Di dunia ini tidak ada manusia yang serba tahu. Ada sebuah cerita dari kuil tua Buddha Zen di Tiongkok. Pada suatu hari, ada seorang umat Buddha datang ke kuil tua itu dan bertanya kepada Guru Besar Buddha Zen,
"Saya ingin bertanya kepada yang mulia Guru Besar. Kalau manusia sudah meninggal dunia, menurut agama Buddha, rohnya akan pergi ke mana ?"
Sang Guru Besar Zen dengan tenang menjawab
"Saya tidak tahu !"
Orang awam itu terkejut dan sangat heran. Lantas bertanya lagi,
"Masak Guru Besar Zen tidak tahu ?
"Ya, karena aku belum mati !" jawab Sang Guru Zen tenang.
Demikianlah lebih baik merendah dengan mengatakan tidak tahu adalah yang paling baik dari pada mengatakan tahu. Sebaliknya mengatakan tahu padahal tidak tahu adalah mencari penyakit. Hal ini akan menelanjangi kekurangan dan kebodohan diri sendiri. Lao Zi mengatakan bahwa seorang Sheng Ren tidak akan melakukan penyakit seperti itu. Dia selalu merendah, seolah olah seperti orang "Bodoh" yang tidak tahu apa apa. Sebab dia tidak ingin menonjolkan dirinya di depan orang.
Dao De Jing
The Wisdom of Lao Zi
Kami menekuni Budidaya Jamur Tiram Sejak pertengahan 2013, bagi yang berminat untuk belajar Budidaya Jamur Tiram di Palembang Silahkan untuk Datang berkunjung ke Tempat Kami di Jl Pangeran Ayin, Komplek Griya Arisma Azhar B22, Kami Juga menyediakan Jamur tiram segar dan menjual Baglog serta Bibit, Semoga informasi yang kami sajikan memberi manfaat
Showing posts with label Leadership. Show all posts
Showing posts with label Leadership. Show all posts
Tuesday, July 6, 2010
Monday, April 6, 2009
Google Emang Beda
Tahukah anda bahwa di Amrik sono, Google Inc adalah perusahaan yang paling diminati orang untuk bekerja. Tidak kurang dari 1300 lamaran datang tiap harinya. Ingat tiap hari berarti kalau sebulan ada kurang lebih 39000 pelamar !!
Pertanyaannya adalah ….. Apa sih hebatnya Google sampai bisa menjadi perusahaan yang paling diburu para pelamar mengalahkan perusahaan - perusahaan yang lebih dulu eksis seperti GE, Citibank, Monsanto, Microsoft atau pun Coca Cola ? Sembilan dari sepuluh orang ternyata menyebut hidangan lezat gratis yang menjadi alasan kenapa mereka menyukai kerja di Google (woo ala ternyata gak beda jauh ya sama orang sini kalau masalah perut he he) terkesan agak berlebihan ya kayak bunyi iklan sampo, tapi ini hasil survey lho. Yang membedakan dari perusahaan lain Google menyediakan makan gratis nan lezat sekali dengan aneka minuman berbeda yang disukai karyawannya.
Mereka merekrut koki hebat Charlie Ayers (denger denger doi mantan koki hotel Hotel Waldorf Astoria, salah satu hotel termewah di Amerika). Merekrut koki kelas dunia ini rupanya salah satu ide dari Sergey Brin (salah satu pendiri Google) dalam memandang masalah perut yang kerap kali dianggap tidak penting oleh perusahaan lain. Makanan yang baik, sehat, gratis untuk karyawan akan menjadikan Google berbeda dari perusahaan yang lain. Berani berbeda !
Spirit pendiri Google ini menulari karyawannya seperti Ayers “Tujuan saya setiap hari” katanya, adalah menciptakan suasana bahwa disini orang bukan sedang bekerja, melainkan sedang menjalani semacam liburan. Ini termasuk andilnya untuk turut serta memperkuat kultur bersenang-senang, yang dari awal dicanangkan oleh Brin dan Larry Page.
So jangan heran ketika suatu hari Brin dan Page menyewa Gedung Bioskop dekat kantor selama 24 jam, Semua karyawan dan keluarganya mendapat ticket gratis untuk menonton film Star Wars. Untuk menyenangkan karyawan, kamar mandi kantor dilengkapi toilet otomatis mewah dengan enam tingkat panas di tempat dudukannya (wah gimana rasanya ya ??, yg pasti asyik bagi yg udah pernah merasakannya, anget dan bingung pertama kali makainya he he). Googleplex juga dilengkapi dengan Spa, fitness center, kolam renang (kalau ini kantor kita juga punya ya…). Buat karywan juga disediakan fasilitas laundry modern untuk cuci baju dan setrika (ini juga ada kita ya, Cuma …..)
Makanan lezat dan kultur bersenang senang hanyalah sebagian dari kisah bagaimana Google dikelola, di Google ada aturan khusus, dari lima hari kerja, satu hari harus digunakan oleh para soft ware engineer untuk mengerjakan proyek apapun yang mereka senangi, Aneh kan he he …. (kalau di tempat kita ada aturan begini kira kira apa ya yang mereka lakukan …. :p).
Semua hal di atas membuat para pesaing bisnisnya jadi bingung, mereka melihat Google sebagai perusahaan yang bekerja tidak dengan motivasi untuk berperang melawan kompetitornya, dan sedapat mungkin tidak menciptakan musuh. “Google tidak anti siapapun” kata John Miller dari American On Line (AOL), begitulah suasana Google yg didirikan di tahun 1998, Google kini sudah mengalahkan Microsoft sebagai tempat yang paling diincar pakar Teknologi Nomor Satu di Dunia.
Pertanyaannya adalah ….. Apa sih hebatnya Google sampai bisa menjadi perusahaan yang paling diburu para pelamar mengalahkan perusahaan - perusahaan yang lebih dulu eksis seperti GE, Citibank, Monsanto, Microsoft atau pun Coca Cola ? Sembilan dari sepuluh orang ternyata menyebut hidangan lezat gratis yang menjadi alasan kenapa mereka menyukai kerja di Google (woo ala ternyata gak beda jauh ya sama orang sini kalau masalah perut he he) terkesan agak berlebihan ya kayak bunyi iklan sampo, tapi ini hasil survey lho. Yang membedakan dari perusahaan lain Google menyediakan makan gratis nan lezat sekali dengan aneka minuman berbeda yang disukai karyawannya.
Mereka merekrut koki hebat Charlie Ayers (denger denger doi mantan koki hotel Hotel Waldorf Astoria, salah satu hotel termewah di Amerika). Merekrut koki kelas dunia ini rupanya salah satu ide dari Sergey Brin (salah satu pendiri Google) dalam memandang masalah perut yang kerap kali dianggap tidak penting oleh perusahaan lain. Makanan yang baik, sehat, gratis untuk karyawan akan menjadikan Google berbeda dari perusahaan yang lain. Berani berbeda !
Spirit pendiri Google ini menulari karyawannya seperti Ayers “Tujuan saya setiap hari” katanya, adalah menciptakan suasana bahwa disini orang bukan sedang bekerja, melainkan sedang menjalani semacam liburan. Ini termasuk andilnya untuk turut serta memperkuat kultur bersenang-senang, yang dari awal dicanangkan oleh Brin dan Larry Page.
So jangan heran ketika suatu hari Brin dan Page menyewa Gedung Bioskop dekat kantor selama 24 jam, Semua karyawan dan keluarganya mendapat ticket gratis untuk menonton film Star Wars. Untuk menyenangkan karyawan, kamar mandi kantor dilengkapi toilet otomatis mewah dengan enam tingkat panas di tempat dudukannya (wah gimana rasanya ya ??, yg pasti asyik bagi yg udah pernah merasakannya, anget dan bingung pertama kali makainya he he). Googleplex juga dilengkapi dengan Spa, fitness center, kolam renang (kalau ini kantor kita juga punya ya…). Buat karywan juga disediakan fasilitas laundry modern untuk cuci baju dan setrika (ini juga ada kita ya, Cuma …..)
Makanan lezat dan kultur bersenang senang hanyalah sebagian dari kisah bagaimana Google dikelola, di Google ada aturan khusus, dari lima hari kerja, satu hari harus digunakan oleh para soft ware engineer untuk mengerjakan proyek apapun yang mereka senangi, Aneh kan he he …. (kalau di tempat kita ada aturan begini kira kira apa ya yang mereka lakukan …. :p).
Semua hal di atas membuat para pesaing bisnisnya jadi bingung, mereka melihat Google sebagai perusahaan yang bekerja tidak dengan motivasi untuk berperang melawan kompetitornya, dan sedapat mungkin tidak menciptakan musuh. “Google tidak anti siapapun” kata John Miller dari American On Line (AOL), begitulah suasana Google yg didirikan di tahun 1998, Google kini sudah mengalahkan Microsoft sebagai tempat yang paling diincar pakar Teknologi Nomor Satu di Dunia.
Sunday, April 5, 2009
Motivation - A Million Dollar Lesson
by : Petey Parker
A cab driver taught me a million dollar lesson in customer satisfaction and expectation. Motivational speakers charge thousands of dollars to impart his kind of training to corporate executives and staff. It cost me a $12 taxi ride.
I had flown into Dallas for the sole purpose of calling on a client. Time was of the essence and my plan included a quick turnaround trip from and back to the airport. A spotless cab pulled up.
The driver rushed to open the passenger door for me and made sure I was comfortably seated before he closed the door. As he got in the driver's seat, he mentioned that the neatly folded Wall Street Journal next to me for my use. He then showed me several tapes and asked me what type of music I would enjoy.
Well! I looked around for a "Candid Camera!" Wouldn't you? I could not believe the service I was receiving! I took the opportunity to say, "Obviously you take great pride in your work. You must have a story to tell."
"You bet," he replied, "I used to be in Corporate America. But I got tired of thinking my best would never be good enough. I decided to find my niche in life where I could feel proud of being the best I could be.
I knew I would never be a rocket scientist, but I love driving cars, being of service and feeling like I have done a full day's work and done it well. I evaluate my personal assets and... wham! I became a cab driver.
One thing I know for sure, to be good in my business I could simply just meet the expectations of my passengers. But, to be GREAT in my business, I have to EXCEED the customer's expectations! I like both the sound and the return of being 'great' better than just getting by on 'average'"
Did I tip him big time? You bet! Corporate America's loss is the traveling folk's friend!
-----
Lessons:
* Go an Extra Mile when providing any Service to others.
* There is no good or bad job. You can make any job good.
* Good service always brings good return.
A cab driver taught me a million dollar lesson in customer satisfaction and expectation. Motivational speakers charge thousands of dollars to impart his kind of training to corporate executives and staff. It cost me a $12 taxi ride.
I had flown into Dallas for the sole purpose of calling on a client. Time was of the essence and my plan included a quick turnaround trip from and back to the airport. A spotless cab pulled up.
The driver rushed to open the passenger door for me and made sure I was comfortably seated before he closed the door. As he got in the driver's seat, he mentioned that the neatly folded Wall Street Journal next to me for my use. He then showed me several tapes and asked me what type of music I would enjoy.
Well! I looked around for a "Candid Camera!" Wouldn't you? I could not believe the service I was receiving! I took the opportunity to say, "Obviously you take great pride in your work. You must have a story to tell."
"You bet," he replied, "I used to be in Corporate America. But I got tired of thinking my best would never be good enough. I decided to find my niche in life where I could feel proud of being the best I could be.
I knew I would never be a rocket scientist, but I love driving cars, being of service and feeling like I have done a full day's work and done it well. I evaluate my personal assets and... wham! I became a cab driver.
One thing I know for sure, to be good in my business I could simply just meet the expectations of my passengers. But, to be GREAT in my business, I have to EXCEED the customer's expectations! I like both the sound and the return of being 'great' better than just getting by on 'average'"
Did I tip him big time? You bet! Corporate America's loss is the traveling folk's friend!
-----
Lessons:
* Go an Extra Mile when providing any Service to others.
* There is no good or bad job. You can make any job good.
* Good service always brings good return.
Thursday, April 2, 2009
Imajinasi "Kekuatan Sebuah Impian"
Aneh, kok bisa ya semua impian dalam Dream Book ABC saya terwujud?”
Gumaman dalam hati ini muncul setelah 2 tahun mengikuti kelas pelatihan Awareness Before Change (ABC) pertama saya sekitar tahun 2001, dari Master Trainer ABC Bpk. Col. Haji Izaideen Samsoodeen dari Malaysia, beliau adalah murid langsung dari Bob Proctor “The Secret”. Dan, saya mengikuti kelas pelatihan ABC ini sampai 8 kali, baik di Indonesia maupun di Malaysia.
Salah satu impian waktu itu adalah menjadi Pembicara Publik yang masuk TOP 10 di Indonesia. Saat menuliskan impian tersebut, saya belum menuliskan istilah MOTIVATOR. Baru setelah 2 tahun karir sebagai pembicara publik, salah satu majalah me-rating para Motivator dan saya dinilai sebagai salah satu TOP 20, mulai sejak itulah saya menggunakan istilah MOTIVATOR.
Uniknya, saya menggunakan kartu nama dengan label Emotional Motivation Consultant (mungkin karena kurang pede saat itu he he…), namun di dalam Dream Book ternyata saya menuliskan sbb:
“Menjadi Pembicara Motivasi Kelas Dunia”
Ha..ha.. ternyata impian saat dibuat dengan sungguh-sungguh dan sangat jelas, sangatlah kuat dampaknya, walau si Conscious kita masih kurang percaya diri. Namun, yang telah tertanam di Unconscious tetap lebih kuat.
Kesimpulan dari pengalaman saya sendiri ini, menguatkan saya akan pentingnya berimajinasi dalam membuat sebuah impian. Saya tidaklah terlalu tertarik dengan HOW TO, karena BELIEF saya adalah IF YOU KNOW WHY, YOU WILL FIND HOW.
Dimana Ada Kemauan, Disitu Ada Jalan.
Jadi, kuncinya adalah bagaimana membuat sebuah impian yang dapat menimbulkan perasaan yang membara. Sejak itu, saya selalu menguji coba ide sederhana ini, “repotnya” selalu tercapai. Yang belum tercapai, biasanya hanyalah karena perasaan saya akan impian tersebut, belumlah MEMBARA…
Jika perasaan saya sudah membara untuk mewujudkan sebuah impian, pengalaman selama ini PASTI tercapai. Namun, jalannya harus tetap dalam koridor DOA RESTU dari DIA yang MAHA…
Artinya, saya hanya berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu saya berdoa dengan sungguh-sungguh, setelah itu biarlah DIA yang menentukan. Nah,…
Bagaimana Membuat Perasaan Membara?
Kuncinya berimajinasi sedemikian rupa, sampai apa yang kita ingin wujudkan sudah terwujud. Guru ABC saya, Pak Haji Izaideen selalu mengatakan pada saya: If you can hold it in your heart, you can have it in your hand… Mantap, bok! Jadi, berimajinasilah… berimajinasilah…
Pertama kali saya belajar Imajinasi Impian adalah saat saya mengikuti pelatihan di Melbourne, Australia, sekitar tahun 1994. Sekarang saya tahu bahwa pelatihan yang saya ikuti tersebut adalah terapan NLP yang sangat luar biasa. Belum pernah ada lagi pelatihan seperti itu. Karena berupa praktek nyata. Saat itu, kami dibawa ke sebuah lahan kosong di puncak gunung, milik seorang Business Leader terkenal dan kaya raya di Melbourne.
Michael Artusa, demikian namanya, menjelaskan, menggambarkan, menyajikan, mengimajinasikan, ke kami para peserta dari Indonesia (salah satunya adalah Erbe Sentanu yang saya kenal dengan nama Mas Nunu), dengan sangat jelas dan sangat antusias akan rumah yang ingin dia bangun. Begitu hebatnya, sehingga tanah kosong itu seperti ada rumah betulan he he he… Artinya dalam NLP, beliau melibatkan semua alat indra (VAKOG) untuk melukiskan rumah impiannya…
Sebelnya lagi, sampai saat ini, di benak saya, rumah imajinasi itu masih menempel dengan sangat kuat hi hi… Saya sungguh sangat terkagum-kagum dengan pengalaman ini. Dalam hati saya terbangun sebuah keyakinan yang SANGAT BESAR. Saya akan kembali ke Indonesia dan membangun impian saya…
Ternyata dengan terus mengulangi imajinasi sebuah impian, akan berdampak BURNING DESIRE atau keinginan yang membara!!! Nah,…
Bagaimana Melatih Imajinasi untuk Sebuah Impian?
Mari kita mulai dengan sebuah ide yang Anda ingin wujudkan. Ini yang biasa saya lakukan:
1. Saya biasanya berimajinasi impian saya pada malam hari sebelum tidur, yang kadang bisa berdampak semangat yang membara, sehingga kita bisa tetap terjaga.
Seperti yang saya alami saat menulis artikel ini. Pada malam tadi (2 April 2009), saya hampir tidak tidur, imajinasi dalam benak saya terus muncul, yakni: Saya memotivasi di hadapan 10.000 peserta.
Begitu semangatnya, akhirnya terpaksa saya salurkan energinya dengan menulis artikel dan melukis, terbuatlah artikel ini dan sebuah lukisan yang saya beri nama PROGRESS.
2. Buatlah Imajinasi impian Anda sejelas mungkin, sedetail mungkin, warna-warni, ada suara-suara, bisa dirasakan, bisa “disentuh”, bisa dihirup, bisa dijilat, persis ada “nyata” di depan Anda. Libatkan semua VAKOG Anda.
Pokoknya berimajinasilah seperti “orang gila” yang sangat percaya bahwa yang dibayangkannya adalah NYATA…
3. Sering-seringlah putar film imajinasi impian Anda ini, semakin sering semakin baik. Semakin gila perasaan yang muncul, semakin baik. Pengalaman saya, bahkan sangat sering saat tidurpun saya bermimpi imajinasi tersebut.
Terus lakukan langkah-langkah sederhana tersebut di atas, sampai muncul perasaan yang membara dalam diri Anda untuk mewujudkannya. Saat perasaan yang kuat tersebut muncul, kakipun akan sangat mudah untuk melangkah, bahkan berlari untuk mewujudkan impian ini menjadi nyata. Otakpun akan terbuka untuk mencari ide solusi, jalan keluar, metode yang praktis dan sebagainya…
Demikian pengalaman sharing ini, semoga berhikmah untuk Anda semua. Tulisan bisa saja belum lengkap, karena saya menulis jam 3-4 dini hari. Mungkin saja ada yang terlupa dengan pengalaman lainnya, jika ada tambahan, akan saya tambahkan lagi…
Saya kok sangat yakin ya dengan kalimat ini:
“Imagination is more important than knowlegde”
Maaf, saya lupa siapa yang mengatakan ini.
Jakarta, 2 April 2009
By : Krishnamurti - Mindset Motivator
Gumaman dalam hati ini muncul setelah 2 tahun mengikuti kelas pelatihan Awareness Before Change (ABC) pertama saya sekitar tahun 2001, dari Master Trainer ABC Bpk. Col. Haji Izaideen Samsoodeen dari Malaysia, beliau adalah murid langsung dari Bob Proctor “The Secret”. Dan, saya mengikuti kelas pelatihan ABC ini sampai 8 kali, baik di Indonesia maupun di Malaysia.
Salah satu impian waktu itu adalah menjadi Pembicara Publik yang masuk TOP 10 di Indonesia. Saat menuliskan impian tersebut, saya belum menuliskan istilah MOTIVATOR. Baru setelah 2 tahun karir sebagai pembicara publik, salah satu majalah me-rating para Motivator dan saya dinilai sebagai salah satu TOP 20, mulai sejak itulah saya menggunakan istilah MOTIVATOR.
Uniknya, saya menggunakan kartu nama dengan label Emotional Motivation Consultant (mungkin karena kurang pede saat itu he he…), namun di dalam Dream Book ternyata saya menuliskan sbb:
“Menjadi Pembicara Motivasi Kelas Dunia”
Ha..ha.. ternyata impian saat dibuat dengan sungguh-sungguh dan sangat jelas, sangatlah kuat dampaknya, walau si Conscious kita masih kurang percaya diri. Namun, yang telah tertanam di Unconscious tetap lebih kuat.
Kesimpulan dari pengalaman saya sendiri ini, menguatkan saya akan pentingnya berimajinasi dalam membuat sebuah impian. Saya tidaklah terlalu tertarik dengan HOW TO, karena BELIEF saya adalah IF YOU KNOW WHY, YOU WILL FIND HOW.
Dimana Ada Kemauan, Disitu Ada Jalan.
Jadi, kuncinya adalah bagaimana membuat sebuah impian yang dapat menimbulkan perasaan yang membara. Sejak itu, saya selalu menguji coba ide sederhana ini, “repotnya” selalu tercapai. Yang belum tercapai, biasanya hanyalah karena perasaan saya akan impian tersebut, belumlah MEMBARA…
Jika perasaan saya sudah membara untuk mewujudkan sebuah impian, pengalaman selama ini PASTI tercapai. Namun, jalannya harus tetap dalam koridor DOA RESTU dari DIA yang MAHA…
Artinya, saya hanya berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu saya berdoa dengan sungguh-sungguh, setelah itu biarlah DIA yang menentukan. Nah,…
Bagaimana Membuat Perasaan Membara?
Kuncinya berimajinasi sedemikian rupa, sampai apa yang kita ingin wujudkan sudah terwujud. Guru ABC saya, Pak Haji Izaideen selalu mengatakan pada saya: If you can hold it in your heart, you can have it in your hand… Mantap, bok! Jadi, berimajinasilah… berimajinasilah…
Pertama kali saya belajar Imajinasi Impian adalah saat saya mengikuti pelatihan di Melbourne, Australia, sekitar tahun 1994. Sekarang saya tahu bahwa pelatihan yang saya ikuti tersebut adalah terapan NLP yang sangat luar biasa. Belum pernah ada lagi pelatihan seperti itu. Karena berupa praktek nyata. Saat itu, kami dibawa ke sebuah lahan kosong di puncak gunung, milik seorang Business Leader terkenal dan kaya raya di Melbourne.
Michael Artusa, demikian namanya, menjelaskan, menggambarkan, menyajikan, mengimajinasikan, ke kami para peserta dari Indonesia (salah satunya adalah Erbe Sentanu yang saya kenal dengan nama Mas Nunu), dengan sangat jelas dan sangat antusias akan rumah yang ingin dia bangun. Begitu hebatnya, sehingga tanah kosong itu seperti ada rumah betulan he he he… Artinya dalam NLP, beliau melibatkan semua alat indra (VAKOG) untuk melukiskan rumah impiannya…
Sebelnya lagi, sampai saat ini, di benak saya, rumah imajinasi itu masih menempel dengan sangat kuat hi hi… Saya sungguh sangat terkagum-kagum dengan pengalaman ini. Dalam hati saya terbangun sebuah keyakinan yang SANGAT BESAR. Saya akan kembali ke Indonesia dan membangun impian saya…
Ternyata dengan terus mengulangi imajinasi sebuah impian, akan berdampak BURNING DESIRE atau keinginan yang membara!!! Nah,…
Bagaimana Melatih Imajinasi untuk Sebuah Impian?
Mari kita mulai dengan sebuah ide yang Anda ingin wujudkan. Ini yang biasa saya lakukan:
1. Saya biasanya berimajinasi impian saya pada malam hari sebelum tidur, yang kadang bisa berdampak semangat yang membara, sehingga kita bisa tetap terjaga.
Seperti yang saya alami saat menulis artikel ini. Pada malam tadi (2 April 2009), saya hampir tidak tidur, imajinasi dalam benak saya terus muncul, yakni: Saya memotivasi di hadapan 10.000 peserta.
Begitu semangatnya, akhirnya terpaksa saya salurkan energinya dengan menulis artikel dan melukis, terbuatlah artikel ini dan sebuah lukisan yang saya beri nama PROGRESS.
2. Buatlah Imajinasi impian Anda sejelas mungkin, sedetail mungkin, warna-warni, ada suara-suara, bisa dirasakan, bisa “disentuh”, bisa dihirup, bisa dijilat, persis ada “nyata” di depan Anda. Libatkan semua VAKOG Anda.
Pokoknya berimajinasilah seperti “orang gila” yang sangat percaya bahwa yang dibayangkannya adalah NYATA…
3. Sering-seringlah putar film imajinasi impian Anda ini, semakin sering semakin baik. Semakin gila perasaan yang muncul, semakin baik. Pengalaman saya, bahkan sangat sering saat tidurpun saya bermimpi imajinasi tersebut.
Terus lakukan langkah-langkah sederhana tersebut di atas, sampai muncul perasaan yang membara dalam diri Anda untuk mewujudkannya. Saat perasaan yang kuat tersebut muncul, kakipun akan sangat mudah untuk melangkah, bahkan berlari untuk mewujudkan impian ini menjadi nyata. Otakpun akan terbuka untuk mencari ide solusi, jalan keluar, metode yang praktis dan sebagainya…
Demikian pengalaman sharing ini, semoga berhikmah untuk Anda semua. Tulisan bisa saja belum lengkap, karena saya menulis jam 3-4 dini hari. Mungkin saja ada yang terlupa dengan pengalaman lainnya, jika ada tambahan, akan saya tambahkan lagi…
Saya kok sangat yakin ya dengan kalimat ini:
“Imagination is more important than knowlegde”
Maaf, saya lupa siapa yang mengatakan ini.
Jakarta, 2 April 2009
By : Krishnamurti - Mindset Motivator
Wednesday, April 1, 2009
Belajarlah Untuk Malu, Sebelum Dipermalukan
Kita saat ini berada di sebuah zaman oleh banyak orang bilang zaman edan.Bahkan sampai bisa dikatakan manusia lebih sesat daripada binatang. Seorang anak membunuh Ibunya, Seorang Ibu yang dengan tega membunuh anaknya walau masih dalam kandungan (Aborsi).Seorang bapak memperkosa Anaknya, Aurat dipertontonkan dengan menggunakan kecanggihan teknolgi.Harga diri dijual dijadikan ajang komoditi, perempuan rela telanjang di depan umum demi seni body painting, suami istri melakukan perselingkuhan dengan bangganya, dan lain sebagainya.Rasa Malu sebenarnya merupakan bagian dari iman.Dengan rasa malu tidak akan mendatangakan kecuali kebaikan.
Malu adalah suatu kondisi di mana kita merasa bersalah jika melakukan suatu perbuatan. Karena itu di dalam bahasa Inggris ‘ashamed’ atau malu diartikan dengan ‘troubled by guilty feeling,’ atau merasa terganggu oleh adanya rasa bersalah. Harapannya, rasa malu ini bisa jadi pagar pengaman dari nafsu binatang kita yang kadang liar dan sulit terkendali. Bagaimana rasa bersalah bisa muncul, ini tentunya didasarkan atas beberapa kemungkinan. Sebagaimana dalam ilmu sosial-keagamaan, dalam proses mencari kebenaran kita bisa menyandarkan pada beberapa ukuran. Pertama, didasarkan atas kebenaran yang dipahami sendiri. Kedua, kebenaran yang diyakini oleh orang banyak. Jika dianalogikan, maka rasa malu bisa tercipta, Pertama, atas dasar pemahaman diri sendiri tentang perasaan bersalah. Kedua, berdasarkan keyakinan suatu masyarakat dalam lokal budaya tertentu. Ini biasanya disebut dengan moral. Ketiga, lahir dari pemahaman atas doktrin ketuhanan.
Bila seorang tidak mampunyai rasa malu , ia akan menjadi keras dan berjalan mengikuti kehendak hawa nafsunya. Tak peduli apakah yang harus menjadi korban adalah mereka yang tak berdosa. Ia rampas harta dari tangan-tangan mereka yang fakir tanpa belas kasihan, hatinya tidak tersentuh oleh kepedihan orang-orang lemah yang menderita. Matanya gelap, pandangannya ganas. Ia tidak tahu kecuali apa yang memuaskan hawa nafsunya. Bila seorang sampai ke tingkat prilaku seperti ini, maka telah terkelupas darinya fitrah agama dan terkikis habis jiwa
Sudah saatnya malu menjadi budaya yang harus selalu dijaga dan dipelihara, baik oleh individu, kelompok, terlebih bangsa ini. Kita sadari betapa tidak berhentinya petaka, bencana, yang melanda bangsa ini mungkin salah satunya diakibatkan oleh hilangnya rasa malu.ketika pejabat malu berkorupsi, eorang pengusaha merasa malu jika terlambat memberi upah pada karyawannya, Artis Malu Memamerkan Aurat, Kita malu mengumbar kata-kata kotor maka yang terjadi adalah pembentukan budaya malu yang akan memajukan bangsa ini.
Kenapa memiliki rasa malu itu penting dan harus dibudayakan. Karena dengan rasa malu kita tidak akan lagi menyaksikan tindakan amoral dan kekerasan yang meresahkan masyarakat banyak. Orang-orang akan berkompetisi untuk bersikap sosial yang baik dan mengubur tindakan amoral dengan rapi. Karena itu hal ini perlu dibudayakan. Sebagaimana yang kita ketahui, salah satu pengertian budaya adalah tingkat mutu ekspresi manusia. Dalam perihal mencari penghidupan misalnya, kualitas budaya beberapa orang pejabat dapat dilihat melalui pola ekspresi atau cara bagaimana mereka mendapatkan penghidupan.
Sebenarnya sebagian bangsa Indonesia secara sadar menyatakan bahwa “malu” merupakan bagian dari budaya bangsa. Berbagai pernyataan dan tulisan di media telah membahas hal tersebut. Namun kiranya kurang arif manakala hanya karena ulah dari suatu pihak atau kelompok “yang tidak tahu malu”, kemudian dikaitkan dengan budaya bangsa secara keseluruhan. Faktor budaya adalah asset bangsa, maka perlu kearifan dalam memahami masalah ini.
Saat kapan untuk menunjukkan rasa malu bagi masing-masing individu adalah sangat relatif tergantung kepada pribadi, waktu, tempat serta konteks permasalahan yang dihadapi oleh orang per orang. Untuk membangun “budaya malu”, fungsi agama dan lembaga pendidikan adalah sangat penting dan ikut menentukan. Apabila sampai pada keadaan bahwa orang sudah tidak punya malu, maka misi agama dan lembaga pendidikan dianggap gagal.
Dekandensi moral sudah sedemikian meluas, dan menghilangnya budaya malu, dan berganti menjadi budaya Malu-maluin. Sebagai contoh adanya kebebasan seksual pada generasi muda saat ini, Budaya malu harus kembali dikampanyekan. Malu memperlihatkan aurat, malu mengambil hak yang bukan hak pribadinya, malu dan malu. "Jadi orang harus diajak untuk memiliki malu kalau melakukan penyimpangan pada bidangnya. Budaya malu adalah benteng terakhir untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang melanggar moral, etika, norma dan hukum.
Pada esensinya, kondisi masyarakat sudah banyak berubah hingga hari ini, baik di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Namun segenap perubahan itu masih saja menyisakan sisi gelap yang pada akhirnya kurang memberi manfaat dan merugikan sebagian dari masyarakat.Karena itu yang perlu ditanamkan sebagai landasan untuk melakukan perubahan adalah budaya malu.Bila budaya malu sudah tertanam maka tatanan kehidupan masyarakat akan beranjak pada budaya kerja. Pada tahap yang paling tinggi, segenap kehidupan masyarakat akan terikat oleh budaya mutu. Pada tahap inilah yang namanya kemakmuran dan kesejahteraan hidup bersama akan bisa terwujud. Rasa malu itu yang kini luntur dalam warna kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak hal.
Maka Sudahkah anda malu..? Atau Anda termakdsud orang yang malu-maluin. Segenap saran dan kritik dapat dikirim langsung ke Erwinarianto@ gmail.com. Budaya malu harus dijadikan suatu mekanisme kendali diri sendiri bagi bangsa ini.
"Belajarlah Untuk Malu, Sebelum Dipermalukan"
--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
Malu adalah suatu kondisi di mana kita merasa bersalah jika melakukan suatu perbuatan. Karena itu di dalam bahasa Inggris ‘ashamed’ atau malu diartikan dengan ‘troubled by guilty feeling,’ atau merasa terganggu oleh adanya rasa bersalah. Harapannya, rasa malu ini bisa jadi pagar pengaman dari nafsu binatang kita yang kadang liar dan sulit terkendali. Bagaimana rasa bersalah bisa muncul, ini tentunya didasarkan atas beberapa kemungkinan. Sebagaimana dalam ilmu sosial-keagamaan, dalam proses mencari kebenaran kita bisa menyandarkan pada beberapa ukuran. Pertama, didasarkan atas kebenaran yang dipahami sendiri. Kedua, kebenaran yang diyakini oleh orang banyak. Jika dianalogikan, maka rasa malu bisa tercipta, Pertama, atas dasar pemahaman diri sendiri tentang perasaan bersalah. Kedua, berdasarkan keyakinan suatu masyarakat dalam lokal budaya tertentu. Ini biasanya disebut dengan moral. Ketiga, lahir dari pemahaman atas doktrin ketuhanan.
Bila seorang tidak mampunyai rasa malu , ia akan menjadi keras dan berjalan mengikuti kehendak hawa nafsunya. Tak peduli apakah yang harus menjadi korban adalah mereka yang tak berdosa. Ia rampas harta dari tangan-tangan mereka yang fakir tanpa belas kasihan, hatinya tidak tersentuh oleh kepedihan orang-orang lemah yang menderita. Matanya gelap, pandangannya ganas. Ia tidak tahu kecuali apa yang memuaskan hawa nafsunya. Bila seorang sampai ke tingkat prilaku seperti ini, maka telah terkelupas darinya fitrah agama dan terkikis habis jiwa
Sudah saatnya malu menjadi budaya yang harus selalu dijaga dan dipelihara, baik oleh individu, kelompok, terlebih bangsa ini. Kita sadari betapa tidak berhentinya petaka, bencana, yang melanda bangsa ini mungkin salah satunya diakibatkan oleh hilangnya rasa malu.ketika pejabat malu berkorupsi, eorang pengusaha merasa malu jika terlambat memberi upah pada karyawannya, Artis Malu Memamerkan Aurat, Kita malu mengumbar kata-kata kotor maka yang terjadi adalah pembentukan budaya malu yang akan memajukan bangsa ini.
Kenapa memiliki rasa malu itu penting dan harus dibudayakan. Karena dengan rasa malu kita tidak akan lagi menyaksikan tindakan amoral dan kekerasan yang meresahkan masyarakat banyak. Orang-orang akan berkompetisi untuk bersikap sosial yang baik dan mengubur tindakan amoral dengan rapi. Karena itu hal ini perlu dibudayakan. Sebagaimana yang kita ketahui, salah satu pengertian budaya adalah tingkat mutu ekspresi manusia. Dalam perihal mencari penghidupan misalnya, kualitas budaya beberapa orang pejabat dapat dilihat melalui pola ekspresi atau cara bagaimana mereka mendapatkan penghidupan.
Sebenarnya sebagian bangsa Indonesia secara sadar menyatakan bahwa “malu” merupakan bagian dari budaya bangsa. Berbagai pernyataan dan tulisan di media telah membahas hal tersebut. Namun kiranya kurang arif manakala hanya karena ulah dari suatu pihak atau kelompok “yang tidak tahu malu”, kemudian dikaitkan dengan budaya bangsa secara keseluruhan. Faktor budaya adalah asset bangsa, maka perlu kearifan dalam memahami masalah ini.
Saat kapan untuk menunjukkan rasa malu bagi masing-masing individu adalah sangat relatif tergantung kepada pribadi, waktu, tempat serta konteks permasalahan yang dihadapi oleh orang per orang. Untuk membangun “budaya malu”, fungsi agama dan lembaga pendidikan adalah sangat penting dan ikut menentukan. Apabila sampai pada keadaan bahwa orang sudah tidak punya malu, maka misi agama dan lembaga pendidikan dianggap gagal.
Dekandensi moral sudah sedemikian meluas, dan menghilangnya budaya malu, dan berganti menjadi budaya Malu-maluin. Sebagai contoh adanya kebebasan seksual pada generasi muda saat ini, Budaya malu harus kembali dikampanyekan. Malu memperlihatkan aurat, malu mengambil hak yang bukan hak pribadinya, malu dan malu. "Jadi orang harus diajak untuk memiliki malu kalau melakukan penyimpangan pada bidangnya. Budaya malu adalah benteng terakhir untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang melanggar moral, etika, norma dan hukum.
Pada esensinya, kondisi masyarakat sudah banyak berubah hingga hari ini, baik di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Namun segenap perubahan itu masih saja menyisakan sisi gelap yang pada akhirnya kurang memberi manfaat dan merugikan sebagian dari masyarakat.Karena itu yang perlu ditanamkan sebagai landasan untuk melakukan perubahan adalah budaya malu.Bila budaya malu sudah tertanam maka tatanan kehidupan masyarakat akan beranjak pada budaya kerja. Pada tahap yang paling tinggi, segenap kehidupan masyarakat akan terikat oleh budaya mutu. Pada tahap inilah yang namanya kemakmuran dan kesejahteraan hidup bersama akan bisa terwujud. Rasa malu itu yang kini luntur dalam warna kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak hal.
Maka Sudahkah anda malu..? Atau Anda termakdsud orang yang malu-maluin. Segenap saran dan kritik dapat dikirim langsung ke Erwinarianto@ gmail.com. Budaya malu harus dijadikan suatu mekanisme kendali diri sendiri bagi bangsa ini.
"Belajarlah Untuk Malu, Sebelum Dipermalukan"
--
Best Regard
Erwin Arianto,SE
Kampanye & Pemilu Tidak Bermanfaat Bagi Rakyat kecil
Ih Kesel Kampanye bikin macet aja, apa lagi jalanan ibukota yang sudah padat kampanye hanya memperparah jalanan ibu kota, Kampanye adalah sebuah tindakan yang bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan, usaha kampanye bisa dilakukan oleh peorangan atau sekelompok orang yang terorganisir untuk mengais simpati, atau bisa juga di gunakan untuk menolak suatu hal.Sebenarnya apa sih manfaat kampanye bagi rakyat? Rakyat tidak mendapat hasil apa-apa dari kampanye, walau banyak yang ikut kampanye tidak akan mendapat apa-apa meskipun partai yang mereka bela habis-habisan bisa menang mutlak, kadang harus mempertaruhkan nyawa mereka untuk terlibat kontak fisik dengan simpatisan partai lain.
Kampanye Saat ini umumnya dilakukan dengan slogan, pembicaraan, barang cetakan, penyiaran barang rekaman berbentuk gambar atau suara, simbol-simbol, pada sistim politik otoriter kampanye sering bisa dilakukan kedalam bentuk tindakan intimidasi, propaganda atau dakwah.Bentuk kampanye di Indonesia ini tergolong sebagai bentuk kampanye secara konversional yang hanya lebih mengarah pada Indoktrinasi atau Pencitraan individu atau golongan. Model kampanye konvensional selain rawan gesekan juga terkadang menimbulkan swinging voter di masyarakat.
Tidak jauh beda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu dan kampanye yang sekarang juga penuh dengan hura-hura. Di setiap kampanye, terutama di kota besar pasti di sediakan acara konser gratis, entah itu konser dangdut atau konser rock. Bahkan untuk para partisan pun disediakan souvenir gratis yang biasanya berupa kaos parpol, bahkan mungkin lebih dari sekedar kaos, dan tidak lupa titipan agar mencontreng parpol yang bersangkutan bila saatnya tiba. hal tersebut dapat dibaca sebagai belum berubahnya paradigma pada petinggi partai, dan hal ini sangat menghawatirkan karena selepas kampanye, siapa yang duduk di DPR atau DPRD pasti akan mencari cara agar "investasinya" dapat menghasilkan kembali uang yang telah di keluarkan, dan berarti korupsi tidak akan bisa berhenti malah akan bertambah parah.
Coba anda fikirkan apakah kampanye model hura-hura seperti ini akan berhasil? Atau hanya membuang uang secara percuma? Mungkin ada baiknya dana kampanye yang mencapai puluhan milyar rupiah tersebut di kumpulkan untuk keperluan yang lebih mulia, misalnya memperbaiki gedung sekolah yang sudah rusak, menambah buku-buku di perpustakaan sekolah, membuat lab komputer, Membantu kesehatan masyarakat desa, membangun sumber air untuk daerah yang kekeringan, dan masih banyak lagi.Dari pada sekedar menghadirkan artis dangdut untuk bergoyang erotis di depan masa dari segala usia yang hnaya menampilkan aurat yang terbuka, malah membuat dosa secara masal..Ingat Masyarakat sekarang tidaklah bodoh dan tidak mudah untuk di bodohi.
Kampanye para caleg, meski lewat poster, baliho, bendera partai, stiker, atau spanduk sebatas ”kecap”, membuat opini agar dirinya yang terbaik, terpeduli pada wong cilik, serta memikirkan rakyat. Mereka menggunakan kata-kata: Peduli wong cilik, berjuang untuk rakyat, bersih, teruji, profesional, dll. Mereka belum berani menampilkan program yang nyata dan mencantumkan alamat jelas atau no telepon/HP yang bisa dihubungi! Inikah sikap para calon legislatif kita? Inikah sikap para caleg yang nantinya akan mewakili rakyat?Dengan kata lain, belum jadi anggota Dewan saja tidak mau berbuat jujur. Apalagi setelah duduk di kursi Dewan! yang ada korupsi lagi-lagi korupsi.
Dan ujung-ujungnya rakyat juga yang diminta menanggung beban yang besar, Anda harus ingat ketika Harga BBM meningkat, Saat Biaya Tol dinaikan, Kunjungan pelesiran Anggota DPR keluar Negeri, dan Untuk tidak terjebak eforia ingatlah keburukan-keburukan para anggota Legislatif yang katanya wakil rakyat ketika rakyat kesusahan mereka hanya hilang tak membantu, Saat ini saat kampanye Kita rakyat Indonesia saatnya menjadi Sombong karena mereka butuh kita, Jangan jual murah suara anda, karena semua yang dilakukan para Caleg & partai saat kampanye hanyalah sebuah kosmetik yang semu, seperti DPR saat ini yang telah terlihat belangnya, begitu juga para caleg saat ini, jangan mau tertipu kembali.
Jadi bermanfaatkah kampanye bagi rakyat, yang ada cuma pembodohan kembali bagi rakyat kecil, pandai-pandailah kita memilih. Pilihlah yang memang layak dipilih. tidak perlu silau dengan besar dan lamanya kampanye di media. Tidak perlu terbujuk oleh klaim dan pengakuan-pengakuan sepihak yang mengatakan akan membawa perubahan. Ingatlah, ke Bobrokan Anggota dewan yang mengaku terhormat, eh tersengkut kasus korupsi, pelecehan seksual, atau aksi provokasi lainya, ujungnya anggota DPR tidak terhormat malah jadi terhujat. Memilih atau tidak memilih adalah hak kita sebagai warga negera. kalau kita memutuskan untuk tidak memilih, ikuti kata Nurani anda, bila anda tidak memilih itu juga adalah sebuah Pilihan. jangan termakan bujuk rayu, karena Politik itu adalah busuk dan Munafik. Ingat apakah Kampanye dan Pemilu Bermanfaat Kepada Kita temukan jawabanya di Hati dan Logika Anda.
Semoga Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 bisa terwujud di negeri kita tercinta indonesia ini dan semoga masyarakat lebih bisa memilih pemimpin-pemimpin yang berpihak kepada rakyat.
Depok 26 Maret 2009
Erwin Arianto
http://erwin-informasi. blogspot. com
Kampanye Saat ini umumnya dilakukan dengan slogan, pembicaraan, barang cetakan, penyiaran barang rekaman berbentuk gambar atau suara, simbol-simbol, pada sistim politik otoriter kampanye sering bisa dilakukan kedalam bentuk tindakan intimidasi, propaganda atau dakwah.Bentuk kampanye di Indonesia ini tergolong sebagai bentuk kampanye secara konversional yang hanya lebih mengarah pada Indoktrinasi atau Pencitraan individu atau golongan. Model kampanye konvensional selain rawan gesekan juga terkadang menimbulkan swinging voter di masyarakat.
Tidak jauh beda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu dan kampanye yang sekarang juga penuh dengan hura-hura. Di setiap kampanye, terutama di kota besar pasti di sediakan acara konser gratis, entah itu konser dangdut atau konser rock. Bahkan untuk para partisan pun disediakan souvenir gratis yang biasanya berupa kaos parpol, bahkan mungkin lebih dari sekedar kaos, dan tidak lupa titipan agar mencontreng parpol yang bersangkutan bila saatnya tiba. hal tersebut dapat dibaca sebagai belum berubahnya paradigma pada petinggi partai, dan hal ini sangat menghawatirkan karena selepas kampanye, siapa yang duduk di DPR atau DPRD pasti akan mencari cara agar "investasinya" dapat menghasilkan kembali uang yang telah di keluarkan, dan berarti korupsi tidak akan bisa berhenti malah akan bertambah parah.
Coba anda fikirkan apakah kampanye model hura-hura seperti ini akan berhasil? Atau hanya membuang uang secara percuma? Mungkin ada baiknya dana kampanye yang mencapai puluhan milyar rupiah tersebut di kumpulkan untuk keperluan yang lebih mulia, misalnya memperbaiki gedung sekolah yang sudah rusak, menambah buku-buku di perpustakaan sekolah, membuat lab komputer, Membantu kesehatan masyarakat desa, membangun sumber air untuk daerah yang kekeringan, dan masih banyak lagi.Dari pada sekedar menghadirkan artis dangdut untuk bergoyang erotis di depan masa dari segala usia yang hnaya menampilkan aurat yang terbuka, malah membuat dosa secara masal..Ingat Masyarakat sekarang tidaklah bodoh dan tidak mudah untuk di bodohi.
Kampanye para caleg, meski lewat poster, baliho, bendera partai, stiker, atau spanduk sebatas ”kecap”, membuat opini agar dirinya yang terbaik, terpeduli pada wong cilik, serta memikirkan rakyat. Mereka menggunakan kata-kata: Peduli wong cilik, berjuang untuk rakyat, bersih, teruji, profesional, dll. Mereka belum berani menampilkan program yang nyata dan mencantumkan alamat jelas atau no telepon/HP yang bisa dihubungi! Inikah sikap para calon legislatif kita? Inikah sikap para caleg yang nantinya akan mewakili rakyat?Dengan kata lain, belum jadi anggota Dewan saja tidak mau berbuat jujur. Apalagi setelah duduk di kursi Dewan! yang ada korupsi lagi-lagi korupsi.
Dan ujung-ujungnya rakyat juga yang diminta menanggung beban yang besar, Anda harus ingat ketika Harga BBM meningkat, Saat Biaya Tol dinaikan, Kunjungan pelesiran Anggota DPR keluar Negeri, dan Untuk tidak terjebak eforia ingatlah keburukan-keburukan para anggota Legislatif yang katanya wakil rakyat ketika rakyat kesusahan mereka hanya hilang tak membantu, Saat ini saat kampanye Kita rakyat Indonesia saatnya menjadi Sombong karena mereka butuh kita, Jangan jual murah suara anda, karena semua yang dilakukan para Caleg & partai saat kampanye hanyalah sebuah kosmetik yang semu, seperti DPR saat ini yang telah terlihat belangnya, begitu juga para caleg saat ini, jangan mau tertipu kembali.
Jadi bermanfaatkah kampanye bagi rakyat, yang ada cuma pembodohan kembali bagi rakyat kecil, pandai-pandailah kita memilih. Pilihlah yang memang layak dipilih. tidak perlu silau dengan besar dan lamanya kampanye di media. Tidak perlu terbujuk oleh klaim dan pengakuan-pengakuan sepihak yang mengatakan akan membawa perubahan. Ingatlah, ke Bobrokan Anggota dewan yang mengaku terhormat, eh tersengkut kasus korupsi, pelecehan seksual, atau aksi provokasi lainya, ujungnya anggota DPR tidak terhormat malah jadi terhujat. Memilih atau tidak memilih adalah hak kita sebagai warga negera. kalau kita memutuskan untuk tidak memilih, ikuti kata Nurani anda, bila anda tidak memilih itu juga adalah sebuah Pilihan. jangan termakan bujuk rayu, karena Politik itu adalah busuk dan Munafik. Ingat apakah Kampanye dan Pemilu Bermanfaat Kepada Kita temukan jawabanya di Hati dan Logika Anda.
Semoga Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 bisa terwujud di negeri kita tercinta indonesia ini dan semoga masyarakat lebih bisa memilih pemimpin-pemimpin yang berpihak kepada rakyat.
Depok 26 Maret 2009
Erwin Arianto
http://erwin-informasi. blogspot. com
Tuesday, March 10, 2009
Leading by Example
Pada suatu hari, Konfusius, seorang filsuf yang terkenal, menempuh perjalanan jauh menyeberangi padang gurun bersama beberapa muridnya. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari akhimya persediaan air minum habis, mereka semua berjalan dengan lemah dan gontai. Suatu ketika salah seorang dari muridnya menemukan ceruk kecil dibawah batu-batuan yang berisi genangan air yang dangkal. Dengan segera ia mengambil mangkuk nasinya dan dengan susah payah hanya mampu menyedok sebanyak setengah dari isi mangkuk itu. Ia kemudian mengantarkan semangkuk air itu kepada gurunya.
Ketika Konfusius baru menempelkan mangkuk itu ke bibimya, ia merasa semua mata muridnya memandangnya. Ia tidak jadi meminum isi mangkuk itu, malahan menuangnya ke pasir gurun yang panas sambil berkata, "Air ini terlalu sedikit untuk kita semua dan terlalu banyak untuk satu orang saja. Mari kita lanjutkan perjalanan ini. "
Sebagai seorang pemimpin, Konfusius tidak mampu meminum air itu sendirian dan membiarkan muridnya sengsara. Ia tidak merasa dirinya lebih tinggi dari para muridnya dan inilah contoh dari seorang pemimpin sejati. Hari itu Konfusius belum mampu menghilangkan dahaga pasukannya namun ia memberikan sesuatu yang jauh lebih berarti kepada pasukannya, yaitu arti dari sebuah kepemimpinan sejati.
By Darmadi Darmawangsa "Champion"
Ketika Konfusius baru menempelkan mangkuk itu ke bibimya, ia merasa semua mata muridnya memandangnya. Ia tidak jadi meminum isi mangkuk itu, malahan menuangnya ke pasir gurun yang panas sambil berkata, "Air ini terlalu sedikit untuk kita semua dan terlalu banyak untuk satu orang saja. Mari kita lanjutkan perjalanan ini. "
Sebagai seorang pemimpin, Konfusius tidak mampu meminum air itu sendirian dan membiarkan muridnya sengsara. Ia tidak merasa dirinya lebih tinggi dari para muridnya dan inilah contoh dari seorang pemimpin sejati. Hari itu Konfusius belum mampu menghilangkan dahaga pasukannya namun ia memberikan sesuatu yang jauh lebih berarti kepada pasukannya, yaitu arti dari sebuah kepemimpinan sejati.
By Darmadi Darmawangsa "Champion"
Wednesday, March 4, 2009
Gadis Cantik Atau Kupu Kupu & Bunga
Monday, December 29, 2008
Leadership
A Leader takes people where
they want to go.
The great Leader takes people where they
don't neccessarily want to go,
but ought to be.
(Rosalynn Carter)
they want to go.
The great Leader takes people where they
don't neccessarily want to go,
but ought to be.
(Rosalynn Carter)
Leadership
A Leader is anyone who
has two characteristics :
First, he is going somewhere;
second he is able to persuade
other people to go with him.
has two characteristics :
First, he is going somewhere;
second he is able to persuade
other people to go with him.
Monday, November 12, 2007
Leadership
A great leader never set himself
above his followers except in
carrying responsibility
Jules Ormont
above his followers except in
carrying responsibility
Jules Ormont
Leadership
True leadership must be
for the benefit of the followers,
not the enrichment of the leaders.
Anonim
for the benefit of the followers,
not the enrichment of the leaders.
Anonim
Leadership
The ultimate leader is one
who is willing to develop
people to the point that
they eventually surpass him
or her in knowledge and ability
Fred A Manske, Jr.
who is willing to develop
people to the point that
they eventually surpass him
or her in knowledge and ability
Fred A Manske, Jr.
Leadership
The Art of getting some else
to do something you want done
because he wants to do it.
Dwight Eisenhower
to do something you want done
because he wants to do it.
Dwight Eisenhower
Leadership
If a leader demonstrate competency,
genuine concern for others,
and admirable character,
people will follow
T. Richard Chase
genuine concern for others,
and admirable character,
people will follow
T. Richard Chase
Leadership
A Leader takes people where
they want to go. Agreat leader
takes people where they
don't neccessarily want to go,
but ought to be.
(Rosalynn Carter)
they want to go. Agreat leader
takes people where they
don't neccessarily want to go,
but ought to be.
(Rosalynn Carter)
Leadership
A Leader is anyone who
has two characteristics :
first, he/she is going somewhere;
second, he/she is able to persuade
other people to go with him
has two characteristics :
first, he/she is going somewhere;
second, he/she is able to persuade
other people to go with him
Subscribe to:
Posts (Atom)
Liquid Culture
Sedang senang senangnya coba coba buat liquid culture untuk Jamur Tiram, so far so gud, besok tinggal fase test apakah liquid culture yang ...
-
K ita saat ini berada di sebuah zaman oleh banyak orang bilang zaman edan.Bahkan sampai bisa dikatakan manusia lebih sesat daripada binatang...
