Monday, June 21, 2010

Orang Miskin Selalu Jadi Tumbal

Minggu lalu, pemerintah dan DPR sepakat untuk tidak menaikkan tarif listrik bagi kelompok pelanggan 450-900 volt ampere. Kelompok pelanggan di atas 900 VA akan dikenai kenaikan secara proporsional 6 persen hingga 20 persen atau rata-rata 10 persen mulai 1 Juli 2010 (Kompas, 16 Juni 2010).


Kenaikan sebesar rata-rata 10 persen harus diberlakukan agar tidak melanggar Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2010 tentang APBN Perubahan 2010 yang mematok subsidi listrik sebesar Rp 55,1 triliun.

Tanpa kenaikan tarif, subsidi diperkirakan bakal bertambah sebesar Rp 4,8 triliun. Walau demikian, boleh jadi realisasi subsidi tetap akan terlampaui mengingat pertumbuhan konsumsi listrik kelompok pelanggan 450-900 VA lebih tinggi dari rata-rata konsumsi listrik keseluruhan.

Sebagian besar kelompok pelanggan 450-900 VA adalah rumah tangga. Kelompok ini menyerap lebih dari 40 persen subsidi listrik.

Kesepakatan antara pemerintah dan DPR tersebut terkesan heroik. Kenyataan tidak demikian karena justru merugikan sebagian besar penduduk miskin.

Hampir dua pertiga penduduk miskin tinggal di pedesaan, sedangkan nisbah elektrifikasi (electrification ratio) di pedesaan tidak sampai 20 persen. Dengan demikian, hampir semua penduduk miskin belum menikmati penerangan listrik PLN.

Beberapa desa terpencil bisa memperoleh penerangan listrik berkat usaha kelompok masyarakat atau nonkonvensional lainnya—bahkan dengan menggunakan energi terbarukan—walau mereka harus membayar jauh lebih mahal daripada tarif PLN. Mereka bukan penikmat subsidi yang digembar-gemborkan oleh wakil-wakil mereka di DPR.

Rakyat miskin di pedesaan akan semakin lama dalam kegelapan jika yang diutik-utik hanya sebatas subsidi. Harus segera ada kebijakan nasional yang betul-betul memihak rakyat banyak, yang betul-betul menyentuh rakyat miskin.

Seandainya separuh saja dari subsidi betul-betul diperuntukkan bagi rakyat miskin, hampir seluruh desa akan terang benderang dalam kurun tidak sampai 10 tahun.

Syarat utama agar harapan mulia tersebut terwujud adalah menyehatkan PLN sebagai entitas korporasi. Kapasitas PLN tak akan meningkat secara berarti kalau terus merugi dengan menjual listrik jauh di bawah ongkos pokok produksi.

Di lain pihak, porsi pembiayaan dari APBN (proyek listrik pedesaan dan porsi rupiah dalam proyek pembangkit dan transmisi) kian mengecil, hanya Rp 2 triliun setahun. Sementara itu, kemampuan PLN untuk meraup dana pinjaman (covenant) juga sangat kecil karena posisi keuangannya sangat tidak sehat.

Untuk sementara waktu, penguatan PLN merupakan alternatif terbaik. Pembangkit swasta sebagai pelengkap saja, terutama yang menggunakan energi primer murah dan atau terbarukan. Untuk itu, pemerintah selayaknya memberikan insentif.

Kedua, kebijakan kelistrikan nasional harus memiliki arah yang jelas dengan target terukur. Misalnya, dalam lima tahun PLN diwajibkan untuk menekan ongkos pokok produksi per kWh, tetapi diberikan keleluasaan untuk menaikkan tarif dengan tingkat tertentu.

DPR bisa berperan lebih aktif untuk mempercepat penyehatan PLN. Mengingat sumber utama inefisiensi PLN adalah pembelian bahan bakar, DPR bisa ”memaksa” pemerintah untuk segera menuntaskan segala permasalahan yang menghambat PLN menggunakan energi primer yang lebih murah sesegera mungkin.

Contoh paling nyata adalah tertunda-tundanya pasokan gas ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Tambak Lorok sehingga mengakibatkan potensi pemborosan sebesar Rp 3 triliun setahun. Angka tersebut tertuang dalam laporan resmi hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. Apakah karena melibatkan kelompok usaha yang dimiliki oleh petinggi partai koalisi lantas DPR diam saja?

Ditambah dengan pembenahan dalam pengadaan dan sumber-sumber inefisiensi lainnya, ongkos pokok produksi bisa ditekan sampai di bawah Rp 900 per kWh, dibandingkan dengan tingkat sekarang yang masih di atas Rp 1.000 per kWh. Dengan begitu, pada masa mendatang kenaikan tarif bisa ditekan serendah mungkin.

Dalam jangka pendek, kiranya DPR dan pemerintah jangan segan-segan menaikkan tarif listrik bagi kelompok pelanggan kaya. Sekalipun tarif kelompok pelanggan di atas 6.600 VA telah mencapai tingkat keekonomian, tak ada salahnya mereka dibebankan kenaikan dengan persentase yang lebih tinggi.

Ini merupakan wujud solidaritas bahwa yang kaya menanggung beban lebih banyak ketimbang yang kurang mampu.

Sudah saatnya meninggalkan cara-cara usang untuk membantu rakyat miskin. Cara paling efektif untuk memberdayakan mereka adalah dengan subsidi langsung atau dengan menerapkan sistem jaminan sosial sesegera mungkin. Bukan dengan berselubung di balik beragam bentuk subsidi yang notabene lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat yang lebih mampu.
Senin, 21 Juni 2010 | 04:16 WIB

Oleh FAISAL BASRI

Friday, May 14, 2010

Susno, Bicaralah !

Akhirnya, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Susno Duadji dijadikan sebagai tersangka dan langsung ditahan terkait dengan praktik mafia hukum dalam penanganan kasus PT Salmah Arwana Lestari di Rumbai, Riau. Susno diduga menerima suap Rp 500 juta.


Tidak banyak yang terkejut dengan status baru yang disandang Susno. Dari jauh hari telah diduga, perubahan status hukum dan penahanan Susno hanya masalah waktu. Bagaimanapun, banyak kalangan percaya, membiarkan Susno melanjutkan sepak terjangnya berpotensi menimbulkan guncangan dahsyat di internal kepolisian. Mulutnya harus dibungkam!

Bahkan, selang beberapa waktu setelah penahanan Susno, dalam sebuah percakapan santai dengan Zainal A Mochtar, Direktur Pusat Kajian Anti-korupsi Fakultas Hukum UGM ini mengemukakan rumusan yang amat sederhana: jika yang dijadikan tersangka dan ditahan adalah bintang tiga, maka yang dilindungi sesungguhnya adalah elite dengan bintang tiga ke atas. Meskipun rumusan ”sederhana” itu masih memerlukan pembuktian lebih lanjut, melihat dampak yang mungkin ditimbulkan oleh ”informasi” yang dimiliki Susno, pendapat Zainal Mochtar bisa mendekati kebenaran.

Anehnya, penahanan dan pemberian status tersangka kepada Susno didasarkan keterangan saksi, antara lain Sjahril Djohan, pengacara Haposan Hutagalung, dan Ajun Komisaris Besar Syamsu Rizal (Kompas, 11/5). Padahal, di antara pemberi keterangan itu ada tersangka dalam skandal mafia pajak yang melibatkan Gayus HP Tambunan, bekas pegawai golongan III A Direktorat Jenderal Pajak.

Membungkam Susno

Sulit dibantah, dalam kurun hampir satu tahun terakhir, Susno menjadi sosok sentral yang kontroversial dalam rimba penegakan hukum di negeri ini. Setidaknya, skandal cicak versus buaya membuka mata banyak orang bahwa Susno tidak peduli dengan tekanan publik bahwa kriminalisasi atas pimpinan KPK, Bibit S Rianto dan Chandra M Hamzah, akan menjadi langkah mundur dalam memberantas korupsi. Namun, setelah diberhentikan sebagai Kepala Bareskrim Polri, keterangan di depan Pansus Century sedikit menyadarkan publik bahwa Susno bukan merupakan lapis pertama pengambil keputusan kriminalisasi atas Bibit-Chandra.

Seperti ingin menebus ”dosa” dalam skandal kriminalisasi atas Bibit-Chandra, Susno mulai memberikan keterangan yang mengagetkan banyak orang, di antaranya pengakuan Susno tentang praktik mafia hukum di lingkungan Mabes Polri. Pengakuan Susno itu menimbulkan guncangan hebat di Mabes Polri yang merambat begitu cepat terutama setelah Susno menyebut skandal pajak yang melibatkan Gayus HP Tambunan. Tidak berhenti sampai di situ, Susno mengemukakan sejumlah nama yang disebutnya sudah malang melintang menjadi makelar kasus di Mabes Polri. Misalnya, nama Sjahril Djohan tidak akan dikenal secara luas sekiranya Susno tidak menyebutkan inisial nama tersebut.

Bisa jadi, sejumlah keterangan yang diucapkan Susno berembus kencang sehingga menimbulkan hawa panas di lingkungan Mabes Polri. Bahkan, bukan tidak mungkin udara panasnya mulai menerobos pintu kekuasaan lain. Karena itu, mulut Susno harus dibungkam. Cara yang paling tradisional yang pernah dilakukan adalah memberikan tekanan psikologis kepada Susno. Sebagai bagian dari upaya itu, Susno dijemput paksa di Bandara Soekarno-Hatta ketika hendak berangkat ke luar negeri. Namun, langkah penjemputan paksa tersebut tidak dihitung secara cermat oleh Mabes Polri. Karena itu, tidak hanya gagal memberikan tekanan terhadap Susno, tindakan Mabes Polri itu justru dikecam berbagai kalangan. Sejak kejadian itu, dukungan publik kepada Susno cenderung semakin meluas.

Setelah gagal dengan cara tersebut, Mabes Polri berupa membuka rekam jejak Susno. Ketika pilihan sampai pada pelacakan rekam jejak, hampir dapat dipastikan sulit menemukan seorang petinggi polisi yang tanpa kesalahan sama sekali. Jika ditemukan kesalahan, sesuai dengan Pasal 21 Ayat (1) KUHAP, penahanan terhadap seorang tersangka dapat dilakukan karena diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup.

Sebagai orang yang pernah menduduki jabatan tertinggi di Bareskrim Polri, langkah menahan Susno dapat dikatakan sebagai pilihan yang tidak bijak. Apalagi, dugaan menerima suap Rp 500 juta dalam penanganan kasus PT Salmah Arwana Lestari merupakan kasus yang dicari (-cari) setelah Susno menyuarakan praktik mafia di lingkungan Mabes Polri. Kalaupun ada bukti yang cukup, status tersangka rasanya sudah cukup diberikan kepada Susno. Mengapa harus ditahan?

Mungkin dikhawatirkan status hukum tersangka tanpa diikuti penahanan tidak akan mampu membungkam mulut Susno. Sesuai dengan jabatan yang pernah dipegang, membiarkan Susno terus-menerus berbicara kepada publik tidak hanya akan mengancam Mabes Polri dan Ditjen Pajak, tetapi juga berpotensi mengancam pusat kekuasaan yang lain. Sebagai mantan Kepala Bareskrim, Susno pasti punya banyak informasi dan catatan tentang peristiwa yang terjadi selama sekitar dua tahun terakhir, termasuk skandal Bank Century dan kekisruhan di sekitar penyelenggaraan Pemilu 2009, terutama menyangkut daftar pemilih tetap.

Dukungan publik

Ketika skandal mafia pajak terkuak ke publik, Presiden Yudhoyono memerintahkan untuk membongkar semua praktik mafia hukum yang terjadi. Namun, amat disayangkan, perintah itu hanya menjadi respons sesaat Presiden. Padahal, publik ingin mengetahui bagaimana langkah yang dilakukan Presiden, terutama di tempat-tempat yang ada hubungannya dengan pengakuan Susno. Bentuk langkah konkret Presiden yang ditunggu adalah bagaimana mengoptimalkan pengakuan Susno untuk membongkar mafia di lingkungan perpajakan dan kepolisian.

Karena sumber informasi berasal dari Susno, diharapkan Presiden akan memberikan proteksi kepada Susno sepanjang mantan Kepala Bareskrim Polri itu punya keinginan baik untuk mengungkapkan semua informasi yang ia ketahui. Namun, jangankan proteksi, justru Susno yang semakin berada dalam ancaman. Padahal, sekiranya ada keingian amat kuat, pengakuan Susno dapat dijadikan titik awal membongkar kotak pandora praktik mafia hukum di Mabes Polri dan kemungkinan jejaring mafia hukum yang terkait dengan Polri.

Namun, dengan posisi strategis yang pernah dimiliki Susno, harapan Presiden untuk memberikan proteksi kepada Susno terasa terlalu muluk. Sebaliknya, proteksi politik yang dijanjikan DPR (Kompas, 12/5) diharapkan dapat tetap memberi kekuatan kepada Susno untuk mengungkap mafia hukum. Apalagi Susno pernah menyatakan bahwa mati pun ia tidak takut.

Sekiranya Susno mau mengungkapkan semuanya, potensi dukungan publik bisa lebih besar dari apa yang pernah diberikan kepada Bibit-Chandra. Percayalah, sekiranya dukungan publik berhasil diraih, Istana pun tidak akan mampu menghalanginya. Karena itu, ini saatnya Susno bicara untuk membongkar semuanya.
Saldi Isra Guru Besar Hukum Tata Negara dan Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang

Tuesday, March 9, 2010

Sri Mulyani, Bisma, dan Panakawan

Bagaimana menerawang Sri Mulyani Indrawati dari kacamata panakawan?

Misalnya, melalui sudut pandang Gareng yang selalu kritis, tetapi tanpa vested interest apa pun, sejatinya Menteri Keuangan itu wujud nonfiksi tokoh fiksi Dewi Drupadi yang pernah dipermalukan di depan umum, tetapi ditegakan saja oleh Sang Bisma. Bisma adalah tokoh paling berkuasa di wilayah dan saat tragedi itu berlangsung.

Sebaliknya, dengan sudut pandang Bagong yang tampak lugu tetapi berpikiran mendasar, kita tak perlu menghabiskan waktu buat bertanya-tanya. Mbak Ani belum ada apa-apanya dibandingkan dengan Drupadi. Mbak Ani baru disebut-sebut namanya dalam suatu skandal keuangan. Orang Semarang ini baru fotonya saja yang diberi taring mirip drakula atau diberi kacamata hitam sebelah mirip perompak.

Aib yang disandang Drupadi jauh lebih besar dan nyata. Di depan Bisma yang diam mematung, putri Kerajaan Pancala ini sungguh-sungguh secara fisik dikoyak-moyak pakaiannya, dan ramai-ramai ditelanjangi di depan umum.

Demikian kira-kira perbedaan sulung Gareng dan bungsu Bagong dalam menelaah Sri Mulyani atas dasar pakem wayang.

Cuma wakil

Gareng matanya juling. Tatapannya ke seantero. Itu pertanda ia kritis, awas, bila perlu curiga tetapi tanpa sinisme terhadap segala hal di sekitarnya. Bagong matanya terus memelototi dunia dan keningnya siap menyeruduk masalah, tetapi tengkuk dan lehernya luruh. Itu perlambang ia selalu menggugat, tetapi sekaligus pasrah terhadap kehidupan.

Selain bermata juling ke seantero pertanda awas, Gareng juga berkaki pincang. Ini pertanda ia berhati-hati dalam melangkah ataupun bersikap. Sejak awal pembentukan Pansus Century, Gareng sudah terheran-heran. Mengapa partai besar yang semula alot dan menolak pembentukan Pansus tiba-tiba menyetujuinya sehingga Pansus itu terbentuk dengan suara nyaris aklamatif? Mungkinkah karena mereka yakin bahwa toh pada akhirnya kesimpulan Pansus bisa mereka belokkan entah redaksionalnya entah substansinya sehingga telunjuk Pansus paling banter cuma mampu menuding menteri dan yang setaraf?

Mungkinkah karena mereka juga yakin jika pun redaksi dan substansi itu tak dapat mereka goyang-goyang, toh tindak lanjutnya masih bergantung pada aparat penyidik yang bisa (disetel untuk) mengatakan bahwa aparat hukum itu tak terikat hasil kerja Pansus, temuan Pansus hanyalah temuan politik, bukan temuan hukum?

Bagong tak akan membuang waktu seperti Gareng. Si bungsu yang sosoknya berupa kanak-kanak abadi itu, yakni perlambang betapa lugu tetapi betapa mendasarnya setiap pertanyaan ataupun pernyataannya, akan melihat respons aparat hukum itu sebagai hal yang wajar belaka.

Bagong akan berkata, ”Terang saja aparat hukum tidak takut kepada DPR. Mereka juga tidak merasa terikat, atau sedikitnya tidak sungkan kepada DPR karena DPR memang bukan rakyat. DPR itu cuma wakilnya. Wakil, ya, lebih rendah daripada yang diwakilinya, yaitu rakyat, pemegang kedaulatan tertinggi di Tanah Air.”

Bisma dan Semar

Bagong suka ngotot kepada pendapatnya yang polos, tetapi mendasar. Konon, karena Bagong dipercaya berasal dari kata Arab bagho ”suka membantah”. Gareng yang dipercaya berasal dari kata ghoiron, ”yang berbeda”, selalu ingin melihat hal-hal yang berbeda dibandingkan dengan yang kasatmata. Petruk, dipercaya dari fatruk ”yang meninggalkan”. Ia sudah berani melampaui topik ataupun tema yang kerap menjadi perhatian Bagong ataupun Gareng. Maka, Petruk digambarkan tubuhnya serbalonggar dan tersenyum senantiasa, pertanda semeleh.

Bagi Petruk, dalam kasus Century dan Sri Mulyani, atau konflik Pandawa-Kurawa dan Drupadi, yang menarik perhatiannya bukan Sri Mulyani ataupun Drupadi. Petruk sudah melampaui itu. Petruk sambil tersenyum akan bertanya mengapa Bisma yang secara spiritual bertanggung jawab, kok, diam saja melihat Drupadi di-kuyo-kuyo?

Leluhur wayang mengajarkan: semua panakawan (kawan yang menerangi, karena pana, bukan puna seperti salah kaprah, berarti terang), sekaligus terkandung di dalam pribadi setiap orang. Di dalamnya termasuk Semar. Semarlah yang menjadi moderator perdebatan Gareng, Petruk, dan Bagong, termasuk ketika ketiga panakawan ini memperbandingkan Sri Mulyani dan Dewi Drupadi.

Bagi Semar, debat tak perlu dilarut-larutkan. Pekerjaan konkret masih banyak. Toh, sudah jelas dalam kasus Drupadi bahwa yang salah adalah Bisma. Tokoh paling berkuasa ini diam saja ketika seorang perempuan yang mestinya berada dalam tanggung jawabnya ditelanjangi di muka umum.

Bagi Semar, Bisma tidak gugur oleh Srikandi yang kesusupan Dewi Amba saat Bharatayuda sebagaimana khalayak wayang terkecoh. Itu hanya kematian fisik. Jiwa Bisma sudah mati jauh sebelum itu, yakni saat ia lepaskan tanggung jawabnya untuk melindungi perempuan teraniaya bernama Drupadi.

Sujiwo Tejo Dalang. [Kompas, 3/3/10].

Thursday, February 4, 2010

Cinta Pertama dan Terakhirku

Sebelumnya tak ada yang mampu
mengajakku untuk bertahan
di kala sedih

sebelumnya ku ikat hatiku
hanya untuk aku seorang
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian

reff:
kau buat aku bertanya
kau buat aku mencari
tentang rasa ini
aku tak mengerti
akankah sama jadinya
bila bukan kamu
lalu senyummu menyadarkanku
kau cinta pertama dan terakhirku

sebelumnya tak mudah bagiku
tertawa sendiri di kehidupan
yang kelam ini

sebelumnya rasanya tak perlu
membagi kisahku saat ada yang mengerti
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian

repeat reff

bila suatu saat kau harus pergi
jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik
karena senyummu menyadarkanku
kaulah cinta pertama dan terakhirku


Monday, December 7, 2009

Mikul Duwur Mendhem Jero

AYAH kenalan lama saya belum lama ini meninggal, Saya memutuskan untuk datang melayat. Kawan saya itu dulu pernah sekuliah kemudian entah bagaimana dia sukses menaiki jenjang karier berhasil menjadi seorang direktur di satu departemen yang renes bin basah.


Sumpah, bukan karena dia direktur dan priyagung yang begitu penting maka saya memutuskan untuk melayat. Saya melayat karena dia adalah seorang kawan yang sedang kesusahan. Juga karena dulu semasa kuliah, hubungan kami lumayan akrabnya. Bahkan sekali dua kali saya pernah diajak menginap di rumah orang tuanya di satu desa di lereng Gunung Merapi yang subur. Sering kali saya mengenang hari-hari yang menyenangkan menginap di rumah orangtua yang ramah dan sederhana itu.
Rumahnya tidak berapa besar, dari kayu, berpotonqan Limasan sederhana. Pekaranqan rumahnya juga tidak berapa besar, ditumbuhi pohon buah-buahan: Jambu kaget, mangga arum manis, dan duwet hitamnya tidak pernah saya lupakan hingga sekarang. Juga suasana yang adem dan teduh dari rumah itu serta sayur lodeh dan sambel terasi yang dihidangkan di meja makan mereka masih sering dengan jelasnya menyusup dalam kenangan saya.
Orangtua itu, sungguh pensiunan guru yang menghabiskan masa tuanya dengan bahagianya. Pilihan pekerjaan yang berbeda serta tempat bertugas, yang berjauhan, dia di ibu kota saya dipedalaman, telah memisahkan saya dan kenalan itu hingga bertahun. Dan dengan itu juga hubungan saya dengan orangtuanya di desa yang Indah itu. Tentu sekali-sekali saya membaca berita-berita tentang dia di surat kabar dari melihat wajahnya di layar televisi. Juga satu dua kali pernah bertemu di resepsi ini dan itu di Jakarta atau di pesta perkawinan di Yogya.

Setiap bertemu yang sebentar-sebentar begitu tentu kami bertukar salam akrab, saling berjanji untuk saling mengunjungi denqan keluarga kami bahkan juga untuk naik gunung ke rumah orangtuanya. Tetapi, kerja dan karier memanq bisa kejam sekali. Mesin tempat kami bekerja tidak pernah mengizinkan kemewahan-kemewahan kecil seperti berkunjung ke rumah kawan berjalan dengan mulus. Sayur lodeh, sambel terasi, jambu kaget, duwet hitam adalah ornamen-ornamen kecil yang, agaknya tidak relevan dengan efisiensi mesin. Maka, begitu saya mendengar bahwa orang tua itu meninggal, saya putuskan untuk melayat ke desa bagaimanapun susah dan rumpil jalan ke sana.

JIP tua, reyot dan knalpotnya yang gemuruh suaranya itu, dengan terengah-engah mendaki tanjakan terakhir menuju desa tersebut. Mr. Rigen yang sebentar-sebentar mendesah dan melenguh karena kondisi mesin dan knalpot jip yang rawan itu harus saya akui, adalah seorang sopir amatir (karena menurut dia belum "propesi" yang cekatan dan tangkas. Tikungan-tikungan jalan yang mendaki dia lahap bagai sopir taksi di Beirut. Tiba-tiba, pada jarak satu kilometer dari desa tujuan kami, jalan itu menjadi jalan yang beraspal mulus sekali. Ini bukan kondisi jalan yang dulu beberapa kali saya lewati. Kemudian kira-kira limaratus meter dari batas desa, kami melihat mobil-mobil berplat AB, B, H, AD, L dan entah apa lagi berderet di pinggir jalan. Mercedes, Volvo, dan segala merk mobil Jepang terwakili pada deretan itu. Juga selain mobil jenazah yang super de lux saya melihat tiga bus Hino berderet dengan megahnya.

Waktu, saya turun memasuki halaman rumah mulut saya nyaris otomatis ternganga lebar. Betapa tidak, halaman rumah yang dulu penuh dengan pohon jambu kaget, mangga Harum manis, dan duwet hitam itu sudah berubah. Di halaman itu sekarang tumbuh pohon-pohon sawo kecik yang megah yang mengingatkan saya pada rumah-rumah bangsawan di jeron beteng di kota. Dan rumah itu Astaga! Lenyap sudah rumah kecil sederhana berpotonqan Limasan itu. Sekarang, dihadapan saya berdiri satu rumah besar, megah, beratap sirap dengan pendopo joglo. Tiang-tiangnya berukir Jepara di
pinggirnya diplipit prada yang kemilau. Kemudian saya baru menyadari keadaan di pendopo itu. Jenazah itu terletak dt tengah, dikepung oleh karangan-karangan bunga. Kemudian saya lihat teman saya itu berbaju surjan sutra hitam lengkap dengan kain dan blangkon gaya Mataraman. Begitu juga saya lihat kaum kerabatnya. Baik yang lelaki maupun perernpuan semua berpakaian daerah lengkap berwarna hitam. Lalu saya mendengar suara kaset gamelan mengalunkan lagu Tlutur yang menyayat hati. Kawan saya, dan istrinya dengan tergopoh menyambut kedatangan saya. Kami berangkulan. Sejenak, untuk beberapa detik, saya tercekam keharuan. Berapa tahun sudah sang waktu dan sang mesin birokrasi telah mengasingkan kami. Tetapi, aneh sekali waktu saya lihat matanya yang basah karena air mata itu, kok saya tidak menangkap signal kesedihan melainkan justru sinar kebanggaan. Dan seakan dia bisa membaca rasa ngungun saya dia pun berkata.

"Yah, cuma beginilah, Mas, yang bisa saya lakukan memuliakan orangtua saya."
Saya manggut-manggut sembari berjalan digandeng masuk ke deretan kursi kehormatan dekat pringgitan.
"Orang Jawa bilang anak laki-laki itu harus bisa mikul duwur, mendhem jero, memikul tinggi-tinggi, menanam dalam-dalam. Sebisa-bisa saya itu sudah saya laksanakan. Kau lihat rumah ini sudah saya sulap menjadi rumah begini."
“Wah, ini rumah bupati zaman dulu, Dik."
“Yak, ya belum, Mas…. Baru mencoba mendekati. Upacara pemakaman ini sengaja saya bikin megah. Supaya Bapak marem. Semua rekan-rekan di kantor kanwil di tiga propinsi saya datangkan untuk membuat suasana ini khidmat tapi regeng.
Ya, lumayan to, Mas, kalau dilihat banyaknya tamu dan banyaknya mobil yang datang. Yah, biar, biar Bapak lega dan marem di hari akhirnya.
Kau masih ingat kan bagaimana sederhana bapak saya itu. Terus nenuwun, puasa Senin-Kemis,
ngrowot dan entah apa lagi. Semuanya agar anak-anaknya bisa hidup mulyo.
Yah, berkat tirakat itu kau lihat sendiri to, Mas. Saya dan adik-adik slamet meniti karier."
Huwih, lumayan ..... ? Kalau ini lumayan terus yang telah saya capai selama ini apa, dong?
Saya ,ngunandika dalam hati.

Waktu jenazah diberangkatkan lagu Tlutur yang sedih itu justru berhenti. Diganti dengan Lagu Gleyong. Saya terpana. Lagu Gleyong? Bukankah lagu itu lagu yang biasa dimainkan ki dalang untuk mengiringi Prabu Suyudono kalau jengkar kedaton? Iring-iringan mobil yang mengiringi mobil jenazah ke arah selatan kota itu telah mengegerkan desa-desa yang kami lalui. Sungguh satu peristiwa dahsyat dan mengagumkan bagi penduduk.

Suara sirene mobil meraung-raung di jalanan pedesaan yang sepi itu. Mobil berpuluh beriringan. Bus-bus. Dan bunga-bunga yang disebar-sebarkan dengan uang receh lima puluh sen yang entah berapa jumlahnya.
JIP kami tertatih-tatih ingin mencoba mengikuti laju iringan mobil-mobil itu. Suara mesinnya kemrosak, suara knalpotnya gemuruh, tetapi larinya kok terpincang-pincang. Waktu masuk kota di jalan Magelang tiba-tiba terdengar grobyak ! Knalpot itu patah dan jatuh berguling. Mr. Rigen menghentikan mobil dan memarkirnya di pinggir jalan. Knalpot yang terkapar di jalan itu dipungutnya dan ditunjukkannya kepada saya. Saya tersenyum karena knalpot itu mengingatkan saya pada patung Seni Rupa Baru. '

"Mr. Rigen, enaknya kita istirahat di warung soto depan situ. Nututi iringan mobil itu juga percuma Setuju?"
"Siiip, Boss....."
"Dapurmu ....."
Sambil menyruput kaldu soto yang encernya seperti air kali Code itu saya jadi minder ingat kemegahan upacara pemakaman hari itu; Memang kawan saya itu priyagung yang hebat. Punya roso darma yang cangglh. Dibanding dengan itu pemakaman ayah saya tempoh hari, wah, kok sederhana dan polos saja.

Masih terngiang di telingaku dan terbayang mukanya yang penuh khidmat waktu bilang : mikul duwur; mendhem jero ...

By : Umar Kayam
28 Juli 1987

Melik Nggendong Lali

Nama lengkapnya panjang sekali. Teguh Budisantosa Resik Bawa Laksana. Tentu tidak seorangpun dari saudara dan kawan-kawannya pernah memanggilnya dengan lenqkap. Untuk menghemat napas kami setuju untuk memanggilnya cukup dengan Mas Guh saja. Dia adalah ipar dari sepupu mertua perempuan saya.


Orang Jawa, yang kadang-kadang memang ruwet sistem kekerabatannya, tidak terlalu mementing-
kan lagi bagaimana orang seperti Mas Guh itu mesti didudukkan dalam bagan pohon kekerabatan kami. Maksud saya bagaimana Mas Guh itu seharusnya dipanggil. Mestikah saya dan istri saya memanggilnya dengan Om, Pakde, Paklik, atau bagaimana. Dan anak-anak kami mesti memanggilnya
dengan Eyang atau mBah Guh? Oh, repot.

Yang bernama Mas Guh itu masih muda. Baru kira-kira empat puluh lima tahun umurnya. Tinggi semampai, gagah, rambut berombak, kulit cokelat matang, matanya serasa, mau membujuk. Lha, mulutnya, begitu sensuous-nya. Kalau menurut anak saya, si Gendut, Oom Guh itu hensem, tubuhnya sangat body, dan senyumnya seperti Robert Redford kayak mau menahan sakit tetapi nggak jadi. Ya sudah. Bagaimana lalu mesti dipanggil Teguh Budisantosa etc., itu!
Maka kembalilah kami serumah memanggilnya dengan Mas Guh dan bagi anak-anak Om Guh.

"Ah, sing penting dia itu sedulur dewek. Sing luwih penting lagi kabeh sedulur kudu rukun." Dan ternyata kesediaan keluarga Mas Guh untuk berukun-rukun itu juga diperluas dengan sifatnya yang luwes, soepel, suka berhandai-handai dengan anggota jaringan keluarga yang mana saja, dan yang lebih penting lagi, Mas Guh itu juga amat murah hati. Loma bin blaba. Setiap tarikan arisan keluarga atau rapat trah di rumahnya selalu didatangi lengkap oleh semua anggota. Menunggu kedatangan hari-H arisan itu seperti, menunggu datangnya satu pesta perayaan kawin perak saja. Habis bagaimana tidak begitu. Untuk arisan begitu-saja keluarga Mas Guh pesan dari catering yang terbaik di kota. Dan jumlahnya selalu berlimpah hingga kami yang datang semua selalu mendapat pembagian oleh-oleh sisa makanan arisan itu. Untuk anggota jaringan trah kawulo negeri yang jarang menikmati kemewahan seperti itu tentulah kesempatan seperti itu welkom. Lha, untuk anak-anak remaja putri kesempatan arisan di rumah Mas Guh itu juga merupakan kesempatan yang bagus untuk menguras isi pakaian anak-anak remaja putri mereka. Entah bagaimana, setiap arisan begitu kok selalu saja ada lemari remaja putri yang siap sedia untuk dikuras lho. Mungkin barhari-hari sebelumnya Mas Guh anak-beranak memang sudah membuat inventaris pakaian anak-anaknya. Mana yang dapat dilepas tetap tinggal di lernari. Sedang yang masih baru, maksudnya baru - dari Hongkong atau Singapore disimpan di lemari lain. (Ah, tetapi ini tentulah imaji saya saja).

Apa pun pokoknya, arisan di keluarga Mas Guh adalah hari yang menyenangkan buat kebanyakan anak-anak perempuan anggota trah. Tetapi juqa buat ibu-ibu anggota trah. Kalau pada arisan-arisan lain kesempatan kumpul begitu dipakai untuk saling menjajakan dagangan dan pinjam-.
meminjam uang, tidak pada arisan di rumah Mas Guh. Di rumah itu, arisan itu berfungsi sebagai Bank Dunia. Ibu-ibu akan datang kepada Mas Guh beserta Ibu, yang akan, dengan penuh simpati, mendengarkan proposal pembangunan yang canggih yang tidak tertulis itu. Biasanya setiap proposal itu gol, diluluskan, tanpa bunga, tanpa batas waktu. Bank Dunia mana dapat murah hati seperti itu ???"

"Wah, Mas Guh, mBakyu Guh, matur nuwun sanget, lho ...... Sudah ditolong. Kalau tidak ada Mas dan mBakyu .... "
Atau bagi mereka yang belum dapat mengangsur utang :
"Aduh, Mas Guh, mBakyu Guh, nyuwun duka, maaf seribu maaf, belum dapat mengangsur. Habis bulan ini si genduk dan tole .... "
Atau kadang-kadang laporan yang dahsyat Lagi. "Ketiwasan, Mas Guh, mBakyu Guuuhh. Proyek kami
bangkrut. Ludes modal kami. Habis, saingan sama modal non pribumi .... "
Mas Guh dan mBakyu Guh sama dengan waktu mereka mendengarkan proposal-para nasabah trah tetap simpatik, tetap tersenyum.
"Wis, wis, ora papa, ora papa. Kami mengerti. Kami akan sabar menunggu sampai kalian sanggup. Kalau akhimya tidak sanggup, ora papa, ora papa, Wong rejeki kami kan rejeki paringan. Kalau tidak sumrambah, merata, buat sanak sedulur; Lha kan sedulur apa saya ini. Kan menurut pesan-mBah Putri: sing rukun, sing rukun .... "

AKAN tetapi namanya cakra manggilingan, sang roda waktu, kok ya berputar ke bawah. Dan itu ditandai dengan berita di koran pagi itu. Cilakanya yang melapor lebih dulu kok ya Mr. Rigen.
"Ini lho, Pak. Kabar rame. Pak Guh terlibat korupsi sak miliar …... "
Cepat-cepat koran saya rebut dari tangannya. Astaga .... Memang di situ diberitakan Dr. Tgh. Bst. Resk. Bwlksn. M.Sc., ditahan untuk dimintai keterangannya tentang uang proyek yang ketlisut sebesar satu miliar rupiah.
"Ini kan betul Pak Guh, nggih, Pak? Wah, tidak nyana, tidak ngimpi, nggih, Pak .... "
"Wis, wis, kau ngurus uang proyek blanjan pasarmu sana dulu!"
Keranjingan..... Mr Rigen alumnus SD Pracimantara pun sudah pinter membaca nama-nama yang dipendekkan di koran. Lha, skandal koran yang mana lagi yang tidak akan dia ketahui.
Saya terhenyak duduk di kursi malasku. Juga tidak nyana dan tidak ngimpi. Wah bagaimana orang sekaya dan sebaik begitu sampai mentlisutkan uang sak miliar. Saya mesti pergi ke rumah kawan wartawan yang bekerja di koran itu. Aku butuh info lebih banyak tentang Mas Guh. Dan ternyata
info dari kawan wartawan itu lebih membuatku grogi: Bagaimana tidak. Mas Guh ternyata telah memutarkan uang itu untuk berbagai proyek spekulasi yang agaknya hancur semua. Tetapi yang lebih mengenaskan lagi proyek spekulasi itu masih ditambah dengan proyek spekulasi yang lain. Mas Guh ternyata punya tiga istri lagi. Dikawin sah.
Astaga .... Serta-merta saya ingat lukisan kaca karya almarhum Pak Sastra-gambar dari Muntilan. Gambar itu menampilkan Petruk jadi raja, duduk di kursi goyang, memangku seorang perempuan, sedang tangan kanannya memegang gelas berisi wiski.
Gambar itu bertuliskan huruf Jawa: Melik Nggendong Lali. Mendamba Menggendonq Alpa. Sayang lukisan itu dulu saya berikan kepada seorang sahabat di Jakarta. Siapa tahu, kalau dulu
saya hadiahkan Mas Guh, ada pengaruhnya, Tetapi yah, siapa nyana, siapa ngimpi ....
Di Jakarta semua anggota keluargaku sedih mendengar laporanku. Masing-masing terdiam dengan kenangannya sendiri tentang Mas Guh. Mungkin buat istri saya dia dikenang sebagai sedulur yang pernah memberi oleh-oleh tas Etienne Aigner dan bagi anak-anak saya sebagai Oom yang ngganteng, yang senyumnya bagaikan senyum Robert Redford yang aneh, yang bodynya sangat body.
"Tapi korupsi kan nggak buat dia sendiri, Pak. Rezekinya di bagi-bagi kan? Buat tolong sanak sedulur, kan …..".
Saya tidak mendengar apa-apa lagi. Mungkin saya masih grogi dan bengong. Akhirnya aneh sekali saya cuma bisa bergumam kepada anak Istriku. Wis, wis, ora papa, ora papa, ora papa, ora ...

By : Umar Kayam
4 Agustus 1987

Tuesday, December 1, 2009

3 x 8 = 23

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik.
Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang.


Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.
Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24"
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: " Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi".
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata:
"Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan".

Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"
Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"
Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu".
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.

Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.""
Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.
Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.

Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas. Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya.

Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai,dan memberi Yan Hui 2 (Dua) nasehat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."

Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu.


Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya.
Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya.

Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh.
Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata:
"Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"
Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir,makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.
Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".

Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum".
Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku".
Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu.
Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting ?
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun.
Murid benar2 malu.

Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita:
Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.
Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.

Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.

Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)

Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)

Bersikeras melawan istri. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Istri tidak mau menghirau kamu, semua harus "do it yourself")

Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman).

Cerita di atas dikirim oleh temen temen di Gang Bantat Palembang, thanks Atas sharing ceritanya

Thursday, November 26, 2009

TAK MARAH KARENA PUASA

SAAT itu, masa pemerintahan SBY-JK masih terbilang baru. Harga minyak dunia meningkat secara drastis. Akibatnya, uang negara kian menyusut karena dipakai untuk melakukan subsidi harga minyak.
Dalam pemerintahan SBY, terutama Menteri ESDM, Purnomo, takut menaikkan harga minyak. JK tetap mau menaikkan karena negara di ambang soal yang mendalam, dan ironinya, yang menerima subsidi yang paling banyak adalah kalangan yang berduit.


Bagi JK, adalah tidak masuk akal jika kaum miskin yang mensubsidi kaum kaya. Setelah beberapa kali rapat para pejabat, argumentasi JK akhirnya bisa diterima: menaikkan harga BBM. Masalahnya, soal waktu, Pada umumnya meminta harga BBM dinaikkan sebaiknya setelah lebaran.
Pendapat ini didukung dengan alasan, pada saat selesai bulan puasa, masyarakat tidak lagi banyak mengomsumsi minyak sebab puasa telah selesai. Katanya, selama puasa itu, masyarakat banyak memakai minyak sebab ada sahur. Karena, jika menaikkan minyak pada saat bulan puasa, masyarakat sangat sensitif dan mudah marah. Pasti banyak demo, kata pihak yang menolak menaikkan harga BBM selama bulan puasa.

JK berpendapat sebaliknya. "Justru BBM harus dinaikkan sebelum bulan puasa berakhir. Dan justru pada bulan puasa itu, konsumsi minyak di kalangan kebutuhan keluarga, menurun, sebab orang yang berpuasa itu tidak lagi sarapan pagi dan makan siang," kata JK.
Dalam kalkulasi dan logika JK, orang itu tidak akan mungkin marah dan demo bila minyak dinaikkan selama mereka berpuasa. "Mana ada orang puasa boleh demo. Demo itu kan berarti marah, dan marah itu membatalkan puasa. Jadi, selama ia berpuasa, selama itu juga tidak mungkin ia berdemo," kata JK.
Bagaimana kalau selesai bulan puasa? Pasti mereka akan turun ke jalan untuk mendemo.
JK tak kehabisan akal "Selesai bulan puasa, berarti itu sudah akhir November. Bulan itu adalah musim hujan. Nah, sehebat apa pun demo, jika hujan deras turun mengguyur beberapa
jam, pasti bubar demonya. Tidak ada orang yang bisa bertahan terus-menerus secara berkelompok di bawah siraman hujan beberapa jam. Pasti bubar semuanya," kata JK meyakinkan.

"Lagi pula," kata JK lagi, "setelah lebaran itu, orang sudah pasti lupa, berapa sih kenaikan harga BBM? Orang kan akhirnya menyesuaikan diri lagi dengan itu. Inilah pentingnya
kita terbuka ke rakyat, menghitungkan untung ruginya bila menaikkan atau tidak menaikkan harga BBM. Yang penting kita tcrbuka dan melayani masyarakat berdialog. Jangan kita mengambil keputusan, lalu anak buah yang disuruh berhadapan dengan masyarakat. Menteri tidak boleh menyuruh dirjen atau dlrekturnya yang tampil," begitu penegasan JK.

Harga BBM memang dinaikkan tahun 2005. Kalkulasi JK sangat akurat. Demo dalam bulan puasa itu, hampir nihil. Tidak ada amuk massa seperti yang diperkirakan. Usai lebaran,ternyata hujan lebat mengguyur Jakarta. Hasilnya, uang negara bisa dihemat karena subsidi BBM tidak lagi terlampau besar. "Lihat kan, prediksi saya benar," kata JK.
Karena JK konsisten, bos yang harus menjelaskan kepada rakyat tentang kebijakan pemerintah itu, ia pun sibuk ke sana kemari menjelaskan kebijakan ini. JK selalu tampil di berbagai
forum dan wawancara media massa, terutama televisi. Lalu, banyak orang yang menyayangkan itu. JK dinilai dijadikan bamper oleh SBY karena JK yang berhadapan langsung dengan pihak yang menolak kenikan harga BBM itu.

JK menampik itu semua. "Ini keputusan Pemerintah. Saya adalah bagian dari Pemerintah, karena itu, saya harus tampil dan konsisten membela keputusan Pemerintah itu, Yang penting, saya ikhlas bekerja untuk kepentingan publik. Menghemat uang negara, juga adalah demi rakyat banyak," jawab JK.
Lantaran kebijakan menaikkan harga BBM itulah maka JK mencari dan menemukan formula kompensasi, yang diberikan langsung ke rakyat. JK tampil dengan ide bantuan tunai langsung.
Malah, JK tidak berhenti pada ide, tetapi ia juga langsung menyusun strategi implementasi. Hasilnya, rakyat miskin langsung diberi uang tunai dan mereka mengambilnya di kantor-
kantor pos. Lalu, para menteri pun berkewajiban turun ke daerah untuk melihat langsung pemberian uang tunai tersebut. Ketika musim kampanye berlangsung, pihak SBY memakai
isu bantuan tunai langsung ini sebagai materi. Orang-orang yang dulunya menyalahkan JK karena tampil berhadapan langsung dengan masyarakat, pers, LSM, membela kenaikan harga BBM, kembali menyalahkan JK. Mereka juga seolah memberi pelajaran kepada JK, tatkala harga BBM diturunkan oleh SBY, tanpa konsultasi dengan JK.

Bagi kelompok ini, JK pasang badan untuk membayar harga, tetapi JK disuruh cuci piring jika pesta telah usai. Lagi-lagi, JK tidak menanggapinya. JK hanya berkomentar singkat, "Niat
baik itu harus dijalankan karena keikhlasan. Tidak boleh hitung-hitungan. Semua itu dilakukan karena itu menjadi keputusan Pemerintah," katanya kepada kelompok ini.

Sejatinya, JK sendiri tidak berkeberatan melakukan hal tersebut, dan tidak menggugat tatkala SBY menurunkan harga BBM tanpa melibatkan dirinya, karena dia menilai bahwa memang seharusnya BBM turun sebab harga minyak dunia memang turun. Antara SBY dan JK, soal ini tidak ada masalah. Yang gelisah sebenarnya adalah orang lain. Begitulah kisah soal kenaikan harga BBM tahun 2005 itu. Di sinilah sebenarnya pangkal kebijakan Pemerintah untuk melakukan perubahan, Lantaran harga minyak yang selalu disubsidi pemerintah, sementara kebutuhan kian meningkat maka JK pun melempar gagasan. Pemakaian minyak tanah harus diganti dengan gas. Dasar pemikirannya sangat sederhana. Minyak tanah kita impor, sementara gas kita ekspor. Nah, ada baiknya kita ubah pola pemakaian energi kita, dari minyak tanah ke gas. JK menuai protes. Ia jalan terus. Berbagai soal diangkat, mulai dari peliknya memperoleh gas hingga langkanya tabung gas. Bagi JK, semua itu terjadi dalam era transisi. Segala yang baru itu butuh penyesuaian. Masyarakat belum saja merasakan nikmatnya gas. Oleh karena itu, Menteri ESDM harus kerjakeras untuk menjaga suplai gas dan penyediaan tabung-tabung gas. "Semua bangsa modern, konsumsi bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga, sudah menggunakan gas. Tidak ada lagi yang memakai minyak tanah. Kita harus menjadi bangsa modern. Lagi pula, kita yang selama ini menyuplai Jepang dengan gas, sementara kita sendiri tidak menggunakannya. Ini sebuah
ironi," kata JK meyakinkan.

Maka, dalam kesempatan melawat ke Jepang, pemerintah negeri Sakura itu meminta JK agar tetap menjual gas ke Jepang. Jawaban JK sangat jelas. "Kita akan mengekspor gas ke Jepang manakala ada yang tersisa dari kebutuhan konsumsi kami. Rakyat kami sangat membutuhkan gas juga," kata JK.*

Monday, November 2, 2009

Negeri Para Bedebah

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

by : Adhie Massardi


Thursday, October 29, 2009

Dunia Akan Kiamat .... Segera !

PERTEMUAN khusus para pejabat tinggi negara berlangsung
serius. Malah terbilang tegang. Tema pembahasan adalah lingkungan hidup. Para peserta pertemuan mengerutkan kening sembari sebagian geleng-geleng kepala mendengar uraian
dua orang pejabat negara yang sedang memberi presentasi.

Pejabat pertama yang memiliki otoritas di bidang lingkungan, berbicara sekitar satu jam lebih. Ia tampil dengan slide gambar-gambar yang mengerikan tentang rusaknya lingkungan hidup dunia. Berbagai rupa wajah lingkungan kita disorot. Mulai dari sungai yang tercemar oleh limbah yang menyebabkan berbagai penyakit dan membahayakan kehidupan manusia dan binatang-hingga punahnya terumbu karang. Sang pejabat seolah tidak memberi waktu hadirin untuk berkedip. Ia menguraikan bahwa dunia sekarang memang sungguh-sungguh dalam keadaan terancam oleh bahaya kerusakan lingkungan hidup. Katanya, "akibat ulah manusia, berbagai penyakit baru muncul karena udara yang dihirup sehari-hari, tidak lagi sehat. Pernapasan terganggu secara signifikan dan membawa berbagai jenis penyakit."
Malah, lanjutnya lagi, makanan yang kita makan dan minuman yang kita minum sekarang ini, juga sudah tidak bebas dari pencemaran, yang pada gilirannya akan membawa penyakit. Semua ini membuat kita tidak punya pilihan lagi, harus siap menyambut malapetaka dunia. Singkatnya, beragam rupa aspek lingkungan dijelaskan. Semuanya mengarah kepada kesimpulan: dunia dalam bahaya. Kehidupan umat manusia bakal habis. Kalau kita tidak secepatnya mengambil tindakan, dunia akan kiamat dalam waktu seperempat abad, tegas Sang Pejabat.
Pejabat kedua, yang memiliki otoritas di bidang kehutanan, mendapat giliran berikutnya untuk menyampaikan presentasi. Yang ini lebih mengerikan lagi. "Indonesia adalah paru-paru dunia, tetapi justru di Indonesia ini, kerusakan hutan yang paling parah. Semua itu terjadi karena penebangan yang semena-mena dan kebakaran hutan yang sulit diatasi,"

"Akibat dari semua itu", katanya lagi, "Segalanya jadi terpengaruh. Perubahan iklim global yang kini berlangsung, itu akibat, antara lain, tidak adanya lagi paru-paru dunia. Hutan kita, daratan kita, semuanya menunjukkan tanda-tanda gundul. Dan, ini adalah tanda bahaya bagi kehidupan manusia. Kita menyaksikan dari atas, hutan dan daratan kita sudah tidak hijau lagi. Air sungai, karena itu, berubah menjadi cokelat. Semua ini gara-gara ulah kita semua,"
Maka, menurut Sang Pejabat tersebut, kiamat dunia tidak lagi terjadi dalam waktu seperempat abad, tetapi sebelum itu.

Hadirin pun, yang semuanya adalah pejabat negara, dibuat terkesima oleh kedua pembicara tersebut. Kelihatan sekali wajah tegang para pejabat yang hadir, yang diikuti dengan menarik napas panjang sekali. Di tengah suasana yang tegang itu, JK tiba-tiba minta bicara

"Anda berdua yang bicara tadi, keterlaluan juga. Mengapa Anda tidak mengatakan saja, dunia akan kiamat besok, sebelum matahari terbit," kata JK dengan senyum.
Hadirin pun langsung tertawa semua: Geeeeeer. Napas hadirin yang tertahan selama presentasi tadi, langsung keluar. Wajah hadirin pun, langsung berubah jadi cerah. Sejumlah hadirin saling melirik dan geleng kepala menyaksikan JK mengubah suasana tegang, jadi segar.
Kata JK, "Kalau warna hijau saja yang menentukan kiamat tidaknya dunia ini, maka, Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia, sekian ratus tahun yang lalu, mestinya sudah kiamat, karena di sana tidak ada warna hijau. Kan tidak ada pohon di sana. Yang justru terjadi, di Saudi, segalanya jadi kecokelatan karena padang pasir. Kalau di Indonesia, kan hanya sebagian sungai kita yang cokelat. Di Saudi, semua cokelat. Dunia toh tidak kiamat sampai sekarang,"

"Coba, ya, kalau Anda terbang di atas India, ada ndak pohon hijau yang Anda lihat. Kan tidak ada. Lebih lagi jika Anda terbang di Atas Saudi Arabia, kan hanya padang pasir. Sama sekali tidak ada pohon. Bandingkan kalau Anda terbang di atas negeri kita. Kan masih hijau semua. Bahwa di tengah yang hijau dan rimbun itu ada bolong-bolong, ya, kita memang akui. Tetapi tidak seseram yang Anda semua katakan itu. Yang bolong itu perlu memang kita tanami segera."

"Soal negara-negara lain menyorot kita, jawabannya sederhana, Katanya, negara kita adalah paru-paru dunia. Kalau begitu, semua negara yang membutuhkan udara segar dari hutan kita, ya, harus bayar dong ke kita. Mintalah mereka memberi pembayaran agar napas mereka bisa baik. Pembayaran itu kita pakai untuk memperbaiki hutan kita. Kalau hutan kita adalah paru-paru mereka, ya, mereka harus memelihara paru-paru itu. Jangan mereka hanya tahu menyorot dan marah. Yang membeli kayu dari hutan kita, kan mereka juga. Jadi, jangan selalu menyalahkan bangsa sendiri. Itu tidak bagus. Kita harus jaga martabat bangsa, dong," lanjut JK dengan rileks.

"Mengenai Amerika, Eropa Barat, dan Kanada yang rewel menyoroti kondisi hutan kita yang mulai kurang hijau lagi, ini juga tidak fair. Saya mau tanya Anda semua: apakah Amerika, Kanada dan Eropa Barat itu, selalu hijau sepanjang tahun? Mereka itu kan hanya hijau sekitar empat bulan toh? Selebihnya, malah seluruh pohon sarna sekali tidak punya daun, tinggal batang dan dahan saja selama musim rontok. Bahkan, mereka itu kan untuk beberapa bulan, hanya putih saja, karena salju. Jadi, mereka juga tidak hijau sepanjang tahun,"

"Coba lihat negeri kita ini, sepanjang tahun, 12 bulan, kan semua pohon hijau terus. Tidak pernah ada pohon kita yang kehilangan daun. Ayo, di mana ada pohon kita tanpa daun?" tanya JK.

"Jadi..," lanjut JK lagi, "tidak perlu kita ketakutan bahwa dunia akan kiamat karena kita yang mengiamatkannya. Juga tidak perlu kita selalu menyalahkan bangsa sendiri. Yang penting, mari kita semua konsentrasi menghidupkan kembali program penghijauan kita dan memperketat enebangan liar dan penyelundupan kayu. ltu yang harus kita kerjakan sekarang,"

"Insya Allah, dunia belum kiamat karena ada pohon yang kurang hijau. Dan kepada kedua pejabat yang memberikan presentasi tadi, harus meyakinkan dunia internasional, terutama yang senang menyalahkan kita, agar mereka juga memberi fee ke kita sebagai biaya memelihara paru-paru dunia. Jangan hanya pintar menyoroti tapi tidak mau mernbayar;" tegas JK.*

Sumber : Solusi JK
Oleh : Hamid Awaludin

Liquid Culture

Sedang senang senangnya coba coba buat liquid culture untuk Jamur Tiram, so far so gud, besok tinggal fase test apakah liquid culture yang ...