Kami menekuni Budidaya Jamur Tiram Sejak pertengahan 2013, bagi yang berminat untuk belajar Budidaya Jamur Tiram di Palembang Silahkan untuk Datang berkunjung ke Tempat Kami di Jl Pangeran Ayin, Komplek Griya Arisma Azhar B22, Kami Juga menyediakan Jamur tiram segar dan menjual Baglog serta Bibit, Semoga informasi yang kami sajikan memberi manfaat
Wednesday, November 17, 2010
Qurban
da satu pemandangan yang sering menggelitik hati saat hari qurban tiba, ratusan orang antri daging qurban, berdesakan sampai ada yang terjepit, terinjak, sampai pingsan. Fenomena ini dari waktu ke waktu selalu kita lihat, padahal secara logika mestinya tidak terjadi.
Kenapa ? Hitung hitungannya begini : bila jumlah orang kaya muslim 10% saja dari penduduk indonesia, artinya bila 10 % muslim kaya tersebut semua berkurban 1 ekor kambing saja berarti 9 orang miskin indonesia akan mendapatkan 1/9 ekor kambing.
1/9 ekor kambing itu jumlah yang sangat besar ! Mungkin 2 atau 3 kg daging, belum lagi kalau keluarga kaya muslim yg mestinya berkurban itu menyembelih 2 atau 3 ekor kambing ( untuk anak dan istri). Berarti 1 keluarga fakir miskin bisa memperoleh 1 paha kambing ! So kondisi sekarang mencerminkan bahwa jumlah muslim kaya yang berkurban mungkin hanya 0.01% saja sehinga moment qurban tidak terasa bagi fakir miskin di Indonesia.
Kapan kita bisa melihat panitia qurban kesulitan membagi daging kurban karena melimpahnya daging qurban dan sedikitnya orang yg bersedia menerima daging qurban?
Saya dengan istri mencoba menghitung secara kasar saat shalat ied kemarin di sebuah masjid, berapa jumlah hewan qurban dan berapa jumlah mobil yang diparkir di halaman masjid tersebut. Jumlah hewan qurban 4 ekor sapi dan 7 ekor kambing. Sementara jumlah mobil yang parkir puluhan buah.
Disini secara kasar kita bisa melihat bahwa banyak muslim yg sanggup bawa mobil tetapi tidak sanggup berkurban hewan sembelihan, saya tidak tahu apa yang membuat banyak orang kaya muslim yang tidak mau berkurban, tetapi saya yakin bahwa mereka tahu hukum berkurban.
Sepanjang mendengarkan kutbah saya membayangkan Bapak para nabi Ibrahim dengan tulus ikhlas bersedia mengurbankan anak tercinta Nabi Ismail, harta termahal yang Nabi Ibrahim miliki, menyembelih permata hati yang kehadirannya ditunggu selama bertahun tahun kini harus beliau sembelih. Kini kita sebagai muslim hanya diminta untuk menyembelih binatang qurban ! Dan sebagian dari kita yang mampu membeli mobil (bahkan tidak cuma satu) masih enggan untuk ber qurban hewan sembelihan.
Saya sering berbincang dengan kawan kawan yang punya motor, mobil dan rumah cukup bagus, gimana mas qurban berapa tahun ini ? Jawabannya sering kali klasik ...... Waduh mas .... Kayaknya tahun ini tidak bisa qurban nih, rejeki sedang seret, mudah mudahan tahun depan dech ! Dan Alhamdulillah tahun depannya tidak bisa ber Qurban lagi !!!!
Empat belas tahun yang lalu seorang teman mengajarkan kepada saya agar enteng dan bisa ber qurban, caranya sangat sangat sederhana, yang pertama saya disuruh berniat tahun 1996 akan qurban 1 ekor kambing.
Kemudian kita harus tahu berapa harga kambing saat itu. Nah tiap hari saya masukin ke celengan uang uang kecil ataupun besar dikit hehe, tiap bulan kita wajibkan masukin ke celengan agar 12 bulan kemudian cukup untuk membeli kambing.
Alhamdulillah ketika hari qurban tiba jumlah celengan culup untuk membeli satu ekor kambing, pengalaman ini sangat berkesan bagi saya, uang sisa naik angkot setiap hari kerja selama setahun bisa untuk membeli satu ekor kambing. Bagi kawan kawan yang mrrokok, anda bisa berhenti merokok setiap hari dan masukin ke celengan 5 ribu rupiah per hari - sebulan 150 ribu - setahun 1.6 juta so anda bisa berqurban dan tubuh lebih sehat.
Sekali anda ber Qurban saya jamin tahun tahun berikutnya anda akan berQurban, karena ber Qurban itu Nikmat, nikmat menjalankan perintah Allah, Nikmta melihat wajah wajah penuh bahagia membawa daging qurban, nikmat berbagi dengan sesama.
Bila tips sederhana tersebut dijalankan, berkurban itu ndak berat, kalau kita sanggup beli mobil, motor ataupun rokok kita mestinya sanggup membeli hewan qurban. Dan kita tidak lagi akan melihat nenek nenek berebut, terjepit dan terinjak injak untuk 2 ons daging qurban. Mari kita buat panitia qurban bekerja keras kesulitan membagi daging qurban karena melimpahnya daging qurban yang harus dibagi
Monday, June 21, 2010
Orang Miskin Selalu Jadi Tumbal
Kenaikan sebesar rata-rata 10 persen harus diberlakukan agar tidak melanggar Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2010 tentang APBN Perubahan 2010 yang mematok subsidi listrik sebesar Rp 55,1 triliun.
Tanpa kenaikan tarif, subsidi diperkirakan bakal bertambah sebesar Rp 4,8 triliun. Walau demikian, boleh jadi realisasi subsidi tetap akan terlampaui mengingat pertumbuhan konsumsi listrik kelompok pelanggan 450-900 VA lebih tinggi dari rata-rata konsumsi listrik keseluruhan.
Sebagian besar kelompok pelanggan 450-900 VA adalah rumah tangga. Kelompok ini menyerap lebih dari 40 persen subsidi listrik.
Kesepakatan antara pemerintah dan DPR tersebut terkesan heroik. Kenyataan tidak demikian karena justru merugikan sebagian besar penduduk miskin.
Hampir dua pertiga penduduk miskin tinggal di pedesaan, sedangkan nisbah elektrifikasi (electrification ratio) di pedesaan tidak sampai 20 persen. Dengan demikian, hampir semua penduduk miskin belum menikmati penerangan listrik PLN.
Beberapa desa terpencil bisa memperoleh penerangan listrik berkat usaha kelompok masyarakat atau nonkonvensional lainnya—bahkan dengan menggunakan energi terbarukan—walau mereka harus membayar jauh lebih mahal daripada tarif PLN. Mereka bukan penikmat subsidi yang digembar-gemborkan oleh wakil-wakil mereka di DPR.
Rakyat miskin di pedesaan akan semakin lama dalam kegelapan jika yang diutik-utik hanya sebatas subsidi. Harus segera ada kebijakan nasional yang betul-betul memihak rakyat banyak, yang betul-betul menyentuh rakyat miskin.
Seandainya separuh saja dari subsidi betul-betul diperuntukkan bagi rakyat miskin, hampir seluruh desa akan terang benderang dalam kurun tidak sampai 10 tahun.
Syarat utama agar harapan mulia tersebut terwujud adalah menyehatkan PLN sebagai entitas korporasi. Kapasitas PLN tak akan meningkat secara berarti kalau terus merugi dengan menjual listrik jauh di bawah ongkos pokok produksi.
Di lain pihak, porsi pembiayaan dari APBN (proyek listrik pedesaan dan porsi rupiah dalam proyek pembangkit dan transmisi) kian mengecil, hanya Rp 2 triliun setahun. Sementara itu, kemampuan PLN untuk meraup dana pinjaman (covenant) juga sangat kecil karena posisi keuangannya sangat tidak sehat.
Untuk sementara waktu, penguatan PLN merupakan alternatif terbaik. Pembangkit swasta sebagai pelengkap saja, terutama yang menggunakan energi primer murah dan atau terbarukan. Untuk itu, pemerintah selayaknya memberikan insentif.
Kedua, kebijakan kelistrikan nasional harus memiliki arah yang jelas dengan target terukur. Misalnya, dalam lima tahun PLN diwajibkan untuk menekan ongkos pokok produksi per kWh, tetapi diberikan keleluasaan untuk menaikkan tarif dengan tingkat tertentu.
DPR bisa berperan lebih aktif untuk mempercepat penyehatan PLN. Mengingat sumber utama inefisiensi PLN adalah pembelian bahan bakar, DPR bisa ”memaksa” pemerintah untuk segera menuntaskan segala permasalahan yang menghambat PLN menggunakan energi primer yang lebih murah sesegera mungkin.
Contoh paling nyata adalah tertunda-tundanya pasokan gas ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Tambak Lorok sehingga mengakibatkan potensi pemborosan sebesar Rp 3 triliun setahun. Angka tersebut tertuang dalam laporan resmi hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. Apakah karena melibatkan kelompok usaha yang dimiliki oleh petinggi partai koalisi lantas DPR diam saja?
Ditambah dengan pembenahan dalam pengadaan dan sumber-sumber inefisiensi lainnya, ongkos pokok produksi bisa ditekan sampai di bawah Rp 900 per kWh, dibandingkan dengan tingkat sekarang yang masih di atas Rp 1.000 per kWh. Dengan begitu, pada masa mendatang kenaikan tarif bisa ditekan serendah mungkin.
Dalam jangka pendek, kiranya DPR dan pemerintah jangan segan-segan menaikkan tarif listrik bagi kelompok pelanggan kaya. Sekalipun tarif kelompok pelanggan di atas 6.600 VA telah mencapai tingkat keekonomian, tak ada salahnya mereka dibebankan kenaikan dengan persentase yang lebih tinggi.
Ini merupakan wujud solidaritas bahwa yang kaya menanggung beban lebih banyak ketimbang yang kurang mampu.
Sudah saatnya meninggalkan cara-cara usang untuk membantu rakyat miskin. Cara paling efektif untuk memberdayakan mereka adalah dengan subsidi langsung atau dengan menerapkan sistem jaminan sosial sesegera mungkin. Bukan dengan berselubung di balik beragam bentuk subsidi yang notabene lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat yang lebih mampu.
Senin, 21 Juni 2010 | 04:16 WIB
Oleh FAISAL BASRI
Thursday, April 2, 2009
Pernikahan Menjelang Detik - Detik Kematian

The girl in the picture is Katie Kirkpatrick, she is 21. Next to her, her fiancé, Nick, 23. The picture was taken shortly before their wedding ceremony, held on January 11, 2005 in the US . Katie has terminal cancer and spend hours a day receiving medication. In the picture, Nick is waiting for her on one of the many sessions of quimo to end.
Wanita di gambar atas adalah Katie Kirkpatrick, dia berumur 21 thn. Sebelah kirinya, adalah tunangannya, Nick, 23. Gambar itu diambil tidak lama sebelum pernikahan mereka, yang dilaksanakan tanggal 11 Januari 2005 di US. Katie menderita kanker stadium akhir dan menghabiskan beberapa jam setiap harinya untuk terapi. Terlihat Nick sedang menunggu Katie sampai selesai, ini adalah salah satu dari sekian banyak sesi kemoterapi Katie.

In spite of all the pain, organ failures, and morphine shots, Katie is going along with her wedding and took care of every detail. The dress had to be adjusted a few times due to her constant weight loss
Dalam kesulitannya dalam menahan rasa sakit, kegagalan organ, dan morphin , Katie tetap mau melaksanakan acara pernikahannya dan memperhatikan setiap detail. Gaun pengantin perlu diperkecil beberapa kali karena Katie terus menerus kehilangan berat badannya.
An unusual accessory at the party was the oxygen tube that ketie used throughout the ceremony and reception as well. The other couple in the picture are Nick’s parents. Excited to see her son marrying his high school sweetheart.
Pernikahan dengan aksesoris yang tidak biasa dengan selang oksigen, Katie memakainya baik dalam upacara dan resepsi pernikahannya. Pasangan yang lain di gambar atas adalah Orang Tua Nick. Ikut Bersuka Cita melihat anak laki2nya menikahi sang pujaan hati, teman smunya.
Katie, in her wheelchair with the oxygen tube , listening a song from her husband and friends
Katie, di kursi rodanya dengan selang oksigen, mendengarkan sebuah lagu dari suaminya dan teman2nya.
At the reception, katie had to take a few rests.The pain do not let her to be standing up for long periods
Dalam resepsi, Katie perlu beberapa kali istirahat. Rasa sakitnya membuat ia tidak bisa berdiri lama2.
Katie died five days after her wedding day. Watching a women so ill and weak getting married and with a smile on her face makes us think….. Happiness is reachable, no matter how long it last. We should stop making our lives complicated.
Katie meninggal 5 hari kemudian setelah pernikahannya. Melihat seorang wanita yang sakit kritis dan lemah melakukan pernikahan dan dengan sebuah senyuman di wajahnya membuat kita berpikir….. Kebahagiaan bisa dicapai, tidak perduli bisa bertahan berapa lama. Kita seharusnya tidak membuat hidup kita menjadi rumit.
HIDUP ADALAH SINGKAT.. MAKA ITU PERGUNAKANLAH SETIAP MOMEN DENGAN SE BAIK BAIK NYA .....
sumber : email
Wednesday, April 1, 2009
Thanks for Your Time
Over the phone, his mother told him, "Mr. Belser died last night. The funeral is Wednesday."
Memories flashed through his mind like an old newsreel as he sat quietly remembering his childhood days.
"Jack, did you hear me?"
"Oh sorry, Mom. Yes, I heard you. It's been so long since I thought of him. I'm sorry, but I honestly thought he died years ago," Jack said.
"Well, he didn't forget you. Every time I saw him he'd ask how you were doing. He'd reminisce about the many days you spent over 'his side of the fence' as he put it," Mom told him.
"I loved that old house he lived in," Jack said.
"You know, Jack, after your father died, Mr. Belser stepped in to make sure you had a man's influence in your life," she said.
"He's the one who taught me carpentry," he said. "I wouldn't be in this business if it weren't for him. He spent a lot of time teaching me things he thought were important... Mom, I'll be there for the funeral," Jack said.
As busy as he was, he kept his word. Jack caught the next flight to his hometown. Mr. Belser's funeral was small and uneventful. He had no children of his own, and most of his relatives had passed away.
The night before he had to return home, Jack and his Mom stopped by to see the old house next door one more time.
Standing in the doorway, Jack paused for a moment. It was like crossing over into another dimension, a leap through space and time.
The house was exactly as he remembered. Every step held memories. Every picture, every piece of furniture... Jack stopped suddenly.
"What's wrong, Jack?" his Mom asked.
"The box is gone," he said.
"What box?" Mom asked.
"There was a small gold box that he kept locked on top of his desk. I must have asked him a thousand times what was inside. All he'd ever tell me was 'the thing I value most,'" Jack said.
It was gone. Everything about the house was exactly how Jack remembered it, except for the box. He figured someone from the Belser family had taken it.
"Now I'll never know what was so valuable to him," Jack said. "I better get some sleep. I have an early flight home, Mom."
It had been about two weeks since Mr. Belser died. Returning home from work one day Jack discovered a note in his mailbox. "Signature required on a package. No one at home. Please stop by the main post office within the next three days," the note read.
Early the next day Jack retrieved the package. The small box was old and looked like it had been mailed a hundred years ago. The handwriting was difficult to read, but the return address caught his attention.
"Mr. Harold Belser" it read.
Jack took the box out to his car and ripped open the package. There inside was the gold box and an envelope. Jack's hands shook as he read the note inside.
"Upon my death, please forward this box and its contents to Jack Bennett. It's the thing I valued most in my life." A small key was taped to the letter. His heart racing, as tears filling his eyes, Jack carefully unlocked the box. There inside he found a beautiful gold pocket watch.
Running his fingers slowly over the finely etched casing, he unlatched the cover. Inside he found these words engraved:
"Jack, Thanks for your time! -Harold Belser."
"The thing he valued most...was...my time."
Jack held the watch for a few minutes, then called his office and cleared his appointments for the next two days. "Why?" Janet, his assistant asked.
"I need some time to spend with my son," he said. "Oh, by the way, Janet... thanks for your time!"
With a very special thank you to Charles McCulloch who recommended this story to us. Please note that this story has been circulating over the internet for some time and there is never an author listed. If anyone happens to know where this story was first published, please let us know.
We'll give you our votes, but what do we get in return?
“I have received similar text messages almost every day recently,” National Mandate Party (PAN) candidate from South Sulawesi, Andi Yuliani or Yuli, told The Jakarta Post on Tuesday.
Yuli said most voters in the 2009 elections had been asking their legislative candidates for money and other items.
“Today, eligible voters can be the brokers, 'selling' their votes at certain prices and offering them to legislative candidates like me,” she said.
One voter even offered her 10 votes at Rp 50,000 (US$4.50) each.
“I am trying to play fairly in this election without involving money, but many legislative candidates have indulged voters by giving them money, phone credit, T-shirts and sandals,” Yuli said.
“In the previous election, I didn’t encounter such a situation. Now the voters believe their votes can be sold to whichever candidate pays the highest rate."
Yuli said the arrangement was potentially the worst aspect of regional elections, with local politicians using money to influence supporters.
She also criticized the Election Supervisory Body (Bawaslu) for their poor efforts monitoring the election process.
Political observer Fachry Ali said Indonesian voters had become smarter and more cunning compared to previous elections, learning how to "manipulate" legislative candidates or parties while maintaining distance from them.
“The people can manipulate and benefit from this situation,” he told the Post.
“It happens because politicians only begin approaching them during election periods,” he said.
During the campaign, most party leaders and candidates have made promises to improve the economy and provide cheaper essentials.
The elections — only eight days away — have provided a golden opportunity for the jobless to earn money regardless of their actual political preference.
Rahmanto, a worker from the Tanah Abang textile market in Central Jakarta, said he was enjoying the election campaign period so far.
He and his wife joined a campaign rally for a major party a few days ago and earned Rp 140,000 plus food and T-shirts just to watch a dangdut show and applaud the orators and performers.
His wife also bought cheap food — cooking oil, sugar, rice and instant noodles — in a bazaar staged by a mid-sized party.
“We were allowed to buy various staple goods for about Rp 10,000 each,” Rahmanto’s wife, Irma Yani, said.
For ojek (motorcycle taxi) driver Yono, the campaigns are a must-attend event.
“I have joined five party campaigns in the past two weeks. I received T-shirts, snacks and, of course, cash,” he said, laughing.
He said seasoned supporters like himself could earn between Rp 40,000 and Rp 80,000, depending on the party.
Although he has joined party campaign activities and earned some pay, he refused to reveal which party he will vote on April 9.
“Of course I have my favorite party. Joining these campaigns doesn’t mean I will choose any of them,” he said.
Rahmanto had his own opinion about voting. “I don’t think I will vote for any of those parties. I joined [the campaigns] just for money,” he said.
The Jakarta Post 4/1/2009
Belajarlah Untuk Malu, Sebelum Dipermalukan
Malu adalah suatu kondisi di mana kita merasa bersalah jika melakukan suatu perbuatan. Karena itu di dalam bahasa Inggris ‘ashamed’ atau malu diartikan dengan ‘troubled by guilty feeling,’ atau merasa terganggu oleh adanya rasa bersalah. Harapannya, rasa malu ini bisa jadi pagar pengaman dari nafsu binatang kita yang kadang liar dan sulit terkendali. Bagaimana rasa bersalah bisa muncul, ini tentunya didasarkan atas beberapa kemungkinan. Sebagaimana dalam ilmu sosial-keagamaan, dalam proses mencari kebenaran kita bisa menyandarkan pada beberapa ukuran. Pertama, didasarkan atas kebenaran yang dipahami sendiri. Kedua, kebenaran yang diyakini oleh orang banyak. Jika dianalogikan, maka rasa malu bisa tercipta, Pertama, atas dasar pemahaman diri sendiri tentang perasaan bersalah. Kedua, berdasarkan keyakinan suatu masyarakat dalam lokal budaya tertentu. Ini biasanya disebut dengan moral. Ketiga, lahir dari pemahaman atas doktrin ketuhanan.
Bila seorang tidak mampunyai rasa malu , ia akan menjadi keras dan berjalan mengikuti kehendak hawa nafsunya. Tak peduli apakah yang harus menjadi korban adalah mereka yang tak berdosa. Ia rampas harta dari tangan-tangan mereka yang fakir tanpa belas kasihan, hatinya tidak tersentuh oleh kepedihan orang-orang lemah yang menderita. Matanya gelap, pandangannya ganas. Ia tidak tahu kecuali apa yang memuaskan hawa nafsunya. Bila seorang sampai ke tingkat prilaku seperti ini, maka telah terkelupas darinya fitrah agama dan terkikis habis jiwa
Sudah saatnya malu menjadi budaya yang harus selalu dijaga dan dipelihara, baik oleh individu, kelompok, terlebih bangsa ini. Kita sadari betapa tidak berhentinya petaka, bencana, yang melanda bangsa ini mungkin salah satunya diakibatkan oleh hilangnya rasa malu.ketika pejabat malu berkorupsi, eorang pengusaha merasa malu jika terlambat memberi upah pada karyawannya, Artis Malu Memamerkan Aurat, Kita malu mengumbar kata-kata kotor maka yang terjadi adalah pembentukan budaya malu yang akan memajukan bangsa ini.
Kenapa memiliki rasa malu itu penting dan harus dibudayakan. Karena dengan rasa malu kita tidak akan lagi menyaksikan tindakan amoral dan kekerasan yang meresahkan masyarakat banyak. Orang-orang akan berkompetisi untuk bersikap sosial yang baik dan mengubur tindakan amoral dengan rapi. Karena itu hal ini perlu dibudayakan. Sebagaimana yang kita ketahui, salah satu pengertian budaya adalah tingkat mutu ekspresi manusia. Dalam perihal mencari penghidupan misalnya, kualitas budaya beberapa orang pejabat dapat dilihat melalui pola ekspresi atau cara bagaimana mereka mendapatkan penghidupan.
Sebenarnya sebagian bangsa Indonesia secara sadar menyatakan bahwa “malu” merupakan bagian dari budaya bangsa. Berbagai pernyataan dan tulisan di media telah membahas hal tersebut. Namun kiranya kurang arif manakala hanya karena ulah dari suatu pihak atau kelompok “yang tidak tahu malu”, kemudian dikaitkan dengan budaya bangsa secara keseluruhan. Faktor budaya adalah asset bangsa, maka perlu kearifan dalam memahami masalah ini.
Saat kapan untuk menunjukkan rasa malu bagi masing-masing individu adalah sangat relatif tergantung kepada pribadi, waktu, tempat serta konteks permasalahan yang dihadapi oleh orang per orang. Untuk membangun “budaya malu”, fungsi agama dan lembaga pendidikan adalah sangat penting dan ikut menentukan. Apabila sampai pada keadaan bahwa orang sudah tidak punya malu, maka misi agama dan lembaga pendidikan dianggap gagal.
Dekandensi moral sudah sedemikian meluas, dan menghilangnya budaya malu, dan berganti menjadi budaya Malu-maluin. Sebagai contoh adanya kebebasan seksual pada generasi muda saat ini, Budaya malu harus kembali dikampanyekan. Malu memperlihatkan aurat, malu mengambil hak yang bukan hak pribadinya, malu dan malu. "Jadi orang harus diajak untuk memiliki malu kalau melakukan penyimpangan pada bidangnya. Budaya malu adalah benteng terakhir untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang melanggar moral, etika, norma dan hukum.
Pada esensinya, kondisi masyarakat sudah banyak berubah hingga hari ini, baik di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Namun segenap perubahan itu masih saja menyisakan sisi gelap yang pada akhirnya kurang memberi manfaat dan merugikan sebagian dari masyarakat.Karena itu yang perlu ditanamkan sebagai landasan untuk melakukan perubahan adalah budaya malu.Bila budaya malu sudah tertanam maka tatanan kehidupan masyarakat akan beranjak pada budaya kerja. Pada tahap yang paling tinggi, segenap kehidupan masyarakat akan terikat oleh budaya mutu. Pada tahap inilah yang namanya kemakmuran dan kesejahteraan hidup bersama akan bisa terwujud. Rasa malu itu yang kini luntur dalam warna kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak hal.
Maka Sudahkah anda malu..? Atau Anda termakdsud orang yang malu-maluin. Segenap saran dan kritik dapat dikirim langsung ke Erwinarianto@ gmail.com. Budaya malu harus dijadikan suatu mekanisme kendali diri sendiri bagi bangsa ini.
"Belajarlah Untuk Malu, Sebelum Dipermalukan"
--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
Wednesday, February 25, 2009
Your Precious Wealth
Mungkin Anda sudah lama tidak menelepon orang tua Anda atau Anda kurang meluangkan waktu bersama keluarga, dengan anak dan pasangan Anda. Ingatlah, jika Anda kehilangan pekerjaan, hal terburuk yang Anda alami adalah menggangur sebentar namun saya yakin akan ada pekerjaan lain yang akan Anda dapatkan. Sebaliknya, waktu dengan orang-orang terdekat akan berlalu dengan cepat dan waktu adalah sesuatu yang tidak dapat dibeli dan diputar balik. Seorang juara tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. juara sejati hidup bagi orang di sekelilingnya yang dicintainya.
Seorang ayah muda begitu dongkol perasaannya menemukan sepeda beserta mainan lainnya berserakan di halaman rumahnya. Mungkin sudah kesekian kalinya ia telah menegur dan memarahi anaknya untuk tidak mengulanginya. Hari itu adalah puncak dari segala kekesalan yang ingin ia lampiaskan kepada anaknya. Ketika dengan gusar ia mengangkat sepeda anaknya, ia tidak menyadari bahwa sedari tadi tetangganya memerhatikannya. Sang tetangga yang berumur jauh lebih tua menegurnya dengan Iembut, "Pak, dapatkah Anda mengizinkan saya untuk mengangkat sepeda anak Bapak?" Dengan bingung si ayah muda itu berkata, "Mengapa Anda ingin melakukannya? " Bapak tua itu pun berkata, "Waktu saya muda dulu, saya juga pernah mendapatkan pengalaman seperti Anda, kesibukan saya di kantor sering kali berimbas dengan kekesalan yang saya limpahkan kepada anak saya ketika mendapatinya berbuat kesalahan. Kini saya merindukan waktu bersama anak saya namun anak saya semuanya sudah beranjak dewasa dan jarang kembali menengok saya di rumah. Jika saya dapat mengulanginya lagi, saya akan dengan senang hati bukan hanya mengangkat sepedanya tetapi juga mengajaknya berputar-putar menikmati waktu yang harganya tak temilai. "
By Darmadi Darmawangsa in Champion
Friday, October 26, 2007
Fakta Kemiskinan !





- 600 juta anak hidup dalam kemiskinan, dimana mereka hidup dalam batas kadang makan kadang tidak, tidak memiliki baju dan tempat berteduh !
- Setiap tahun lebih dari 7,3 juta anak mati karena kelaparan dan penyakit kurang gizi - artinya 13 - 14 anak meninggal setiap menit.
- 100 juta anak tidak bersekolah sama sekali !
Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu merubah keadaan ini ?
Liquid Culture
Sedang senang senangnya coba coba buat liquid culture untuk Jamur Tiram, so far so gud, besok tinggal fase test apakah liquid culture yang ...
-
K ita saat ini berada di sebuah zaman oleh banyak orang bilang zaman edan.Bahkan sampai bisa dikatakan manusia lebih sesat daripada binatang...


