Showing posts with label inspiration. Show all posts
Showing posts with label inspiration. Show all posts

Saturday, February 9, 2013

Nabi Tidak Ridha Umatnya di Neraka 

Ketika surga dan neraka telah terkunci, dan semua umat manusia telah dimasukkan ke dalam surga dan neraka sesuai dengan amalannya dan mereka telah menikmati ganjaran atau merasakan hukuman atas apa yang mereka kerjakan dalam waktu yang begitu lama, Allah SWT menanyakan kepada Malaikat Jibril, subhanallah sesungguhnya Allah Mahatahu, “Apakah ada umat Muhammad SAW yang masih tertinggal di dalam neraka?”



Maka Malaikat Jibril pun pergi ke neraka Jahanam. 
Neraka Jahanam yang begitu gelap tiba-tiba berubah menjadi terang benderang karena kedatangan Jibril.

Para penghuni Jahanam pun bertanya-tanya, siapakah yang datang, mengapa Jahanam tiba-tiba-tiba terang benderang.

Malaikat Jibril pun menjawab bahwa dia adalah Malaikat Jibril, yang diutus oleh Allah SWT untuk mencari apakah ada umat Muhammad yang masih terselib di neraka Jahanam.
Tiba-tiba sekelompok orang berteriak, “Sampaikan salam kami kepada Rasulullah SAW, beri tahukan keadaan kami di tempat ini kepada beliau.”



Jibril pun keluar dari neraka Jahanam dan pergi ke surga untuk memberitahukan hal itu kepada Rasulullah.

Rasulullah begitu bersedih mendengar bahwa masih ada umatnya yang tertinggal di dalam neraka dalam waktu yang sudah begitu lama. Beliau tidak ridha ada umatnya yang masih tertinggal di neraka walau dosanya sepenuh bumi.

Rasulullah SAW pun bergegas hendak pergi neraka.
Tapi di perjalanan beliau terhadang oleh garis batas Malaikat Israfil. Tidak ada seorang pun boleh melintasi garis itu kalau tidak seizin Allah SWT. 

Rasulullah SAW pun mengadu kepada Allah SWT, dan akhirnya beliau diizinkan. Tapi sesudah itu Allah SWT mengingatkan Rasulullah bahwa umat itu telah meremehkan beliau. “Ya Allah, izinkan aku memberi syafa’at kepada mereka itu walau mereka punya hanya punya iman sebesar zarrah.”

Sesampainya Rasulullah di neraka Jahanam, padamlah api neraka yang begitu dahsyat itu.
Penduduk Jahanam pun berucap, “Apa yang terjadi, mengapa api Jahanam ini tiba-tiba padam? Siapakah yang datang lagi?” 

Rasulullah SAW menjawab, “Aku Muhammad SAW yang datang, siapa di antara kalian yang jadi umatku dan punya iman sebesar zarrah, aku datang untuk mengeluarkannya.”

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada umatnya, beliau akan memperjuangkannya sampai di hadapan Allah SWT. Lalu bagaimana kecintaan kita sebagai umat Rasulullah SAW kepada pribadi yang begitu agung itu?

Friday, February 1, 2013

Mengambil Jatah Rakyat


Tatkala Rasulullah SAW sibuk membagi rampasan perang (ghanimah) Hunain, seorang Anshar datang dengan membawa seutas tali. Seraya menunjukkan tali yang diambil dari tumpukan ghanimah, dia berkata, "Ya Rasulullah, saya mengambil ini untuk pengikat unta yang lepas." Nabi menjawab, "Bila itu dari bagianku, maka kurelakan." Si Anshar kontan bergumam, "Kalau sampai begitu, maka aku tidak butuh." Tali itu pun dikem­balikannya.

Jadi, meski seutas tali, bila belum menjadi hak pribadi, haram diambil. Statusnya, harta gelap atau korupsi (ghu- lul). Selain untuk pasukan, 20 persen ghanimah untuk agama Allah, Rasul dan kerabatnya, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil (QS 8:41). Jelaslah, ghanimah juga jatah kaum dhuafa.

Ghanimah mirip zakat. Yaitu, harta untuk rakyat (umum). Alokasinya sudah ditetapkan. Tugas penguasa tinggal membagi, menentukan subsidi, dan jatah per orang. Jika jumlahnya terbatas, padahal banyak yang miskin, akan dicari yang paling mendesak dibantu.

Hasil tambang migas, emas, lautan, kehutanan, mata air di pegunungan, dan lain-lain juga berstatus serupa. Se­muanya harta milik umum untuk kepentingan rakyat. Penguasa haram memprioritaskan dirinya. Jatahnya sama dengan rakyat jelata.

Ingatkah kisah protes Salman Al Farisi terhadap Khalifah Umar bin Khathab dalam membagi pakaian? Usai Abdullah bin Umar menjelaskan terbukti jatah kepala negara sama dengan warga biasa. Jadi, bukan untuk keperluan pribadi, seperti makan siang atau rekreasi pejabat dan pegawai negeri, termasuk biaya berobat bagi orang-orang kaya. Apalagi, kini masih banyak fakir miskin dan tidak bisa membiayai sekolah dan mengaji, padahal belajar itu fardhu 'ain. Selain kaum dhuafa, juga untuk program vital dan mendesak, misalnya pertahanan saat negara asing mengintervensi.

Harta gelap adalah perkara berat dan berdampak besar, baik di dunia maupun akhirat. Di dunia, ekonomi negara bangkrut dan pemulihannya selalu gagal. Adapun di akhi­rat, pelaku akan memikul semua ghulul di pundaknya. Kala dia berteriak, "Ya Rasulullah, tolonglah aku", Rasul malah menjawab, "Aku tidak bisa menolong sedikit pun," (HR Muslim). Artinya, meski tidak selamanya, pelakunya bakal disiksa di neraka, kecuali bila bertobat dan ghulul tadi dikembalikan.

Wednesday, January 30, 2013

Bagaimana Anda Mengukur Kebahagiaan?

Bagaimana bila ukuran kebahagiaan itu adalah ketika kita mampu berbagi kebahagiaan?
Alkisah, Buck, siswa kelas dua SMA di California, senang mengganggu orang lain. Ada saja yang dia lakukan, dari permen karet yang ditaruh di bangku kelas sampai papan tulis yang ia pindahkan sehingga gurunya kebingungan mencari papan tulis! Dan masih banyak lagi.
Kelakuan Buck juga terkadang menjurus pada tindakan kriminal. Pernah ia kedapatan membocorkan rem mobil kawannya hingga celaka. Padahal, kawannya itu tidak mempunyai kesalahan pada Buck. Walhasil, Buck diciduk aparat keamanan. Tapi setelah bebas, ia tidak ada kapok- kapoknya. Kelakuan nakal Buck baru berhenti setelah ada siswi rekan kelasnya yang menembak mulutnya. Sekarang Buck tidak bisa tertawa menyeringai lagi sebab sudah mati!

Kebahagiaan di mata Buck adalah ketika ia melihat orang lain tidak bahagia! Dia senang melihat orang marah ketika ia ganggu. Tandanya ia berhasil, la baru tidak bahagia kalau orang yang dia ganggu justru tersenyum kepadanya, la baru tidak senang ketika orang yang dia jahili tetap baik kepadanya.

Sekarang bagaimana dengan Anda? Apakah Anda bahagia melihat orang lain tidak bahagia? Apakah Anda bahagia bila Anda tahu bahwa kebahagiaan Anda itu menari-nari di atas penderitaan orang lain? Apakah Anda masih tetap senang bila sementara itu Anda tahu bahwa ada yang menangis disebabkan oleh cara Anda meraih kesenangan? Anda sendirilah yang tahu jawabannya.

Syukur-syukur kalau Anda bisa tidak bahagia kalau ada orang di sekeliling Anda juga tidak bahagia. Lebih bersyukur lagi, bila Anda mampu membuat orang di sekeliling Anda bahagia.
Pernah ditulis kisah Effendi di salah satu buku Wisata Hati. Effendi, seorang eksekutif muda di kawasan Sudirman yang sudah memiliki segalanya, karier yang bagus, rumah mewah, mobil bagus, istri cantik, dan anak yang lucu. Namun, ia masih merasa ada yang kurang dalam kehidupannya. Kehampaan sering terjadi seperti sebuah kekosongan batin. Dikisahkan suatu hari ketika ia sedang melakukan lari pagi, ia bertemu seorang ibu yang sedang menangis.

Biasanya ia tidak mau peduli. Tapi kali itu ada kekuatan lain yang memaksanya menyapa sang ibu.
"Kenapa Ibu menangis?" tanyanya.
Rupanya, si ibu tersebut baru saja dipecat dari tempat kerjanya. Padahal, di hadapannya terbentang beragam kesusahan—anaknya yang sakit, suaminya yang juga sakit, hingga ketiadaan makanan dan uang.
Effendi tergerak membantu. Diantarnya ibu tersebuj pulang, diberinya uang secukupnya. Sementara itu, anak dan suaminya dibawa ke dokter terdekat.

Hari itu, Allah Sang Pemilik kebahagiaan rupanya senang melihat apa yang dilakukan Effendi. Hari itu, Effendi merasa - kan satu kebahagiaan yang segera melengkapi kebahagia an yang ia rasa kurang. Ternyata, selama ini kekurangannya itu adalah ia jarang membantu orang. Jarang mau berbagi kebahagiaan.

Saudara, Allah Pemilik kebahagiaan tentu senang kalau melihat kita bisa bahagia. Karena "kebahagiaan-Nya" adalah ketika melihat kita bahagia. Dan lagi kehadiran-Nya adalah agar kita mampu merasakan kebahagiaan. Tapi, Dia juga ti dak akan senang kalau kemudian kita menikmati kebahagiaan dalam kesendirian alias tidak mau berbagi. Apalagi kalau kebahagiaan itu kita dapatkan dengan merugikan orang lain.
Dan ketahuilah, Allah teramat kuasa untuk membuat kita tidak bahagia, meskipun ketika kita seharusnya menjadi

orang yang berbahagia menurui kebanyakan orang. Artinya, Dia hilangkan rasa kebahagiaan di hati kita, di kehidupan kita.
Terus, yang patut diketahui, secara "fitrah"-Nya, Dia selalu berkenan memberkahi kehidupan kita. Agar apa? Agar kita juga berkenan menjadi berkah untuk sesama. Dia i ingin kita menjadi senang dengan hanya menghadirkan kesenangan-kesenangan, agar kita juga bisa menyenangkan orang lain. Dia ingin kita berhasil, kaya, dan makmur, agar kita bisa meneteskan aliran rezeki-Nya untuk sesama. Tapi Dia akan mencabut berkah-Nya, manakala tujuan pemberian berkah dari-Nya tidak tercapai. Dia akan cabut anugerah kekayaan dan kemakmuran, manakala tujuan Dia memberikan kekayaan dan kemakmuran pada kita tidak kita laksanakan. Jangan sampai kebahagiaan kita tukar dengan penderitaan dan kesedihan.

Gawat betul ya Rabb, bila hamba tidak mampu meraba penderitaan orang yang kemudian membuat hamba tidak mampu berbagi. Suatu saat, ketika hamba berposisi sebagai orang yang membutuhkan, tiada yang peduli, bahkan mungkin Engkau juga tidak peduli sebab hamba sendiri tidak mau peduli.

Ya Rabb, ukuran kebahagiaan bila semata kebahagiaan tanpa cerminan di depan dan di belakangnya, maka patutlah hamba pertanyakan ulang. Bagaimanakah jika ternyata ada orang yang menangis lantaran kebahagiaan itu? Bagaimanakah kalau ada orang yang justru hamba buat tidak Bahagia?

Wahai Zat yang memiliki bimbingan, bimbinglah hamba menemukan arti dari kebahagiaan. Kebahagiaan ketika hamba bisa membahagiakan orang.

Tidak Semua Orang Berhari Raya

Haruskah Ramadhan kita tunjukkan dengan kesukacitaan yang berlebihan?
"Anil udah beli baju?" tanya Luqman kepada Anil, anak Bang Azwar. Anil sedang main ular tangga bareng Basri, adik iparnya.
"Belonan," jawab Anil.
"Kok belonan beli?"
"Bapak nggak punya duit. Udah lama nggak kerja," Anil menjawab dengan datar sambil terus asyik main ular tangga.
Basri nyeletuk polos, "Basri mah udah beli, tiga. Dibeliin ama Emak."

Luqman tiba-tiba merasa bersalah kenapa dia bertanya seperti itu kepada Anil.
lebaran memang tidak perlu berbaju baru, lebaran memang tidak perlu punya makanan ini dan itu. Tapi tradisi kita, di tanah air ini, sudah telanjur membudaya bahwa lebaran itu harus dihiasi dengan keceriaan, dengan sukacita. Apalagi buat anak kecil. Bahkan, sebagian orangtua ada yang berkata, "Biarin dah kita-kita nggak lebaran, yang penting anak pada lebaran." Maksudnya, biar orangtua tidak beli pakaian baru asalkan anak berpakaian baru.

Tidak ada yang salah. Semangat menyambut hari kemenanganlah yang membuat kita begitu gembira menyongsong hari raya. Tidak salah juga kita menyenangkan hati anak-anak, tapi semangat kegembiraan ini kalau bisa dibarengi juga dengan semangat berbagi. Bahwa kesukacitaan itu tidak boleh milik kita semata, bahwa kegembiraan itu tidak boleh hanya kita yang merasakan. Mari, ajak mata dan hati untuk melihat ke sekeliling kita karena Allah minta kita sudi berbagi, sebelum kehidupan disapa kematian.

Tuhanlah Pemilik semua rezeki dan Dia sudi berbagi dengan kita. Masak kita tak mau berbagi, sedang sejatinya tak ada yang kita miliki?

Majelis Zikir


Shalat Ashar berjamaah baru saja berlangsung di Masjid Nabawi. Biasanya, setelah itu Rasulullah saw dan para sahabat akan lama berzikir dan berdoa. Namun, di hari itu, begitu mengucapkan salam, Nabi lang­sung berdiri lalu, dengan tergesa-gesa, melangkahi pundak jamaah untuk menuju rumah beliau yang menyatu dengan masjid.

Beberapa saat berlalu, Nabi kembali. Melihat ke­heranan jamaah di depannya, Rasulullah bersabda, "Aku teringat ada beberapa batang emas di tangan kami. Aku tak suka terus memikirkannya, sehingga kusuruh segera dibagikan saja kepada yang berhak." (HR Bukhari).

Kisah ini memberi dua hikmah. Pertama, Nabi selalu membagikan titipan kepadanya, yakni zakat, sesegera mungkin. Beliau enggan menundanya meski semalam, atau membiarkan hak rakyat menumpuk di kas negara, semen­tara masih banyak fakir miskin di sekelilingnya. Kedua, setinggi apa pun pahala berzikir, itu tetaplah amalan sun- nat. Kewajiban harus didahulukan dan mustahil diganti dengan amalan sunnat sebanyak apa pun. Sebagai misal, dalam shalat subuh, bila seseorang terlambat bangun, dia harus tetap mengerjakannya saat terjaga. Shalat dhuha tidak bisa menggantikannya.

Sayangnya, banyak manusia tidak meneladani secara kaffah 'total' perjalanan hidup Nabi. Mereka memang giat berzikir, sesuatu yang sangat dianjurkan, bahkan tahan berjam-jam dalam majelis yang khusus dibuat untuk itu. Namun, mereka melalaikan begitu banyak kewajiban.

Padahal, makin banyak umat Islam yang gagal me­menuhi kebutuhan hidup.Yang lemah iman menjadi tergo­da gerakan misionaris hingga berpindah agama. Sayang­nya pula, dana badan amil zakat menumpuk hingga bermiliar rupiah. Pertanggungjawaban penyaluran minim, bahkan sangat mungkin diselewengkan justru oleh orang- orang yang sanggup berjam-jam berzikir dan berdoa seusai shalat.

Ada kesan mereka tertimpa wahn 'cinta dunia dan takut mati', sehingga memilih aktivitas yang tidak dimusuhi kaum kafir. Padahal, hanya menambah kemakmuran rak­yat lewat penyegeraan pembagian zakat, Nabi saja lang­sung meninggalkan zikir, doa, dan shalat rawatib.

Apalagi, untuk menyelamatkan nyawa dan aqidah ra­tusan jutaumat Islam, tentu lebih besar dan mendesak lagi pelaksanaan kewajiban itu.

Lebih Hina dari Bangkai


Suatu hari Nabi Muhammad saw berjalan-jalan di pasar, diikuti banyak orang. Di tengah jalan, ia meli­hat bangkai seekor anak kambing yang daun teli­nganya kecil. Nabi menghampiri lalu mengangkatnya ser­aya bertanya, "Siapa yang mau membelinya?" Massa men­jawab, "Kami tidak mau, tidak ada manfaatnya bagi kami."

"Kalau diberi gratis, apakah kalian mau?"
"Bahkan, bila kambing itu masih hidup, kami juga me­nolaknya karena telinganya cacat. Apalagi sekarang anak kambing itu sudah jadi bangkai." Mendengar itu Nabi ber­sabda, "Demi Allah, sesungguhnya dalam pandangan Allah, dunia lebih hina daripada bangkai ini menurut anggapan kalian." (HR Muslim)

Ini wajar karena bangkai tak lagi berbahaya. Bangkai pun tak kuasa menggoda dan menyesatkan orang hingga saling menganiaya. Bangkai siapa pun atau hewan apa pun takkan bisa menggunjing dan memfitnah. Sebaliknya, isi dunia bisa mengawali penghancuran manusia oleh per­adaban imperialisme beberapa negara. Karena muatan pe­rut bumi, seperti tambang minyak atau emas, penganiayaan hingga pembantaian ribuan orang masih terjadi hingga kini.

Selain itu, kemampuan meraih nikmat dunia dijadikan kriteria kesuksesan sehingga ditirulah peradaban negara atau orang yang paling mampu meraih nikmat fisik dunia. Ukuran sejati kemanusiaan, yakni ketakwaan dan kelu­huran akhlak, tersingkirkan. Padahal, itulah standar pe­nilaian Allah.

"Jangan sekalipun kamu teperdaya akan kebebasan orang-orang kafir bergerak (karena kekayaan dan kema­juan ekonominya) di dalam negeri. Itu hanyalah kesenan­gan sementara, selanjutnya tempat tinggal mereka ialah neraka Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk- buruknya tempat tinggal." (QS 3:196-197).

Sabda Nabi di awal tulisan ini hendaknya menyadark­an mereka yang selama ini terlalu memuliakan dunia. Tak jarang harta atau jabatan seseorang dijadikan standar ke­muliaan. Akibatnya, bukan cuma saat berbisnis atau mua­malah lain, bahkan dalam dakwah sekalipun, kerap muncul keengganan mengakui kebenaran dakwah orang- orang yang lebih miskin daripada yang didakwahi. Jadi, tinggalkanlah penilaian kemuliaan atau kebenaran pada diri seseorang yang didasari ukuran keduniaan.

Islam di Cordova


Raja Inggris pernah mengirim surat kepada Sultan Hisyam III, penguasa Andalusia (kini Spanyol).
Berikut petikannya, "Kami telah mendengar kema­juan ilmu dan industri di negara paduka. Karenanya, kami bermaksud mengirim putra-putri terbaik kami untuk me­nimba ilmu di negara paduka yang mulia agar ilmu penge­tahuan tersebar ke negeri kami yang dikelilingi kebodohan dari empat penjuru." (dikutip dari Dr Muhammad Sayyid Al Wakil dalam Lamhatun min Tarikhid Daiwati 'Wajah Dunia Islam'.

Isi surat ini membuktikan bahwa peradaban Islam yang berpusat di Cordova itu adalah sumber ilmu, teknologi, dan cara hidup masyarakat Eropa. Atas perkenan Hisyam III warga Eropa berduyun-duyun belajar di madrasah, uni­versitas, dan perpustakaan Islam Mereka terbelalak, mula­nya, ketika mendapati teori bumi itu bulat dan mengeli­lingi matahari, bukan seperti doktrin gereja saat itu.

Kebesaran rahmat Allah kepada Cordova tergambar dalam buku sejarah Al Azhar, yang dikutip Al Wakil. Ketika sang surya terbenam, kota-kota besar Eropa gelap gulita, sedangkan di Cordova terang benderang disinari lampu-lampu. Eropa sangat kotor, padahal di Cordova telah dibangun ribuan WC umum. Eropa terbenam dalam lumpur, di saat yang sama jalan-jalan di Cordova mulus dan teratur. Bahkan, ketika anak-anak Cordova mulai ma­suk sekolah, tokoh-tokoh (raja, bangsawan, dan pendeta) Eropa belum bisa menulis namanya sendiri.

Dengan kondisi itu, maka mustahil ada manfaat yang bisa diberikan Eropa. Cordova pun tidak memerlukan apa- apa dari luar Islam. Fakta ini diakui sejarawan besar Barat Gustave Lebon yang menyatakan, "Tidak ada hal-hal posi­tif dari bangsa Barat yang brutal itu yang bisa ditiru dunia Timur."

Benar, sebab mereka baru menggunakan sabun mandi setelah belajar dari umat Islam pada era perjanjian per­damaian seusai Perang Salib. Sebelumnya, orang Eropa ja­rang mandi. Cordova makmur dan mencurahkan rasa aman kepada rakyat, termasuk warga Kristen dan Yahudi, karena beriman dan menerapkan Islam dalam segala aspek kehidupan (lihat QS 7:96). Mereka hanya meniru Daulah Madinah, meski jelas tidak mampu menandingi keluhuran peradabannya. Kapan umat Islam di Indonesia mengembalikan kejayaan Madinah dan Cordova?

Tuesday, January 29, 2013

Pejabat Bermasalah


Tampaknya, hanya Islam yang telah memberi petun­juk dan bukti kongkret kesuksesannya memberes­kan pejabat bermasalah. Jangankan terhadap peja­bat penggelap dana sosial, bagi pejabat yang mencoba mengkorupsi sepotong jarum pun akan ditindak. Dalam beberapa hadits yang disahihkan Imam Abu Dawud di­sampaikan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, "Barangsiapa yang bekerja dengan kami, dan telah digaji dan diberi fasilitas dinas, lalu menggelapkan harta, walau cuma sepotong jarum, maka dia dinilai berkhianat."
Ketatnya definisi Islam soal harta haram bagi pejabat, serta kuatnya kontrol kepala negara membuat banyak orang mengundurkan diri begitu mendengar aturan kene­garaan, sebagaimana hadits tersebut. Misalnya, seorang sahabat Anshar memilih mundur, padahal dia tidak me­lakukan korupsi apa pun.

Bukti lain datang dari Khalifah Umar bin Khattab. Hanya karena panglima perang Khalid bin Walid tidak me­matuhi perintah soal pembagian ghanimah 'harta ram­pasan perang', maka jenderal hebat itu dipecat. Umar me­merintahkan agar harta jangan dibagikan kepada orang-orang yang telah kaya, melainkan khusus bagi fakir miskin (riwayat Ali bin Rabbah).

Meski kesalahan Khalid tampak sepele, apalagi bila di­banding jasa-jasanya, memenangkan perang atas Impe­rium Romawi di Muktah dan Yarmuk, tetapi wajib bagi Umar menindaknya dengan keras. Bila tidak, kepercayaan rakyat kepada sistem dan pengelola negara merosot.

Perselisihan dan konflik horizontal melebar. Akhirnya, perhatian pemerintah dan rakyat tersedot pada pejabat bermasalah itu, dan bukannya menyelesaikan masalah- masalah nyata, seperti kemiskinan dan ancaman negara lain.

Ini juga untuk mencegah timbulnya sikap meremehkan harta negara dan rakyat. Zaid bin Aslam meriwayatkan, Umar pernah memperingatkan anak buahnya agar tidak meremehkan aset negara atau publik, dan hanya takut mencuri harta pribadi orang lain. Sebab, sekali sikap ini muncul, maka harta yang seharusnya dibagi kepada fakir miskin pun akan disikat. Padahal, ini jelas dosa besar.

Terlihat dari surah Almaauun:7, hanya karena sese­orang tidak mengajak memberi makan orang miskin, Allah sudah menyebutnya sebagai pendusta agama. Lalu, bagai­mana dengan orang yang mengkorupsi jatah makan orang miskin puluhan miliar rupiah?

Monday, January 28, 2013

Jangan Sampai Terlambat

Pada suatu malam, ada sepasang suami istri yang sedang bercengkrama di kamar bak sepasang pengantin baru.
Tiba-tiba sang suami mendengar ada yang mengetuk pintu. Tok tok tok
"Mah," kata sang suami, "pintu ada yang mengetuk tuh. Ada tamu kali?"
Sang istri menjawab dengan malas, "Saya nggak mendengar suara apa-apa, Pah," katanya sambil menarik selimut.
Tok tok tok
Suara itu terdengar lagi.
Sang suami berkata lagi, "Mah, benar tuh. Ada yang mengetuk!" Lalu ia meminta istrinya untuk melihat ke ruang tamu, memeriksa siapa tahu benar ada tamu.

Lantaran hormatnya kepada suami, sang istri berjalan ke pintu yang dimaksud. Disingkapnya tirai jendela, tapi tidak ada tamu yang terlihat. Karena penasaran, dibukanya pintu, pun tidak ada tamu yang terlihat. Keadaan ini dilaporkan kepada sang suami.
Tok tok tok

Suara itu kembali terdengar, begitu istri selesai melaporkan tidak ada tamu. Si suami bingung, mengapa suara itu hanya ia yang mendengar. Dengan kainnya yang agak-agak berantakan, suami ini pergi beringsut dari kamarnya, pergi sendiri melihat. Penasaran.
Kira-kira selangkah lagi menjelang pintu depan, si suami ini bertanya, "Siapa di luar? Malam-malam namu!"
Suara di depan menjawab dengan pelan dan datar,"... Saya... 'Izrail!"

Meski pelan dan datar, suara itu bak guntur yang mengagetkan hati suami tersebut, la tahu bahwa 'Izrail itu kalau datang, pasti untuk mencabut nyawa. Suami tersebut memutar langkah, berbalik ke belakang. Tiba-tiba saja ia mengingat bahwa ia belum shalat, belum bersedekah, belum haji sedang uang ada, belum minta maaf pada mereka yang ia kecewakan, dan belum-belum yang lainnya. Tapi terlambat. Sejurus dengan berbalik arahnya ia (kalau tadinya menghadap ke pintu depan, kini ia membelakangi pintu depan sebab kepingin lari), tiba-tiba saja ia mendapati 'Izrail sudah bergerak mencabut nyawanya! Maka terempaslah badannya yang sudah tidak bernyawa.

Pembaca, keadaan seperti ini sangat mungkin kita alami. Makanya, mumpung kita masih ada nyawa, mumpung kita masih ada sedikit harta, mumpung kita masih disehatkan Allah, segeralah kita memulai kebaikan demi kebaikan yang diseru Allah, di antaranya shalat dan mengasihi sesama; baik membantu dengan tangan, ucapan, dan membantu dengan harta. Wassalam.
"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang ke matian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan ajalku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang- orang yang saleh?" (QS Al- Munafiqun [63]: 10)

JIKA TELAH MERASAKAN MANISNYA IMAN


"Ada tiga perkara, siapa yang memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: Mencintai Allah dan Rasul'Nya melebihkan segalagalanya. Mencintai seseorang hanya karena Allah. Enggan untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah, sebagaimana ia enggan bila dilemparkan ke dalam api neraka." (HR. Bukhari-Muslim, dari Anas).

Ketika bahagia itu sangat dipengaruhi rasa aman, tenang dan damai di hati, maka yang demikian itu pasti akan diraih oleh orang yang telah merasakan MANISNYA IMAN. Ketika kita mendapati seseorang yang tiada putus-putusnya bersyukur kepada Allah, padahal hidupnya sangat sederhana, rumahnya sederhana, makanannya sederhana, pakaiannya sederhana, tetapi ia tidak pernah berhenti sesaatpun dari bersyukur, ingat dan mendekatkan diri kepada Allah, maka itu karena manisnya iman yang telah dirasakannya.

Jika manisnya iman telah dirasakan, maka di penjara sekalipun orang tetap merasakan ketenangan. Kemiskinan tidak membuatnya menderita. Kehilangan
seseorang atau sesuatu yang sangat dicintai, tidak membuatnya terus-menerus bersedih, resah dan gelisah, tidak membuatnya putus asa dan kehilangan gairah hidup, sebab keimanannya yang benar membuat ia yakin bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Di balik penderitaan tersimpan keberuntungan. Kesusahan itu hanyalah sesuatu yang bersifat sementara. Ia berkeyakinan bahwa itulah salah satu cara Allah memperlihatkan kasih- sayang kepada hamba-Nya. Maka di relung hati yang paling dalam ia merasakan kebahagiaan, meskipun mungkin lahirnya ia menderita.

Dr. Yusuf Qardhawi menulis, "Ketika orang beriman tidak menyesali apa yang terjadi di masa lalu yang menyusahkannya, dan tidak menggerutu dengan apa yang sedang terjadi, juga ia tidak menatap masa depan dengan penglihatan yang suram dan redup. Ini disebabkan karena ia senantiasa memiliki rasa aman dan damai di dalam hati, bagaikan orang yang hidup di alam surgawi. Demikian itu, karena pengaruh iman di dalam jiwanya."
Bagi seseorang yang telah merasakan manisnya iman, beribadah dan melakukan kebaikan-kebaikan, bukan semata-mata terasa mudah dan ringan, karena semua itu lebih dari sekedar kewajiban, akan tetapi juga beribadah dan melakukan kebaikan-kebaikan telah menjadi kebutuhannya, dan juga ia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan ketika melakukan ibadah dan kebaikan itu. Dan MANISNYA IMAN dapat diraih dengan melakukan tiga hal : (1). Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segalanya. (2). Mencintai seseorang hanya karena Allah. (3). Enggan kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah.

Sunday, January 27, 2013

Legenda Kampung Tenggelam

Luqman teringat kisah salah satu legenda kampung yang tenggelam dan berubah menjadi danau, la lupa persisnya. Saat itu, ada nenek tua renta yang mengetuk hampir seluruh pintu penduduk kampung, yang saat itu sedang makmur. Nenek itu meminta dengan mengiba, agar kiranya ada setetes air yang bisa melewati tenggorokannya yang kering.
Tapi semua tak peduli bahkan menutup hidung, tanda tak sudi mencium bau Nenek yang menyengat. Tak satu pun penduduk yang sudi menawarkan bejana berisi air untuk direguk sang Nenek.

Nenek itu akhirnya putus asa dan marah, la menancapkan tongkatnya di tengah alun-alun. Semua tak memerhatikan kemarahan sang Nenek kecuali terbengong sesaat ketika sang Nenek kemudian menghilang. Dan semua awalnya tak memedulikan, hingga pada suatu hari berbulan-bulan setelah sang Nenek menghilang dan menancapkan tongkatnya, mereka dilanda kekeringan dan kemarau yang berkepanjangan. Sawah mereka mengering, gagal panen. Ternak mereka kurus dan mati kelaparan. Tidak ada lagi anak yang kuat berlari ke sana kemari. Semuanya lesu, semuanya tidak mempunyai energi.

Saat itu, tetua kampung mengingatkan kejadian beberapa bulan yang lalu, kejadian mengenai sang Nenek yang tidak dipedulikan penduduk kampung. Dan seketika mereka ingat akan tongkat tersebut. Mereka menduga, tongkat sang Nenek itu yang menyebabkan timbulnya kekeringan air. Diperintahkanlah orang terkuat mencabut tongkat tersebut. Tapi, seinci pun tidak terangkat!

Mulailah rasa sesal datang. "Kalau tahu begini, dulu aku suguhi dia sapiku yang terbaik," sahut seorang penduduk. "Iya, kalau tahu begini, dulu aku tidak meludahi dia," sahut yang lain. Sesal kemudian sering tidak berguna.

Tiba-tiba sang Nenek datang dengan tersenyum. Dengan entengnya ia mencabut tongkatnya dan seketika keluarlah air dari bekas lubang tongkat itu. Penduduk menyambut-
nya dengan sukacita. Meledak tawa di seluruh penjuru kampung.
Sayang, sorak-sorai penduduk kampung itu tidak bertahan lama. Air yang keluar tersebut semakin lama semakin bertambah besar dan bertambah besar hingga menenggelamkan separuh desa.
Ajal mendekat. Sebagian yang tersisa sujud di hadapan Sang Khaliq agar sudi kiranya menahan keluarnya air yang teramat dahsyat itu. Mereka tidak lagi memedulikan harta bendanya yang telanjur hanyut dibawa air. Mereka memohon diberikan kesempatan hidup untuk memperbaiki diri.
Air memang berhenti keluar, tapi kampung sudah menjadi danau!

Sayang Luqman lupa akan nama danau dan kampung pada legenda itu. la percaya, tidak akan ada legenda bila tidak ada kenyataan yang mendahului. Perihal besar dan kecilnya legenda itulah yang menjadi bumbunya.

Terbukti kini Luqman sendiri mengalami kejadian yang begitu aneh. Pertemuan dengan Bocah Misterius bagaikan sebuah legenda.
Luqman tidak mau penduduk negerinya terus-menerus tidak menginjak bumi dan tidak mengindahkan aturan-aturan Allah. Sehingga ketika sadar, kesadaran itu terlambat seperti kesadarannya penduduk kampung yang separuh kampungnya menjadi danau tersebut.

Luqman berniat terus menggunakan lisannya untuk bersuara dan tangannya untuk menulis agar "seribu tahun" lagi kita masih mendengar tawanya anak bangsa dalam keadaan ceria.
Ah, bocah kecil, di mana kau berada?
Di setiap tetesan nikmat yang kita rasakan, ada baiknya kita mengingat bahwa ada orang lain yang juga berhak merasakannya.

Bocah Misterius

Kami terus berpuasa meski bukan saatnya berpuasa, lantaran ketiadaan makanan, lantaran ketiadaan minuman. Kami berpuasa tanpa ujung!

"Hey kamu, mari sini!" sapa Luqman halus kepada seorang bocah yang dengan sengaja mengganggu anak kecil lain yang sedang berpuasa.

"Siapa nama kamu? Dari mana kamu asalnya?" tanya Luqman sambil memegang lengan bocah itu. Sebetulnya Luqman gemas, tapi ia tahan kegemasan itu.
Meski ditanya dengan sopan, bocah itu malah balik mendelik ke arah Luqman dan tertawa menyeringai! Tawa bocah itu membuat Luqman melepaskan pegangannya seketika.

Luqman merasa bocah ini bukanlah anak sembarangan. Sungguhpun penampilannya kayak bocah biasa. Kaus plus celana pendek. Agak lusuh, tapi bersih. Luqman melihat mata bocah itu. Mata itu bukanlah mata anak manusia pada umumnya. Ditambah lagi, sebelumnya Luqman tidak pernah melihat bocah itu di kampungnya, Kampung Ketapang,Tangerang. Luqman sudah bertanya ke sana kemari, adakah tetangga kampungnya atau orang di kampungnya yang mengenali siapa bocah itu dan siapa keluarganya. Semua orang yang ditanya Luqman menggelengkan kepala, tanda tidak tahu.

Bocah itu menjadi pembicaraan di Kampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung, la menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja di atasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini, bagi orang kampung, menyebalkan. Bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan ke sana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak cokelat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat di plastik es tersebut. Pemandangan tersebut menjadi pemandangan biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa. Pemandangan tak mengenakkan ini justru terjadi di tengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari di kampung itu lebih terik daripada biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang di kampungnya mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memeraga- kan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi kemudian orang itu dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

Luqman memutuskan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!
Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu hadir. Benar, ia menari-nari sambil menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas mengundang orang lain untuk menelan ludah tanda ingin meminum es itu juga. Luqman menegurnya. Cuma ya itu tadi, bukannya takut, bocah itu malahan mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar menelan Luqman. Kejadiannya seperti diuraikan di mukadimah tulisan ini.

Kami lapar... sementara perut kalian kenyang. Kami sakit, tanpa ada obat, apalagi biaya berobat... sementara kalian menambah terus kesakitan kami dengan mempertontonkan kemewahan dunia di hadapan kami... di depan mata kami... yang sedang berpakaian kemiskinan. Kami menangis, kami merintih, adakah di antara kalian yang peduli?
"Bismillah Luqman kembali mencengkeram tangan bocah itu. la kuatkan mentalnya, la berpikir kalau memang bocah itu adalah bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan, apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia akan mencari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman menyentakkan tangannya, menyeret halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan mata penuh tanya orang-orang yang melihatnya.
"Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukannya ini adalah kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman seakan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.

"Maaf ya. Itu karena kamu melakukannya di bulan puasa," jawab Luqman dengan halus, "apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa. Lalu bukannya ikut menahan lapar dan haus, kamu malah menggoda orang dengan tingkahmu itu."

Sebenarnya Luqman masih mau mengeluarkan unek-uneknya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai, la menatap mata Luqman lebih tajam lagi.
"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal itu ketimbang saya? Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup di bawah garis kemiskinan pada sebelas bulan di luar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?
Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis?

Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal?
Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja kalian menahan rasa lapar dan haus? Ketika beduk magrib bertalu, ketika azan magrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian?"
Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi Luqman kesempatan menyela.

Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata demikian tegas dan terdengar sangat "menusuk", kini ia bersuara lirih, mengiba.
"Ketahuilah, Tuan, kami berpuasa tanpa ujung. Kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa lantaran memang tidak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan berpuasa sepanjang siang saja.
Dan ketahuilah Tuan, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuanlah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan Idul Fitri?
Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian juga menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan Idul Fitri?

Tuan, sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya.
Tuan, kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan Ramadhan ini. Apa yang saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami.
Tuan, sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu mengapakah masih saja mendekap harta secara berlebih?

Tuan, sadarkah apa yang terjddi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat?

Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat. Tahukah Tuan, akan adanya azab Tuhan yang menimpa?
Tuan, jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan, jangan merasa perut 'kan kenyang esok lantaran tersimpan pangan 'tuk setahun. Tuan, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi, kelak."
Wuah... entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Perkataan demi perkataan meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya!
Hal ini menambah keyakinan Luqman bahwa bocah ini bukan bocah sembarangan.
Habis berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.
Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi.
Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya Kampung Ketapang, la edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak

menemukan bocah itu. Di tengah deru napasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran di depan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!

Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, kembali ke rumah, la ambil sajadah, sujud, dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irasional, tidak masuk akal, ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa betullah adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberi Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada di atas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.
Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang yang ada di pikirannya, mau dipercaya atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki keber- cahayaan hati.

Pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

Saturday, January 26, 2013

So True And So Beautiful



No Matter What Name We Have, 

At The End We Will Be Called 
MAYYET

Whatever Luxurious Vehicles We Drive Today, 
In The End We Will Be Taken As 
JANAZA

No Matter What House We Stay In Today, 
In The End We Have To Lie In The 
QABAR

Whatever Clothes We Wear Today, 
In The End We Will Be Wearing The 
KAFAN

No Matter How Far We Travel In This World, 
In The End We Have To Fly Off With A Common Visa : 

Kullu Nafsin Zaaiqa Tul Maut.. 
(Meaning : Every Soul Shall Have A Taste Of Death...) 

May Allah Make Our Journey Easy And Jannat Our Destination
AMEEN

Tuesday, January 22, 2013

At the face of death


This is something that is very personal and important to me. I hope that you will learn and benefit from it. Let me begin by saying “Bismillah.” When I first started University, I had met another Muslim brother. We had become good friends, but this friendship was not like any other ordinary friendship, I would have done anything for him, he was like my real brother.
During our last year of University, this brother of mine announced that he was engaged and that he was to be married after he graduates this year and finds himself a job. I was glad for him and so was he. He talked non stop about getting married, I was sort of getting jealous of him, because the brother had it made for him, finishing school, getting married and especially coming from a wealthy family.
One day this brother was to meet me at the coffee shop. He showed up, but astonishingly he wasn’t smiling and wasn’t talking about his fiancée. I asked him what was wrong, he asked if we could talk somewhere privately and we did. Finally I knew why he was upset. He had told me that he found out that he had a brain tumor which was malignant, which meant it had become cancerous. When he told me the news, his voice was quivering and tears were streaming down his cheeks.
I had never seen him like this before. I tried keeping in my tears and I tried not to show that I was hurt also. I was burning up inside and things were racing through my mind. I kept thinking, how could this have happened? A man who had everything made and had everything perfect. I kept it inside because I did not want him to see me upset.
I saw this brother slowly go down. He had to drop out of school at his last year because he began to lose his memory and he started to repeat himself over again. He did not have a chance at school without his memory. This brother was intelligent, but after, he became lost.
He was told that his fianceés family and her parents did not want their daughter to marry him, because he had no job and basically no future. This was hard for him, I remember he would cry to me about her and how he cared for her and how hopeless he felt.
Later, the brother had problems writing and his right eyesight was fading. The tumor was on the left side of his brain so it affected everything on his right. Because of his memory loss, the brother soon forgot suras and he even forgot how to pray. A year later, his right arm was paralyzed and his eyesight was taken away from him. It was the hardest thing for me to see. The brother I loved so much as going through so much. I began coming over everyday helping him recite suras.
When I was recited sura Fatiha to him and he was slowly repeating after me, I looked at him and I thought, this was the same brother who was so intelligent and was to finish school. This was the same brother who came from such a wealthy family. This was the same brother who talked for days about getting married and raising a family. This was the same brother who had everything. But now he can barely remember what I said to him ten minutes ago, he can’t get married, and now he is struggling to read Qur’an, he was not much of a practicing Muslim so it was harder for him to recite the Qur’an. This man was now turning towards Allah, he dropped EVERYTHING and turned towards Allah. Allah gave him everything, and he could take everything away just as easily.
A month ago, I had received a call saying that the brother passed away and that his janaza is today. I washed his body with a couple of other brothers and I saw his lifeless body. He was buried and after that I returned home. The next day, I sat down wondering to myself about the power of Allah. My brother’s death made me realize that we forget what our purpose of being here is for: To serve Allah. You could have everything, but do you have anything that is important? I spent six years knowing this brother, and caring for him. I never once shed a tear when he was alive and not even when he passed away. But the day after his death, I did cry because I thought about the power of Allah. I thought about my brother. We always say that we will return to Allah, but we never really believe it. If we did, then we would struggle to read the Qur’an and pray to Allah like my brother did.
My brother had his eyesight taken away from him, his arm was paralyzed and his memory was lost, but he still got up every morning and he insisted and I repeat, insisted on reciting the Qur’an. But we are able, but we still do not struggle to read the Qur’an. We do not really believe that we will return to Allah, or else we would struggle for Allah.
My brother had love for materialistic objects, but when death approached him, those things were no use to him because he knew those things were not going to lead him to Jannah without his Iman. Allah can give and take things easily whenever and wherever. I love my brother and I pray that Allah will accept him, and I humbly request that prayer be made for him. I do pray that you have a true belief of Allah and our return to Him because if you do have this fear, you will struggle for your Islam to the best of your ability before you can say it is too late. May we all be rightly guided. Ameen.

Source : http://dawahblog.wordpress.com

Carry me in your arms...

Abu Hurairah narrated that Prophet Muhammad (PBUH) said: "The believers who show the most perfect faith are those who have the best disposition and the best of you are those who are best to their wives."

AUTHOR UNKNOWN
When I got home that night as my wife Ameena served dinner, I held her hand and said, I've got something to tell you. She sat down and ate quietly. Again I observed the hurt in her eyes. 
Suddenly I didn't know how to say it. But I had to let her know what I was thinking. I want a divorce. I raised the topic calmly. Ameena didn't seem to be annoyed by my words, instead she asked me softly, Ismail why? I avoided her question. This made her angry. She shouted at me, "you are not a man!" 


That night, we didn't talk to each other. Ameena was weeping. I knew she wanted to find out what had happened to our marriage. But I could hardly give her a satisfactory answer; I had lost my heart to a lovely girl called Mary Anne. I didn't love Ameena anymore. I just pitied her! 
With a deep sense of guilt, I drafted a divorce agreement which stated that she could own our house and the car. She glanced at it and then tore it to pieces. The woman who had spent ten years of her life with me had become a stranger. I felt sorry for her wasted time, resources and energy but I could not take back what I had said, for I loved Mary Anne so dearly. 
Finally Ameena cried loudly in front of me, which was what I had expected to see. To me, her cry was actually a kind of release. The idea of divorce which had obsessed me for several weeks seemed to be firmer and clearer now. 
The next day, I came back home very late and found her writing something at the table. I didn't have supper but went straight to sleep and fell fast asleep because I was tired after an eventful day with Mary Anne. When I woke up, she was still there at the table writing. I just did'nt care so I turned over and was asleep again.
In the morning she presented her divorce conditions: she didn't want anything from me, but needed a month's notice before the divorce. She requested that in that one month, we both struggle to live as normal a life as possible. Her reasons were simple: our son Ahmed had his exams in a month's time and she didn't want to disrupt him with our broken marriage. 
This was agreeable to me. But she had something more, she asked me to recall how I had carried her into out bridal room on our wedding day. She requested that everyday for the month's duration I carry her out of our bedroom to the front door ever morning. I thought she was going crazy. 
Just to make our last days together bearable I accepted her odd request. I told Mary Anne about my wife's divorce conditions. She laughed loudly and thought it was absurd. No matter what tricks she has, she has to face the divorce, she said scornfully. Ameena and I hadn't had any body contact since my divorce intention was explicitly expressed. So when I carried her out on the first day, we both appeared clumsy. Our son Ahmed clapped behind us, daddy is holding mummy in his arms. His words brought me a sense of pain. From the bedroom to the sitting room, then to the door, I walked over ten meters with her in my arms. She closed her eyes and said softly, don't tell Ahmed about the divorce. I nodded, feeling somewhat upset. I put her down outside the door. She went to wait for the bus to work. I drove alone to the office.

On the second day, both of us acted much more easily. She leaned on my chest.. I could smell the fragrance of her blouse. I realized that I hadn't looked at this woman carefully for a long time. I realized she was not young any more. There were fine wrinkles on her face, her hair was graying! Our marriage had taken its toll on her. For a minute I wondered what I had done to Ameena. 
On the fourth day, when I lifted her up, I felt a sense of intimacy returning. This was the woman who had given ten years of her life to me. On the fifth and sixth day, I realized that our sense of intimacy was growing again. I didn't tell Mary Anne about this. It became easier to carry her as the month slipped by. Perhaps the everyday workout made me stronger.


She was choosing what to wear one morning. She tried on quite a few dresses but could not find a suitable one. Then she sighed, all my dresses have grown bigger. I suddenly realized that she had grown so thin, that was the reason why I could carry her more easily. Suddenly it hit me, .. she had buried so much pain and bitterness in her heart. 
Subconsciously I reached out and touched her head. Our son Ahmed came in at the moment and said, Dad, it's time to carry mum out. To him, seeing his father carrying his mother out had become an essential part of his life. Ameena gestured to our son to come close and hugged him tightly. I turned my face away because I was afraid I might change my mind at this last minute. I then held her in my arms, walking from the bedroom, through the sitting room, to the hallway. Her hand surrounded my neck softly and naturally. I held her body tightly; it was just like our wedding day. 


But her much lighter weight made me sad. On the last day, when I held her in my arms I could hardly move a step. Ahmed had gone to school. I held her tightly and said, I hadn't noticed that our life lacked intimacy.
I drove to office... jumped out of the car swiftly without locking the door. I was afraid any delay would make me change my mind... I walked upstairs. Mary Anne opened the door and I said to her, Sorry, Mary Anne, I do not want the divorce anymore.
She looked at me, astonished. Then touched my forehead. Do you have a fever? She said. I moved her hand off my head. Sorry, Mary Anne, I said, I won't divorce. My marriage life was boring probably because she and I didn't value the details of our lives, not because we didn't love each other any more. Now I realized that since I carried her into my home on our wedding day I am supposed to hold her until one of us departs this world. 
Mary Anne seemed to suddenly wake up. She gave me a loud slap and then slammed the door and burst into tears. I walked downstairs and drove away. At the floral shop on the way, I ordered a bouquet of flowers for my wife. The sales girl asked me what to write on the card. I smiled and wrote: I will carry you out every morning until one of us leaves this world!


The small details of our lives are what really matter in a relationship. It is not the mansion, the car, the property, the bank balance that matters. These create an environment conducive for happiness but cannot give happiness in themselves. So find time to be your spouse's friend and do those little things for each other that build a relationship.

Allah says in the Qur'an:"Men are the supporters of women, because Allah has stowed on the one more than the other, and for what they have to provide (for them) from their sources. So the righteous women are obedient and protect in the absence of their husbands that which God ordains to be protected."(Qur'an 4:34) 
Allah says in the Qur'an:"And the believing men and the believing women, they are the friends of each other, they enjoin good and forbid evil, and establish prayers, and pay the alms, and obey God and His Messenger, these, upon them God will have mercy, indeed, God is almighty, All-wise." (Qur'an 9:71)
Prophet  said, "The best of you is he who is the best to his family, and I am the best to my family"

An incredibly touching story

It was a busy morning, about 8:30, when an elderly gentleman in his 80's, arrived to have stitches removed from his thumb. He said he was in a hurry as he had an appointment at 9:00 am.

I took his vital signs and had him take a seat, knowing it would be over an hour before someone would be able to see him. I saw him looking at his watch, and decided, since I was not busy with another patient, I would evaluate his wound. On exam, it was well healed, so I talked to one of the doctors, got the needed supplies to remove his sutures and redress his wound.

While taking care of his wound, I asked him if he had another doctor's appointment this morning, as he was in such a hurry. The gentleman told me no, that he needed to go to the nursing home to eat breakfast with his wife. I inquired as to her health; he told me that she had been there for a while and that she was a victim of Alzheimer's Disease. As we talked, I asked if she would be upset if he was a bit late. He replied that she no longer knew who he was, that she had not recognized him in five years now.

I was surprised, and asked him, 'And you still go every morning, even though she doesn't know who you are?' He smiled as he patted my hand and said, 'She doesn't know me, but I still know who she is'

I had to hold back tears as he left; and thought, 'That is the kind of love I want in my life.' True love is neither physical, nor romantic.. True love is an acceptance of all that is, has been, will be, and will not be.
With all the jokes and fun that are in e-mails, sometimes there is one that comes along that has an important message.

This one I thought I could share with you.

I Love You Dad


While a Man Was Polishing His New Car.. His 4'years Old Son
Picked Stone And Scratched Lines On The Side Of The Car.

In Anger,
The Man Took The Child's Hand & Hit It Many Times
Not Realizing He Was Using An Iron Wrench..

At The Hospital,
The Child Lost All His Fingers Due To Multiple Fractures..

When,
The Child Saw His Father.. With Painful Eyes ''Dad When Will My Fingers Grow Back..?!''

Can't Explain,
Man Was So Hurt & Speechless. He Went Back To Car & Kicked It Alot Of Times
Devastated By His Own Actions.. Sitting In Front Of That Car He Looked At That Scratches..

Child Had Written,
'' I LOVE YOU DAD '' The Next Day, Man Committed Suicide..


So My Frndz,
Anger & Love Have NO LIMITS.. Choose It & Treat It Carefully..
To Have a Beautiful & Lovely Life..

THINGS are Meant To Be USED & PEOPLE Are To Be LOVED But The Problem Of Today's World Is That..

People Are Used &,
Things Are Loved I Mean It.. Its My Experience..

Liquid Culture

Sedang senang senangnya coba coba buat liquid culture untuk Jamur Tiram, so far so gud, besok tinggal fase test apakah liquid culture yang ...