Showing posts with label Religion. Show all posts
Showing posts with label Religion. Show all posts

Tuesday, January 1, 2013

Kadang Penderitaan Adalah Awal dari Pencerahan


Seorang koki memasukkan buncis ke dalam kuali yang penuh minyak untuk dimasak. Buncis itu melompat-lompat kepanasan, ia meronta, meloncat ke tepi kuali dan berteriak, "Mengapa kau bakar aku? Tak cukupkah kau telah beli aku? Mengapa kau juga harus menyiksaku?"

Koki itu membenamkannya kembali ke dalam kuali dengan sendoknya dan berkata, "Tenanglah, mendidihlah engkau dengan baik! Jangan lompat terlalu jauh dari ia yang menyalakanmu. Aku tak merebusmu karena aku membencimu. Aku memasakmu agar kau menjadi lezat dan penuh cita rasa. Agar kau dapat menjadi makanan dan bersatu dengan kehidupan. Penderitaanmu tak disebabkan karena aku menghinakanmu! Ketika kau segar dan hijau, kau selalu meminum air di kebun. Kau meminum air itu untuk bersiap menghadapi api ini."

Kasih sayang Tuhan lebih besar dari penderitaan yang Dia berikan. Kasih sayang-Nya senantiasa lebih besar dari murka-Nya. Kau dididihkan dalam penderitaan dan kesengsaraan, tiada lain agar ego dan eksistensi dirimu lenyap tak berbekas! Kau berubah menjadi makanan, kekuatan, dan fikiran yang luhur. Dahulu kau lemah, kini kau seperkasa singa hutan 

Wednesday, November 17, 2010

Qurban

A
da satu pemandangan yang sering menggelitik hati saat hari qurban tiba, ratusan orang antri daging qurban, berdesakan sampai ada yang terjepit, terinjak, sampai pingsan. Fenomena ini dari waktu ke waktu selalu kita lihat, padahal secara logika mestinya tidak terjadi.

Kenapa ? Hitung hitungannya begini : bila jumlah orang kaya muslim 10% saja dari penduduk indonesia, artinya bila 10 % muslim kaya tersebut semua berkurban 1 ekor kambing saja berarti 9 orang miskin indonesia akan mendapatkan 1/9 ekor kambing.

1/9 ekor kambing itu jumlah yang sangat besar ! Mungkin 2 atau 3 kg daging, belum lagi kalau keluarga kaya muslim yg mestinya berkurban itu menyembelih 2 atau 3 ekor kambing ( untuk anak dan istri). Berarti 1 keluarga fakir miskin bisa memperoleh 1 paha kambing ! So kondisi sekarang mencerminkan bahwa jumlah muslim kaya yang berkurban mungkin hanya 0.01% saja sehinga moment qurban tidak terasa bagi fakir miskin di Indonesia.

Kapan kita bisa melihat panitia qurban kesulitan membagi daging kurban karena melimpahnya daging qurban dan sedikitnya orang yg bersedia menerima daging qurban?

Saya dengan istri mencoba menghitung secara kasar saat shalat ied kemarin di sebuah masjid, berapa jumlah hewan qurban dan berapa jumlah mobil yang diparkir di halaman masjid tersebut. Jumlah hewan qurban 4 ekor sapi dan 7 ekor kambing. Sementara jumlah mobil yang parkir puluhan buah.

Disini secara kasar kita bisa melihat bahwa banyak muslim yg sanggup bawa mobil tetapi tidak sanggup berkurban hewan sembelihan, saya tidak tahu apa yang membuat banyak orang kaya muslim yang tidak mau berkurban, tetapi saya yakin bahwa mereka tahu hukum berkurban.

Sepanjang mendengarkan kutbah saya membayangkan Bapak para nabi Ibrahim dengan tulus ikhlas bersedia mengurbankan anak tercinta Nabi Ismail, harta termahal yang Nabi Ibrahim miliki, menyembelih permata hati yang kehadirannya ditunggu selama bertahun tahun kini harus beliau sembelih. Kini kita sebagai muslim hanya diminta untuk menyembelih binatang qurban ! Dan sebagian dari kita yang mampu membeli mobil (bahkan tidak cuma satu) masih enggan untuk ber qurban hewan sembelihan.

Saya sering berbincang dengan kawan kawan yang punya motor, mobil dan rumah cukup bagus, gimana mas qurban berapa tahun ini ? Jawabannya sering kali klasik ...... Waduh mas .... Kayaknya tahun ini tidak bisa qurban nih, rejeki sedang seret, mudah mudahan tahun depan dech ! Dan Alhamdulillah tahun depannya tidak bisa ber Qurban lagi !!!!

Empat belas tahun yang lalu seorang teman mengajarkan kepada saya agar enteng dan bisa ber qurban, caranya sangat sangat sederhana, yang pertama saya disuruh berniat tahun 1996 akan qurban 1 ekor kambing.
Kemudian kita harus tahu berapa harga kambing saat itu. Nah tiap hari saya masukin ke celengan uang uang kecil ataupun besar dikit hehe, tiap bulan kita wajibkan masukin ke celengan agar 12 bulan kemudian cukup untuk membeli kambing.

Alhamdulillah ketika hari qurban tiba jumlah celengan culup untuk membeli satu ekor kambing, pengalaman ini sangat berkesan bagi saya, uang sisa naik angkot setiap hari kerja selama setahun bisa untuk membeli satu ekor kambing. Bagi kawan kawan yang mrrokok, anda bisa berhenti merokok setiap hari dan masukin ke celengan 5 ribu rupiah per hari - sebulan 150 ribu - setahun 1.6 juta so anda bisa berqurban dan tubuh lebih sehat.

Sekali anda ber Qurban saya jamin tahun tahun berikutnya anda akan berQurban, karena ber Qurban itu Nikmat, nikmat menjalankan perintah Allah, Nikmta melihat wajah wajah penuh bahagia membawa daging qurban, nikmat berbagi dengan sesama.

Bila tips sederhana tersebut dijalankan, berkurban itu ndak berat, kalau kita sanggup beli mobil, motor ataupun rokok kita mestinya sanggup membeli hewan qurban. Dan kita tidak lagi akan melihat nenek nenek berebut, terjepit dan terinjak injak untuk 2 ons daging qurban. Mari kita buat panitia qurban bekerja keras kesulitan membagi daging qurban karena melimpahnya daging qurban yang harus dibagi

Monday, September 7, 2009

Menundukkan Pandangan

Tidak ada yang lebih menguntungkan dibanding menundukkan pandangan bagi seseorang, sebab penglihatan itu tidak ditundukkan dari segala hal yang dilarang Allah kecuali jika penyaksian akan keagungan dan kemuliaan itu telah sampai ke dalam hati.


Amir Al-mukminin 'Ali ibn Abi Thalib r.a. ditanya tentang apa yang dapat membantu seseorang untuk menundukkan pandangannya. Beliau berkata "Kepasrahan pada kekuasaan-Nya yang mengetahui segala rahasiamu. Mata adalah pancaran hati dan cerminan akal; karena itu tundukkanlah pandanganmu dari apa pun yang tidak disukai oleh hatimu dan dari apa pun yang dianggap oleh akalmu tidak patut"

Nabi Saw berkata "Tundukkanlah matamu dan kamu akan melihat keajaiban-keajaiban"

Nabi Isa a.s. berkata kepada murid muridnya, "Waspadalah untuk tidak melihat hal hal yang dilarang, sebab itu merupakan benih nafsu dan menuntut kepada perilaku yang menyimpang"

Seorang bijak berkata "Aku lebih memilih kematian daripada memandang sesuatu yang tidak perlu"

Sunday, April 5, 2009

Inspiration Story - Trees That Wood

Once there were three trees on a hill in the woods. They were discussing their hopes and dreams when the first tree said, "Someday I hope to be a treasure chest. I could be filled with gold, silver and precious gems. I could be decorated with intricate carving and everyone would see the beauty."

Then the second tree said, "Someday I will be a mighty ship. I will take kings and queens across the waters and sail to the corners of the world. Everyone will feel safe in me because of the strength of my hull."

Finally the third tree said, "I want to grow to be the tallest and straightest tree in the forest. People will see me on top of the hill and look up to my branches, and think of the heavens and God and how close to them I am reaching. I will be the greatest tree of all time and people will always remember me."

After a few years of praying that their dreams would come true, a group of woodsmen came upon the trees. When one came to the first tree he said, "This looks like a strong tree, I think I should be able to sell the wood to a carpenter" ... and he began cutting it down. The tree was happy, because he knew that the carpenter would make him into a treasure chest.

At the second tree a woodsman said, "This looks like a strong tree, I should be able to sell it to the shipyard." The second tree was happy because he knew he was on his way to becoming a mighty ship.

When the woodsmen came upon the third tree, the tree was frightened because he knew that if they cut him down his dreams would not come true. One of the woodsmen said, "I don't need anything special from my tree so I'll take this one", and he cut it down.

When the first tree arrived at the carpenters, he was made into a feed box for animals. He was then placed in a barn and filled with hay. This was not at all what he had prayed for. The second tree was cut and made into a small fishing boat. His dreams of being a mighty ship and carrying kings had come to an end. The third tree was cut into large pieces and left alone in the dark. The years went by, and the trees forgot about their dreams.

Then one day, a man and woman came to the barn. She gave birth and they placed the baby in the hay in the feed box that was made from the first tree. The man wished that he could have made a crib for the baby, but this manger would have to do. The tree could feel the importance of this event and knew that it had held the greatest treasure of all time. Years later, a group of men got in the fishing boat made from the second tree. One of them was tired and went to sleep. While they were out on the water, a great storm arose and the tree didn't think it was strong enough to keep the men safe. The men woke the sleeping man, and he stood and said "Peace" and the storm stopped. At this time, the tree knew that it had carried the King of Kings in its boat.

Finally, someone came and got the third tree. It was carried through the streets as the people mocked the man who was carrying it. When they came to a stop, the man was nailed to the tree and raised in the air to die at the top of a hill. When Sunday came, the tree came to realize that it was strong enough to stand at the top of the hill and be as close to God as was possible.

The moral of this story is that when things don't seem to be going your way, always know that God has a plan for you. If you place your trust in Him, He will give you great gifts. Each of the trees got what they wanted, just not in the way they had imagined. We don't always know what God's plans are for us. We just know that His ways are not our ways, but His ways are always best.


this story has been circulating over the internet for some time and there is never an author listed (unknown). If anyone happens to know where this story was first published, please let us know.

Sunday, November 4, 2007

Cinta Kepada Allah 2

Diriwayatkan oleh Rasulullah :

“gejolak Cinta yang tertanam pada diri Nabi Syuaib menyebabkan beliau menangis hingga menjadi buta. Allah berfirman kepadanya „’Wahai Syuaib, sekiranya perangaimu ini timbul karena takut akan azab neraka, maka aku telah melindungimu darinya. Sekiranya ia lahir karena rindu akan surga, maka kuizinkan engkau memasukinya’ nabi Syuaib pun berkata : ’Ilahi, Dikau Junjungan ku, telah Kau ketahui bahwa tangisku ini bukanlah karena takut akan neraka dan rindu akan surga-Mu. Tetapi karena CINTA yang mengakar di kalbuku. Kesabaranku sudah tak teratasi lagi untuk melihat-Mu.’ Allah berfirman kepadanya : ’Jika perangaimu itu memang begitu, maka akan Kujadikan Kalimullah Musa bin Imran untuk berkhidmat kepadamu.“

Dalam Shahifah Nabi Idris a.s disebutkan :

“Beruntunglah suatu kaum yang menyembah-Ku karena CINTA kepada-Ku.
Menjadikan-Ku Tuhan mereka.
Menghabiskan malam dan siangnya untuk beribadah pada-Ku,
Melalaikan karena cinta yang tulus dan keinginan yang suci,
serta penyerahan diri sepenuhnya untuk-Ku,
dengan memutuskan segala sesuatu selain Aku“

Friday, October 26, 2007

Mendengarkan Ibu Berdoa

Di Malam hari, ia mendengarkan kata kata ibunya yang berdiri menghadap kiblat di sudut kamarnya. Dengan penuh perhatian, ia mengamati ibunya shalat : bersujud, ruku, duduk, pada jum'at malam itu.
Ia masih anak anak; ia melihat dan mendengarkan Ibunya berdoa untuk seluruh Muslim, pria dan wanita, menyebut nama nama mereka dan meminta Allah menganugerahkan rezeki, kebahagiaan, dan rahmat pada mereka.
Dengan seksama ia mendengarkan, apakah ibunya menyebut dan meminta sesuatu dari Allah untuk dirinya sendiri ?

Anak itu adalah Imam Hasan yang terjaga hingga pagi, tak melepaskan tatapannya dari sang ibu, Fatimah.
Ia menanti nanti apakah ibunya akan berdoa untuk dirinya sendiri dan apa yang akan dimintanya dari Allah Swt.
fajarpun menyingsing dan malam berlalu dengan shalat dan permohonan bagi orang lain, namun Imam Hasan tak mendengar sepatah katapun dari doa sang Ibu, yang ditujukan untuk dirinya sendiri.
Di pagi itu, ia bertanya :
"Ibu, semalam aku mendengar doa disepanjang shalatmu. Ibu berdoa untuk orang lain dan tidak meminta sama sekali untuk diri sendiri ?"
Ibunya yang penuh kasih menjawab :
"Anakku sayang, pertama adalah tetangga, baru rumah kita"

Mengumpulkan Kayu Bakar di Gurun

Dalam suatu perjalanan, Rasullulah Saw yang ditemani beberapa sahabatnya sampai di wilayah kering nan tandus ; sementara mereka membutuhkan kayu bakar. Rasullulah memerintahkan "Kumpulkanlah kayu bakar!"
"Wahai Rasullulah," jawab mereka, lihatlah ! Tanah ini tandus, kita tidak dapat menemukan sebatang kayupun di sini."
Beliau Saw berkata, "Apa pun keadaannya, kalian harus mengumpulkan kayu sebanyak banyaknya"
Para sahabat pun menyebar ke gurun, dengan seksama mereka mencari-cari kayu di tanah. Ranting sekecil apa pun, akan mereka pungut jika ditemukan. Tiap orang berusaha mengumpulkan kayu sebanyak banyaknya dan membawanya. Setelah semua menyatukan kayu yang mereka kumpulkan, jadilah tumpukan kayu yang besar.

Rasullulah lalu berkata :
"Dosa kecil itu tak berbeda dengan batang kayu yang kecil ini. Pada awalnya, terlihat remeh. Namun masing masing diikuti dengan lainnya, demikian seterusnya hingga menjadi banyak. Dosa kalian juga akan dicatat dan dikumpulkan hingga hari di mana kalian menyadari bahwa dosa dosa kecil yang kalian anggap remeh itu, menumpuk hingga menjadi besar !"

Di Miqat

Pada suatu musim haji, Malik bin Annas, seorang ahli fiqih terkenal dari Madinah, menjadi jamaah seperjalanan Imam Sadiq a.s.
Mereka sampai di Miqat dan Ihram lalu bertalbiah. Labbaika Allahumma Labbaik, Inilah aku datang memenuhi panggilanMu, ya Allah. Sebagaimana layaknya, para jamaah mengumandangkan seruan itu bersama sama. Namun Malik bin Annas memperhatikan ada yang aneh dengan Imam Sadiq a.s. Begitu ia bermaksud bertalbiah, keharuan melandanya, suaranya tercekat, dan ia tampak kehilangan kendali hingga seolah olah akan tersungkur ke tanah.

Malik ibn Annas pun mendekat dan berkata, "Wahai keturunan Rasullulah Saw, bagaimanpun engkau harus ikut bertalbiah"
Imam menjawab : "Duhai Abi Amar ! Bagaimana aku berani dan dapat menguatkan diriku untuk mengucapkan Labbaika yang berarti, Oh Tuhanku ! dengan seluruh daya aku patuh untuk menunaikan seluruh tugas dari-Mu dan bersedia menerima undangan-Mu serta berlaku selaras dengannya : aku selalu bersedia untuk mematuhi seluruh perintah-Mu.
Dengan jaminan apa, aku dapat dengan beraninya mengabdi kepada Tuhanku dan menghadirkan diri sebagai hamba hamba yang siap mematuhi-Nya ? Jika aku mendapatkan jawaban La Labbaika, lalu apa yang bisa kulakukan ?

Liquid Culture

Sedang senang senangnya coba coba buat liquid culture untuk Jamur Tiram, so far so gud, besok tinggal fase test apakah liquid culture yang ...