subject and waited a few more months before he made his shahadah (public testimony). But he did finally commit to Islam and began offering prayers right along with me and the other Muslims in the local masjid (mosque).

The children were taken out of the Christian school and placed in Muslim schools. And now ten years later, they are memorizing much of the Quran and the teachings of Islam.

My father's wife was the last of all to acknowledge that Jesus could not be a son of God and that he must have been a mighty prophet of God, but not God.



Now stop and think. A whole entire household of people from varying backgrounds and ethnic groups coming together in truth to learn how to know and worship the Creator and Sustainer of the Universe. Think. A Catholic priest. A minister of music and preacher. An ordained minister and builder of Christian schools. And they all come into Islam! Only by His Mercy were we all guided to see the real truth of Islam without any blinders on their eyes any longer.

If I were to stop right here, I'm sure that you would have to admit that at least, this is an amazing story, right? After all, three religious leaders of three separate denominations all going into one very opposite belief at the same time and then soon after the rest of the household.

But that is not all. There is more! The same year, while I was in Grand Prairie, Texas (near Dallas) I met a Baptist seminary student from Tennessee named Joe, who also came to Islam after reading the Holy Quran while in BAPTIST SEMINARY COLLEGE!

There are others as well. I recall the case of the Catholic priest in a college town who talked about the good things in Islam so much that I was forced to ask him why he didn't enter Islam. He replied: "What? And loose my job?" - His name is Father John and there is still hope for him yet.

More? Yes. The very next year I met a former Catholic priest who had been a missionary for 8 years in Africa. He learned about Islam while he was there and entered into Islam. He then changed his name to Omar and moved to Dallas Texas.

Any more? Again, yes. Two years later, while in San Antonio, Texas I was introduced to a former Arch Bishop of the Orthodox Church of Russia who learned about Islam and gave up his position to enter Islam.

And since my own entrance into Islam and becoming a chaplain to the Muslims throughout the country and around the world, I have encountered many more individuals who were leaders, teachers and scholars in other religions who learned about Islam and entered into it. They came from Hindus, Jews, Catholics, Protestants, Jehovah's Witnesses, Greek and Russian Orthodox, Coptic Christians from Egypt, non-denominational churches and even scientists who had been atheists.

Why? Good question.
May I suggest to the seeker of truth do the following NINE STEPS to purification of the mind:

1.) Clean their mind, their heart and their soul real good.
2.) Clear away all the prejudices and biases
3.) Read a good translation of the meaning of the Holy Quran in a language that they can understand best.
4.) Take some time.
5.) Read and reflect.
6.) Think and pray.
7.) And keep on asking the One who created you in the first place, to guide you to the truth.
8.) Keep this up for a few months. And be regular in it.
9.) Above all, do not let others who are poisoned in their thinking influence you while your are in this state of "rebirth of the soul."

The rest is between you and the Almighty Lord of the Universe. If you truly love Him, then He already Knows it and He will deal with each of us according to our hearts.

So, now you have the introduction to the story of my coming into Islam and becoming Muslim. There is more on the Internet about this story and there are more pictures there as well. Please take the time to visit it and then please take the time to email me and let us come together to share in all truths based on proofs for understanding our origins and our purpose and goals in this life and the Next Life.

And once again I thank you for your email today. If you hadn't sent it, I probably would still not have completed this task of putting down the story once and for all of how "Priest and Preachers Are Coming to Islam."

May Allah guide you on your journey to all truth. Ameen. And May He open your heart and your mind to the reality of this world and the purpose of this life, ameen.

Peace to you and Guidance from Allah the One Almighty God, Creator and Sustainer of all that exists.
Your friend,

Yusuf Estes
Chaplain Yusuf Estes

Cambridge University hears ex-priest's journey to Islam



Idris TawfiqIdris Tawfiq said he has found a peace he never knew before

Related Stories

A Roman Catholic priest who converted to Islam has been speaking about his reasons for changing faith.
Idris Tawfiq was a guest speaker at the University of Cambridge's annual Experience Islam Week, which aims to raise awareness and foster tolerance.
Mr Tawfiq said: "It's not that I went looking for Islam. Islam came looking for me.
"I loved my former life and my work, but now I've found a peace that I never knew before."
Mr Tawfiq explained that he made the decision to leave the priesthood when he realised how lonely he was.
"I left my job, but not the Catholic religion," he said.
"I had no intention of changing my faith. That wasn't part of the plan at all."
'No harshness'
Mr Tawfiq, said he had lived in the UK for 40 years and had a stereotyped view of Muslims.
But while on holiday in Egypt he met and befriended many Muslims, and said that he began to realise his perception of the Islamic faith was flawed.

Start Quote

My Christian faith slid away slowly and Islam became more and more important”
Idris Tawfiq
Mr Tawfiq said his journey towards Islam took him one year, after which he embraced both the religion, culture and changed his name.
"My Christian faith slid away slowly and Islam became more and more important.
"I play down my Catholic priesthood, but all I have is great love in my heart for the people who made me what I am."
"There is no harshness to Islam," he added. "It really is very beautiful, very gentle and sweet.
"Before you make a decision, hold your breath and listen to what Islam has to say. Then make up your mind."
Mr Tawfiq now lives in Egypt, and speculating on the future of the country after the resignation of Hosni Mubarak, said: "One thing Islam teaches is never to be surprised by what is offered in life.
"Who would have imagined three weeks ago that someone who had ruled the country for 30 years would no longer rule it now?
"It gives me great hope that when we think we can do nothing about a situation, by God's grace there is something that we can do."

Saturday, January 19, 2013

Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a. dari Ibn Abbas r.a., ia berkata :”Kami bersama Rasululah SAW berada di rumah seorang sahabat dari golongan Anshar dalam sebuah jamaah. Tiba-tiba, ada yang memanggil dari luar :”Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, karena kalian membutuhkanku”.Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat :”Apakah kalian tahu siapa yang menyeru itu?”. Para sahabat menjawab,”Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Rasulullah berkata :”Dia adalah Iblis yang terkutuk – semoga Allah senantiasa melaknatnya”.Umar bin Khattab r.a. berkata :”Ya, Rasulullah , apakah engkau mengijinkanku untuk membunuhnya?”.Nabi SAW berkata pelan :”Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa dia termasuk mereka yang tertunda kematiannya sampai waktu yang ditentukan [hari kiyamat]?. Sekarang silakan bukakan pintu untuknya, karena ia sedang diperintahkan Allah SWT. Fahamilah apa yang dia ucapkan dan dengarkan apa yang akan dia sampaikan kepada kalian!”.Ibnu Abbas berkata :”Maka dibukalah pintu, kemudian Iblis masuk ke tengah-tengah kami. Ternyata dia adalah seorang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Dagunya berjanggut sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda, kedua kelopak matanya [masyquqatani] memanjang [terbelah ke-atas, tidak kesamping], kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi, kedua bibirnya seperti bibir macan / kerbau [tsur].Dia berkata,”Assalamu ‘alaika ya Muhammad, assalamu ‘alaikum ya jamaa'atal-muslimin [salam untuk kalian semua wahai golongan muslimin]“.Nabi SAW menjawab : ”Assamu lillah ya la'iin [Keselamatan hanya milik Allah SWT, wahai makhluq yang terlaknat. Aku telah mengetahui, engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu wahai Iblis".Iblis berkata : ”Wahai Muhammad, aku datang bukan karena keinginanku sendiri, tetapi aku datang karena terpaksa [diperintah] .”Nabi SAW berkata : ”Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini, wahai terlaknat?”.Iblis berkata,”Aku didatangi oleh seorang malaikat utusan Tuhan Yang Maha Agung, ia berkata kepada-ku ‘Sesungguhnya Allah SWT menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad SAW dalam keadaan hina dan bersahaja. Engkau harus memberitahu kepadanya bagaimana tipu muslihat, godaanmu dan rekayasamu terhadap Bani Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan kepa-damu' . Allah SWT bersabda,”Demi kemulia-an dan keagungan-Ku, jika engkau berbohong sekali saja dan tidak berkata benar, niscaya Aku jadikan kamu debu yang dihempas oleh angin dan Aku puaskan musuhmu karena bencana yang menimpamu”. Wahai Muhammad, sekarang aku datang kepadamu sebagaimana aku diperintah. Tanyakanlah kepadaku apa yang kau inginkan. Jika aku tidak memuaskanmu tentang apa yang kamu tanyakan kepadaku, niscaya musuhku akan puas atas musibah yang terjadi padaku. Tiada beban yang lebih berat bagiku daripada leganya musuh-musuhku yang menimpa diriku”.Rasulullah kemudian mulai bertanya :”Jika kamu jujur, beritahukanlah kepada-ku, siapakah orang yang paling kamu benci ?”.Iblis menjawab :”Engkau, wahai Muhammad, engkau adalah makhluq Allah yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu”.Rasulullah SAW :”Siapa lagi yang kamu benci?”.Iblis :”Anak muda yang taqwa, yang menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT”.Rasulullah :”Lalu siapa lagi ?”.Iblis :”Orang Alim dan Wara [menjaga diri dari syubhat] yang saya tahu, lagi penyabar”.Rasulullah :”Lalu, siapa lagi ?”.Iblis :”Orang yang terus menerus menjaga diri dalam keadaan suci dari kotoran”.Rasulullah :”Lalu, siapa lagi ?”.Iblis :”Orang miskin [fakir] yang sabar, yang tidak menceritakan kefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan keluh-kesahnya”.Rasulullah :”Bagaimana kamu tahu bahwa ia itu penyabar ?”.Iblis :”Wahai Muhammad, jika ia mengadukan keluh kesahnya kepada makhluq sesamanya selama tiga hari, Tuhan tidak memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang sabar”.Rasulullah :”Lalu, siapa lagi ?”.Iblis :”Orang kaya yang bersyukur”.Rasulullah bertanya :”Bagaimana kamu tahu bahwa ia bersyukur ?”.Iblis :”Jika aku melihatnya meng-ambil dari dan meletakkannya pada tempat yang halal”.Rassulullah :”Bagaimana keadaanmu jika umatku mengerjakan shalat ?”.Iblis :”Aku merasa panas dan gemetar”.Rasulullah :”Kenapa, wahai terlaknat?”.Iblis :”Sesungguhnya, jika seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud saja, maka Allah mengangkat derajatnya satu tingkat”.Rassulullah :”Jika mereka shaum ?”.Iblis :”Saya terbelenggu sampai mereka berbuka puasa”.Rasulullah :”Jika mereka menunaikan haji ?”.Iblis :”Saya menjadi gila”.Rasulullah :”Jika mereka membaca Al Qur'an ?'.Iblis :' Aku meleleh seperti timah meleleh di atas api”.Rasulullah :”Jika mereka berzakat ?”.Iblis :”Seakan-akan orang yang berzakat itu mengambil gergaji / kapak dan memotongku menjadi dua”.Rasulullah :”Mengapa begitu, wahai Abu Murrah ?”.Iblis :”Sesungguhnya ada empat manfaat dalam zakat itu. Pertama, Tuhan menurunkan berkah atas hartanya. Kedua, menjadikan orang yang bezakat disenangi makhluq-Nya yang lain. Ketiga, menjadikan zakatnya sebagai penghalang antara dirinya dengan api neraka. Ke-empat, dengan zakat, Tuhan mencegah bencana dan malapetaka agar tidak menimpanya”.Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?”.Iblis :”Wahai Muhammad, pada zaman jahiliyah, dia tidak taat kepadaku, bagaimana mungkin dia akan mentaatiku pada masa Islam”.Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Umar ?”.Iblis :”Demi Tuhan, tiada aku ketemu dengannya kecuali aku lari darinya”.Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Utsman ?”.Iblis :”Aku malu dengan orang yang para malaikat saja malu kepadanya”.Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Ali bin Abi Thalib ?”.Iblis :”Andai saja aku dapat selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya [menukar darinya kepala dengan kepala], dan kemudian ia meninggalkanku dan aku meninggalkannya, tetapi dia sama sekali tidak pernah melakukan hal itu”.Rasulullah :”Segala puji hanya bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu sampai hari kiamat”.Iblis yang terlaknat berkata kepada Muhammad :”Hay-hata hay-hata [tidak mungkin- tidak mungkin]. Mana bisa umatmu bahagia sementara aku hidup dan tidak mati sampai hari kiamat. Bagaimana kamu senang dengan umatmu sementara aku masuk ke dalam diri mereka melalui aliran darah, daging, sedangkan mereka tidak melihatku. Demi Tuhan yang menciptakanku dan membuatku menunggu sampai hari mereka dibangkitkan. Akan aku sesatkan mereka semua, baik yang bodoh maupun yang pandai, yang buta-huruf dan yang melek-huruf. Yang kafir dan yang suka beribadah, kecuali hamba yang mukhlis [ikhlas]“.Rasulullah :”Siapa yang mukhlis itu menurutmu ?”.Iblis dengan panjang-lebar menjawab :”Apakah engkau tidak tahu, wahai Muhammad. Barangsiapa cinta dirham dan dinar, dia tidak termasuk orang ikhlas untuk Allah. Jika aku melihat orang tidak suka dirham dan dinar, tidak suka puji dan pujaan, aku tahu bahwa dia itu ikhlas karena Allah, maka aku tinggalkan ia. Sesungguhnya hamba yang mencintai harta, pujian dan hatinya tergantung pada nafsu [syahwat] dunia, dia lebih rakus dari orang yang saya jelaskan kepadamu.Tak tahukah engkau, bahwa cinta harta termasuk salah satu dosa besar. Wahai Muhammad, tak tahukan engkau bahwa cinta kedudukan [riyasah] termasuk dosa besar. Dan bahwa sombong, juga termasuk dosa besar. Wahai Muhammad, tidak tahukan engkau, bahwa aku punya tujuh puluh ribu anak. Setiap anak dari mereka, punya tujuh puluh ribu syaithan. Diantara mereka telah aku tugaskan untuk menggoda golongan ulama, dan sebagian lagi menggoda anak muda, sebagian lagi menggoda orang-orang tua, dan sebagian lagi menggoda orang-orang lemah.Adapun anak-anak muda, tidak ada perbedaan di antara kami dan mereka, sementara anak-anak kecilnya, mereka bermain apa saja yang mereka kehendaki bersamanya. Sebagian lagi telah aku tugaskan untuk menggoda orang-orang yang rajin beribadah, sebagian lagi untuk kaum yang menjauhi dunia [zuhud]. Setan masuk ke dalam dan keluar dari diri mereka, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, dari satu pintu ke pintu yang lain, sampai mereka mempengaruhi manusia dengan satu sebab dari sebab-sebab yang banyak. Lalu syaithan mengambil keikhlasan dari mereka. Menjadikan mereka menyembah Allah tanpa rasa ikhlas, tetapi mereka tidak merasa. Apakah engkau tidak tahu, tentang Barshisha, sang pendeta yang beribadah secara ikhlas selama tujuh puluh tahun, hingga setiap orang yang sakit menjadi sehat berkat da'wahnya. Aku tidak meninggalkannya sampai dia dia berzina, membunuh, dan kafir [ingkar]. Dialah yang disebut oleh Allah dalam Qur'an dengan firmannya [dalam Surah Al Hasyr] :”(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika mereka berkata pada manusia:”Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata:”Sesungguhn ya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam”. (QS. 59:16).Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu berasal dariku. Akulah orang yang pertama kali berbohong. Barangsiapa berbohong, dia adalah temanku, dan barangsiapa berbohong kepada Allah, dia adalah kekasihku. Apakah engkau tidak tahu, bahwa aku bersumpah kepada Adam dan Hawa,”Demi Allah aku adalah penasihat kamu berdua”. Maka, sumpah palsu merupakan kesenangan hatiku, ghibah, membicarakan kejelekan orang lain, dan namimah, meng-adu domba adalah buah kesukaanku, melihat yang jelek-jelek adalah kesukaan dan kesenanganku. Barangsiapa thalaq, bersumpah untuk cerai, dia mendekati perbuatan dosa, meskipun hanya sekali, dan meskipun ia benar. Barangsiapa membiasakan lisannya dengan ucapan cerai, istrinya menjadi haram baginya. Jika mereka masih memiliki keturunan sampai hari kiyamat, maka anak mereka semuanya adalah anak-anak hasil zina. Mereka masuk neraka hanya karena satu kata saja.Wahai Muhammad, sesungguhnya diantara umatmu ada yang meng-akhirkan shalat barang satu dua jam. Setiap kali mau shalat, aku temani dia dan aku goda dia. Kemudian aku katakan kepadanya:”Masih ada waktu, sementara engkau sibuk”. Sehingga dia mengakhirkan shalatnya dan mengerjakannya tidak pada waktunya, maka Tuhan memukul wajahnya. Jika ia menang atasku, maka aku kirim satu syaithan yang membuatnya lupa waktu shalat. Jika ia menang atasku, aku tinggalkan dia sampai ketika mengerjakan shalat aku katakan kepadanya,' Lihatlah kiri-kanan', lalu ia menengok. Saat itu aku usap wajahnya dengan tanganku dan aku cium antara kedua matanya dan aku katakan kepadanya,' Aku telah menyuruh apa yang tidak baik selamanya'. Dan engkau sendiri tahu wahai Muhammad, siapa yang sering menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul wajahnya.Jika ia menang atasku dalam hal shalat, ketika shalat sendirian, aku perintahkan dia untuk tergesa-gesa. Maka ia ‘mencucuk' shalat seperti ayam mematuk biji-bijian dengan tergesa-gesa. Jika ia menang atasku, maka ketika shalat berjamaah aku cambuk dia dengan ‘lijam' [cambuk] lalu aku angkat kepalanya sebelum imam mengangkat kepalanya. Aku letakkan ia hingga mendahului imam. Kamu tahu bahwa siapa yang melakukan itu, batal-lah shalatnya dan Allah akan mengganti kepalanya dengan kepala keledai pada hari kiyamat nanti.Jika ia masih menang atasku, aku perintahkan dia untuk mengacungkan jari-jarinya ketika shalat sehingga dia mensucikan aku ketika ia sholat. Jika ia masih menang, aku tiup hidungnya sampai dia menguap. Jika ia tidak menaruh tangan di mulutnya, syaithan masuk ke dalam perutnya dan dengan begitu ia bertambah rakus di dunia dan cinta dunia. Dia menjadi pendengar kami yang setia.Bagaimana umatmu bahagia sementara aku menyuruh orang miskin untuk meninggalkan shalat. Aku katakan kepadanya,' Shalat tidak wajib atasmu. Shalat hanya diwajibkan atas orang-orang yang mendapatkan ni'mat dari Allah'. Aku katakan kepada orang yang sakit :”Tinggalkanlah shalat, sebab ia tidak wajib atasmu. Shalat hanya wajib atas orang yang sehat, karena Allah berkata :”Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, ………Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (QS. 24:61) Tidak ada dosa bagi orang yang sakit. Jika kamu sembuh, kamu harus shalat yang diwajibkan”. Sampai dia mati dalam keadaan kafir. Jika dia mati dan meninggalkan shalat ketika sakit, dia bertemu Tuhan dan Tuhan marah kepadanya. Wahai Muhammad, jika aku bohong dan ngawur, maka mintalah kepada Tuhan untuk membuatku jadi pasir. Wahai Muhammad, bagaimana engkau bahagia melihat umatmu, sementara aku mengeluarkan seper-enam umatmu dari Islam.Nabi berkata :”Wahai terlaknat, siapa teman dudukmu ?”.Iblis :”Pemakan riba”.Nabi :”Siapa teman kepercayaanmu [shadiq] ?”.Iblis :”Pe-zina”.Nabi :”Siapa teman tidurmu ?”.Iblis :”Orang yang mabuk”.Nabi :”Siapa tamumu ?”.Iblis :”Pencuri”.Nabi :”Siapa utusanmu ?”.Iblis :”Tukang Sihir”.Nabi :”Apa kesukaanmu ?”.Iblis :”Orang yang bersumpah cerai”.Nabi :”Siapa kekasihmu ?”.Iblis :”Orang yang meninggalkan shalat Jum'at”.Nabi :”Wahai terlaknat, siapa yang memotong punggungmu ?”.Iblis :”Ringkikan kuda untuk berperang di jalan Allah”.Nabi :”Apa yang melelehkan badanmu ?”.Iblis :”Tobatnya orang yang bertaubat”.Nabi :”Apa yang menggosongkan [membuat panas] hatimu ?”.Iblis :”Istighfar yang banyak kepada Allah siang-malam.Nabi :”Apa yang memuramkan wajahmu (membuat merasa malu dan hina)?”.Iblis :”Zakat secara sembunyi-sembunyi”.Nabi :”Apa yang membutakan matamu ?”.Iblis :”Shalat diwaktu sahur [menjelang shubuh]”.Nabi :”Apa yang memukul kepalamu ?”.Iblis :”Memperbanyak shalat berjamaah”.Nabi :”Siapa yang paling bisa membahagiakanmu ?”.Iblis :”Orang yang sengaja meninggalkan shalat”.Nabi :”siapa manusia yang paling sengsara [celaka] menurutmu?”.Iblis :”Orang kikir / pelit”.Nabi :”Siapa yang paling menyita pekerjaanmu [menyibukkanmu] ?”.Iblis :”Majlis-majlis ulama”.Nabi :”Bagaimana kamu makan ?”.Iblis :”Dengan tangan kiriku dan dengan jari-jariku”.Nabi :”Dimana kamu lindungkan anak-anakmu ketika panas ?”.Iblis :”Dibalik kuku-kuku manusia”.Nabi :”Berapa keperluanmu yang kau mintakan kepada Allah ?”.Iblis :”Sepuluh perkara”.Nabi :”Apa itu wahai terlaknat ?”.Iblis :”Aku minta kepada-Nya untuk agar saya dapat berserikat dalam diri Bani Adam, dalam harta dan anak-anak mereka. Dia mengijinkanku berserikat dalam kelompok mereka. Itulah maksud firman Allah : Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS. 17:64)Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari syaithan ketika bersetubuih dengan istrinya maka syaithan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya.Itulah maksud firman Allah :”……. , dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki …… (QS. 17:64) . Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar-mandi. Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku. Aku memohon agar saya punya al-Qur'an, maka syair adalah al-Qur'anku. Saya memohon agar punya adzan, maka terompet adalah panggilan adzanku. Saya memohon agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku. Saya memohon agar saya punya teman-teman yang menolongku, maka maka kelompok al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku. Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfaq-kan harta kekayaannya untuk kemaksiyatan adalah teman dekat-ku. Ia kemudian membaca ayat : Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. (QS. 17:27)Rasulullah berkata :”Andaikata tidak setiap apa yang engkau ucapkan didukung oleh ayat-ayat dari Kitabullah tentu aku tidak akan membenarkanmu”.Lalu Iblis meneruskan :”Wahai Muhammad, saya memohon kepada Allah agar saya bisa melihat anak-cucu Adam sementara mereka tidak dapat melihatku. Kemudian Allah menjadikan aku dapat mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku dapat berjalan kemanapun sesuai dengan kemauanku dan dengan cara bagaimanapun. Kalau saya mau, dalam sesaatpun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku:”Engkau dapat melakukan apa saja yang kau minta”. Akhirnya saya merasa senang dan bangga sampai hari kiamat . Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak daripada yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai hari kiamat.Saya memiliki anak yang saya beri nama Atamah. Ia akan kencing di telinga seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan shalat Isya. Andaikata tidak karenanya tentu ia tidak akan tidur lebih dahulu sebelum menjalankan shalat. Saya juga punya anak yang saya beri nama Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan ibadah dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamer-kan ditengah-tengah manusia sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh sembilan dari seratus pahala-Nya sehingga yang tersisa hanya satu pahala, sebab, setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala. Saya punya anak lagi yang bernama Kuhyal. Ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang ada di majlis pengajian dan ketika khatib sedang memberikan khutbah, sehingga, mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak dapat mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Bagi mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya.Setiap kali ada perempuan keluar pasti ada syaithan yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya. Dimana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua syaithan itu kemudian berkata kepadanya, ‘ keluarkan tanganmu'. Akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya.Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak dapat menyesatkan sedikitpun, akan tetapi saya hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikata saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak akan membiarkan segelintir manusia-pun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan”Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya”, dan tidak akan ada lagi orang yang shalat dan berpuasa. Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak memberikan hidayat sedikitpun kepada siapa saja, akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanah dari Tuhan. Andaikata engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang-pun kafir di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai hujjah [argumentasi] Tuhan terhadap makhluq-Nya. Sementara saya adalah hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya sudah dicap oleh Allah menjadi orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya.Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman dalam QS Hud : Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, (QS. 11:118) kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan; sesungguh-nya Aku akan memenuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS. 11:119) dilanjutkan dengan : Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (QS. 33:38)”.Kemudian Rasulullah berkata lagi kepada Iblis :”Wahai Abu Murrah [Iblis], apakah engkau masih mungkin bertaubat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjamin-mu masuk surga”.Ia iblis menjawab :”Wahai Rasulullah, ketentuan telah memutuskan dan Qalam-pun telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari kiamat nanti. Maka Maha Suci Tuhan, yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan Khatib para penduduk surga. Dia, telah memilih dan meng-khususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang yang celaka dan khatib para penduduk neraka. Saya adalah makhluq celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu dan saya mengatakan yang sejujurnya”.Segala puji hanya milik Allah SWT , Tuhan Semesta Alam, awal dan akhir, dzahir dan bathin. Semoga shalawat dan salam sejahtera tetap selalu diberikan kepada seorang Nabi yang Ummi dan kepada para keluarga dan sahabatnya serta para Utusan dan Para Nabi.Hikmah dari Kisah tersebut di atas Sebagai upaya mencari hikmah dalah kisah di atas, rangkuman ini barangkali berguna untuk direnungkan :
Kita perlu semakin menancapkan keyakinan, bahwa syaithan tidak punya kuasa sedikitpun bagi orang-orang yang disucikan-Nya.
Jadi upaya kita adalah memohon kepada Allah Ta'Ala agar Dia ridho dan berkenan membersihkan segala dosa baik sengaja maupun tidak untuk mendapatkan ampunan-Nya.
Bila kita simak, perbedaan mendasar keyakinan Iblis adalah tidak ada keinginannya untuk bertaubat, walau Rasulullah SAW telah menghimbaunya bahkan dengan menawarkan jaminan untuk mendapatkan ampunan. Dengan tegas Allah berfirman : Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. 20:82).
Bila kita cermati hadangan dan rintangan yang akan dilakukan oleh Iblis dari kisah tersebut membuat kesadaran bahwa upaya untuk menjalani kehidupan sungguh tidak mudah.

Hanya karena Maha Rahman dan Maha Rakhiim-Nya sajalah kita akan selamat dalam menjalani kehidupan ini hingga akan selamat dari jebakan-jebakan syaithan.

Liquid Culture

Sedang senang senangnya coba coba buat liquid culture untuk Jamur Tiram, so far so gud, besok tinggal fase test apakah liquid culture yang ...