Showing posts with label Al-Hikam. Show all posts
Showing posts with label Al-Hikam. Show all posts

Sunday, July 28, 2013

Persahabatan dan Orang yang Pantas Dijadikan Sahabat


45
]angan kautemani orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan
Allah.
— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —

Seorang murid dilarang berteman dengan orang semacam itu se­kalipun orang itu adalah ahli ibadah atau ahli zuhud karena dianggap tidak ada gunanya. Sebaliknya, kaudisarankan berteman dengan orang yang membuatmu bersemangat dan ucapannya membimbingmu ke jalan Allah.
Misalnya, orang yang tekadnya tinggi yang senantiasa bergantung kepada Allah, jauh dari makhluk, atau dalam setiap kebutuhannya tidak bertumpu kecuali kepada Allah dan dalam setiap perkara tidak bertawakal kepada selain-Nya sehingga di matanya seluruh manusia tak berarti apa-apa, tidak bisa mendatangkan bahaya ataupun manfaat. Bahkan, ia menganggap dirinya sendiri rendah dan tak berguna, tidak mampu berbuat sesuatu, dan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri. Dalam setiap amalnya, ia tetap berjalan pada jalur syara', tanpa melebih-lebihkannya atau menguranginya. Inilah sifat orang-orang 'arif yang mengenal Allah.
Menemani orang-orang seperti itu, walaupun ibadahnya sedikit dan amalan sunahnya tidak banyak, amat dianjurkan bagi seorang murid karena banyak mendatangkan manfaat, baik dari sisi agama maupun dunia sebab manusia selalu mengikuti tabiat manusia lain.
Adapun orang-orang yang tidak memiliki sifat-sifat di atas, kita hanya diperbolehkan bergaul dengan mereka secara lahir, tidak lebih, karena tidak ada gunanya bergaul dengan mereka. Jika mereka sederajat denganmu, pergaulanmu dengan mereka tidak akan mendatangkan bahaya apa-apa bagimu. Namun, jika derajat mereka berada di bawahmu, Ibnu Atha illah memberikan nasihatnya melalui hikmah berikut.

46
Bisa jadi, perbuatan burukmu tampak baik di matamu karena persahabatanmu dengan orang yang lebih buruk daripada dirimu.
— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —
Artinya, berteman dengan orang yang kualitas kebaikannya berada di bawahmu amat berbahaya karena bisa menyamarkan aib dan kekuranganmu. Akibatnya, kau akan selalu berbaik sangka terhadap dirimu sendiri. Kaubangga dengan amalmu dan merasa puas dengan kondisimu sehingga kaurela hati dan selalu melihat kebaikan-kebaikanmu. Itu adalah pangkal segala keburukan.
Boleh saja kauberteman dengan orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah asalkan orang itu sederajat denganmu agar pertemananmu dengannya tidak membahayakanmu.
Di sini Ibnu Athaillah ingin menjelaskan bahwa pertemanan dengan orang-orang 'arif terbagi menjadi dua: pertemanan yang didasari keinginan dan pertemanan yang mengharap berkah.
Pertemanan yang didasari keinginan ialah pertemanan yang harus memenuhi syarat-syaratnya. Kesimpulannya, keberadaan seorang murid dengan syeikh atau gurunya seperti seonggok mayat di tangan para pemandi mayat.
Adapun pertemanan untuk mengharap berkah ialah pertemanan yang tujuannya masuk ke satu kaum dan berpakaian dengan pakaian mereka, serta tunduk pada peraturan mereka. Di sini tidak perlu ada syarat-syarat pertemanan. Yang paling penting adalah bagaimana ia berpegang pada batasan-batasan syara'. Diharapkan dari pertemanannya dengan kaum itu, ia akan mendapatkan berkah mereka dan bisa sampai ke maqam yang telah mereka raih.

Tuesday, July 23, 2013

Beramal Demi Pahala adalah Berpindah dari Alam ke Alam, dan Perpindahan Terbaik adalah dari Alam ke Pencipta Alam

43
Jangan kaupergi dari satu alam ke alam lain sehingga kaumenjadi seperti keledai penggilingan yang berputar- putar; tempat yang ia tuju adalah tempat ia beranjak.
Namun, pergilah dari alam menuju Pencipta alam.
"Sesungguhnya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan," (QS. An-Najm [53]: 42).
— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —

Maksudnya adalah beramal disertai dengan sifat riya' atau sifat- sifat tercela lainnya dan tidak bernilai syar'i. Jika seorang murid ber-mujahadah, lalu berhasil menjauhi sifat-sifat tercela, tetapi pada saat yang sama ia mengharapkan pahala dan ketinggian derajat atau maqam, ia masih dianggap tercela di mata para 'arif. Yang terpuji adalah yang meniatkan setiap amalnya hanya karena Allah semata.
Ibnu Atha'illah mengumpamakan kepergian dari satu alam ke alam lain dengan perjalanan keledai penggilingan yang hanya berputar-putar di tempatnya. Demikian pula dengan amal yang tidak ditujukan karena Allah. Orang yang beramal demi mengharap pahala, misalnya, dianggap sebagai orang yang bepergian dari satu alam, yakni alam riya', menuju alam lain, yakni alam pahala. Semua alam adalah sama; sama-sama materi.
Yang benar adalah kau harus pergi dari alam menuju Pencipta alam dengan cara mengikhlaskan amalmu hanya untuk-Nya dan tidak berharap balasan, baik langsung maupun tak langsung. Siapa yang beramal untuk mendapatkan kedudukan atau maqdm tertentu maka dia akan menjadi budak kedudukan itu. Siapa yang beramal karena Allah semata maka dia akan menjadi hamba Allah. Ini sama dengan kepergiannya dari alam menuju Pencipta alam.
"Sesungguhnya, Tuhanmu adalah puncak segala tujuan." Maksudnya, perjalananmu akan berakhir di hadirat-Nya sehingga keinginanmu terwujud. Sebaliknya, orang yang pergi dari satu alam ke alam lain, perjalanannya tidak akan pernah berujung kepada Allah dan ia tidak pernah akan sampai kepada-Nya.

44
Dengarlah sabda Rasulullah, "Siapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasulnya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul- Nya. Dan siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraihnya atau kepada perempuan yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya." Pahamilah sabda Rasulullah ini dan perhatikan hal tersebut jika kaumemiliki kecerdasan dan pemahaman.
— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —

Hadis ini menegaskan makna hikmah sebelumnya. Hadis ini patut diperhatikan dan dicamkan baik-baik, terutama pada bagian akhir, yaitu bahwa hijrah seseorang akan berakhir di tempat yang menjadi tujuan hijrahnya. Maknanya, orang yang hijrahnya kepada dunia saja tidak akan meraih pencapaian dan kedekatan yang diraih oleh orang-orang yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Seakan Rasulullah memperingatkan kita tentang pengaruh buruk dunia dan perempuan terhadap jiwa bila kita terlalu terobsesi pada dunia dan perempuan.
Sabda beliau "maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya" bermakna pergi dari alam menuju Pencipta alam. Inilah yang dituntut dari seorang hamba. Adapun makna ungkapan "maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya" adalah tetap berada di alam, tidak ke mana-mana, dan hanya berputar-putar di tempat.

Kesimpulannya, kita dituntut untuk menguatkan tekad, menjauhkan keinginan dari makhluk, dan menggantungkan diri kepada Yang Maha Haq. Tentu, faktor yang bisa memudahkan kita sampai pada maqam ini ialah pergaulan dengan kaum 'arif yang mengenal Allah.

Saturday, July 20, 2013

Berbaik Sangka Kepada Allah

Berbaik Sangka Kepada Allah
41
Jika kau tidak bisa berbaik-sangka kepada Allah karena kebaikan sifat-sifat-Nya, berbaik-sangkalah kepada-Nya atas kebaikan perlakuan-Nya terhadapmu. Bukankah Dia selalu memberimu yang baik-baik dan mengaruniaimu berbagai kenikmatan?
— IbnuAtba'illah al-Iskandari —

Dalam hikmah ini, Ibnu Athaillah mengisyaratkan bahwa dalam berbaik sangka kepada Allah, manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan khusus dan golongan awam.
Golongan khusus berbaik sangka kepada Allah atas sifat-sifat-Nya yang baik. Sementara itu, golongan umum berbaik sangka kepada Allah atas perlakuan-Nya yang baik terhadap diri mereka, berupa karunia dan nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka.
Ada perbedaan yang mencolok antara dua maqam tersebut. Ibnu Atha illah seakan berkata, "Wahai murid, kau harus berbaik sangka kepada Allah secara mutlak, baik itu atas manfaat yang telah diberikan-Nya maupun bahaya yang telah dijauhkan-Nya darimu. Kau tidak boleh berpaling kepada selain-Nya. Jika kau tak sanggup berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam orang khusus, kau bisa berbaik sangka kepada-Nya menurut tnaqam orang awam. Sikap berbaik sangkamu kepada Allah atas kebaikan sifat-sifat-Nya akan menumbuhkan cinta dan tawakal yang benar kepada-Nya. Baik sangkamu kepada-Nya atas perlakuan-Nya yang baik terhadapmu akan membuahkan syukur atas nikmat dan rahmat-Nya."

42
Sungguh aneh! Orang menghindar dari sosok yang tak bisa dihindari, lalu mencari sesuatu yang tidak kekal. "Sesungguhnya, mata kepala itu tidak buta, tetapi yang buta adalah mata hati yang ada di dalam dada," (QS. Al-Hajj [22]: 46).
— Ibnu Atha" illah al-Iskandari —
Sungguh mengherankan! Orang ingin menghindari Allah dengan tidak melakukan apa yang sudah ditetapkan-Nya untuknya dan lebih suka mencari dunia dan perkara-perkara selain-Nya karena mengikuti hawa nafsu.

Tindakan seperti ini bersumber dari kebutaan mata hati dan kebodohannya tentang Tuhannya karena ia menukar sesuatu yang teramat baik dengan sesuatu yang hina. Ia juga lebih mengutamakan yang fana daripada yang kekal dan tak bisa dihindarinya. Sekiranya ia memiliki mata hati yang tajam, niscaya ia takkan melakukan hal itu.

Setiap Perkara yang Menimpa Manusia Ditujukan Agar Manusia Bersandar Kepada Allah

40
Jangan mengadukan musibah kepada selain Allah. Karena Allah semata yang menurunkannya. Bagaimana mungkin
selain Allah dapat mengangkat musibah yang telah ditetapkan-Nya? Bagaimana mungkin orang yang tidak bisa mengangkat musibah dari dirinya sendiri bisa mengangkat musibah dari orang lain ?
— Ibnu Atha'illah al-Iskandari —

Jika ada musibah yang menimpamu, jangan kaumeminta kepada selain Allah untuk menghilangkannya karena yang menurunkan musibah itu adalah Allah. Ingat, Allahlah Yang Unggul dan tak ada yang bisa mengalahkan-Nya.
Orang yang tak bisa mengangkat musibahnya sendiri mustahil mampu mengangkat musibah yang menimpa orang lain.
Kesimpulannya, siapa pun selain Allah, sekalipun itu seorang raja, tidak akan mampu mengangkat musibah orang lain. Selain itu, ia pun tentu lebih mencintai dirinya sendiri daripada orang lain. Demikian pula, jika memang benar ia mampu memberi manfaat kepada orang lain, tentu ia akan mendatangkan manfaat kepada dirinya sendiri terlebih dahulu. Namun kenyataannya, ia tidak mampu mendatangkan itu. Perlu diingat, tak ada kelemahan melebihi kelemahan dalam memberi manfaat kepada diri sendiri.

Oleh karena itu, teramat sempit akalmu jika dalam hajat dan musibahmu kaubergantung pada orang yang juga butuh pertolongan seperti dirimu.

Friday, July 19, 2013

Pangkal Setiap Kelalaian dan Maksiat Adalah Merasa Puas Diri

35
Pangkal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah sikap
puas terhadap keadaan diri sendiri. Pangkal segala ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah sikap tidak puas dengan keadaan diri sendiri.
— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —

Maksiat berarti menentang semua perintah dan larangan Allah. Kelalaian berarti hati tidak waspada dan tidak sadar tentang kehadiran Allah. Adapun syahwat berarti ketergantungan terhadap sesuatu yang menyibukkan diri dan membuat lupa dari Allah swt.
Menurut orang-orang 'arif, sebab dari segala maksiat adalah sikap puas terhadap keadaan diri sendiri. Sikap tersebut akan se­lalu mendorong seseorang berusaha menutup-nutupi aib dan ke­salahannya sehingga yang buruk akan dijadikannya baik. Siapa yang puas dengan keadaan dirinya akan menganggap baik semua kondisi pribadinya dan merasa nyaman dengan semua kondisi itu. Siapa yang menganggap baik semua kondisi pribadinya akan lalai dari Allah. Sehingga, hatinya tidak lagi mampu mengawasi dan mengendalikan bisikan-bisikan syahwatnya. Akibatnya, ia dikuasai oleh syahwat. Siapa yang dikuasai oleh syahwat, tentu akan mudah terjerumus pada maksiat.
Adapun ketaatan berarti melaksanakan segala perintah dan larangan Allah. Kesadaran berarti perasaan tentang kehadiran Tuhan dan hal-hal yang diridhai-Nya. Kesucian berarti ketinggian tekad dan kebersihannya dari syahwat.
Pangkal dari segala ketaatan dan kesadaran adalah sikap tidak puas dengan keadaan diri sendiri. Jika seseorang tidak puas dengan keadaan dirinya sendiri, ia tidak akan menganggap baik semua kondisinya dan tidak akan tenang dengan semua itu. Barang siapa memiliki sifat seperti ini maka ia akan selalu sadar dan waspada terhadap segala yang datang dan menyerang.
Dengan sikap waspada dan sadar ini, ia dapat menyelidiki dan mendeteksi secara dini bisikan-bisikan hatinya. Saat itu, api syahwat­nya akan padam sehingga tidak bisa menguasai dirinya. Buahnya, ia akan menjadi suci. Dengan demikian, ia akan menjauhi semua larangan Allah dan menaati semua perintah-Nya. Itulah makna taat kepada Allah.
Sikap puas terhadap keadaan diri sendiri adalah sikap orang- orang yang mempelajari ilmu lahir yang tidak niau mengakui aib diri sendiri. Oleh karena itu, Ibnu Atha'illah melarang kita untuk berteman dengan orang-orang semacam itu.
36
Berteman dengan orang bodoh yang tidak puas dengan keadaan dirinya lebih baik bagimu daripada berteman dengan orang berilmu yang puas dengan keadaan dirinya. Di mana letak berilmunya orang berilmu yang puas dengan dirinya itu? Di mana pula letak bodohnya orang bodoh yang tidak puas terhadap dirinya itu?
— Ibnu Atha'illah al-Iskandari —

Orang bodoh ialah orang yang tidak memiliki ilmu lahir. Tidak puas dengan keadaan diri sendiri, misalnya dengan menganggap dirinya hina atau menyadari kekurangannya.
Tidaklah baik berteman dengan seorang yang puas dengan keadaan dirinya sendiri walaupun ia seorang yang alim (orang ber­ilmu). Bagaimanapun, pertemanan dapat mendatangkan pengaruh yang besar padamu. Ketika kauberteman dengan alim yang sudah berpuas diri, kau bisa mendapatkan sifat buruknya sehingga ilmunya tidak berguna bagimu dalam melembutkan jiwamu. Kebodohan yang membuat orang alim puas diri itulah yang berbahaya bagimu. Seakan ia bukan orang yang berilmu karena rela dengan aib yang dimiliki dirinya.
Sebaliknya, berteman dengan orang bodoh yang tidak puas dengan keadaan dirinya lebih baik dan lebih bermanfaat bagimu. Biasanya, tabiat seseorang didapat dari tabiat orang lain; nafsu selalu terdorong untuk mengikuti orang yang dianggap baik kondisinya. Oleh karena itu, kebodohan orang bodoh tidak akan berbahaya bagimu. Namun, ilmunya—yang membuatnya tidak puas terhadap keadaan dirinya—justru amat berguna bagimu. Seakan ia bukan orang bodoh karena mengetahui kekurangan dirinya sampai tidak merasa puas terhadap dirinya. Dengan demikian, orang bodoh yang tahu kekurangan dirinya bisa disebut orang yang memiliki ilmu. Oleh karena itu, bergaul dengan orang bodoh seperti ini akan bermanfaat dan lebih baik bagimu.

37
"Sinar mata hati" membuatmu menyaksikan kedekatan- Nya denganmu. "Penglihatan mata hati" membuatmu menyaksikan ketiadaanmu karena keberadaan-Nya.
"Hakikat mata hati" membuatmu menyaksikan keberadaan- Nya, bukan ketiadaanmu dan bukan pula keberadaanmu.
— Ibnu Atha* illah al-Iskandari —
Sinar mata hati sering disebut dengan cahaya akal dan 'ilmul yaqin. Penglihatan mata hati sering disebut dengan cahaya ilmu dan 'ainul yaqin. Hakikat mata hati sering disebut dengan cahaya kebenaran dan haqqul yaqm.
Cahaya-cahaya Ilahi tersebut akan menyinari hati seorang salik. Setiap cahaya tersebut memiliki buah dan manfaatnya sendiri-sendiri.
Seseorang berkata, "Seorang hamba tidak akan sampai pada hakikat tawadhu', kecuali saat terpancarnya cahaya tnusydhadah dari hatinya." Saat itu, nafsunya akan larut dan tunduk pada sang Khaliq dan bersikap rendah hati di hadapan makhluk.
Melalui hikmah ini, Ibnu Atha'illah menjelaskan bahwa orang yang terbuka dengan cahaya pertama akan merasa kedekatan Allah. Ia akan selalu sadar pengawasan Allah dan malu kepada-Nya. Ia merasa bahwa pandangan Allah tidak pernah luput darinya, baik itu di saat ia melaksanakan perintah-Nya maupun di saat menjauhi larangan-Nya.
Orang yang terbuka dengan cahaya kedua akan merasa ketiadaan segala yang wujud karena wujud Tuhan Yang Maha Haq. Ia akan melihat bahwa alam semesta ini tidak ada dan tidak memedulikannya lagi karena wujud alam semesta ini hanyalah akibat dari wujud Yang Maha Maicjud. Wujud hakiki hanyalah milik Allah swt. Dalam pandangannya, tak ada lagi yang dijadikan sandaran atau tempat berkeluh kesah, kecuali Allah. Ia hanya akan bertawakal kepada-Nya, ridha, dan memasrahkan diri kepada-Nya.
Sementara itu, orang yang terbuka dengan cahaya ketiga akan memiliki dzat dan jiwa yang suci. Ia akan merasa kefanaan secara total. Kefanaan yang abadi karena luluh dengan wujud Tuhannya. Rahasia-rahasia Ilahi pun terkuak di hadapannya. Jika ia naik dari kefanaan total itu, ia akan menempati macjam keabadian.
Penulis Al-'Awarif berkata, "Orang yang abadi di satu maqam tidak akan dihalangi Allah dari makhluk dan tidak akan dihalangi makhluk dari Allah, sedangkan orang yang fana akan terhalangi oleh Yang Maha Haq dari makhluk."

38
Allah telah ada dan tiada sesuatu pun di samping-Nya; kini Dia masih tetap sebagaimana ada-Nya semula.
— Ibnu Atha * illah al-Iskandari —
Ini adalah kondisi orang yang menduduki macjdm kefanaan. Ia tidak lagi melihat selain Tuhannya (musyahid). Dalam pandangannya, Tuhan masih tetap sebagaimana ada-Nya semula.
Seorang musyahid meyakini bahwa wujud hakiki hanya milik Allah swt., sedangkan selain-Nya tidak memiliki wujud. Sifat wujud itulah yang melekat pada Allah swt. sekarang dan sebelum musyahid itu mengetahuinya. Ketidaktahuan musyahid tentang Tuhan sebelum itu tak lain karena adanya hijab.

39
Jangan sampai tekadmu tertuju pada selain-Nya karena Tuhan Yang Mahamulia (karim) tidak mungkin akan terlampaui oleh harapan dan angan.
— Ibnu Atha ' illah al-Iskandari —
Jangan sampai kau menuju kepada selain Allah dalam memenuhi kebutuhanmu. Akan tetapi, ungkapkan hajatmu kepada-Nya dan mintalah dari-Nya. Tekad yang tinggi selalu mencari pemenuhan kebutuhannya kepada sosok yang mulia; dan tak ada yang benar- benar mulia, kecuali Allah swt. Setiap orang yang mulia, jika sudah menetapkan sesuatu, pasti akan memenuhinya; jika berjanji, akan menepatinya; jika memberi, akan menambahkan pemberiannya melebihi harapan. Dia tidak peduli berapa banyak dan kepada siapa dia memberi. Dia tidak mengurangi dan tidak pernah mengecewakan siapa pun yang berlindung kepadanya. Dia akan mencukupinya dengan segala pertolongan. Sifat-sifat ini tidak dimiliki selain oleh Allah swt. Karena itu, selayaknya harapan dan asa para pengharap tidak boleh melewatinya dan menuju kepada selain-Nya.

Ketahuilah bahwa meminta kepada makhluk dianggap ber­tentangan dengan 'ubudiyah (penghambaan di hadapan-Nya) bila didasari oleh rasa bergantung pada makhluk dan lalai untuk meminta kepada Allah. Lain halnya bila permintaan tersebut diiringi dengan keyakinan bahwa makhluk yang dimintainya itu hanyalah wasilah (perantara), tetapi yang sebenarnya memberi adalah Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung. Ini tidak bertentangan dengan 'ubudiyah.

Wednesday, July 17, 2013

Perintah Agama Tentang Sifat-sifat Manusia

34

Keluarkanlah sifat-sifat kemanusiaanmu yang bertentangan dengan kehambaanmu agar kaumudah menyambut panggilan Yang Haq (Allah) dan dekat dengan-Nya.
— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —

Keluarkanlah dari dirimu sifat-sifat kemanusiaan yang tercela dengan riyadhah dan mujahadah; baik itu sifat-sifat tercela yang lahir (seperti suka melakukan gibah, mengadu domba, membunuh, dan merampas) maupun yang batin (seperti sombong, ujub, riya,sum'ah [ingin terkenal], dengki, gila kehormatan, gila harta, dan sebagainya).
Jauhkan dirimu dari sifat-sifat yang bertentangan dengan predikat kehambaanmu agar kaumudah menjawab seruan Yang Haq. Ketika kauberhasil mengeluarkan sifat-sifat tercelamu dan menyisakan sifat- sifat baikmu (seperti tawadhu' [rendah hati] karena Allah, khusyuk di hadapan-Nya, mengagungkan perintah-Nya, menjaga hukum- hukum-Nya, takut kepada-Nya, dan ikhlas dalam menyembah-Nya), maka di saat datang seruan kepadamu, "Wahai hambaku!" kau pun akan dengan mudahnya menjawab, "Labbaik, Tuhanku!" Kau pun akan tulus dan ikhlas dalam menjawab seruan itu karena sifat-sifat yang bertentangan dengan kehambaanmu itu telah hilang darimu. Kau pun akan dekat dengan-Nya sehingga Dia akan menjagamu dari dosa (mahfuz) dan memudahkan segala amalmu yang kelak akan kaunikmati hasilnya.
Ada perbedaan makna antara mahfuz (terjaga dari dosa) dengan lafaz ma'shum (terlindungi dari dosa). Bedanya adalah, ma'shum sama sekali tidak pernah menyentuh dosa, sedangkan mahfuz terkadang melakukan kesalahan dan kekeliruan, tetapi tidak selamanya demikian. Saat keliru, seorang yang mahfuz akan langsung bertobat.

Ketahuilah, di mata ahli tarekat, menjauhi sifat buruk dan memiliki sifat mulia merupakan hakikat dan tujuan dari suluk. Hal itu tidak akan bisa diraih, kecuali oleh orang yang diberi taufik dan bimbingan Allah untuk mengenali dirinya sendiri dan mengetahui sifat-sifat buruknya. Karena siapa yang sudah mengenali dirinya dan sifat-sifat buruknya, ia akan waspada dan berusaha menghindari sifat-sifat buruknya. Jika tidak demikian, secara tidak disadarinya, ia akan terjerumus ke dalam hal-hal yang dibenci Tuhannya.

Tidak Ada Sesuatupun yang Menghijabi Allah, Manusialah yang Terhijab dari Allah

Yang Maha Haq (Allah) tidaklah terhijab. Yang terhijab adalah pandanganmu sehingga kau tak bisa melihat-Nya karena jika Dia dikatakan terhijab, itu artinya, sesuatu menutupi-Nya. Jika Dia tertutupi sesuatu, itu artinya, wujud-Nya terbatas. Segala sesuatu yang terbatas adalah lemah, padahal, "Dia adalah Mahakuasa (qahir) atas segala sesuatu." (QS. Al'An'am [6]: 18).
— Ibnu Atha 'illah al-Iskandari —

Terhijab bukanlah sifat Allah swt. Yang memiliki sifat terhijab hanyalah dirimu sendiri. Jika kauingin sampai kepada-Nya, kauharus mencari dan mengobati semua kekuranganmu, niscaya kau akan sampai kepada-Nya dan melihat-Nya dengan mata batinmu.
Hikmah di atas menepis anggapan yang menyatakan bahwa tidak mustahil Allah terhalang oleh hijab karena hijab biasa digunakan oleh para pembesar atau raja untuk memperlihatkan keagungan dan kemuliaannya. Jawaban terhadap anggapan ini adalah, sekiranya Allah terhijab oleh sesuatu, seperti halnya para pembesar dan raja, niscaya Allah terkurung di dalam hijab itu, terpenjara dan terbatas ruang geraknya. Tentu hal itu tidak mungkin terjadi pada Allah swt., berdasarkan firman-Nya, "Dan dialah yang berkuasa atas sekalian hattiba- hamba-Nya dan Dialah Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui," (QS. Al-An'am [6]: 18).

Perbedaan Salik yang Diterangi Cahaya Tawajjuh dan Washil yang Didatangi Cahaya-cahaya Muwajahah

"Hendaklah orang yang diberi keluasan rezeki (yaitu orang yang telah sampai kepada Allah) memberi nafkah menurut
kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya (yaitu orang yang tengah menuju Allah) hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya,"
(QS. Ath-Thalaq [65]: 7).
— Ibnu Atha" illah al-Iskandari —
"Hendaklah orang yang diberi keluasan rezeki memberi nafkah menurut kemampuannya." Ini adalah gambaran tentang kondisi orang-orang yang telah sampai kepada Allah. Yakni orang-orang yang telah terbebas dari penjara pandangan keduniaan, dan telah sampai kepada alam tauhid dan kesempurnaan mata batin. Karena itulah, mereka dianugerahi rezeki berupa berbagai ilmu dan rahasia ilahi serta pandangan yang luas dan jauh ke depan. Sehingga, mereka pun dibebaskan untuk membantu orang lain, dengan mengajarkan ilmu dan pemahaman mereka, sekehendak hati mereka.
Sementara itu, orang yang disempitkan rezekinya adalah orang- orang yang sedang menuju kepada-Nya. Mereka tidak diberi keluasan rezeki berupa ilmu dan pemahaman. Mereka masih terkungkung dalam ruang sempit khayalan dan imajinasi. Sekalipun demikian, mereka masih diperbolehkan menafkahkan karunia Allah berupa ilmu dan pemahaman yang sedikit itu kepada orang lain. Namun dengan catatan: sebatas apa yang Allah ajarkan kepada mereka

Orang-orang yang sedang menuju Allah mendapat petunjuk melalui cahaya perjalanan, sedangkan orang-orang yang sudah sampai kepada-Nya mendapat petunjuk melalui cahaya pertemuan dengan-Nya. Golongan pertama mendatangi cahaya, sedangkan golongan kedua didatangi oleh cahaya. Allah swt. berfirman, "Katakan Allah', lalu biarkan mereka bermain-main dalam kesibukannya," (QS. Al-An'am [6]: 92).
— Ibnu Atha" illah al-Iskandari —
Cahaya yang didapat golongan pertama ialah cahaya yang didapat dari ibadah dan riyadhah (olah batin) yang dijadikannya sebagai jalan menuju Allah karena biasanya perjuangan akan membuahkan cahaya di dalam hati. Dengan cahaya itu, mereka akan berjalan menuju Allah.
Adapun untuk golongan kedua, justru cahaya Allahlah yang mendatangi mereka sehingga mereka akan mudah mengenali Allah tanpa perjuangan dan susah payah.
Golongan pertama akan menjadi budak cahaya dan amat membutuhkannya untuk sampai kepada tujuan dan keinginan mereka. Sementara itu, golongan kedua akan dengan sendirinya didatangi cahaya itu sehingga ia tidak perlu bersusah payah dalam mendapatkannya.
Adapun maksud firman "Katakan 'Allah'" ialah menghadaplah kepada-Nya semata dan jangan cenderung kepada cahaya-cahaya atau hal-hal selain-Nya. Kemudian, maksud "biarkan mereka bermain- main dalam kesibukannya" ialah bahwa tindakan memurnikan tauhid, setelah menyingkirkan kebendaan, merupakan sikap yang didasari haqqul yac\in (keyakinan yang kokoh), sedangkan melihat kepada selain Allah hanyalah permainan dan leha-leha. Tentu itu adalah sifat orang-orang mahjub (terhalang).

Usahamu untuk mencari-cari kekurangan yang tersembunyi di dalam dirimu lebih baik daripada usahamu untuk menyibak tirai gaib yang terhijab bagimu.
— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —
Contoh kekurangan diri ialah sifat r iya', tingkah laku tidak sopan, bermuka dua, suka jabatan, dan haus akan kedudukan. Maknanya, kau harus mengarahkan tekadmu untuk menghapus semua keburukan itu dengan riyddhah dan mujdhadah, serta berusaha untuk terbebas darinya. Upaya ini biasanya harus di bawah bimbingan seorang guru. Langkah di atas lebih baik daripada usahamu dalam
menelusuri takdir yang terselubung, pelajaran yang tersembunyi, rahasia-rahasia Ilahi, ilmu laduni atau karamah. Biasanya, itu semua ditujukan demi kepuasan dirimu, bukan demi Tuhanmu.
Oleh karena itu, jangan kaucari semua itu dengan amalan- amalanmu. Jangan sibukkan hatimu dengannya. Jangan pula berhenti di tempat munculnya karamah tersebut karena hal itu justru akan mengurangi ibadahmu.
Oleh sebab itu, orang-orang berkata, "Jadilah pencari istiqamah, jangan menjadi pencari karamah." Jiwamu selalu bergerak dan berkeinginan mencari karamah, padahal Tuhanmu menuntutmu untuk istiqamah. Untuk itu, menunaikan hak Tuhanmu lebih baik ketimbang kaumenunaikan keinginanmu sendiri.

Tuesday, July 16, 2013

Perbedaan Orang yang Menjadikan Allah Sebagi Bukti Keberadaan Alam dan Orang yang Menjadikan Alam Sebagai Bukti Keberadaan Allah

Betapa jauh bedanya antara orang yang berdalil bahwa
adanya Allah menunjukkan adanya alam dan orang yang berdalil bahwa adanya alam menunjukkan adanya Allah. Orang yang menyatakan bahwa "adanya Allah menunjukkan adanya alam" adalah orang yang telah mengenal al-Haqq (Allah) dengan kepatutan-Nya. Karena itulah, ia menetapkan keberadaan alam ini dari keberadaan pangkal (Dzat) yang membuatnya ada. Sementara itu, yang berdalil bahwa "adanya alam menunjukkan adanya Allah" adalah orang yang belum sampai kepada-Nya. Sebab, sejak kapan Allah itu gaib sehingga Dia harus dibuktikan dengan wujud alam dan kapan Allah itu jauh sehingga semesta ini harus menjadi pengantar menuju-Nya?
— Ibnu Atha ‘illah al-Iskandari —
Orang-orang yang dekat kepada Allah ada dua golongan, yaitu murad (yang dikehendaki Allah) atau majdzub (yang ditarik Allah untuk didekatkan kepada-Nya) dan murid (yang menghendaki Allah) atau salik (yang meniti jalan menuju Allah). Para murad atau majdzub adalah ahli syuhud.
Adapun para murid atau salik, perjalanan mereka menuju Tuhan masih terhalang akibat pandangan mereka terhadap dunia dan alam semesta. Di mata mereka, semesta teramat lahir, sedangkan Allah itu gaib. Mereka tidak melihat-Nya, karena itu mereka berdalil bahwa wujud alam semesta ini membuktikan wujud Allah.
Sementara itu, para murad atau majdzub, mereka langsung didekati Allah dengan Wajah-Nya Yang Mulia. Allah akan mengenalkan Diri- Nya kepada mereka. Karena itu, mereka pun akan mengenali-Nya. Semua makhluk dan alam semesta akan hilang dari pandangan mereka karena mereka berdalil bahwa wujud Allah adalah bukt dari wujud semesta. Mereka itulah kaum 'arif. Mereka termasuk orang-orang yang didekatkan Allah kepada-Nya.
Namun, karena sikap istiqamah mereka terhadap kondisi mereka, tanda didekatkannya mereka kepada Allah (jadzab) tidak tampak pada diri mereka. Oleh sebab itu, ada yang mengatakan, "Akhir perjalanan seorang salik adalah awal perjalanan seorang majdzub."
Manusia yang paling kuat  jadzab-nya adalah para nabi dan rasul. Inilah perbedaan antara dua kelompok tersebut.
Orang yang menggunakan Allah sebagai dalil wujud alam akan mengenal Allah sebagai wujud yang wajib. Dengan kata lain, wujud itu milik Allah semata. Adapun benda-benda yang hadits (baru), aslinya tidak berwujud. Oleh karena itu, mereka menetapkan bahwa semua yang hadits berasal dari wujud asal, yaitu Allah swt. Mereka menganggap bahwa wujud makhluk bersumber dari wujud Khaliq yang tampak pada diri makhluk. Jika tidak, makhluk itu tidak akan ada. Demikian menurut pandangan ahli syuhud.
Berbeda halnya dengan orang yang menggunakan alam untuk membuktikan wujud Allah. Ia menggunakan sesuatu yang tidak diketahui (majhul) sebagai dalil untuk membuktikan perkara yang sudah diketahui (ma'lum), menggunakan ketiadaan ('adam) untuk membuktikan keberadaan (wujud), atau menggunakan perkara yang tersembunyi (khafiyy) untuk membuktikan hal yang lahir dan nyata. Hal itu dikarenakan adanya hijab pada diri orang tersebut sehingga ia lebih suka menelusuri sebab-sebab daripada mencari Sang Pembuat Sebab.
Sejak kapan Allah gaib sehingga Dia harus dibuktikan dengan sesuatu yang hadir? Sejak kapan Allah jauh sehingga alam semesta inilah yang akan mendekatkan kita kepada-Nya, padahal alam semesta ini tadinya tidak berwujud? Demikian pertanyaan yang diajukan para ahli syuhud.
Sementara itu, orang-orang mahjub (yang terhalang dari-Nya) menjadikan alam semesta sebagai bukti wujud Allah. Mereka terbagi ke dalam dua golongan, yaitu kaum awam dan para salik yang belum mencapai maqam ahli syuhud.

Apa yang Disembunyikan Hati akan Terlihat Jejaknya Di Wajah

Apa yang tersimpan di kedalaman batin akan tampak pada penampilan lahir.


— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —



Makrifat dan cahaya Ilahi yang ditetapkan Allah di dalam hati seseorang pasti akan muncul pada penampilan lahirnya, pada wajah dan anggota tubuh lainnya. Ini adalah tanda untuk mengenali keadaan seorang murid menuju Allah, karena tampilan lahir adalah cermin dari keadaan batin. Bagi orang-orang yang ingin berteman dan berkumpul dengan seorang murid, penampilan lahirnya ini bisa menjadi pertanda.

Mintalah Kepada Allah, Pasti Terkabul

Apa yang kauminta tak akan terhalang selama kaumemintanya kepada Tuhanmu. Namun, apa yang kauminta tak akan datang selama kaumengandalkan dirimu sendiri.

— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —



Permintaan yang dimaksud pada hikmah ini bersifat umum, meliputi semua permintaan, baik itu yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat. Apa yang kauminta dan inginkan tidak akan ter­halang selama dalam mencarinya kautetap memperhatikan Tuhanmu, menghadirkan-Nya dalam hatimu, dan bersandar kepada-Nya agar memudahkan permintaan dan urusanmu. Namun, permintaan itu sulit kauraih bila kaulalai dari-Nya dan bersandar kepada orang- orang sekitarmu atau pada kekuatanmu sendiri.

Barang siapa menyerahkan segala kebutuhannya kepada Allah, berlindung dan bertawakal kepada-Nya, Allah akan mencukupi kebutuhannya, mendekatkan yang jauh darinya, dan memudahkan segala yang sulit baginya. Barang siapa yang mengandalkan ilmu dan akalnya serta bersandar pada kekuatan dan kemampuannya, Allah akan mempersulitnya dan membuatnya gagal. Apa yang diinginkan dan dibutuhkannya itu tidak akan mudah didapatkan dan sulit diwujudkan.


Di antara tanda keberhasilan di akhir adalah kembali kepada Allah

di awal.

— Ibnu Atha'illah al-Iskandari —



Langkah awal seorang murid patut diperbaiki demi memperbesar kemungkinannya untuk sampai hingga akhir perjalanannya. Siapa yang memperbaiki dan meluruskan langkah awalnya dengan kembali kepada Allah dan tawakal kepada-Nya serta memohon pertolongan- Nya, bukan bergantung pada amalnya yang kurang sempurna, pada akhirnya ia akan sukses dan berhasil. Ia akan sampai pada tujuan akhirnya dan tidak akan goyah di perjalanannya. Barang siapa yang tidak melakukan hal itu maka di tengah jalan ia akan berhenti dan pulang kembali ke tempat pemberangkatannya semula.

Seorang 'arif berkata, "Siapa yang mengira bahwa ia telah sampai kepada Allah tanpa bantuan-Nya maka ia akan terhenti di jalan. Siapa yang memohon bantuan dirinya sendiri dalam beribadah kepada Allah maka ia akan bergantung pada dirinya sendiri."

Monday, July 15, 2013

Jangan Merasa Aneh dengan Kesuraman Hidup di Dunia

Jangan merasa aneh dengan terjadinya penderitaan- penderitaan selama kau masih hidup di dunia ini karena dunia hanya akan menampakkan apa yang mesti ditampakkannya.


— Ibnu Atha1 illah al-Iskandari —


Di antara hal yang lazim terjadi di dunia adalah derita dan ke­sulitan. Dunia ini diciptakan sebagai tempat kebendaan dan gudang penderitaan agar kau menjauhkan dirimu dari sana.

Ja'far Ash-Shadiq berkata, "Siapa yang mencari apa yang belum diciptakan berarti menyiksa dirinya sendiri karena ia mencari sesuatu yang tak akan pernah didapatkannya."

Ia lalu ditanya, "Apa gerangan yang tak akan pernah didapat­kannya itu?"
Ia menjawab, "Kenyamanan di dunia."

Oleh karena itu, seorang murid yang tulus tidak boleh melirik dunia. Ia harus terus semangat dalam meniti jalannya agar mentari makrifat terbit kepadanya sehingga tipuan benda-benda duniawi itu hilang dari pandangannya dan penderitaan akan sirna dengan kesempatannya melihat Tuhan Yang Mahamulia dan Pengampun.

Empat Sikap Perilaku Hamba Saat Berhubungan dengan-Nya

Meminta kepada Allah berarti menuduh-Nya. Mencari Allah berarti menggibah-Nya. Mencari selain Allah pertanda tak punya malu kepada-Nya dan meminta kepada selain Allah pertanda jauh 
dari-Nya.


— Ibnu Atha'illah al-Iskandari —



Dalam perjalanannya menuju Allah, seorang murid harus sibuk melakukan amal-amal saleh yang diridhai Tuhannya. Hatinya tidak boleh sibuk mencari sesuatu yang lain karena itu tercela dan bisa memutus jalannya menuju Allah.

Bila kau meminta kepada Allah agar Dia memberimu rezeki dan makanan yang dapat membantumu berjalan atau agar Dia meluaskan rezekimu, sama dengan menuduh-Nya tidak pernah memberimu rezeki. Jika kaupercaya bahwa Dia Maha Mengetahui kebutuhanmu dan Maha kuasa memberimu tanpa kauminta, tentu kau tidak akan meminta sesuatu pun dari-Nya.

Bila kau mencari-cari Allah agar kau didekatkan kepada-Nya, dihilangkan hijab antara dirimu dengan-Nya, dan dapat melihat- Nya dengan mata hatimu, tindakan ini sama saja dengan melakukan gibah terhadap-Nya (membicarakan-Nya di belakang) karena Dzat Yang Mahahadir tidak perlu lagi dicari-cari.

Bila kaumencari selain Tuhanmu, baik itu berupa harta, ke­dudukan, kehormatan, maupun yang lainnya, itu membuktikan sedikitnya rasa malumu kepada-Nya. Jika kau malu kepada-Nya, tentu kau tidak akan mencari selain-Nya.

Bila kau meminta kepada selain-Nya, seperti meminta kepada seorang manusia untuk mengatasi persoalan-persoalanmu dan saat meminta itu kau lupa kepada Tuhanmu, itu menandakan bahwa kau begitu jauh dari-Nya. Jika kau dekat dengan-Nya, pasti kau akan jauh dari selain-Nya. Sekiranya kau menyadari kedekatan-Nya denganmu, niscaya kau akan menghindari makhluk-makhluk-Nya. Namun, karena kejauhanmu dengan-Nya, kau merasa butuh kepada selain-Nya untuk kau jadikan tempat berlindung dan meminta.

Bagi kalangan murid, meminta kepada sang Khaliq adalah hal yang lumrah. Bahkan, meminta kepada makhluk pun adalah hal yang wajar, kecuali meminta dalam kerangka ibadah, etika, mengikuti perintah, atau menyatakan kebutuhan. Sementara itu, orang-orang 'arif hanya memandang kepada Allah. Permintaan mereka, walaupun secara lahir tampak kepada makhluk, namun sebenarnya kepada sang Khaliq.


Pada setiap desahan napas yang kauhembuskan terdapat takdir Allah yang telah ditetapkan.

— Ibnu Atha * illah al-Iskandari —



Setiap napas yang keluar darimu telah ditakdirkan Allah, baik yang terkandung di dalamnya ketaatan, maksiat, nikmat, maupun petaka. Setiap napas yang keluar darimu adalah satu dari sekian takdir Allah untukmu, siapa pun dirimu. Oleh karena itu, kau harus tetap menjaga kesopananmu di hadapan-Nya dan menyadari bahwa Dia selalu mengawasimu dalam setiap desahan napasmu. Dengan begitu, di setiap napas, kaumenjadi seorang salik yang ingin meniti jalan menuju Allah. Inilah makna ungkapan "jalan menuju Allah sebanyak desahan napas seluruh makhluk."


Jangan menanti-nanti hilangnya kecenderungan- kecenderungan kepada dunia. Karena hal itu dapat membuatmu lupa akan adanya pengawasan Allah atas ahwal yang telah ditetapkan-Nya untukmu.

— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —



Kecenderungan-kecenderungan kepada dunia memang merupa­kan kegelapan yang dapat menghalangi hati dari melihat Tuhan. Namun demikian, jangan pula kau menanti-nanti dan bertanya-tanya kapan kecenderungan-kecenderungan itu bisa hilang secara total dari hatimu. Sebab, hal ini bisa membuatmu lupa bahwa kondisi (ahwal) yang telah ditetapkan untukmu saat ini, yakni berupa amal- amal yang bisa mengantarkanmu kepada-Nya, adalah berada dalam pengawasan-Nya.

Yang dituntut dari dirimu ialah senantiasa isitiqamah dalam menjalani kebiasaanmu dan tetap merasa diawasi Allah. Jangan kausibuk dengan segala hal yang masuk ke dalam hatimu, baik berupa kegelapan maupun cahaya karena hal itu justru akan memutusmu dari kebiasaanmu.

Dianggap memutus karena jiwamu selalu dibayangi keraguan, "Kalau benar aku ini ahli iradah, tentunya kecenderungan-kecen­derungan kepada dunia ini tidak mungkin lagi masuk ke dalam hatiku, apalagi dengan banyaknya ibadah yang sudah kulakukan selama ini." Sehingga hatimu sibuk dengan bisikan dan gangguan ini. Mungkin ia terus membisikimu agar kaumelupakan apa yang menjadi tujuanmu atau agar kau meninggalkan amal saleh.

Biasanya, sebab kemunculan kecenderungan-kecenderungan kepada dunia ini adalah kotoran-kotoran keduniaan yang meng­hampiri hatimu. Dan ini adalah persoalan yang mau tidak mau harus kauhadapi.

Friday, July 12, 2013

Menunda Amal Saleh Termasuk Sikap Bodoh

Menunda amal karena menunggu waktu yang luang termasuk tanda kebodohan.


— Ibnu Atha'illah al-Iskandari —



Jika seorang murid menunda-nunda amal yang bisa mendekatkannya kepada Tuhannya karena merasa tidak memiliki waktu luang di sela- sela kesibukan dunianya, tindakan itu merupakan tanda kebodohan jiwanya. Disebut bodoh karena ia telah menunda amalnya dengan menunggu waktu luang. Padahal, bisa jadi, alih-alih mendapatkan waktu luang untuk beramal ibadah, justru ajal yang menjemputnya tiba-tiba. Bisa jadi juga, justru kesibukannya semakin bertambah karena kesibukan dunia pasti akan terus bertumpuk sebab satu sama lain saling berkaitan.

Bahkan, andai kata ia mendapatkan waktu luang, tentu tekad dan niatnya pun sudah melemah. Oleh karena itu, sepatutnya ia segera bangkit melakukan amal-amal yang mendekatkan dirinya kepada Tuhannya sebelum terlambat. Pepatah mengatakan, "Waktu ibarat pedang. Jika kau tidak bisa menggunakannya, niscaya ia akan menebasmu."

Wujud Allah itu Jelas dan Tidak Terhalangi oleh Sesuatu

Semesta itu seluruhnya gulita. Ia hanya akan diterangi oleh
wujud Allah. Siapa yang melihat semesta, namun tidak melihat'Nya di sana atau tidak melihat-Nya ketika, sebelum, atau sesudah melihat semesta, berarti ia telah disilaukan oleh cahaya-cahaya lain dan terhalang dari surya makrifat karena tertutup tebalnya awan dunia.

— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —




Di mata para ahli syuhud (orang yang menyaksikan kehadiran Allah dalam segala sesuatu), dunia ini tidak berwujud. Yang membuat dunia ini nampak hanyalah wujud Allah semata, persis seperti pancaran sinar matahari yang masuk ke dalam sebuah lentera berkaca. Tak ada wujud, kecuali wujud Yang Mahabenar. Dengan kemunculan Allah pada segala sesuatu, semuanya menjadi ada, sesuai dengan tabiatnya masing-masing. Aslinya, mereka tidak berwujud dengan sendirinya.

Jika demikian, barang siapa yang melihat alam semesta ini tanpa merasakan kehadiran Allah di sana, berarti ia telah kehilangan nur Ilahi (cahaya Allah) yang membuatnya mendapat musyahadah. Di samping itu, ia juga tidak mungkin akan mendapat makrifat karena ia telah disilaukan oleh semesta ini.

Di sini Ibnu Athaillah menyinggung tentang bermacam-macam tingkatan ahli syuhud dalam memandang Allah. Di antara mereka ada yang menyaksikan sang Pencipta terlebih dahulu sebelum menyaksikan ciptaan-Nya. Jika pandangannya jatuh pada suatu benda, ia akan menyaksikan keberadaan Yang Maha benar dan bahwa hanya Dia yang menggerakkan dan mendiamkannya. Itu terjadi sebelum di benaknya tebersit apakah benda itu manusia ataukah domba, tinggi ataukah pendek, dan sebagainya.

Ada juga yang menyaksikan Tuhan setelah tahu bahwa benda yang disaksikannya itu adalah binatang. Ada yang menyaksikan Tuhan tepat di saat ia menyaksikan sebuah benda. Ada pula yang menyaksikan Tuhan pada benda itu.

Hikmah ini teramat sulit untuk dijabarkan karena semua pe­ngalaman di atas tidak bisa diungkapkan melalui ucapan atau tulisan, namun hanya bisa dirasakan. Orang yang mengalami syuhud akan kehilangan kata-kata untuk menjelaskannya.


Di antara tanda kekuasaan Allah adalah Dia mampu menghalangimu dari melihat-Nya dengan sesuatu yang tidak ada.
— Ibnu Atha'illah al-Iskandari —


Para 'arif sepakat bahwa segala sesuatu selain Allah adalah tidak ada. Segala sesuatu selain Allah dianggap tidak berwujud dibanding­kan dengan wujud-Nya.

Seorang 'arif berkata, "Para muhaqiq (peraih maqam makrifat) menolak untuk memandang selain Allah karena mereka telah berhasil menyaksikan kuasa dan keabadian Allah dalam mengatur dan meliputi segala sesuatu."

Semua hal selain Allah dianggap tidak ada, namun mengapa ia menjadi penghalang bagi manusia untuk dapat menyaksikan Allah? Mengapa saat manusia menyaksikan alam semesta, mereka hanya melihat wujud alam semesta tanpa melihat siapa yang mewujudkannya? Padahal alam itu tidak berwujud sama sekali karena yang mewujudkannya hanyalah Allah swt. Inilah yang amat mengherankan.

Kemudian, pada hikmah di bawah ini, Ibnu Athaillah menyebut­kan dalil-dalil yang menegaskan bahwa seorang 'arif tidak layak terhijab oleh semesta karena kondisi ini hanya dialami oleh orang- orang awam.


Bagaimana bisa Tuhan terhalang sesuatu, padahal Dia yang menampakkan segala sesuatu? Bagaimana mungkin Tuhan terhalang sesuatu, padahal Dia tampak bersama segala sesuatu?

Bagaimana mungkin Tuhan terhalang sesuatu, padahal Dia tampak pada segala sesuatu? Bagaimana bisa Tuhan terhalang sesuatu, padahal Dia tampak untuk segala sesuatu1 Bagaimana mungkin Tuhan terhalang sesuatu, padahal Dia tampak sebelum keberadaan segala sesuatu? Bagaimana mungkin Tuhan terhalang sesuatu, padahal Dia lebih tampak daripada segala sesuatu? Bagaimana mungkin Tuhan terhalang sesuatu, padahal Dia Esa tanpa ada yang bersama-Nya? Bagaimana mungkin

Tuhan terhalang sesuatu, padahal Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu? Bagaimana mungkin Tuhan terhalang sesuatu, padahal jika bukan karena Dia, wujud segala sesuatu tidak akan ada? Sungguh aneh, bagaimana mungkin keberadaan (wujud)

bisa tampak dalam ketiadaan ('adam)?! Atau, bagaimana bisa sesuatu yang baru bersanding dengan Yang Maha Dahulu?!

— Ibnu Atha'illah al-Iskandari —


Allah menampakkan segala sesuatu dengan cahaya wujud dari gelapnya ketiadaan. Dengan kemunculan cahaya-Nya dalam segala sesuatu, semuanya menjadi tampak. Jika wujud segala sesuatu bergantung pada cahaya-Nya, mustahil sesuatu itu menutupi-Nya sehingga membuat-Nya terselubung dan tidak tampak. Tindakan "menampakkan" meniscayakan penampakan Dzat yang melakukan­nya. Aliahlah yang menampakkan segala sesuatu agar orang-orang yang berakal menjadikannya sebagai bukti keberadaan-Nya.

Allah swt. berfirman, "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (QS. Fushshilat [41]: 53).

Menurut ahli syuhud, Allah tampak pada segala sesuatu dengan penampakan dzat-Nya. Sementara itu, menurut ahli hijab, Dia tampak pada segala sesuatu dengan penampakan sifat dan asma1 Nya. Segala sesuatu hanyalah objek penampakan dari makna-makna asma'dan sifat-Nya. Pada benda atau orang yang mulia, tampaklah sifat Mahamulia ('aziz) milik-Nya dan pada benda atau orang yang hina, terlihatlah sifat Maha Menghinakan (mudzill) milik-Nya.

Pada setiap makhluk hidup tampak jelas sifat Maha Menghidup­kan (muhyi) milik-Nya. Saat Allah mencabut nyawa, tampaklah sifat Maha Mematikan (mumit). Saat memberi, terlihatlah sifat Maha Memberi (mu'thi). Saat menahan pemberian, terlihat sifat Maha Menahan (mani). Saat memberi karunia, tampak sifat Maha Memberi Karunia (karun). Saat mengabulkan doa, tampak sifat Maha Pengabul Doa (mujib). Saat menimpakan bahaya atau mendatangkan manfaat, tampaklah sifat Maha Pemberi Bahaya (dharr) dan Maha Pemberi Manfaat (nafi'), dan sebagainya.

Bagaimana bisa Allah terhalangi sesuatu, padahal Dia muncul atau tampak pada segala sesuatu sehingga bisa dikenali. Karena itulah, seluruh semesta alam bersujud dan bertasbih kepada-Nya, tetapi kita tidak mendengar dan memahami tasbih mereka. Semua makhluk di alam ini, baik itu yang bernyawa maupun yang tidak, mengenali Allah, namun itu bergantung pada kadar penampakan Allah yang dilihatnya. Jika ada makhluk yang tidak mengagungkan Allah sesuai kadar keagungan-Nya, maka hal itu disebabkan oleh lemahnya makrifat (pengenalan) tentang-Nya, bukan karena ketiadaan makrifat sama sekali.

Bagaimana mungkin Tuhan terhalangi sesuatu, sedangkan Dia Zahir sebelum wujud segala sesuatu? Karena osma-Nya sudah tampak sejak azali. Kemunculan Allah sendiri sudah merupakan sifat asli-Nya (zdhir), tidak didapat dari luar, tidak beralasan, dan tidak diserap dari mana saja. Sementara itu, kemunculan alam semesta adalah akibat kemunculan Allah di sana dengan sifat zahir-Nya. Jika demikian, bagaimana mungkin semesta dapat menghalangi-Nya?

Bagaimana bisa Allah terhalangi sesuatu, padahal Dia lebih tampak daripada segala sesuatu? Karena dalam setiap kondisi, wujud (keberadaan) lebih tampak daripada 'adam (ketiadaan), juga karena kemunculan substansial lebih kuat daripada kemunculan aksidental. Kemunculan yang bersumber dari diri sendiri lebih kuat daripada kemunculan yang diakibatkan faktor luar. Kemunculan mutlak lebih kuat daripada kemunculan relatif. Kemunculan yang abadi lebih kuat daripada kemunculan yang fana.

Wujud Tuhan tidak diketahui akal karena kemunculan-Nya amat dahsyat. Kemunculan dahsyat itu tak akan bisa diketahui oleh orang-orang lemah. Seperti halnya seekor kelelawar yang hanya mampu melihat di kegelapan malam, sedangkan di siang hari ia tidak mampu melihat apa-apa. Hal itu dikarenakan kuatnya kemunculan siang. Sementara itu, penglihatan mata kelelawar amat lemah. Ia tak sanggup melawan pancaran cahaya matahari. Kuatnya kemunculan siang dan lemahnya penglihatan itulah yang menjadi sebab kelelawar tak mampu melihat di siang hari.

Seperti itulah akal, ia amat lemah di hadapan kemunculan Ilahi yang sinar dan cahaya-Nya menyilaukan. Kuatnya kemunculan Ilahi inilah yang menjadi sebab ketersembunyian-Nya dari segala sesuatu.

Bagaimana mungkin sesuatu akan menghalangi Allah, padahal Dia Yang Esa dan tak ada sesuatu pun yang bersama-Nya? Karena segala sesuatu selain Allah tidak ada dan tidak berwujud. Dengan demikian, tak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya karena semua wujud hakiki hanya milik Allah, bukan milik selain-Nya.

Bagaimana mungkin Allah terhalangi sesuatu, padahal Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu? Karena Dia mampu meliputi dan mengaturmu. Allah swt. berfirman, "Dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya," (QS. Qaf [50]: 16).

Menurut ahli syuhud, Dzat Allah amat dekat kepada kita. Adapun menurut ahli hijab, Tuhan dekat kepada kita dalam pengertian dekat ilmu, kekuasaan, dan sifat-sifat-Nya yang lain.

Bagaimana bisa Allah terhalangi sesuatu, padahal tanpa Dia, segala sesuatu tidak akan ada? Sampai-sampai para musydhidun (yang merasa menyaksikan Allah) menjadikan Allah sebagai dalil untuk membuktikan keberadaan segala sesuatu.

Allah swt. berfirman, "Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (QS. Fushshilat [41]: 53).

Sungguh aneh, bagaimana mungkin wujud (keberadaan) tidak tampak dalam 'adam (ketiadaan)? 'Adam adalah kegelapan, sedangkan wujud adalah cahaya. Keduanya mudah dibedakan.

Bagaimana bisa sesuatu yang baru (hadits) bersanding dengan Yang Maha Dahulu (qadim)? Bagaimana mungkin sesuatu yang baru muncul bersamaan dengan yang memiliki sifat qidam. Yang baru itu bathil, sedangkan Allah itu Haq (Mahabenar). Kebathilan akan sirna dengan adanya kebenaran.

Allah swt. berfirman, "Dan katakanlah, 'Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap.' Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap," (QS. Al-Isra'[17]: 81)

Sosok yang lahir (tampak) dan tsabit (tetap) itulah Tuhan Yang Maha Haq, Allah swt., bukan alam semesta. Tak ada yang berwujud, kecuali Allah karena Dia yang tampak dan menampakkan, yang mawjud dan berbeda dari segala penampakan lainnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang bernada keheranan dalam hikmah ini pasti akan diajukan oleh mereka yang pernah merasakan pengalaman syuhud. Oleh karena itu, semakin kuat pengalaman syuhud yang dirasakan seseorang maka semakin sirnalah alam semesta ini dari pandangannya.

Bodohnya Orang yang Ingin Mengubah Kehendak Allah

Alangkah bodohnya orang yang menghendaki sesuatu terjadi pada waktu yang tidak dikehendaki-Nya.


— Ibnu Atha 'illah al-Iskandari —



Jika hati atau tubuh seorang murid sedang berada dalam satu keadaan (ahwal) tertentu, ia harus tetap menjaga kesopanan di hadapan Allah dengan merelakan diri untuk tetap berada pada ke­adaan tersebut sampai Allah sendiri yang memindahkannya dari sana. Dengan satu catatan: keadaan tersebut tidak bertentangan dengan syariat.

Misalnya, jika ia sedang berada dalam keadaan terlepas dari keduniaan (tajrid), ia harus menahan diri untuk terus berada dan rela dalam keadaan tersebut sampai Allah sendiri yang memindahkannya ke keadaan yang lain. Jika tebersit di hatinya keinginan untuk mencari penghidupan (kasab), itu artinya ia tidak sopan kepada Tuhannya karena ia sudah menolak keadaan yang dikehendaki-Nya untuknya. Demikian pula, seorang murid dianggap tidak sopan terhadap Tuhannya, jika ia sedang berada dalam satu pekerjaan, namun ingin pindah ke pekerjaan lain, atau sedang berada dalam keadaan miskin, namun ingin menjadi kaya.

Empat puluh tahun silam, seseorang berkata kepadaku, "Bila Allah menempatkanku pada satu kondisi (ahwal), tidak pernah sedikit pun aku kesal. Bila Dia memindahkanku ke kondisi lain, tidak pernah sekali pun aku menolaknya." Ungkapan ini adalah buah dari ilmu dan pengetahuan (makrifat) tentang Allah dan ketuhanan-Nya.

Jika seseorang membenci keadaan dirinya saat ini, lalu ia bersi­kukuh ingin pindah dari keadaan itu dan menghendaki keadaan lain yang berbeda dengan apa yang ditampakkan Allah kepadanya, itu artinya, ia tidak mengenali Tuhannya sama sekali dan sudah bersikap tidak sopan terhadap-Nya. Tentu ini adalah tindakan menentang "hukum waktu" yang diisyaratkan oleh kaum sufi. Bagi kaum sufi, menentang "hukum waktu" merupakan dosa paling besar.

Jangan meminta Allah untuk mengeluarkanmu dari satu kondisi agar kau bisa dipekerjakan-Nya. Jika memang Dia menghendaki, niscaya Dia akan mempekerjakanmu tanpa harus mengeluarkanmu dari kondisi itu.

— Ibnu Atha 'illah al-Iskandari —



Jika kau mengira bahwa keberadaanmu di satu kondisi telah meng­hambatmu untuk mendekatkan diri kepada-Nya, jangan meminta-Nya mengeluarkanmu dari kondisi itu karena jika Allah mencintaimu dan kau termasuk ahli iradah (yang dikehendaki Allah), Allah akan mempekerjakanmu dengan penuh kasih sayang, membimbingmu

untuk melakukan amal-amal saleh, dan menyibukkan hatimu dengan- Nya, tanpa harus mengeluarkanmu dari kondisi lamamu.

Jika seorang murid berada dalam satu kondisi yang tidak sesuai dengan tujuannya (namun dari sudut pandang syariat, kondisi itu tidak terlarang), tak layak baginya untuk menghendaki keluar dari kondisi itu dan menentang "hukum waktu" —sebagaimana dijelaskan dalam hikmah di atas. Ia juga tidak layak meminta Tuhannya untuk segera mengeluarkannya dari sana agar bisa dipekerjakan-Nya pada kondisi lain karena kondisi itu adalah pilihan Allah dan ia tidak perlu bingung dalam hal ini.

Yang patut dilakukannya adalah tetap menjaga etika dan ke­sopanannya terhadap Tuhannya serta mendahulukan kehendak-Nya atas pilihannya sendiri. Jika Tuhannya melihat sikap baiknya ini, Dia akan mempekerjakannya tanpa perlu mengeluarkannya dari kondisi tersebut. Dengan demikian, ia pun beramal sesuai dengan kehendak Allah, bukan berdasarkan kehendaknya sendiri. Tentu, itu lebih baik baginya daripada mengedepankan pilihannya sendiri. Akan lebih baik lagi baginya bila ia juga meyakini bahwa ia akan mencapai tujuannya tanpa harus keluar dari kondisi tersebut.

Lain lagi halnya jika ia berada dalam kondisi yang tidak sesuai dengan syara'. Dalam hal ini, ia harus segera keluar dari kondisi tersebut dan meminta Tuhannya agar memindahkannya ke kondisi yang lebih diridhai-Nya.

Thursday, July 11, 2013

Hati Tidak Mungkin Bersinar Manakala Keduniaan Menutupinya

Bagaimana mungkin kalbu akan bersinar, sedangkan bayang- bayang dunia masih terpampang di cerminnya? Bagaimana mungkin akan pergi menyongsong Ilahi, sedangkan ia masih terbelenggu nafsunya? Bagaimana mungkiri akan bertamu ke hadirat-Nya, sedangkan ia belum bersuci dari kotoran kelalaiannya? Bagaimana mungkin diharapkan dapat menyingkap berbagai rahasia, sedangkan ia belum bertobat dari kekeliruannya?

— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —



Bagaimana mungkin kalbu akan bersinar terang, sedangkan anasir keduniaan masih menyelimutinya dan dianggap bisa men­datangkan manfaat dan bahaya? Bahkan, anasir keduniaan itu begitu diandalkannya!

Jika hati masih terbelenggu nafsu, bagaimana mungkin bisa berjalan menuju Allah? Orang yang dibelenggu tentu tidak akan mampu berjalan. Bagaimana pula hati bisa melihat Allah, sedangkan ia masih belum suci dari junub kelalaiannya?

Di sini, Ibnu Atha'illah mengumpamakan kelalaian dengan junub. Dan seorang yang sedang junub tidak diperbolehkan memasuki

masjid. Seperti itu pula orang yang dikuasai kelalaian, ia tidak akan diizinkan menemui Allah.

Bagaimana mungkin hati akan mewarisi ilmu kaum 'arif, se­dangkan ia belum bertobat dari kesalahan atau maksiat yang tidak disengaja dilakukannya?

Dalam hikmah di atas, Ibnu Athaillah mengungkapkan ke­janggalan yang dilihatnya. Menurutnya, bagaimana mungkin sese­orang bisa meraih sesuatu yang diinginkannya, sedangkan ia masih melakukan hal-hal yang justru merintangi pencapaiannya. Hati yang bercahaya hanya dapat diraih dengan cahaya iman dan keyakinan, bukan dengan harta dan hal-hal lain yang bersifat duniawi. Keduniaan justru akan membuat hati menjadi gelap.

Perjalanan menuju Allah hanya bisa dilakukan dengan memutus belenggu nafsu dan syahwat, bukan dengan menuruti nafsu dan syahwat. Pertemuan dengan Allah hanya bisa terjadi bila hati telah suci. Hati yang masih belum suci atau masih dikotori oleh kelalaian akan menghalangi pertemuan dengan Allah. Kemampuan menguasai ilmu dan mengetahui detail-detail rahasia hanya bisa didapat melalui ketakwaan, bukan dengan keinginan yang besar untuk selalu melakukan maksiat.

Allah swt. berfirman, "Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu," (QS. Al-Baqarah [2]: 282).

Dalam sebuah khabar disebutkan, "Siapa yang beramal dengan ilmunya, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak diketahuinya."

Keempat hal di atas sebenarnya saling memengaruhi satu sama lain. Tampilnya gambaran keduniaan di dalam cermin hati menjadi sebab terbelenggunya hati oleh syahwat. Keterbelengguan hati dapat menyebabkan kelalaian. Kelalaian menjadi sebab segala kekeliruan, dan kekeliruan menjadi sebab butanya hati.

Wednesday, July 10, 2013

Manfaat 'Uzlah


Tiada yang lebih berguna bagi hati selain 'uzlah. Dengan 'uzlah, hati memasuki lapangan tafakur.

— Ibnu Atha'illah al-Iskandari —

'Uzlah (menyendiri) merupakan cara terbaik bagi seorang murid untuk membersihkan hati dari segala kelalaian dan mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Tafakur itu umpama sebuah lapangan. Di sana, hati berputar-putar seperti seekor kuda yang berpacu di sebuah arena pacuan.

Bila seorang murid terlalu banyak bergaul dengan manusia, pandangan dan hatinya akan tertuju pada keduniaan sehingga yang kemudian tampak jelas di hadapannya hanyalah hal-hal yang bersifat materi dan fana. Tidak demikian jika ia ber'uzlah menjauhi pergaulan dengan manusia, hatinya akan disibukkan dengan hal-hal gaib.

Dalam sebuah khabar disebutkan, "Bertafakur sesaat lebih baik daripada ibadah tujuh puluh tahun."

Ada seseorang yang bertanya kepada Ummu Ad-Darda,' "Amalan apa yang paling diutamakan Abu Darda?"

Ummu Ad-Darda' menjawab, "Tafakur." Dengan bertafakur, seseorang bisa mendalami hakikat, mengagungkan Allah, dan mengutamakan segala hal yang diridhai-Nya. Dengan bertafakur, ia bisa menganggap hina semua hal yang dibenci Allah sehingga terdorong untuk meninggalkannya. Dengan bertafakur, seseorang bisa mengetahui keburukan-keburukan jiwa yang terselubung, kejahatan musuh, dan tipuan dunia. Ia juga bisa mengenali segala muslihat sehingga bisa dengan mudah menghindarinya dan selamat dari bahaya-bahaya yang ditimbulkannya.

Dengan menyendiri dan merenung, seorang murid melatih diri untuk berkhalwat, salah satu dari empat rukun tarekat (tiga rukun lainnya adalah bersikap diam, berlapar-lapar, dan bangun tengah malam). Ini, bagi murid yang menempuh jalan tarekat sendirian.
Adapun bagi murid yang berada di bawah bimbingan guru, tentu ia harus banyak bergaul dengan gurunya, juga dengan saudara- saudara yang turut membantunya dalam menempuh jalan tarekat. Jika ia telah menjadi 'arif, tak masalah baginya untuk bergaul dengan manusia mana pun karena saat itu di matanya hanya Allah yang terlihat. Perlu dicamkan bahwa yang menjadi tujuan utama adalah tafakur, sedangkan 'uzlah (menyendiri) hanya sebagai media atau faktor pendukung.

Kemasyhuran Sangat Membahayakan Seorang Murid

Kuburlah dirimu di tanah kerendahan karena sesuatu yang tumbuh tanpa dikubur 
(ditanam) hasilnya kurang sempurna.
— Ibnu Atha' illah al-Iskandari —

Maksud "tanah kerendahan" adalah tanah yang di sana popu­laritas tak tumbuh subur. Maksud "kuburlah dirimu di sana" adalah kau tidak usah menempuh sebab-sebab popularitas, seperti dengan cara menawarkan dirimu untuk sebuah jabatan yang membuatmu terkenal. Seandainya kauterpaksa terkenal, kau harus merendah hati dan jangan mencari kedudukan tertentu. Jangan memandang jabatan yang sedang kausandang sebagai hal yang besar. Yakinlah bahwa kebaikan akan kaudapatkan saat kaumeninggalkan itu semua. Namun, jangan kautinggalkan semua itu, kecuali atas bimbingan gurumu atau atas izin Tuhanmu.

Ibnu Athaillah memberi contoh tentang hal itu dengan ungkapan, "Sesuatu yang tumbuh tanpa dikubur (benihnya) hasilnya kurang sempurna." Maksudnya, benih yang tidak ditanam dalam-dalam hanya akan tumbuh lemah, kering, dan tak bisa dimanfaatkan. Bahkan, mungkin benih itu akan mudah dimakan oleh burung atau binatang lain sebelum tumbuh menjadi tanaman. Demikian pula seorang salik, jika ia mencari-cari popularitas di awal, jarang yang berhasil di akhir. Semakin ia merendahkan diri maka maqam ikhlas akan semakin cepat diraihnya. Bila sejak awal ia mendasari segala urusannya atas sikap menjauh dari makhluk, tidak mau dikenang, tidak suka popularitas, dan memilih untuk bersama Tuhannya, ia akan bersama Tuhannya. Jika Tuhan berkehendak, Dia akan memunculkannya dan menjadikannya terkenal. Jika tidak, Dia akan menutupinya dan membuatnya tidak dikenal. 

Abu Al-Abbas rahimahullah berkata, "Siapa yang menginginkan popularitas, ia adalah budak popularitas. Siapa yang mencintai para penguasa, ia akan menjadi budak penguasa. Siapa yang menyembah Allah, baginya sama saja, terkenal ataupun tidak."

Dikutip dari kitab : Al-Hikam oleh Ibnu Atha-illah Al-Iskandari



Wednesday, July 11, 2012

Ruh Amal adalah Ikhlas


Jenis amal itu bermacam-macam karena asupan hati juga beragam.

- Ibnu Atha'illah al-Iskandari -

YANG DIMAKSUD asupan hati di sini adalah makrifat Tuhan dan rahasia ruhani yang masuk ke dalam relung hati. Asupan hati ini akan mendorong munculnya sifat-sifat dan ahwal (keadaan) terpuji. Ada yang membuahkan karisma. Ada yang mendorong kelembutan. Ada pula yang memupuk kedermawanan.
Kerapkali kaudapati sebagian murid yang rajin shalat, ada pula yang rajin puasa, dan sebagainya. Sebabnya adalah perbedaan asupan Ilahi yang mengakibatkan perbedaan kecenderungan seseorang. Setiap orang harus beramal sesuai dengan kecenderungannya jika ia belum mendapat bimbingan dari gurunya. Sebaliknya, apabila ia telah mendapat bimbingan guru, ia tidak boleh beramal, kecuali dengan izin sang guru.
Kesimpulannya, beragamnya wirid dan zikir yang dilakukan para murid adalah akibat dari beragamnya asupan yang masuk ke hati mereka. Setiap murid harus beramal sesuai dengan asupan hatinya atau sesuai bimbingan guru. la tidak boleh beramal berdasarkan asupan hati orang lain. Orang lain pun tidak boleh menentangnya hanya karena tidak melakukan apa yang dilakukannya.
Amal itu seumpama jasad, sedangkan keikhlasan adalah        ruhnya.

- Ibnu Atha'illah al-Iskandari -

AMAL ITU ibarat jasad yang tak bernyawa, sedangkan keikhlasan laksana ruh yang menjadikan jasad itu hidup. Keikhlasan setiap orang berbeda-beda. Keikhlasan para 'abid (ahli ibadah) berbentuk bersihnya amal mereka dari sifat riya' yang nyata maupun yang tersamar dan dari niat yang didasari hawa nafsu. Mereka beramal karena Allah, mengharap pahala-Nya, serta ingin selamat dari azab dan siksa-Nya. Namun demikian, mereka menisbatkan amal itu pada diri mereka dan menjadikannya sebagai tempat bergantung untuk meraih apa yang mereka inginkan.
Sementara itu, bentuk keikhlasan para muhibbin (pencinta Allah) tergambar dalam niat amal mereka yang ditujukan sebagai wujud pengagungan dan penghormatan mereka terhadap Allah; yang memang layak mendapatkannya. Dalam beramal, mereka tidak bertujuan mendapat pahala atau takut dari siksa-Nya.
Oleh sebab itu, Rabi'ah Al-Adawiyah berkata, "Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka-Mu atau berharap surga-Mu."
Sementara itu, keikhlasan para 'arif berbentuk kesaksian dan pandangan mereka bahwa Allah semata yang menggerakkan dan mendiamkan mereka. Mereka tidak merasa memiliki daya dan upaya dalam hal itu. Oleh karena itu, mereka tidak beramal, kecuali dengan bantuan Allah, bukan dengan daya dan kekuatan mereka. Tingkat keikhlasan para 'arif ini merupakan tingkat keikhlasan tertinggi.
Kemudian, dalam hikmah berikut, Ibnu Athaillah memberi tips bagaimana cara meraih dan menumbuhkan keikhlasan.

Liquid Culture

Sedang senang senangnya coba coba buat liquid culture untuk Jamur Tiram, so far so gud, besok tinggal fase test apakah liquid culture yang ...