Showing posts with label Nasehat. Show all posts
Showing posts with label Nasehat. Show all posts

Saturday, March 9, 2013

Cara Sampai kepada Allah Swt. dengan Perantara Mursyid

Jika kamu telah sampai kepada Allah Swt., maka kamu didekatkan kepada-Nya dengan pendekatan dan taufiq-Nya. Adapun makna "sampai kepada Allah Swt." adalah kamu keluar meninggalkan makhluk, hawa nafsu, keinginan, dan harapan, kemudian kamu berdiri bersama perbuatan-Nya; tanpa ada gerakan darimu di dalam dirimu dan gerakan makhluk-Nya terhadapmu, melainkan dengan hukum-Nya, perintah-Nya, dan perbuatan-Nya. Inilah yang dinamakan dengan keadaan fana yang diungkapkan dengan wushul (sampai).

Wushul kepada Allah Swt. tidaklah sama dengan wushul kepada salah seorang makhluk-Nya yang bisa dilogika dan dibayangkan. Di dalam al-Qur'an disebutkan:

"...Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Melihat." (QS. asy-Syuura [42]:11).

Orang yang sampai kepada Allah Swt. dikenal di kalangan ahli wushul dengan ciri khas masing-masing yang diberikan oleh-Nya dan tidak sama antara yang satu dengan yang lain. Allah Swt. memiliki rahasia tersendiri bersama para rasul, nabi, dan wali-Nya yang tidak bisa dilihat oleh seorang pun, selain Dia sendiri. Bahkan, seorang murid memiliki rahasia yang tidak bisa dilihat oleh syekhnya, dan syekh itu juga memiliki rahasia yang tidak bisa dilihat oleh muridnya, sekalipun murid tersebut sudah dekat pada pintu gerbang keadaan syekhnya.

Apabila seorang murid sudah mencapai keadaan syekhnya, maka ia melepaskan diri dari syekhnya dan terputus darinya. Kemudian, Allah Swt. menanggung dan menyapihnyanya dari seluruh makhluk. Dalam hal ini, syekh itu menjadi seperti penyusu yang tidak ada lagi menyusui setelah dua tahun, tidak ada penciptaan setelah hilangnya hawa nafsu dan keinginan. Syekh itu dibutuhkan selama murid masih memiliki hawa nafsu dan keinginan yang harus . dihancurkan. Setelah nafsu dan keinginan hilang, maka syekh pun tidak dibutuhkan lagi, karena di dalam diri murid sudah tidak ada kekeruhan dan kekurangan.

Jika kamu sudah sampai kepada Allah Swt.; sebagaimana yang telah kami jelaskan, maka kamu akan aman selama-lamanya dari selain-Nya. Kamu tidak akan melihat wujud, selain-Nya; tidak dalam mudharat maupun manfaat, tidak dalam pemberian maupun tidak memberi, serta tidak dalam ketakutan maupun harapan. Allah Swt. adalah Dzat yang kepada-Nya-lah kita bertakwa serta memohon ampunan. Lihatlah selalu perbuatan-Nya, perhatikanlah perintah-Nya, sibuklah menaati-Nya, dan menjauhlah dari makhluk- Nya; baik di dunia maupun akhirat.

Janganlah hatimu terkait dengan sesuatu pun dari para makhluk. Jadikanlah perbuatan mereka seperti orang yang ditahan oleh penguasa yang perintahnya adalah bencana, begitu juga dengan serangan dan kekuasaannya. Kemudian, penguasa tersebut merantai leher dan kedua kaki orang itu. Lalu, menyalibnya pada pohon kurma di pinggir sungai besar yang berombak, luas, dalam, dan berarus deras. Penguasa tersebut duduk di atas kursinya dengan kedudukan yang agung dan mulia. Ia meletakkannya berbagai bawaan di sampingnya, baik anak panah, tombak, busur, dan berbagai jenis senjata serta benda kasar lainnya, yang jumlahnya tidak terhitung. Setelah itu, ia melempari orang yang disalib itu sesuai dengan keinginannya dengan senjata yang ada.

Coba kamu perhatikan, apakah layak bagi orang yang melihat pemandangan itu mengabaikan pandangannya terhadap penguasa, tidak merasa takut kepadanya, dan tidak pula berharap? Bukankah orang yang melakukan ini dinamakan orang tidak berakal dan tidak memiliki perasaan, gila, binatang, dan bukan manusia. Kami berlindung kepada Allah Swt. dari kebutaan setelah memiliki penglihatan, dari terputus setelah sampai, dari penolakan setelah dekat, dari kesesatan setelah mendapatkan hidayah, dan dari kekufuran setelah keimanan.

Dunia itu seperti sungai besar yang mengalir. Volume airnya bertambah setiap hari; sebagaimana yang telah kami sebutkan. Dan, itulah perumpamaan syahwat, kenikmatan, dan kesedihan- kesedihan Bani Adam di dunia. Sedangkan, anak panah dan segala jenis senjata, maka itu adalah segala jenis ujian buat orang-orang yang dijalankan oleh takdir. Biasanya, di dunia ini, mereka banyak mendapatkan cobaan, kekurangan, kepedihan, dan ujian. Kenikmatan dan kesenangan yang mereka dapatkan di dalamnya disusupi oleh berbagai bahaya.

Oleh karena itu, bila orang yang berakal merenungkannya, maka ia tidak akan memiliki kehidupan dan ketenteraman, kecuali di akhirat kelak jika ia benar-benar yakin, karena itu hanya diperuntukkan bagi orang mukmin. Rasulullah Saw. bersabda:

"Tidak ada kehidupan, kecuali kehidupan akhirat."

Beliau juga bersabda:
"Tidak ada ketenteraman bagi seorang mukmin, tanpa bertemu dengan Tuhannya."

Dan, sabda beliau selanjutnya, "Dunia itu adalah penjara orang mukmin dan surganya orang kafir." Beliau juga bersabda, "Orang yang bertakwa akan terkekang."

Dari hadits tersebut dapat diambil pelajaran, bagaimana mungkin seseorang mengklaim mendapatkan kehidupan yang bagus di dunia? Sesungguhnya, semua ketenteraman itu terletak dalam sikap totalitas kepada Allah Swt. Dengan begitu, seseorang akan mendapatkan taufiq-Nya dan menghamba di hadapan-Nya. Ia telah keluar dari dunia. Dan, dalam kondisi seperti itu, petunjuk-petunjuk menjadi kemakmuran, rahmat, kelembutan, dan karunia.
Wallahu a'lam bish shawab.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Tawakkal


Tidaklah kamu terhalang dari karunia Allah Swt. dan pancaran nikmat-Nya, kecuali karena kamu bergantung kepada makhluk, sarana-sarana dunia, keterampilan, dan kerja mencari nafkah. Makhluk adalah penghalangmu dari makan sesuai sunnah; dan ia adalah sesuatu yang mukassab (diusahakan). Selama kamu berdiri bersama para makhluk, mengharapkan pemberian dan karunia mereka, meminta kepada mereka, dan bolak-balik menghampiri pintu mereka, maka kamu telah menyekutukan Allah Swt. dengan makhluk-Nya. Dia akan menghukummu dengan mengharamkanmu untuk makan sesuai sunnah yang merupakan hasil usaha dari kehalalan di dunia.

Lalu, jika kamu bertaubat dari sikap berdirimu bersama makhluk dan menyekutukan Tuhanmu dengan mereka, kemudian kamu kembali bekerja, sehingga kamu makan dengan hasil usaha, bergantung dengan pekerjaanmu, merasa tenang dengannya, dan melupakan karunia Allah Swt., maka kamu juga dianggap menyekutukan Allah Swt. Hanya saja, ini dianggap syirik khafty (tersembunyi); lebih ringan dari yang pertama. Akhirnya, Dia pun menghukummu dan menghalangimu dari karunia-Nya dan pancaran-Nya.

Sedangkan, apabila kamu bertaubat dari hal itu, lalu kamu menghilangkan kesyirikan, melenyapkan sikap pasrahmu kepada mata pencaharian, kekuasaan, dan kekuatanmu, kemudian kamu melihat Allah Swt. sebagai Dzat Pemberi Rezeki, yang menyebabkan dan memudahkan, yang menguatkan untuk usaha, dan yang memberikan taufiq dalam segala kebaikan, maka terbentuklah pola pikirmu bahwa rezeki itu ada di tangan-Nya. Terkadang, Dia menyampaikan kepadamu melalui makhluk dengan cara meminta kepada mereka ketika diuji, atau berusaha, atau kamu meminta kepada-Nya. Terkadang pula, dengan jalan usaha sebagai bentuk kompensasi, dan jalan karunia-Nya sebagai bentuk nikmat tanpa ada perantara dan sebabnya.
Kemudian, kamu sudah kembali kepada Allah Swt. dan memohon di hadapan-Nya, maka Dia akan mengangkat penghalang antara dirimu dengan karunia-Nya, menampakkanmu dan memberikan karunia-Nya kepadamu dalam setiap kebutuhan sesuai dengan keadaanmu; seperti tindakan yang dilakukan oleh dokter yang penyayang, sebagai bentuk penjagaan-Nya atasmu dan memeliharamu dari kecenderungan berpaling kepada selain-Nya. Dia meridhaimu dengan karunia-Nya.

Dengan demikian, terputus sudah dari hatimu segala keinginan, syahwat, kenikmatan, pencarian, dan hasrat, sehingga tidak tersisa selain kehendak-Nya. Jika Dia ingin memberikan bagianmu yang harus diambil, dan itu bukanlah rezeki seorang pun dari makhluk- Nya selainmu, maka Dia akan memberikannya kepadamu, menciptakan pada dirimu syahwat untuk mendapatkan bagian ini dan menuntunnya untuk sampai kepadamu. Sehingga, bagian itu sampai kepadamu ketika kamu sedang membutuhkannya.

Kemudian, Dia memberikan taufiq-Nya kepadamu dan mengenalkanmu bahwa itu berasal dari-Nya. Dial-ah yang menuntun dan memberikannya kepadamu, agar kamu bersyukur kepada-Nya. Lalu, kamu mengenal-Nya dan mengetahui-Nya, sehingga kamu semakin meninggalkan makhluk dan menjauh dari mereka, serta mengosongkan batinmu dari selain-Nya.

Setelah itu, jika amalan dan keyakinanmu sudah kuat, dadamu sudah lapang, hatimu sudah bercahaya, kedekatanmu dari Penguasamu dan posisimu di sisi-Nya sudah bertambah, dan Dia sudah memainkanmu untuk menjaga rahasia-rahasia-Nya, maka kamu akan mengetahui kapan bagianmu akan menghampirimu sebagai kemuliaan bagimu dan penghormatan terhadap keagungan- mu, sebagai karunia, nikmat, dan hidayah dari-Nya.

Allah Swt berfirman:
"Dan, sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa Alkitab (Taurat). Maka, janganlah kamu (Muhammad) ragu menerima (al-Qur'an itu) dan Kami jadikan Alkitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan, adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." {QS. as-Sajdah [32]: 23-24).

Dalam ayat lain disebutkan:
"Dan, orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan, sesungguhnya, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. al-'Ankabuut [29]: 69).

"...Dan, bertakwalah kepada Allah" (QS. al-Baqarah [2]:282).

Kemudian, Allah Swt. akan memberikan kuasa takwin (pembentukan) kepadamu, sehingga kamu mendapatkan izin yang jelas serta tidak ada keraguan sedikit pun, juga dengan dalil-dalil nyata bagaikan matahari yang bersinar di siang hari. Kamu juga mendapatkan perkataan-Nya yang merdu, lebih enak dari segala kenikmatan. Kamu juga mendapatkan ilham yang benar tanpa keraguan, bersih dari segala bisikan-bisikan nafsu dan waswas setan terlaknat. Allah Swt berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

"Wahai anak Adam, Aku adalah Allah yang tidak Tuhan melainkan diri-Ku. Aku mengatakan kepada sesuatu, 'Terjadilah,' maka terjadilah. Taatilah diri-Ku, maka Aku akan menjadikanmu orang yang apabila mengatakan kepada sesuatu, “Terjadilah,' maka terjadilah."

Terbukti, Allah Swt. banyak melakukan hal itu kepada para nabi, wali, dan orang-orang khusus (khawash) dari kalangan anak turun Nabi Adam As.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Tuesday, March 5, 2013

Khauf (Rasa Takut) dan Raja' (Harapan)

Aku bermimpi melihat diriku berada di suatu tempat yang mirip dengan masjid. Di dalamnya, ada suatu kaum yang khusyuk beribadah. Maka, aku berkata, "Andai saja mereka memiliki seorang fulan yang akan mengajarkan mereka dan menunjuki mereka." Kemudian, aku menunjukkan kepada mereka seorang laki-laki shalih. Orang-orang itu berkumpul di sekelilingku, dan salah seorang di antara mereka berkata, "Kenapa kamu tidak berbicara?"

Lalu, aku menjawab, "Apakah kalian ridha jika aku melakukannya?" Kemudian, aku melanjutkan pembicaraan, "Jikalau kalian memutuskan diri kalian dari makhluk dengan Al-Haq, maka janganlah meminta apa pun kepada manusia dengan lisan kalian. Apabila kalian meninggalkan hal itu, maka janganlah meminta kepada mereka dengan hati kalian, karena meminta dengan hati sama kedudukannya seperti meminta dengan lisan. Kemudian, beramallah karena Allah Swt. yang berkuasa dalam mengubah dan mengganti, serta meninggikan dan merendahkan."

Aku melanjutkan perkataanku, "Ada kaum yang ditinggikan-Nya sampai ke 'llliyiin, dan ada pula kaum yang dihancurkan-Nya di neraka terbawah. Harapan mereka adalah agar Allah Swt. mengabadikan dan menjaga mereka untuk terus berada dalam ketinggian yang mereka jalani sekarang ini. Dan, ketakutan orang- orang yang dihancurkan di neraka paling bawah adalah jika Dia mengabadikan mereka dalam kehancuran yang mereka jalani. Harapan mereka, agar Dia meninggikan mereka ke 'llliyyin."
Setelah itu, aku terbangun.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Monday, March 4, 2013

Mengikuti Keadaan Suatu Kaum

Janganlah menyepelekan keadaan suatu kaum, wahai pengikut hawa nafsu. Kamu datang untuk menyembah hawa nafsu, sedangkan mereka adalah hamba Allah Swt. Keinginanmu adalah dunia, sedangkan keinginan mereka adalah akhirat. Kamu hanya melihat dunia, sedangkan mereka melihat Tuhan bumi dan langit. Kamu dekat dengan makhluk, sedangkan mereka dekat dengan Khaliq. Hatimu terkait dengan orang yang ada di bumi, sedangkan hati mereka terkait dengan Tuhan 'Arsy. Kamu tertarik dengan orang yang kamu lihat, sedangkan mereka tidak melihat sesuatu yang kamu lihat, bahkan mereka hanya melihat Pencipta segala sesuatu.

Mereka menang dengan semua ini dan mendapatkan kesuksesan, sedangkan kamu masih tertawan oleh kenikmatan dunia dan segala nafsu. Mereka fana dari makhluk, hawa nafsu, keinginan, dan harapan, maka mereka sampai kepadaal-Malik al-A'la (Penguasa paling tinggi). Mereka berhenti di puncak yang dituju dengan ketaatan, pujian, dan sanjungan. Itu adalah karunia Allah Swt. yang diberikan kepada siapa pun yang diinginkan-Nya. Mereka senantiasa mendapatkan hal itu dan terus-menerus mendapatkan taufiq dan kemudahan dari-Nya, sehingga ketaatan itu berubah menjadi ruh serta makanan bagi mereka.

Pada waktu itu, mereka akan merasakan dunia sebagaiJannatul Ma'iva (surga). Mereka tidak melihat sesuatu pun, sampai mereka melihat Dzat yang telah menciptakan. Demi mereka, bumi dan langit tetap berdiri kokoh, serta menjadi tempat bagi kematian dan kehidupan. Allah Swt. telah menjadikan mereka sebagai pasak yang menopang kekokohan bumi. Oleh karena itu, menyingkirlah dari jalan mereka. Janganlah ikut berdesak-desakan dengan orang yang tidak bisa diberikan manfaat oleh bapak-bapaknya dan anak-anaknya dalam mencapai tujuannya. Merekalah sebaik-baik ciptaan Allah Swt., sebaik-baik yang dibangkitkan di bumi. Semoga keselamatan dan penghormatan selalu terlimpah kepada mereka, selama bumi dan langit masih ada.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Berserah Diri kepada Allah Swt.

Janganlah memilih sikap menarik nikmat dan menolak musibah. Nikmat itu akan sampai kepadamu jika itu memang bagianmu, baik kamu menginginkannya maupun membencinya. Dan, musibah akan menghampirimu apabila memang itu jatahmu, meskipun kamu membencinya dan berusaha menghilangkannya dengan berbagai macam doa, atau pun bersabar menghadapinya, serta bertahan demi mengharapkan ridha Allah Swt.

Serahkanlah segalanya kepada Allah Swt. Biarkanlah Dia berbuat apa saja atas dirimu. Jika berupa kenikmatan, maka syukuri- lah. Apabila berupa musibah, maka bersabarlah dan berharap mendapat pertolongan-Nya, atau berusaha menikmatinya dengan segala keridhaan. Bersikaplah fana di dalamnya sesuai dengan kadar keadaan yang diberikan kepadamu, sehingga kamu akan berpindah- pindah di dalamnya dan berjalan menyusuri tempat-tempat menuju sang Penguasa yang kamu diperintahkan untuk menaati-Nya dan memberikan loyalitas kepada-Nya, agar kamu bisa sampai kepada-Nya.

Ketika itu, kamu akan ditempatkan pada posisi orang-orang terdahulu dari kalangan shiddiqin, syuhada, dan orang-orang yang shalih, agar kamu bisa menyaksikan orang terdahulu menuju Allah Swt., dekat dengan-Nya, serta mendapatkan setiap kebahagiaan di sisi-Nya, begitu juga dengan kesenangan, keamanan, kemuliaan, dan kenikmatan.

Biarkanlah musibah mengunjungimu, berikanlah jalan, janganlah berhenti, dan jangan pula berputus asa dengan kedatangannya dan kedekatannya. Apinya tidaklah lebih besar dari api neraka Jahannam. Rasulullah Saw. bersabda:
"Neraka Jahannam berkata kepada orang mukmin, 'Bersabarlah wahai orang mukmin, cahayamu telah memadamkan gejolak apiku."

Tidaklah cahaya seorang mukmin yang mampu memadamkan gejolak api neraka, kecuali cahaya yang menemaninya di dunia, yang menjadi pembeda antara orang yang patuh dengan orang yang durhaka. Maka dari itu, biarkan cahaya ini yang memadamkan gejolak musibah dan biarkan pula kesabaran serta kepatuhanmu kepada Allah Swt. yang akan memadamkan panasnya sesuatu. Musibah yang menimpamu tidak untuk menghancurkanmu, melainkan untuk mengujimu, membuktikan keshahihan imanmu, menguatkan ikatan keyakinanmu, dan secara rahasia memberimu kabar gembira dari Penguasamu tentang kebanggaan-Nya terhadapmu. Allah Swt. berfirman:

"Dan, sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (QS. Muhammad [47]: 31).

Apabila imanmu sudah konsisten bersama Allah Swt., dan kamu ' sepakat dengan perbuatan-Nya dengan keyakinanmu, maka semua itu merupakan taufiq dan karunia-Nya. Ketika itu, jadilah kamu sebagai orang yang sabar, diberikan taufiq, dan pasrah selama- lamanya. Janganlah melakukan suatu perbuatan pada dirimu sendiri maupun selainmu yang melanggar area perintah dan larangan. Jika ada perintah Allah Swt., maka dengarkanlah baik-baik, bersegeralah, bergeraklah dan jangan diam. Janganlah menyerah begitu saja kepada takdir dan perbuatan-Nya. Kerahkanlah kemampuan dan tenagamu untuk menunaikan perintah itu.

Jika kamu merasa lemah, maka obatilah dengan menyerahkannya kepada Penguasamu, yakni Allah Swt. Kembalilah kepada-Nya, bersimpuh di hadapan-Nya, dan memohon maaf kepada-Nya. Carilah sebab kelemahanmu untuk menjalankan perintah-Nya dan hal-hal yang menjauhkanmu dari rasa rindu menaati-Nya. Barangkali, semua itu disebabkan oleh doamu yang pesimis, akhlakmu yang buruk dalam menaati-Nya, kepasrahanmu pada kekuasaan dan kekuatanmu sendiri, ketakjubanmu dengan amalanmu, dan penyekutuan-Nya dengan dirimu dan nakhluk- Nya. Sehingga, hal itu dapat menjauhkanmu dari pintu-Nya, mengasingkanmu dari menaati-Nya dan melayani-Nya, nemutuskan limpahan taufiq-Nya darimu, memalingkan wajah-Nya yang mulia darimu, memurkaimu, membiarkanmu, dan menyibikkanmu dengan mengujimu; baik dengan duniamu, hawa iafsumu, keinginanmu, dan harapanmu.

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa semua itu nerupakan sesuatu yang dapat melalaikan dan memutuskanmu dari Dzat yang telah menciptakanmu, menumbuhkanmu, melindungimu, memberimu, dan menghidupkanmu? Hati-hatilah, janganlah kamu lalai dari Penguasamu. Selain Penguasa-Mu, maka ia adalah asing. Janganlah mendahulukan hal asing itu dari-Nya, karena Dia-lah yang menciptakannya.

Janganlah menzhalimi dirimu sendiri, sehingga kamu sibuk dengan selain-Nya dan lalai menjalankan perintah-Nya. Hal itu akan menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Akhirnya, kamu menyesal, dan penyesalan itu sama sekali tidak bermanfaat. Kamu meminta maaf, dan kemaafan itu tidak berguna lagi. Kamu berusaha, dan usaha itu sia- sia. Kamu meminta kembali ke dunia, agar bisa meraih sesuatu yang belum didapatkan dan berbuat shalih, akan tetapi kamu tidak bisa kembali.

Kasihanilah dan sayangilah dirimu. Gunakanlah alat dan perkakas yang telah diberikan kepadamu untuk menaati Penguasamu dengan perbuatan, keimanan, ilmu, dan makrifat. Kamu dapat menggunakan semua itu sebagai penerang dalam "kegelapan" takdir. Berpeganglah dengan perintah dan larangan. Berjalanlah dengan keduanya di jalan Penguasamu, serta serahkanlah keduanya kepada Dzat yang menciptakanmu dan membentukmu.

Janganlah kufur dengan Dzat yang menciptakanmu dari tanah, menum- buhkanmu dari air mani, kemudian menjadikanmu sebagai manusia yang sempurna.

Janganlah menghampiri selain perintah-Nya dan janganlah membenci selain larangan-Nya. Ridhalah dengan kehendak ini di dunia dan akhirat. Dan,
bencilah sesuatu yang dibenci di dalam keduanya (dunia dan akhirat). Setiap yang dimaksud adalah pengikut untuk maksud ini. Setiap yang dibenci adalah pengikut untuk yang dibenci ini. Artinya, jika kamu berada bersama perintah-Nya, maka seluruh semesta berada dalam perintahmu. Sebaliknya, apabila kamu membenci larangan-Nya, maka segala keburukan akan menjauhimu di mana pun kamu berada. Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadis Qudsi:

"Wahai anak Adam, Aku adalah Allah. Tiada Tuhan, melainkan diri-Ku. Aku mengatakan kepada sesuatu, 'Terjadilah,' maka terjadilah. Taatilah diri-Ku, maka Aku akan menjadikanmu seorang hamba yang apabila berkata kepada sesuatu, 'Terjadi,' maka terjadilah."

Allah Swt. juga berfirman:
"Wahai dunia! Barang siapa yang melayaniku, maka layanilah ia. Barang siapa yang melayanimu, maka buatlah ia kelelahan”

Jika ada larangan-Nya, maka jadilah kamu seperti orang yang seluruh persendiannya melemah, indranya diam, lengannya sempit, jasadnya seakan-akan mati, hawa nafsunya lenyap, bekalnya habis, jejaknya terlupakan, fana penuh kegelapan, bangunannya hancur, rumahnya rusak, tidak memiliki perasaan dan pengaruh, pendengarannya seakan-akan tuli, kedua bibirnya seakan ada kudis dan luka, lisannya seolah-olah bisu dan kelu, giginya terasa ada bekas pukulan, kedua tangannya seolah-olah lumpuh dan tidak mampu menampar, kedua kakinya seolah-olah sakit, kemaluannya seakan impoten, perutnya terasa kenyang dan tidak membutuhkan makanan lagi, akalmu seakan-akan gila dan stres, serta tubuhnya seperti bangkai yang siap dikuburkan.

Dengarkanlah perintah dan bersegeralah menjalankannya. Bermalaslah, abaikanlah, dan lalaikanlah larangan. Matilah, lenyaplah, dan fanalah dalam takdir. Minumlah minuman ini, berobatlah dengan obat ini, dan makanlah dengan makanan ini, maka kamu akan sembuh, sehat, dan selamat dari berbagai penyakit dosa dan hawa nafsu dengan izin Allah Swt. Insya Allah.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Larangan Mencintai Harta


Jika Allah Swt. memberikan harta kepadamu, kemudian kamu sibuk dengan harta itu dan lalai menjalankan ketaatan kepada-Nya, berarti harta tersebut telah memisahkanmu dari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Bisa jadi, Dia akan mencabut harta itu darimu, kemudian menelantarkanmu dan menjadikanmu fakir, sebagai bentuk hukuman atas kesibukanmu dengan nikmat, hingga lalai dengan Dzat Yang Memberikan Nikmat.

Akan tetapi, jika kamu sibuk dengan menaati Allah Swt. daripada mengurus harta, maka Dia akan memberikan anugerah kepadamu dan tidak akan kurang sebiji pun. Harta akan menjadi pelayanmu. Sedangkan, kamu menjadi pelayan Dzat Yang Maha Kuasa, sehingga kamu hidup di dunia penuh dengan kenikmatan. Dan, di akhirat kelak, kamu dimuliakan dan dilayani dengan baik di surga bersama dengan shiddiqin, syuhada, dan orang-orang yang shalih.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Syahwat

Jika muncul di dalam benakmu keinginan untuk menikah, sedangkan kamu dalam keadaan fakir dan belum memiliki biaya pernikahan, maka bersabarlah menunggu datangnya kemudahan dari Allah Swt., baik berupa pelenyapan maupun penghilangan hasrat dari dalam dirimu dengan kekuasaan-Nya, sebagaimana saat Dia menciptakan hasrat tersebut di dalam dirimu, sehingga hal itu dapat menolongmu, menjagamu, dan memberimu kekuatan untuk memikul bebannya. Atau, Dia akan mewujudkan keinginanmu itu sebagai anugerah yang bisa kamu nikmati dengan cara mencukupi- mu tanpa memberatkanmu di dunia dan tidak pula melelahkanmu di akhirat kelak.

Lalu, Allah Swt. menjulukimu dengan sebutan orang yang bersabar dan bersyukur, karena kesabaran dan ridhamu dengan menerima pembagian dari-Nya. Dia akan menambahkan perlindungan-Nya dan kekuatan-Nya kepadamu. Jika itu memang bagianmu, maka Dia akan memberikannya kepadamu dengan penuh kecukupan dan kenikmatan, sehingga kesabaran tersebut berubah menjadi rasa syukur. Dia berfirman:

"Dan, (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim [14]:7).

Dan, apabila anugerah itu bukan bagianmu, maka Dia akan mencabutnya dari hatimu, baik kamu suka atau tidak. Oleh karenanya, senantiasalah bersabar, menentang hawa nafsu, menjalankan perintah-Nya, menerima qadha-Nya, serta berharap akan karunia dari-Nya. Allah Swt. berfirman:

"...Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. az-Zumar [39]: 10).

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Sunday, March 3, 2013

Nafsu dan Keadaannya

Sesungguhnya, tidak ada sesuatu pun yang tampak, kecuali hanya Allah Swt. Sedangkan, nafsumu dan dirimu merupakan mukhatab (yang diajak bicara/sasaran firman-Nya). Nafsu adalah lawan dan musuh-Nya. Segala sesuatu tunduk kepada-Nya, begitu pula nafsu yang telah diciptakan-Nya dan dikuasai-Nya. Nafsu memiliki kecenderungan untuk sering mengklaim, berharap sesuatu yang impossible, serta mengandung syahwat dan kenikmatan ketika kamu menurutinya.

Oleh karena itu, jika kamu mengikuti Allah Swt. untuk melawan dan memusuhi nafsu maka kamu sedang bertempur dengan nafsu kamu sendiri dan berada di pihak-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt. kepada Nabi Daud As.:
"Wahai Daud, Aku menyerumu dengan kelaziman. Tetapkanlah penghambaanmu dengan menjadi musuh bagi nafsumu."

Dengan kondisi semacam itu, kamu akan mewujudkan loyalitas dan penghambaanmu kepada Allah Swt. Lalu, kamu akan mendapatkan bagianmu dengan senang, nikmat, dan penuh kebaikan. Kamu juga berada pada posisi yang mulia dan agung. Segala sesuatu akan melayanimu, menyanjungmu, dan memuliakan- mu. Sebab, semua adalah bawahan yang tunduk kepada Allah Swt., Dia-lah Yang Maha Pencipta dan Membentuk mereka. Mereka mengakui kehambaan mereka kepada-Nya. Allah Swt berfirman:
"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah, dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Tetapi, kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya, Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (QS. al-Israa' [17]: 44).

Allah Swt. Juga berfirman:
"Kemudian, Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap. Lalu, Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati." (QS. Fushilat [41]: 11).


Semua ibadah itu terletak pada sikap dirimu dalam melawan hawa nafsu. Di dalam al-Qur'an disebutkan:

"...Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah...." (QS. Shaad [38]: 26).

Allah Swt. juga berfirman kepada Nabi Daud As., "Jauhilah hawa nafsumu, karena ia adalah penentang." Ada sebuah hikayat terkenal tentang Abu Yazid al-Busthamy Ra. Konon, ia bermimpi melihat Allah Swt. Lalu, ia bertanya kepada-Nya, "Bagaimana jalan menuju- Mu?" Dia menjawab, "Tinggalkanlah hawa nafsumu dan kemarilah." Setelah itu, ia mengatakan bahwa ia melepaskan diri dari nafsunya; laksana ular yang melepaskan diri dari kulitnya.

Semua kebaikan berada pada usahamu dalam melawan nafsu dalam segala keadaan. Jika kamu berada dalam keadaan takwa, maka lawanlah hawa nafsu itu dengan cara menjauh dari hal-hal yang haram dan syubhat, bergantung kepada para makhluk, meyakini mereka, takut kepada mereka, dan berharap terhadap mereka, serta tamak terhadap hukum-hukum dunia yang ada di tangan mereka. Kamu juga tidak lagi mengharap pemberian atas nama hadiah, zakat, shadaqah, dan nadzar.

Putuskanlah harapanmu terhadap mereka dari segala bentuk dan perantara. Bahkan, seandainya kamu memiliki pewaris orang kaya, maka janganlah mengharapkan kematiannya agar kamu bisa mewarisi hartanya. Keluarlah dari ketergantungan terhadap mereka dengan sungguh-sungguh. Jadikanlah mereka layaknya pintu yang ditutup dan dibuka, seperti pohon yang terkadang berbuah dan terkadang tidak. Semua terjadi dengan perbuatan dan pengaturan Dzat Yang Maha Mengatur, yaitu Allah Swt. Jika kamu bisa seperti itu, maka kamu sudah mengesakan-Nya.

Bersamaan dengan semua itu, janganlah melupakan usaha untuk membebaskan diri dari paham fatalisme (Jabariyah). Yakinilah bahwa segala perbuatan tidak akan terjadi, tanpa adanya campur tangan Allah Swt. Janganlah menyembah para makhluk dan melupakan- Nya. Jangan pula mengatakan bahwa perbuatan mereka terlepas dari-Nya. Hal itu akan menyebabkan kamu kufur dan menjadi pengikut paham Qadariyyah. Akan tetapi, katakanlah bahwa semua itu adalah milik Allah Swt. dari sisi penciptaan, sedangkan para hamba hanyalah berusaha; sebagaimana disebutkan dalam berbagai atsar yang menjelaskan balasan dalam bentuk pahala dan siksaan.

Laksanakanlah perintah-perintah Allah Swt. yang berkenaan dengan para makhluk. Lepaskanlah bagianmu dari mereka dengan perintah-Nya dan jangan melampaui batas (ekstrem). Hukum-Nya akan tegak menghukumi kamu dan mereka. Oleh karena itu, janganlah kamu menganggap dirimu sebagai hakim.

Keberadaanmu bersama mereka adalah takdir. Dan, takdir itu adalah "kegelapan". Oleh karena itu, masukilah kegelapan tersebut dengan lampu, yaitu Kitabullah dan sunnah Rasulullah Saw. Janganlah meninggalkan keduanya. Jika melintas suatu ide dalam pikiranmu, timbanglah dengan keduanya. Apabila kamu mendapatkan pengharaman terhadap ide tersebut, seperti keinginan untuk melakukan riba serta bergaul dengan orang-orang fasik dan pelaku maksiat, maka tolaklah dan jauhilah, jangan menerimanya dan mengerjakakannya. Yakinilah, bahwa ide tersebut berasal dari setan yang terlaknat.

Apabila kamu mendapatkan dalil yang membolehkan ide tersebut, seperti makan, minum, berpakaian, dan nikah, maka jangan mudah menurutinya.
Ketahuilah, bahwa itu adalah keinginan yang bersumber dari nafsu dan syahwat.
Kamu diperintahkan untuk menyelisihi- nya dan melawannya. Jika kamu tidak mendapatkan pengharamannya dan pembolehannya di dalam keduanya, bahkan itu adalah perkara yang tidak masuk akal, seperti orang yang mengarahkanmu, "Datangilah tempat ini dan ini, temuilah Fulan yang shalih." Padahal, kamu tidak ada keperluan, dan tidak juga terhadap kemaslahatan di dalamnya dikarenakan Allah Swt. telah memberikan nikmat-Nya kepadamu yang berupa ilmu dan makrifat, maka berhentilah dan jangan buru-buru menghampirinya, sehingga kamu berkata, "Benarkah ini ilham dari Allah Swt. yang harus aku kerjakan?" Amatilah semua kebaikan di dalamnya.

Semua ini dapat diketahui jika ilham itu datang berulang-ulang yang memerintahkan kamu untuk mengerjakannya, atau tanda- tanda yang nyata bagi para ahli ilmu yang mengenal-Nya, serta mampu dilogika oleh orang-orang yang berakal dari kalangan para wali dan para pendukung dari abdal.

Adapun alasan agar kamu tidak bersegera menghampirinya adalah dikarenakan kamu tidak mengetahui akibatnya, efek yang akan ditimbulkannya, serta sesuatu yang terkandung di dalamnya; baik berupa fitnah, kehancuran, makar dari Allah Swt., maupun ujian. Bersabarlah, sampai Dia sendiri yang berbuat pada dirimu. Jika kamu sudah berlepas diri dari perbuatan-Nya, dan kamu digiring ke sana serta dikalahkan oleh fitnah, maka kamu adalah orang yang digiring dan dijaga ketika menghadapinya, karena Allah Swt. tidak menghukummu karena perbuatan-Nya. Hukuman itu hanya bergerak menujumu, karena kamu berada dalam sesuatu keadaan.

Jika kamu berada dalam keadaan hakikat, yaitu keadaan perwalian, maka selisihilah hawa nafsumu dan ikutilah perintah- Nya. Mengikuti perintah terbagi menjadi dua. Pertama, kamu mengambil bahan makanan dari dunia yang merupakan hak jiwa dan meninggalkan bagian lainnya, menunaikan yang fardhu, dan beramal meninggalkan dosa; baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Kedua, masalah batin adalah perkara Allah Swt. yang memerintahkan dan melarang hamba-Nya. Perintah mubah (boleh) ini hanya terwujud dalam sesuatu yang tidak ada hukumnya dalam syariat, yaitu sesuatu yang tidak dilarang dan tidak pula diperintahkan, akan tetapi ini adalah muhmal (dibiarkan).

Allah Swt. memberikan seorang hamba ketentuan untuk bertindak dengan pilihannya. Ini dinamakan mubah. Dalam hal ini, janganlah seorang hamba berpendapat dengan dirinya sendiri, namun tunggulah perintah. Apabila ia diperintahkan, maka hendaklah ia menjalankannya, sehingga seluruh gerakan dan ketenangannya ada bersama-Nya. Sesuatu yang ada hukumnya dalam syara', maka hukumlah dengan syara'. Jika tidak ada hukumnya dalam syara', maka hukumlah dengan perintah batin. Ketika itu, ia akan menjadi orang yang mendapatkan hak dari kalangan ahli hakikat. Apabila tidak ada perintah batinnya, maka ia hanyalah sekadar perbuatan dalam keadaan taslim (penyerahan diri).

Jika kamu berada dalam keadaan haqAl-haq, yaitu keadaan al-mahw dan fana, yang merupakan keadaan para abdal yang hati mereka patah karena-Nya, yang merupakan ahli tauhid dan para'arifin, para ulama dan intelektual, para pemimpin dan petinggi, orang-orang yang baik dan berakhlak mulia, para khalifah, serta orang-orang tercinta- Nya dan para kekasih-Nya, maka mengikuti perintah dalam hal ini bisa dilakukan dengan tindakan penyelisihanmu, yaitu dengan membebaskan diri dari kekuasaan dan kekuatan, tidak memiliki keinginan dan hasrat dalam hal apa pun, baik dunia maupun akhirat, sehingga kamu menjadi hamba yang menguasai; bukan sebagai budak raja, hamba Dzat yang memerintah; bukan budak hawa nafsu, seperti anak kecil bersama perempuan yang menyusuinya, mayat yang dimandikan bersama dengan orang yang memandikannya, orang sakit yang hanya bisa membolak-balikkan badannya di hadapan dokter, kecuali dalam hal perintah dan larangan. Wallahu a'lam.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Kasyf dan Musyahadah

Para wali dan abdal diberi anugerah berupa pengetahuan tentang perbuatan-perbuatan Allah Swt. yang tidak terjangkau oleh nalar manusia dan di luar kebiasaan. Tindakan Allah Swt. terbagi menjadi dua; jalai (keagungan) dan jamal (keindahan). Keagungan dan keindahan melahirkan khauf (takut), wajl (kengerian), dan ghalabah (kekalahan) pada hati yang menampakkan gejala-gejalanya pada fisik.

Hal itu sebagaimana menimpa diri Rasulullah Saw. Disebutkan, suatu ketika pada waktu beliau shalat, pernah terdengar dari dada beliau suara gemuruh seperti air mendidih di dalam ketel, karena rasa takut yang luar biasa terhadap keagungan dan kemuliaan Allah Swt. yang beliau saksikan. Hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibrahim Khalirur Rahman dan Umar bin Khathab.

Adapun penyaksian terhadap jamal (keindahan) adalah terangnya hati oleh cahaya, kelembutan, pembicaraan yang mengasyikkan, dialog kedekatan, serta kegembiraan dengan karunia yang agung, posisi yang mulia, dan kedekatan dengan-Nya. Semua itu akan mengembalikan urusan mereka kepada-Nya. Tinta Qalam (takdir) sudah kering untuk menulis bagian mereka dalam masa- masa terdahulu sebagai manifestasi karunia dan rahmat dari-Nya, juga sebagai bentuk ketetapan-Nya bagi mereka di dunia sampai datangnya kematian sebagai waktu yang telah ditentukan.

Tujuannya ialah agar rasa cinta mereka tidak terlalu ekstrem, karena rasa rindu yang besar terhadap-Nya, sehingga terlerailah kekuatan mereka. Kemudian, mereka hancur dan lemah untuk menjalankan prosesi penghambaan, sampai keyakinan menghampiri, yaitu kematian. Allah Swt. melakukan hal itu terhadap mereka sebagai bentuk kelembutan-Nya, rahmat-Nya, pengobatan-Nya, dan pendidikan-Nya terhadap hati mereka, serta sebagai petunjuk bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Lembut, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada Bilal sebagaimana berikut, "Wahai Bilal, tenteramkanlah kami dengan iqamab, agar kami bisa menjalankan shalat." Selain itu, beliau juga bersabda, "Dijadikan ketenangan jiwaku dalam shalat."

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Saturday, March 2, 2013

Mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Jika kamu sudah berada dalam suatu keadaan, maka janganlah memilih selainnya; baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Apabila kamu berada di pintu istana raja, maka janganlah memasukinya sampai kamu dipaksa; bukan atas pilihan sendiri. Adapun yang dimaksud paksaan dalam konteks ini adalah perintah yang keras, tegas, dan berulang-ulang. Janganlah kamu mencukupkan diri dengan sekadar izin memasukinya. Sebab, bisa jadi itu adalah tipuan dari raja. Akan tetapi, bersabarlah sampai kamu dipaksa masuk, sehingga kamu memasukinya dengan dipaksa oleh kehendak raja tersebut.

Dalam kondisi semacam itu, raja tidak akan menghukummu. Kamu hanya akan dihukum, karena pilihanmu yang pesimis, kekurangajaranmu, ketidaksabaranmu, buruknya adabmu, dan ketidakridhaanmu terhadap keadaan yang kamu jalani sekarang.

Jika kamu sudah mendapatkan izin masuk, maka merendahlah, tundukkanlah pandanganmu, berlakulah sopan, dan menjaga hal- hal yang diperintahkan kepadamu berupa menyibukkan diri dengannya dan melayaninya, tanpa mengharap kenaikan pangkat ke level yang tertinggi. Allah Swt berfirman:

"Dan, janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan, karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Thaahaa [20]: 131).

Ini merupakan bentuk pengajaran dari Allah Swt. kepada nabi pilihan-Nya; Nabi Muhammad Saw., dalam menjaga keadaan diri dan ridha terhadap segala pemberian. Allah Swt. berfirman, "Dan, karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Thaahaa [20]: 131). Artinya, Allah Swt. berfirman, 'Apayang telah Aku berikan kepadamu, berupa kebaikan, kenabian, ilmu, qana'ah, kesabaran, kewalian dalam agama, dan ahli di dalamnya, itu lebih pantas dan utama dari apa yang Aku berikan kepada selainmu."

Dengan demikian, segala kebaikan itu ada dalam menjaga keadaan, ridha menjalaninya, dan tidak melirik selainnya. Sebab, bisa jadi kebaikan itu merupakan bagianmu atau milik orang selainmu, atau tidak bagian siapa-siapa, bahkan Allah Swt. malah menciptakan petaka di dalamnya.

Jika memang kebaikan itu telah ditetapkan menjadi bagianmu, maka kebaikan tersebut akan sampai kepadamu, baik kamu menginginkannya atau pun tidak. Oleh karenanya, tidak selayaknya kamu menunjukkan adab yang buruk dan kekurangajaran dalam mencarinya, karena itu sama sekali tidak terpuji dalam pandangan ilmu dan logika.

Sebaliknya, apabila kebaikan itu merupakan bagian orang lain, maka janganlah berlelah diri untuk mendapatkan sesuatu yang bukan jatahmu. Sebab, hal itu tidak akan sampai kepadamu selama- lamanya. Jika kebaikan tersebut bukanlah bagian siapa-siapa, bahkan malah menimbulkan fitnah, maka bagaimana seseorang yang berakal akan merelakan diri dan menganggap baik suatu ambisi untuk meraih fitnah yang dapat merusak dirinya?

Bila kamu diberi kesempatan untuk masuk kamar raja, kemudian menuju lotengnya, maka lakukanlah apa yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu menjaga, mengetuk, dan beradab, bahkan harus lebih lagi, karena kamu lebih dekat kepada raja dan lebih dekat dengan bahaya. Janganlah berharap dapat berpindah dari suatu keadaan ke keadaan yang lebih tinggi atau lebih rendah, tidak pula tetapnya dan kekekalannya. Janganlah mengubah sifatnya; sedangkan kamu berada di Wf dalamnya. Kamu tidak memiliki pilihan sedikit pun dalam hal ini, karena itu adalah bentuk kufur nikmat keadaan. Kekufuran itu bisa menyebabkan pelakunya menjadi hina di dunia dan akhirat.

Maka dari itu, berbuatlah seperti yang telah kami sebutkan, sampai kamu mencapai keadaan permanen yang menjadi kedudukan bagimu. Ketika itu,
kamu akan mengetahui bahwa ini adalah pemberian yang jelas. Selanjutnya, hendaklah kamu memegangnya erat-erat dan jangan melakukan kesalahan. Segala keadaan tersebut adalah untuk para wali, dan kedudukan itu untuk para abdal. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan hidayah-Nya kepadamu.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Menghilangkan Keresahan Hati

Keluarlah dari nafsu dirimu. Ber-uzlah-lah dari kekuasaanmu dan serahkan semuanya kepada Allah Swt. Jadilah penjaga pintu-Nya di pintu hatimu dan jalankanlah perintah-Nya untuk memasukkan orang yang diperintahkan memasukkannya. Berhentilah melakukan larangan-Nya untuk mengusir orang yang diperintahkan supaya kamu usir. Jangan sampai hawa nafsu memasuki hatimu setelah ia keluar. Mengeluarkan hawa nafsu dari hati bisa dilakukan dengan menyelisihinya dan tidak mengikutinya dalam segala keadaan. Sedangkan yang dimaksud dengan memasukkan nafsu ke dalam hati adalah dengan mengikuti dan menaatinya.

Nafsu merupakan lembah orang-orang bodoh. Di dalamnya, terdapat kematianmu, kehancuranmu, dan kejatuhanmu dalam pandangan-Nya, serta hijabmu dari-Nya. Oleh karena itu, jagalah perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya selama-lamanya, pasrahlah pada takdir-Nya, serta janganlah menyekutukan-Nya dengan apa pun dari makhluk-Nya.
Keinginan, hawa nafsu, dan syahwatmu adalah makhluk-Nya. Maka, janganlah berkeinginan, berhawa nafsu, dan berhasrat, agar kamu tidak menjadi orang yang musyrik. Allah Swt. berfirman:

“.. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. al-Kahfi [18]: 110).

Syirik itu bukan hanya menyembah berhala, namun juga ketika kamu mengikuti hawa nafsumu, memilih sesuatu selain-Nya; berupa dunia dan akhirat seisinya. Jika kamu tunduk kepada selain- Nya, maka kamu telah menyekutukan- Nya. Oleh sebab itu, waspadalah dan jangan terlena, takutlah selalu dan jangan merasa aman, serta periksalah dan jangan lalai, niscaya kamu merasa tenang.

Janganlah menyandarkan suatu keadaan dan kedudukan kepada dirimu, dan jangan pula meninggalkan sesuatu pun darinya. Apabila kamu diberikan harta atau ditempatkan pada suatu kedudukan, maka janganlah memberi tahu kepada siapa pun, karena Allah Swt. setiap hari berada dalam urusan-Nya untuk mengubah dan mengganti. Dia-lah yang menghijab antara seseorang dengan hatinya. Dia menghilangkanmu dari sesuatu yang kamu beri tahu. Dia mengubahmu dari yang kamu bayangkan ketetapannya dan keabadiannya, sehingga kamu merasa malu di dekat orang yang kamu beri tahu mengenai hal itu.

Apabila kedudukan tersebut kekal dan terus menerus di dalam dirimu, kamu akan menyadari bahwa itu adalah karunia yang harus disyukuri. Mohonlah taufiq dan pertolongan kepada Allah Swt. agar kamu bisa senantiasa bersyukur. Jika tidak kekal, maka di dalamnya terdapat tambahan ilmu, makrifat, cahaya, kesadaran, dan pengajaran. Allah Swt. berfirman:

"Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (QS. al-Baqarah [2}: 106).

Janganlah menganggap Allah Swt. lemah dalam kekuasaan-Nya, janganlah mencela-Nya dalam takdir-Nya dan pengaturan- Nya, dan janganlah pula meragukan janji-Nya. Jadikanlah Rasulullah Saw. sebagai teladan yang baik. Memang benar, ada ayat- ayat dan surat-surat yang diturunkan kepada beliau dan sudah diamalkan, dibaca di mihrab-mihrab, dan ditulis di dalam mushaf, namun kemudian di-naskh. Rasulullah pun lalu beralih kepada yang lainnya (ketetapan yang baru/ayat yang me-naskh).

Naskh inilah yang tampak dalam teks syariat. Sedangkan, mengenai sisi ilmu dan keadaannya, maka itu adalah rahasia antara diri Rasulullah Saw. dengan Allah Swt. Beliau bersabda:
"Sesungguhnya, aku dikayakan atas hatiku. Setiap hari, aku beristighfar kepada Allah Swt. sebanyak 70 kali." Dalam riwayat lain disebutkan, "Seratus kali."

Rasulullah Saw. berpindah dari suatu keadaan ke keadaan lainnya, berjalan melewati tangga-tangga kedekatan dan medan kegaiban, serta khawatir jika cahaya-cahaya dicabut. Oleh karena itu, keadaan yang pertama terpapang jelas setelah disusul dengan kekurangan. Dari sinilah, timbul kekurangan dalam pemeliharaan batasan-batasan berdasarkan perspektif kerendahan hati beliau. Kemudian, beliau mengucapkan istighfar. Itulah sebaik-baik keadaan seorang hamba.

Istighfar mengandung pengakuan dosa dan kelalaian. Keduanya merupakan sifat seorang hamba dalam segala keadaan. Juga merupakan warisan dari bapak manusia, Nabi Adam As. kepada Rasulullah Saw., yaitu ketika keadaannya yang jernih diselimuti oleh lupanya janji dan sumpah, keinginan abadi di Darus Salam, berdekatan dengan kekasih ar-Rahman al-Mannan, serta ditemui oleh para malaikat yang mulia dengan penghormatan dan salam. Sejak saat itu, nafsu Nabi Adam As. berhasrat agar keinginannya dapat berbaur dengan kehendak Allah Swt., sehingga keinginan ini menjadi pecah berkeping-keping. Status kemuliaannya dan wewenang kewaliannya pun ikut lenyap. Ia turun dari kedudukannya, cahayanya padam, serta kesuciannya terkotori.

Setelah itu, Nabi Adam As. disadarkan, diingatkan, dan ditegur oleh Allah Swt., Dzat Yang Maha Pengasih. Ia pun mengakui dosanya dan kelupaannya, serta melantunkan ikrarnya sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut:
"...Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. al-A'raaf [7]: 23).

Lalu, datanglah cahaya hidayah dan ilmu taubat mengganti keinginan itu dengan selainnya, serta kewalian paling besar dan ketenangan di dunia menghampirinya. Dunia pun menjadi tempat tinggal baginya dan keluarganya, sedangkan akhirat adalah tempat kembalinya.

Kamu memiliki teladan yang baik pada diri kekasih Allah Swt., yakni Rasulullah Saw. dan Nabi Adam As., yang merupakan kekasih-Nya dalam hal mengakui kekurangan serta beristighfar dalam segala keadaan.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Tuesday, February 5, 2013

MELEBUR DARI MAKHLUK

Leburkanlah dirimu dari makhluk dengan izin Allah Swt., dari hawa nafsumu dengan perintah-Nya, dan dari keinginanmu dengan perbuatan-Nya. Jika kamu termasuk orang yang beriman, bertawakkallah hanya kepada-Nya. Dalam kondisi seperti itu, kamu layak menjadi bejana ilmu-Nya.

Adapun tanda meleburnya dirimu dari para makhluk adalah terputusnya jalinan dirimu dengan mereka, juga bolak-balikmu terhadap mereka, dan tiadanya harapanmu terhadap segala sesuatu yang ada di tangan mereka. Sedangkan, tanda meleburmu dari hawa nafsu ialah kamu enggan meraup dunia serta tidak bergantung kepada sarana-sarana dalam mendapatkan manfaat dan menolak mudharat. Janganlah bergerak dengan dirimu sendiri, jangan pula berpegang dengannya, serta janganlah merasa lemah dan lari. Serahkanlah semuanya kepada Allah Swt., karena Dia-lah yang mengurusinya pertama dan terakhir kali; hal itu sebagaimana Dia mengurusi kamu ketika berada di dalam rahim dan saat masih menjadi bayi yang menyusu dalam ayunan.

Adapun tanda meleburmu dari keinginanmu dengan perbuatan Allah Swt. adalah ketika kamu tidak mengingini»" apa pun, serta tidak pula memiliki kebutuhan dan terapan. Sebab, ketika sedang bersama-Nya, kamu tidak menpnginkan sesuatu apa pun, melainkan kehendak-Nya. Perbuat-.n Allah-lah yang mengalir di dalam dirimu.

Setelah itu, kamu menyatu dalan kehendak dan perbuatan Allah Swt. Dalam kondisi semacam ini, tamu merasa aman, lapang dada, memiliki wajah yang bercahaya, tienyang dan kaya, serta tidak membutuhkan apa pun; cuku» dengan Sang Pencipta. Tangan kekuasaan senantiasa membolak-balikkanmu, lisan keabadian menyerumu, Tuhan segala ajaran mengajarkanmu, Dia memakai- kanmu beragam cahaya-Nya dan segala perhiasan, serta menempatkanmu sebagai ahli ilmu yang utama, sehingga kamu merasa membutuhkan-Nya selama-lamanya.

Jika kondisinya sudah demikian, kamu menjadi "terpecah belah"; tidak memiliki syahwat dan keinginan seperti bejana bocor yang tidak mampu menampung cairan dan larutan, sehingga kamu bersih dari akhlak-akhlak manusiawi. Hatimu tidak bisa menerima, selain keinginan-Nya. Ketika itu, kamu akan dikaruniai sifat takwin (pembentukan/penciptaan) dan segala sesuatu yang luar biasa. Hal ini tampak seolah-olah darimu. Padahal, dalam perspektif ilmu, semua itu merupakan tindakan dan kehendak Allah Swt.

Dan, apabila sudah berada dalam posisi seperti itu, kamu berada dalam kelompok orang-orang yang hati mereka tertundukkan, keinginan manusiawi mereka telah terpatahkan, dan syahwat- syahwat alamiah sudah dihilangkan. Lalu, tumbuhlah di dalam diri mereka kehendak ketuhanan dan syahwat-syahwat keutamaan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam sabda Rasulullah Saw. sebagaimana berikut:
"Aku dibuat cinta terhadap tiga hal dari dunia; wewangian, wanita, dan dijadikan ketenangan jiwaku dalam shalat."

Semua itu bisa didapatkan oleh Rasulullah Saw. setelah beliau mampu keluar dari ketergantungan terhadap hal-hal tersebut demi mewujudkan sesuatu yang telah kami tunjukkan sebelumnya. Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadis Qudsi sebagaimana berikut:
“Aku bersama orang yang hatinya pecah berkeping-keping demi Aku."

Allah Swt. tidak akan bersamamu hingga hawa nafsu dan keinginanmu patah arang. Jika sudah patah, tidak ada sesuatu pun di dalam dirimu, dan tidak ada pula sesuatu yang layak di dalam dirimu, maka Dia menghidupkanmu kembali hanya untuk-Nya. Apabila di dalam dirimu terdapat kehendak baru, maka Dia akan "meremukkanmu", hingga kamu berpatah hati. Kemudian, Dia akan menciptakan kehendak baru lagi di dalam dirimu, lalu dihancurkan lagi jika masih ada sisa kehendak di dalam dirimu. Beginilah keadaanmu sampai ajal menjemputmu; mempertemukanmu dengan-Nya. Inilah makna, "Orang yang patah hatinya karena Aku."

Adapun makna perkataan, "Ketika kamu berada di dalamnya adalah kekokohanmu dan ketenanganmu di dalamnya. Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

"Hamba-Ku akan terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, pandangannya yang digunakan untuk melihat, tangannya yang digunakan untuk memukul, dan kakinya yang digunakan untuk berjalan."

Dalam redaksi lain disebutkan:
"Dengan-Ku ia mendengar, memukul, dan berpikir."

Ini akan terjadi ketika kamu berada dalam kondisi fana, yaitu jika kamu melebur dari dirimu sendiri dan makhluk. Makhluk itu ada yang berupa kebaikan dan ada pula yang berupa kejahatan, begitu juga halnya dengan kamu yang memiliki kebaikan dan kejahatan. Janganlah mengharapkan kebaikan mereka dan jangan pula takut dengan kejahatan mereka. Kamu hanya memiliki Allah Swt. Di dalam takdir-Nya, terdapat kebaikan dan keburukan. Dia mengamankanmu dari keburukan dan menenggelamkanmu dalam lautan kebaikan-Nya, sehingga kamu menjadi bejana segala kebaikan serta sumber segala kenikmatan, kebahagiaan, karunia, cahaya, keamanan, dan ketenangan.

Fana adalah harapan, sasaran, target akhir, batasan, dan tujuan perjalanan para wali. Fana merupakan istiqamah yang dicari oleh para wali dan abdal terdahulu. Mereka melebur dari keinginan diri mereka dan menggantinya dengan kehendak Allah Yang Maha Benar, sehingga mereka berkeinginan dengan keinginan Al-Haq selama-lamanya sampai mereka meninggal dunia. Oleh karena itu, mereka dinamakan dengan abdal (semoga Allah Swt. meridhai mereka).
Bagi orang-orang mulia tersebut, menggabungkan keinginan diri sendiri dengan kehendak Allah Swt. merupakan sebuah dosa, meskipun mereka dalam kondisi lupa, terdesak, bahkan kaget sekalipun. Apabila mereka melakukan dosa ini, maka Allah Swt. akan segera menurunkan rahmat-Nya kepada mereka dengan memberi peringatan dan kesadaran, sehingga mereka bertaubat dan memohon ampunan kepada-Nya. Sebab, tidak ada seorang pun yang bebas dari dosa, kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dari keinginan. Para nabi bersih dari hawa nafsu. Sedangkan, makhluk lainnya; dari kalangan manusia dan jin; tidak ada yang suci dan bersih dari keduanya. Hanya saja, sebagian para wali menjaga diri dari hawa nafsu, dan para abdal dilindungi dari kehendak, namun tetap saja mereka tidak bisa terlepas dari keduanya (kehendak dan hawa nafsu). Artinya, bisa saja terkadang mereka condong kepada keduanya, kemudian Allah Swt. menyadarkan mereka dengan rahmat-Nya.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Penjelasan tentang Keadaan Dunia dan Dorongan untuk Tidak Meliriknya

Bila kamu melihat dunia di tangan para pemiliknya dengan segala perhiasan, kebatilan, tipuan, umpan, dan racun yang mematikan, disertai kelembutan sentuhan zhahir dan urgensi batinnya, serta cepatnya kehancurannya dan pembunuhannya terhadap orang yang menyentuhnya, maka posisikan dirimu seperti orang yang sedang menyaksikan seseorang pada saat buang air besar yang menampakkan aurat dan mengumbar bau busuk; pasti kamu akan menundukkan pandangan agar tidak melihat aurat orang itu serta menutup hidung supaya tidak mencium bau busuk yang menebar.

Begitulah seharusnya kamu bersikap terhadap dunia. Jika kamu melihatnya, maka tundukkanlah pandanganmu dari perhiasannya serta tutuplah hidungmu dari bau busuk syahwat dan kenikmatannya. Jika kamu melakukan itu, maka kamu akan selamat dari berbagai macam bahaya. Jatah duniamu akan datang sendiri kepadamu dan kamu pun bisa menikmatinya. Di dalam al-Qur'an disebutkan:

"Dan, janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan, karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Thaahaa [20}: 131).

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Mati Maknawi

Jika kamu meninggalkan makhluk, maka dikatakan kepadamu, "Semoga Allah Swt. merahmatimu dan mewafatkanmu dari hawa (hasrat) kesenanganmu." Apabila kamu meninggalkan hawa (hasrat), maka dikatakan kepadamu, "Semoga Allah Swt. merahmatimu dan mewafatkanmu dari keinginan dan harapanmu."

Lalu, bila kamu meninggalkan keinginan, maka dikatakan kepadamu, "Semoga Allah merahmatimu dan menghidupkanmu kembali." Dalam kondisi seperti ini, kamu akan hidup dengan kehidupan yang tidak mengenal kematian lagi, kamu menjadi kaya dengan kekayaan yang tidak ada kefakiran setelahnya, kamu diberi karunia dengan pemberian yang tidak ada halangan setelahnya, dianugerahi ketenangan yang tidak ada lagi kesengsaraan setelahnya, dikucuri kenikmatan yang tidak ada kepedihan setelahnya, diberi ilmu yang tidak ada lagi kejahilan setelahnya, dan merasa aman tanpa ada lagi ketakutan setelahnya.

Hidup kamu akan bahagia tanpa sengsara, menjadi mulia tanpa hina, ditinggikan tanpa direndahkan, dimuliakan tanpa dihinakan, dan disucikan tanpa dikotori. Setelah itu, kamu akan menjadi Kibrit Ahmar yang hampir tidak terlihat, mulia tanpa ada yang menandingi, satu-satunya dan tiada duanya, serta terlihat elok tanpa ada sejenisnya.

Jika sudah demikian, kamu akan menjadi pewaris para nabi, rasul, dan shiddiqin. Perwalian akan ditutup dengan dirimu dan gambaran pengganti (abdal) akan tampak padamu. Segala musibah akan tersibak lantaran kamu. Hujan akan turun, tumbuh-tumbuhan akan subur, serta musibah dan ujian akan tertolak dari diri kaum khas dan awam, para penjaga perbatasan, pemimpin dan rakyat, para imam dan umat, serta seluruh makhluk lainnya. Semua itu karena dirimu.

Kamu akan menjadi hiasan negeri dan para hamba. Orang- orang akan bergegas mendatangimu dengan membawa bingkisan dan hadiah, mengabdi kepadamu atas izin Dzat Yang Maha Menciptakan segala sesuatu. Seluruh lisan akan menyanjungmu dan memberikan pujian dalam berbagai kesempatan. Tiada dua orang mukmin yang berselisih mengenai dirimu, wahai sebaik-baik orang yang tinggal di bumi. Itulah karunia Allah Swt. Dia-lah Pemilik Keutamaan dan Keagungan.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Ujian

Jika seorang hamba diuji dengan suatu musibah, maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah bangkit dengan dirinya sendiri. Jika tidak mampu, maka mintalah pertolongan kepada sesama makhluk; seperti kepada para penguasa, pejabat, orang-orang yang lapang, dokter, dan lain sebagainya. Apabila masih juga tidak mendapatkan solusi, maka hendaknya ia kembali kepada Tuhannya dengan cara berdoa, menundukkan diri, dan memuji.

Selama masih bisa mendapatkan bantuan dari dalam dirinya, maka ia tidak perlu menghampiri makhluk lainnya. Dan, jika masih bisa mendapatkan bantuan dari makhluk, maka ia tidak perlu merujuk kepada Allah, Dzat Yang Maha Menciptakan. Kemudian, jika pertolongan tidak kunjung datang, maka ia harus menghambakan diri di hadapan-Nya, terus-menerus meminta, berdoa, menundukkan diri, dan merasa membutuhkan disertai dengan rasa takut dan penuh harapan.

Allah, Dzat Yang Maha Menciptakan tidak akan mengabulkan doa seorang hamba, sampai ia memutus ikatan dengan sarana-sarana duniawi. Ketika itulah, takdir diterapkan kepadanya dan perbuatan Allah Swt. berlaku pada dirinya. Akhirnya, ia menjadi fana (melebur binasa) dari segala sarana dan gerak, yang tersisa hanya ruhnya.

Dengan kondisinya yang demikian, ia menjadi yakin dan menyatu bahwa ia tidak lagi melihat apa pun, selain manifestasi tindakan Allah Swt. Tidak ada kebaikan dan keburukan, mudharat dan manfaat, pembuka dan penutup, kematian dan kehidupan, kemuliaan dan kehinaan, kecuali di tangan-Nya.

Ia menjadi seperti anak kecil yang sedang menyusu di bawah asuhan perawatnya, mayat di tangan orang yang memandikannya, serta bola di hadapan orang Persia yang bisa dibolak-balik,
diubah, dan diganti; tidak ada gerakan pada dirinya sendiri maupun selainnya.
Ia menghilang dari dirinya dalam perbuatan Penguasanya. Tidak ada yang dilihatnya, selain Penguasanya. Ia tidak bisa mendengar dan memikirkan tentang selain-Nya.

Walaupun ia melihat, maka karena perbuatan-Nya-lah ia dapat melihat. Ia mendengar dengan kalam-Nya, mengetahui dengan ilmu-Nya, menikmati dengan nikmat-Nya, bahagia dengan kede- katan-Nya, serta merasa enak dan tenang dengan janji-Nya.

Bersama firman Allah Swt., ia merasa dekat. Sedangkan, dengan selain-Nya, ia merasa jauh dan muak. Melalui dzikir, ia kembali bersandar kepada-Nya. Hanya dengan-Nya, ia menjadi mulia, agung, dan kokoh. Kepada-Nya-lah ia bertawakkal. Dengan cahaya makrifat-Nya, ia mendapatkan petunjuk. Dengan ilmu-Nya, ia mengkaji dan menelaah. Serta, dengan rahasia-rahasia kekuasaan- Nya, ia menjadi mulia. Dari-Nya, ia mendengar dan tersadar. Kemudian, dengan semua itu, ia terus memuji, menyanjung, bersyukur, dan berdoa.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Saling Menasihati dalam Kebaikan

Ikutilah (sunnah Rasulullah Saw.) dan jangan membuat bid'ah. Taatlah dan jangan membangkang. Esakanlah Allah Swt. dan jangan menyekutukan-Nya. Dia adalah Al-Haq, maka janganlah menuduh- Nya dengan keburukan. Janganlah pula mengadukan-Nya kepada makhluk. Bersabarlah, janganlah berputus asa. Tegarlah dan jangan lari. Memohonlah dan jangan bosan. Tunggulah dan jangan patah arang. Bersaudaralah dan jangan bermusuhan. Bersatulah dalam ketaatan dan jangan bercerai berai. Saling mencintailah dan jangan saling membenci. Serta, bersihkanlah diri dari segala dosa dan jangan melumuri diri dengannya.

Berhiaslah dengan menaati Tuhan kalian, janganlah menjauh dari pintu Penguasa kalian dan janganlah pula berpaling dari menghadap kepada-Nya. Janganlah bertindak ekstrem dalam bertaubat dan mohonlah ampunan kepada-Nya di tengah malam dan siang.

Mudah-mudahan kalian dirahmati dan bahagia, jauh dari neraka, dekat dengan surga, dapat sampai kepada-Nya, sibuk merasakan kenikmatan surga, dapat berhubungan dengan para bidadari yang masih perawan di Darus Salam (surga), berada dalam keadaan seperti itu selamanya, berkendaraan dengan najaib, menikmati segala jenis wewangian, serta diangkat bersama para nabi, komunitas orang jujur, para syuhada, dan orang-orang yang shalih.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Apa yang harus dilakukan oleh Orang Mukmin?

Setiap orang mukmin harus menjaga tiga perkara dalam segala keadaan, yaitu perintah yang harus dijalankan, larangan yang harus dijauhi, dan takdir yang harus diterima dengan segala keridhaan. Seorang mukmin tidak akan pernah lepas dari salah satu di antara tiga perkara tersebut. Oleh karena itu, semangatnya harus terus menyertai hatinya dan mampu memotivasi dirinya, serta seluruh anggota badan memberikan support dalam segala keadaan.

Dikutip dari : Kitab Nasihat dan Wirid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
------

Thursday, January 24, 2013

Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Al-Walid bin Uqbah, ia "Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya sekelompok manusia daripada penghuni surga pergi untuk menemui sekelompok manusia dari penghuni neraka, mereka [para penghuni surga] bertanya, "Kenapa kalian masuk neraka? Demi Allah, kami dapat masuk ke dalam surga, karena apa yang telah kalian ajarkan pada kami," mereka lantas menjawab, "Sesungguhnya kami mengatakan sesuatu, namun kami sendiri tak melakukan apa tersebut."

Amar Ma'ruf Nahi Mungkar #2

Dalam Shahih Bukhari dan shahih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Usamah bin Zaid ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah, bersabda :

“Didatangkan seorang lelaki pada Hari Kiamat nanti, lantas lelaki itu dilemparkan ke dalam neraka, kemudian usus-usus perutnya terburai lalu dia berputar dengan usus-usus perutnya itu sebagaimana berputarnya keledai di dalam penggilingan yang dijalankan dengan tangan. Lantas berkumpullah para penghuni neraka, mereka bertanya, "Wahai fulan ada apa denganmu? Bukankah engkau telah memerintahkan kami pada yang ma’ruf dan mencegah kami dari yang mungkar?" Lelaki itu menjawab, "Ya benar, saya telah memerintahkan mereka pada yang ma'ruf namun saya sendiri tidak melakukannya dan saya telah mencegah mereka dari yang mungkar namun saya sendiri melakukannya”

Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Dosa bagi Orang yang Memerintahkan pada yang Ma'ruf Namun Dia Sendiri Tidak Melakukannya, atau Melarang pada yang Mungkar Sedangkan Ia Sendiri Melakukannya

Allah berfirman,
"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?"

Allah berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”

Liquid Culture

Sedang senang senangnya coba coba buat liquid culture untuk Jamur Tiram, so far so gud, besok tinggal fase test apakah liquid culture yang ...