Sejak saya pulang dari pertapaan sebulan
lamanya di jakarta, saya melihat Mister Rigen kelihatan Iebih alon alon, sopan, dan penuh pengertian
bolehnya meladeni saya. Service-nya agak kelihatan extra-courteous dan extra-elegant, dan bahkan extra-precarious. Saya
jadiagak risih dibikinnya. Merasa seperti diperlakukan bagai
porselen jaman
Dinasti Ming yang muahal dan gampangpecah itu. Orang je, disamakno dengan barang pecah-belah.
Meskipun
pecah-belahnya Dinasti Ming. Dengan
sigap dan tangkas dan efisien dia laksanakan instruksi Bu Ageng tentang bagaimana mulai sekarang mesti
mengatur dan
memasak diet
ketat. Kemudian, dengan efisiensi yang penuh gaya, stylish, dia
akan menyiapkan makan saya bagai pelayan
di sebuah restoran yang. canggih "Begitu
sedikiit begitu
nak-nik, jumlah makanan yang ditaruh
dalam piring-piring kecil di meja makan saya. Seperti
restoran-restoran tradisional yang mahal di Kyoto
yang menyajikan lauk-pauk itu
begitu mengerikan indahnya, tapi
juga begitu
sedikitnya.
Dan cara Mister Rigen menyajikannya pun
sekarang kehilangan touch-nya yang kerakyatan. Yang brak brek sak sukanya. Pokoknya efektif.
Betul-betul filsafat wong cilik
yang pokoknya
itu. Sekarang, tiba-tiba
dia menjadi
priyayi
yang sangat mementingkan elegance,
yang canggih,
yang apik
Edaan ......
|
"Gen, Gen. Kamu tahu enggak?"
"Mboten."Lha, punapa, to?"
"Kamu itu sekarang kok bolehnya sadis sama saya!"
"Elho, sadis bagaimana to, Pak!!"
"Mboten."Lha, punapa, to?"
"Kamu itu sekarang kok bolehnya sadis sama saya!"
"Elho, sadis bagaimana to, Pak!!"
"Lha, orang meger-meger, ceta wela-wela, jelas bagaikan tugu nasional begini kok kamu perlakukan sebagai piring sama mangkok Dinasti Ming itu, priye?"
Mister Rigen tertawa ngakak hilang sudah pulasan dan sentuhan aristokrasinya. Kembalilah dia ke asal-usulnya di Pracimantara. Dan itu membuat saya lega. Mungkin dengan begitu roso minder saya jadi hilang, Takut tersaing dengan perkembangan kehalusannya.
"Panjenengan itu risih dan anyel to, Pak?"
"Ha iya, dong. Wong aku itu sudah prihatin harus makan cimik-cimik kayak kucing, mana hambar lagi, kamu main ketoprakan di depan saya. Siapa-yang tidak anyel ?" "Lha, saya mohon seribu ampun kalau begitu, Pak. Maks.ud saya itu menghibur Bapak; Meringankan beban roso diet Bapak ..... "
Saya kemudian tidak meneruskan lagi grundelan saya. Saya lantas pindah ke tikar, membalikkan badan saya, mengambil posisi siap untuk dipijit dirjen saya itu. Sang dirjen pun tanggap dengan perubahan posisi saya itu. Dia pun dengan sentuhan profesionalnya yang sudah begitu saya kenal mulai meng-enyet-enyet tubuh saya yang selalu siap Ielah. Teve hidup, tapi volume direndahkan, karena acaranya di mana mana pidato melulu. Mending kalau tampang pejabatnya cakep.
"Ha iya, dong. Wong aku itu sudah prihatin harus makan cimik-cimik kayak kucing, mana hambar lagi, kamu main ketoprakan di depan saya. Siapa-yang tidak anyel ?" "Lha, saya mohon seribu ampun kalau begitu, Pak. Maks.ud saya itu menghibur Bapak; Meringankan beban roso diet Bapak ..... "
Saya kemudian tidak meneruskan lagi grundelan saya. Saya lantas pindah ke tikar, membalikkan badan saya, mengambil posisi siap untuk dipijit dirjen saya itu. Sang dirjen pun tanggap dengan perubahan posisi saya itu. Dia pun dengan sentuhan profesionalnya yang sudah begitu saya kenal mulai meng-enyet-enyet tubuh saya yang selalu siap Ielah. Teve hidup, tapi volume direndahkan, karena acaranya di mana mana pidato melulu. Mending kalau tampang pejabatnya cakep.
lni ... Sunyi pun semangkin terasa.
"Pak, Pak."
"Huh?"
"Gaji panjenengan kok tidak dinaikkan – itu pripun to, Pak?"
"Ha, embuh, Gen.”
"Lho, kok embuh. Propesor kok embuh."
"Lha, memang propesor embuh kok Sudah, lanjutkan pijetanmu!"
Saya dengar senyumnya yang nggleges, yang meskipun tidak berbunyi tapi bisa jelas saya bayangkan.
"Saya juga tidak mudeng· katanya menteri yang bilang pegawai negeri senajan tidak naik gajinya tidak boleh nyambi cari makan di tempat lain itu, Pak."
"Huh?"
"Gaji panjenengan kok tidak dinaikkan – itu pripun to, Pak?"
"Ha, embuh, Gen.”
"Lho, kok embuh. Propesor kok embuh."
"Lha, memang propesor embuh kok Sudah, lanjutkan pijetanmu!"
Saya dengar senyumnya yang nggleges, yang meskipun tidak berbunyi tapi bisa jelas saya bayangkan.
"Saya juga tidak mudeng· katanya menteri yang bilang pegawai negeri senajan tidak naik gajinya tidak boleh nyambi cari makan di tempat lain itu, Pak."
Saya yang sesungguhnya sudan anyel, kemropok lebih dahulu dari dirjen saya itu semangkin jengkel
diingatkan dirjen saya itu.
"Saya juga tidak mudeng kok, Gen. Awas kowe, kalau kamu lantas bilang propesor kok tidak mudeng tak kick dua belas pas kowe!"
"Saya juga tidak mudeng kok, Gen. Awas kowe, kalau kamu lantas bilang propesor kok tidak mudeng tak kick dua belas pas kowe!"
“hi-hiik. Bos anyel tenan ini.”
Saya tidak menanggapi hi-hi-hiik.,nya yang khas Praci itu. Soalnya, saya lantas ingat gaya Mister Rigen yang beberapa hari terakhir ini ber elegan-ria gaya priyayi. untuk apa semanya itu sesungguhnya ? Apa betul seperti yang dia bilang, semua itu untuk menghibur saya, untuk meringankan penderitaan beban. diet saya? Ah, mungkin tidak! Meskipun fungsi Rigen itu kadang-kadang seperti Petruk dalam pewayangan;
Saya tidak menanggapi hi-hi-hiik.,nya yang khas Praci itu. Soalnya, saya lantas ingat gaya Mister Rigen yang beberapa hari terakhir ini ber elegan-ria gaya priyayi. untuk apa semanya itu sesungguhnya ? Apa betul seperti yang dia bilang, semua itu untuk menghibur saya, untuk meringankan penderitaan beban. diet saya? Ah, mungkin tidak! Meskipun fungsi Rigen itu kadang-kadang seperti Petruk dalam pewayangan;
Gaya kenes elegan yang dibuat buat Mister Rigen itu ternyata sasmita kepada kita kaum Korpri untuk tidak segan-segan mencari jalan yang krea.tif untuk mencari jalan keluar dari keprihatinan gaji yang bakal tidak naik. Sing nrimo ing pandum!. Berbahagialah dalam menerima pembagian!
Listrik ·akan naik. Ledeng akan naik. Karcis kereta
api dan bis akan
naik Minyak akan naik. Yo wis ben! Biarin!. Yang penting kreatif, sekali
lagi kreatif.·
Gaji pegawai negeri sipil tidak naik? Tidak apa! Kita· kaum Korpri
adalah kaum yang selalu sugih tanpa banda. Kaya tanpa harta. Kaya ning ora nduwe harta. Gaji tidak naik? Hora
apa apa! Gaji tidak .. .'..
11 Januari 1994
No comments:
Post a Comment
Silahkan Tinggalkan Comment Anda